
"Karena hanya Tuhan yang tau alur ceritanya"
***
Uwah, sepi sekali. Bahkan lalat dan nyamuk akan merasa sangat canggung untuk membuka suara. Pikir Ami.
"Apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Rao pada Ami, satu-satunya manusia yang ada di ruang makan selain dirinya.
"Hah? (melihat makanan) Ah iya, ini enak kok."
"Kalau ada yang tidak Kau sukai katakan saja pada Pelayan Ju dan dia akan siapkan makanan sesuai keinginanmu"
"Tidak pelu, ini enak." Ami mulai melahap makanan di depannya tanpa tahu lagi rasanya akibat suasana yang amat canggung dan menyeramkan, lebih dari film horor baginya.
Rao menyudahi makannya, kemudian berjalan ke depan rumah diikuti oleh Ami dan Pelayan Ju. Mobil telah tampak di depan matanya dengan Pak Dan selaku supir yang tengah membukakan pintu untuknya.
"Itu," Ami mengulurkan tangan, Rao menatap bingung.
"Salaman, itu adalah kewajiban bagiku." Ucap Ami sedikit gugup.
Rao mengulurkan tangan segera disambut oleh Ami seraya mencium punggung tangannya. Rao hendak masuk mobil setelah itu, tetapi Ami segera berkata, "Kau bilang di kontrak Aku masih boleh lakukan apapun yang Ku mau kan?"
"Ya. " (masuk mobil).
"Baguslah, Aku hanya ingin memastikan saja. Assalamualaikum, hati-hati di jalan." Ami melambaikan tangan seketika mobil hitam itu melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Di dalam kamar pribadinya, Ami bersiap untuk melakukan wawancara pertamanya setelah dipecat dari pekerjaan yang lama. Kini ia sudah tidak peduli dengan jenis pekerjaannya selama halal. Alhamdulillah, ia berhasil sampai ke tahap wawancara setelah mengirim CV ke berbagai perusahaan.
Gugup menyergapnya di ruang tunggu para pencari kerja yang sepertinya sudah sejak pagi mengantri untuk wawancara bahkan sebelum sesi wawancara dibuka.
Ia mendapat antrian nomor 42 dan merupakan peserta terakhir, itu karena dia datang paling akhir. Bagaimana tidak, ia harus melakukan kewajiban untuk setidaknya menyapa tuannya terlebih dahulu. Dia tetapkan, tuannya bukan suaminya karena kontrak sebelum pernikahannya. Setidaknya ia akan hamburkan uang tuannya itu sebagai bayaran selama satu tahun berjalannya kontrak.
Ketika cerai nanti, ia tidak perlu lagi kekurangan uang. Sore menjelang, Ami baru saja selesai shalat ashar dan kembali ke ruangan itu, terkejut saat namanya dipanggil.
"Ya" jawabnya segera melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Ami" ucap Rao bersamaan dengan Andy yang berkata "Istrimu"
"Hah?" Ucap Aji setelah mendengar ucapan Rao dan Andy bersamaan dengan Ami yang berkata "Eh?"
Ami duduk di kursi untuk sedikit menghilangkan gemetar di kakinya.
"Ami, apa yang kau lakukan di sini?" kata Rao
"Tunggu, jadi maksudnya? Dia istrimu?" tanya Aji
"Iya, itu istri Tuan Rao." jawab Andy
"Aku di sini untuk wawancara. Kau sendiri sedang apa di sini?" jawab Ami.
"Sudah, sudah. Kita mulai wawancaranya." Ucap Aji menengahi.
"Jadi, kenapa Anda melamar pekerjaan ini? Jelaskan dengan bahasa inggris!" tanya Aji pada Ami.
Ami menjawab pertanyaan itu menggunakan Bahasa Inggris dengan tenang tanpa celah sedikit pun mampu meyakinkan tiga orang pria di depannya sampai membuat senyum Aji mengembang karenanya.
"Bravo, Saya suka jawabanmu." Ucap Aji.
Ami tersenyum mendengarnya, sementara Rao tampak sangat kesal. Andy membuka suara, "Tapi, keputusan tetap akan Kami diskusikan."
"Tidak perlu, Aku tidak suka melihatmu di kantor." Rao berceloteh.
"Rao, dia sesuai dengan posisi ini. Lagi pula dia itu istrimu, pasti dia akan berada dipihakmu." Aji berusaha meyakinkan.
Walau jabatan Aji lebih rendah ketimbang Rao tetapi ia adalah orang yang berterus terang dan paling enggan memanggil Rao dengan sebutan Tuan, berbeda dengan Andy. Namun, Rao tidak mempermasalahkannya karena sudah lama berteman dengan Aji. Dia pun akan merasa baik-baik saja jika Andy berlaku demikian tetapi sungguh Andy adalah pria kikuk yang sopan. Itulah sebabnya dia butuh mak comblang, dulu.
"Perusahaan ini selalu mementingkan kualitas bukan koneksi." ujar Rao.
"Dia jelas berkualitas." tegas Aji.
"Masalah dia istrimu, hanyalah kebetulan dan keuntungan." lanjut Andy.
Rao menatap Aji, Andy kemudian menatap Ami seraya bertanya. "Jelaskan! kenapa Aku harus menerimamu?"
Bukankah tadi sudah Ku jelaskan, gumam Ami.
"Maksudnya, alasan kenapa Tuan Rao harus menerimamu?" jelas Andy.
"Tolong, pekerjakanlah Aku! Bukankah Kau bilang Aku bisa lakukan apapun sesuka hati selama tidak melanggar kontrak. Aku butuh jaminan setelah satu tahun, tentu Aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena, apapun yang terjadi nanti hanya Tuhan yang tahu alur ceritanya."
"Jaminan? Baiklah, Kau diterima bekerja. Tapi ingatlah bahwa Kau dapat dipecat kapan saja jika tidak becus bekerja."
"Terimakasih, Aku akan giat bekerja."
"Selamat Nona Ami, Kau dapat bekerja mulai besok." Kata Aji.
***
Sejak pagi, Ami disibukkan oleh berbagai macam berkas yang diberikan oleh Sekertaris An, alias Andy. Bukan secara kebetulan beban itu diberikan, melainkan karena kesengajaan Rao yang masih berusaha mengusir istrinya dari perusahaan. Berkali-kali Andy ingin menolak hal itu tetapi tidak berani, karena sekertaris harus mampu memastikan segalanya berjalan sesuai kehendak tuannya.
Istirahat dipakai oleh Ami untuk membuat teh di pantry sekaligus membawa roti daging kegemarannya. Dia duduk di sana menikmati waktunya, tiba-tiba datang seorang wanita yang usianya kurang-lebih 45 tahun. Pakaian yang ia kenakan tampak bermerek dan elegan. Kecantikannya tidak memudar ditelan usia melainkan semakin tampak memancar.
Dia membuat teh kemudian duduk di depan Ami yang masih tertegun melihat setiap gerak geriknya.
"Kau pasti baru di sini." ujarnya.
"I-iya, perkenalkan Saya Islami biasa dipanggil Ami. Saat ini Saya menempati posisi sebagai manajer dibawah arahan Sekertaris An." Ucap Ami seraya berdiri tegap bak ditanya guru di sekolah.
"Hahaha, menyenangkan! Saya Ningsih, biasa dipanggil Direktur Ning bagian keuangan." Dia pasti akan mulai bergosip setelah tahu siapa diriku.
"Waah, Anda benar-benar luar biasa. Cantik, elegan dan tampak sangat berwibawa. Saya sungguh kagum. Saya harap dapat belajar banyak dari Anda."
Direktur Ning hanya tersenyum menanggapi.
Malam telah menjelang, seluruh karyawan telah pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, Ami masih sibuk mengurus berkas tambahan dari Sekertaris An.
Di ruang CEO, Sekertaris An mohon pulang lebih dulu lantaran istrinya tengah demam sejak kemarin. Rao mengizinkan hal itu, sebelum meninggalkan ruangan itu Sekertaris An mengucapkan salam dan terimakasih. Rao hanya menjawab salamnya kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.
Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, Rao merapihkan meja dan tasnya kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Dia berjalan menyusuri koridor perusahaannya, matanya tertuju pada seorang gadis yang tertidur di meja kantor. Langkahnya semakin mendekati gadis itu.
"Ami?" ucapnya
Membuat tidur gadis itu sedikit terganggu. Rao tersenyum seraya berkata "Perusahaan adalah tempat untuk bekerja bukan tidur!" dengan volume sedikit tinggi sembari menepuk bahu gadis itu.
"Iya!" jawab Ami yang kaget hingga terbangun.
Matanya menatap Rao yang tersenyum sangat manis, alarm bawah sadarnya berbunyi pertanda darurat. Seketika ia berdiri sekaligus berkata "Saya akan pulang, terimakasih sudah mengingatkan Saya Tuan Rao."
"Hem." Rao sama sekali tidak menyangkal panggilan "Tuan" berarti hubungan mereka memang hanya sebatas kontrak. Informasi tambahan yang akan tersimpan dalam memori Ami.
Gadis itu membereskan meja dan tasnya kemudian menatap Rao bingung. Kenapa dia masih berdiri di sini? Mungkinkah dia menungguku? Tidak, tidak, itu tidak mungkin.
Rao berjalan ketika melihat Ami menatapnya seraya bertitah "Ikuti Aku!" sesuai titah sang tuan, Ami berjalan mengikuti di belakangnya. Mereka tiba di tempat parkir. Supir Dan segera membukakan pintu, Rao masuk ke dalam mobil sementara Ami masih terdiam.
"Sedang apa? Cepat masuk!"
Sesuai kata-kata itu, Ami memasuki mobil. Dia duduk bersebelahan dengan Rao seperti saat hari pernikahan mereka. Mobil melaju menyusuri jalan menuju rumah. Selama perjalanan hanya sunyi yang terasa.
***