
***
Marsya terlihat tidur malas-malasan dilamarnya, menggunakan handset dan melakukan teleponan dengan Ahmad. jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Marsya larut dalam pembicaraannya dengan Ahmad sambil memakan cemilannya.
"sayang kamu tidak belajar, besok ujian loh". tanya Ahmad kemudian, pertanyaan itu sudah sekian kali Ahmad lontarkan tapi jawabannya selalu diabaikan oleh Marsya.
"mas bisa gak sih jangan bahas itu dulu, aku pusing tau mas, mau belajar apa lagi gak akan masuk juga". akhirnya jawaban ketus itu keluar,
"Marsya". suara teriakan ibunya membuat Marsya gelagapan dia terus reflek menyembunyikan telepon genggamnya, dan mencoba bangkit dari rebahannya namun belum sempat hal itu dilakukan, ibunya sudah membuka pintu kamarnya.
"ya Allah Marsya kotor kali". teriak ibu Marsya saat melihat sampai cemilan bercecer di kasurnya.
"iya buk ini Marsya bersihin". ucap Marsya sambil membersihkan sampah cemilannya.
"kebiasaan kali makan sambil tidur, mulai dari sekarang ibu tidak mau lihat lagi makanan itu ada dirumah". perintah ibunya, Marsya hanya menunduk dia tidak mau membantahnya.
ibu Marsya mendekat, dia membersihkan wajah Marsya dari cemilan yang dimakannya dan merapikan rambutnya anaknya sayang.
Marsya kaget karena ibunya tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, dia menatap ibu nya kaget,
"wajah ibu tersenyum". batin Marsya kaget dan itu semakin membuatnya takut.
setengah tahun ini ibu banyak berubah dia semakin banyak tersenyum, walaupun dalam tegasnya tapi dia terlihat lembut, Marsya yang belum terbiasa dengan perubahan ibunya awalnya sedikit kaget, hmmm sebenarnya sampai sekarang dia masih kaget.
Marsya terus memperhatikan ibunya membersihkan tempat tidurnya, dia berkeringat dingin berdiri ditempatnya takut ibunya menemukan telepon genggamnya.
namun hal itu tidak terjadi setelah membersihkan kasur ibunya langsung duduk disana. dia menatap ramah wajah anaknya.
"Marsya ibu dan ayah memutuskan untuk kamu tinggal dengan kakek". ucap ibu tersenyum
"kenapa buk". tanya Marsya kaget
ibu menarik nafas dalam-dalam.
" ayah dan ibu akan berangkat keluar negri untuk pengobatan ibu, Marsya ditempat dulu ya, kalau Marsya tidak betah nanti kita bicarakan lagi". ibu menjelaskannya lembut
"ibu sakit". tanya Marsya kaget
ibu memeluk Marsya, dia menangis lalu mencium kepala marsya.
"ibu sakit apa". tanya Marsya khawatir
"sudah ibu akan sembuh, nanti kalau ibu sembuh, ibu gak akan marah-marah lagi pokoknya". jawab ibu sedikit jenaka
"adik-adik gimana buk". tanya Marsya
"adik-adik juga akan tinggal ditempat kakek". jawab ibu
"jangan pacar-pacaran ya Marsya kamu harus fokus sekolah". ancam ibunya
"sekarang kamu sudah gede, ibu semakin lihat pertumbuhan kamu, kamu jangan pacaran ya Marsya, jangan sampai pacaran, ibu takut kamu salah jalan, dan menghancurkan masa depan kamu". ucap ibunya penuh kekhawatiran, Marsya menunduk dia merasa sangat bersalah, dia menangis sejadi-jadinya dia takut ibunya kecewa dengan apa yang sudah dia lakukan.
"ibu wuwuwu ". tangisannya pecah, ibu nya kelihatan panik lalu merangkul tubuh Marsya.
"kemarin ibu jahat selalu pukuli Marsya tanpa ada penjelasan sekarang kenapa begitu baik,ibu jahat buat Marsya merasa bersalah wuwuwu". tangis Marsya pecah
"i..i..itu kemarin karena ibu sakit nak, ibu salah melampiaskan semua itu padamu, karena i..i..ibu takut kamu pacaran dan..dan..dan.. wuwuwu". ibu pun ikut menangis
"Delia ".terdengar suara berat memanggil namanya, ibu menoleh dan seketika wajahnya pucat
"mmmmas kamu pulang". seketika dia melepaskan pelukannya dan memberi jarak diantaranya.
"Marsya apa yang kamu lakukan, apa kamu tidak belajar". suara tegasnya terdengar mengerikan ditelinga Marsya. setelah menegur Marsya dia mengisyaratkan agar ibu mengikutinya.
"kenapa nangis-nangis mau ganggu anak-anak belajar lihat tu si kembar Sampek ketakutan, belajar lagi nak". terdengar suara ayahnya dibalik pintu kamar Marsya
"garang amat". terdengar suara ibu mengeluh
"kamu udah baikan ya sama Marsya, gak benci wajahnya lagi kan karena mirip aku". terdengar suara ayahnya dengan mengejek
"mas, jangan ngeledek aku terus deh". ucap ibu Marsya manja.
"apa aku gak salah dengar nih, ibu dan ayah yang selalu bersikap dingin dan sekarang mereka begitu mesra, ya ampun kuping". Marsya tidak percaya yang didengarnya.
tapi yang menjadi tanda tanya besar adalah pernyataan ayah yang mengatakan mengapa dia membenci aku karena wajahku yang mirip ayah, kenapa ? ". batin Marsya penuh tanda tanya, namun belum kelar dia membatin dia dikejutkan dengan Suara ganggang pintu yang dibuka ibunya.
"Marsya besok kawanin ibu ke mall ya sepulang ujian nanti ibu jemput kita beli perlengkapan tinggal tempat kakek". ibu mengatakan itu dengan memasukkan sebagian kepala nya kekamar Marsya, Marsya hanya mengangguk saja.
setelah itu dia menutup balik pintu kamar itu.
"ya ampun masih dalam panggilan". ucap Marsya
"mas". panggil Ahmad
"ya ampun sayang, mas jadi terharu". ucap Ahmad terlihat sedih
"terharu apa, aku merasa bersalah tau mas, gimana kalau ibu tau aku simpanan om om". celoteh Marsya asal
"is kamu sayang, hmm gimana ya yakinin ibu kamu, seperti nya ibu kamu benci kali sama mas". keluh Ahmad
"benci sama semua pacar ku mas, itu lebih tepatnya". ucap Marsya
"hmm 3 tahun lagi ya, lama banget, aku udah gak sabar nikahin kamu sayang". ucap Ahmad
"ih gak sabar banget sih mas, yaudah kita nikah siap ujian ini". ucap Marsya asal
"benar nih". jawab Ahmad semangat
"iya". jawab Masya lagi
"oke siap ujian ini ya, siap-siap oke". ucap Ahmad dan mereka pun tertawa bersama.
***
Disekolah....
Tit...tit...tit (suara klakson mobil)
Marsya berlari kearah klakson mobil yang dia hafal betul itu mobil kepunyaan siapa, Marsya langsung pamit dengan Fita dan Aisya terus menuju kearah mobil yang membunyikan klakson sedari tadi.
"si kembar mana buk". tanya Marsya ketika tidak melihat si kembar bersama mereka
"mereka ikut ayah, tadi ayah duluan ke mall". jawab ibu seadanya
karena si kembar sedang libur sekolah jadi mereka sedari pagi sudah mengekor ayah untuk membawa mereka bermain.
"pasti mereka sudah larut dalam permainan". batin Marsya.
**Di Mall***
ibu berjalan di depan Marsya, dia sedang membaca list perbelanjaan nya, sedangkan Marsya setia mengekor dengan mendorong troly yang sudah hampir penuh dengan barang belanjaan ibunya.
"selimut, jaket musim dingin, kaos kaki, bla bla". ibu sedang mengabsen list belanjanya sampai akhirnya dia tidak sengaja menabrak orang di hadapannya.
"ibu". pekik Marsya
"eh hati-hati". ucap orang tersebut dengan sigap menangkap tubuh ibu yang hampir terjungkal
"terima ka...". ucap nya terputus mereka saling menatap dan terlihat kaget
"Delia". panggil orang itu dia terlihat kaget dan menatap wajah ibu penuh dengan kesedihan.
wajah ibu terlihat pucat dan dia gemetar menyebut nama orang itu " mas Arsyad". pelik Delia
ibu mencoba melepaskan diri dari dekapan lelaki itu, dia tidak dapat menutupi kesedihan diwajahnya, Marsya mendekat dia meraih tubuh Delia
"ibu tidak apa-apa". ibu menggeleng dan membawa tubuh Marsya bersembunyi dibelakang nya, terasa ada getaran ketakutan di raut wajah ibu.
wajah lelaki itu menatap Marsya tajam, dia melirik Marsya muka.
"anak HARAM". pekiknya kasar menatap tajam dan meludahi wajah Marsya.
"MAS". ucap ibu Delia, marsya sangat syok menerima perlakuan kasar itu dia seperti tidak berada ditempat nya.
"wajah bajingan sangat melekat padanya, kau lebih memilih melahirkan anak HARAM ini daripada menikahi ku". bisik lelaki itu tepat disebelah Delia.
"apa sebenarnya terjadi". tanya Marsya kaget.
Marsya menangis dan memeluk ibunya mereka sama-sama terguncang.
"Delia". panggil seseorang yang sangat khas pendengaran Delia, dia semakin terguncang ketika membalikkan tubuhnya menyadari suaminya disana.
seketika dia melirik Arsyad wajah Arsyad tersenyum smirk melihat Delia
"oh tuhan tolong aku". batin Delia takut