Forced Love

Forced Love
Part 5 Lifesoap Company



"Keputusan yang tepat perlu waktu yang tepat"


***


Rao berdiri di atas panggung mempresentasikan perkembangan perusahaan dalam satu tahun fase kepemimpinannya selaku CEO Lifesoap Company. Yang disaksikan oleh seluruh dewan direksi serta presdir perusahaan, yakni ayahnya.


Tepuk tangan menggema di akhir presentasinya. Direktur Eksekutif Lu, (nama panjang Lukman, penj.) memberikan tanggapan negatif "Lifesoap telah menjadi perusahaan sabun dalam negeri terbaik selama bertahun-tahun, beralih dari generasi ke generasi. Namun, persaingan pasar semakin berat dengan masuknya produk luar negeri yang dapat menyingkirkan kita. Bila berpikir seperti perusahaan mereka, bukankah kita juga harus punya pandangan ke depan dengan merambah ke negara tetangga, misalnya."


Rao tersenyum manis menanggapi hal itu, ia tahu bahwa anak bibinya itu berusaha mengincar posisinya bahkan lebih tinggi lagi, mengincar posisi ayahnya. Tentu saja, Rao selalu waspada dengan para pesaingnya dalam perusahaan yang tidak akan pernah ia lepaskan mengingat jerih payah kakek buyut, buyut, buyutnya yang pertama kali mendirikan perusahaan telah mewariskannya sampai sembilan generasi. Dan dialah generasi ke sembilan itu.


"Sungguh respon yang luar biasa. Tentu saja Kita tidak perlu pesimis menghadapi persaingan dalam negeri karena kita yang paling paham bahwa produk Kita telah memiliki nilai sejarahnya sendiri dalam mewarnai pasar dalam negeri tanpa kualitas yang menurun. Dan merambah pasar luar negeri merupakan salah satu tujuan Saya, tetapi detailnya akan disampaikan pada pertemuan selanjutnya. Ini karena produk kita adalah sabun herbal dengan label halal yang konsumen utamanya adalah Umat Islam di Indonesia, tentu sasaran selanjutnya untuk membesarkan bisnis ini adalah negeri-negeri muslim yang ada di wilayah Asia Tenggara. Saya mengincar Malaysia dan Brunei Darussalam sebagai target pemekaran usaha dan Saya juga telah berbicara dengan pemilik mall terbesar di Malaysia dan Brunei Darussalam untuk memasarkan produk Kita di dalamnya. Jadi, Kita tidak perlu pesimis karena Lifesoap, Sabun Terpercaya Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Dunia. "


Riuh tepuk tangan membahana, Direktur Lu serta beberapa pendukungnya tampak kesal, tetapi mampu ia sembunyikan dibalik senyum palsunya. Presdir Ren tersenyum melihat pertumbuhan anaknya yang dirasa mampu membawa perubahan pada perusahaan ke arah yang positif.


Rao beserta Sekertarisnya meninggalkan tempat acara. Mereka menaiki mobil berwarna hitam menyusuri jalanan menuju kantor pusat.


Salah satu manajer di perusahaannya mendadak mengalami kecelakaan seminggu lalu hingga meninggal dunia, maka saat ini posisi itu tengah kosong dan perusahaan membuka lowongan pekerjaan untuk posisi tersebut. Rao sengaja tidak menaikkan jabatan pegawainya dengan sukarela, tetapi pegawai itu harus kembali daftar ulang untuk posisi yang diinginkan, karena dia masih belum mengenal jelas mana pegawai yang berada dipihaknya dan mana yang berada dipihak sepupunya.


Selain itu, sulit bagi karyawan di kantor cabang untuk mau dipindahkan ke kantor pusat karena sudah beranak pinak di kampungnya hingga enggan ke kota. Rao menilai mencari karyawan baru yang langsung dibimbing oleh sekertarisnya akan membantunya menyingkirkan karyawan yang menentangnya. Baginya, itu adalah keputusan yang tepat di waktu yang tepat.


***


Rao duduk di ruangannya mengingat masa kecilnya.


Rao kecil duduk di kusi makan bersama keluarga besar Ayahnya. Sejak kecil, sang Ayah sangat membanggakannya dengan mengatakan "Anakku, calon presdir Lifesoap Company masa depan." di tengah kesunyian itu tatapan menyeramkan dari bibi dan pamannya adalah yang paling ia takuti.


Malam itu, ketika semua terlelap Rao kecil keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas air. Namun, ia justru bertemu dengan Lu, sepupunya yang memandang dengan tatapan sinis seraya berkata "Kamu tidak berhak berada di posisi itu, karena posisi itu milikku!" Rao kecil hanya terdiam.


Keesokan harinya, kedua orang tuanya pergi untuk merayakan hari pernikahan mereka di luar negeri. Hubungan pernikahan mereka sangat harmonis sampai-sampai Rao kecil dititipkan di rumah itu bersama bibi dan paman serta anak mereka selama mereka pergi.


Hari itu, mungkin hari bahagia bagi kedua orangtuanya tetapi petaka untuknya. Dia dibuly oleh sepupunya dan bibinya serta pamannya terus mengatakan bahwa itu salahnya karena telah terlahir ke dunia. Jika kelahiranku adalah suatu kesalahan, kenapa aku masih bertahan?.


"Maaf Tuan, sekarang kita harus ke Universitas Indonesia untuk menyampaikan seminar."


Rao menatap Sekertaris An lalu mengangguk seraya berdiri. Dia berjalan menyusuri koridor menuju tempat parkir. Baginya, Andy adalah salah seorang sahaabatnya di universitas yang paling tahu dirinya dan amat mengenalnya. Bukan hanya Andy, ada satu orang lagi yakni Aji yang saat ini bekerja sebagai HRD di perusahaannya.


Aji selalu menyimpan masalahnya sendiri dan berpikir seolah dia tidak butuh siapapun, tetapi siapa yang tahu antara cinta dan persahabatan Aji memilih persahabatan.


Usai mengisi seminar untuk program pascasarjana, seorang wanita memanggil Rao dengan senyum manis yang mampu meluluhkan siapapun pria yang melihatnya.


"Aria" ucap Rao dan Andy bersamaan.


"Sudah lama ya."


Aria adalah satu-satunya wanita dalam kelompok mereka. Dia adalah satu-satunya orang Malaysia yang ada di kelompoknya itu. Satu-satunya wanita yang paling dekat dengan Rao walaupun bukan keluarganya, karena ia menganggap sebagai sahabat yang berharga.


Mereka memesan secangkir kopi di caffe terdekat. Bernostalgia tentang masa lalu sekaligus menanyakan kondisi saat ini.


"Kenapa Kau disini?" tanya Andy


"Mengikuti program pertukaran pelajar pascasarjana, Kau tahu betapa Ayahku hanya peduli pada kakakku kerena dialah yang diperuntukkan untuk menjadi pewaris perusahaan." jawab Aria.


"Kau, tidak mau berjuang untuk mendapatkan posisinya?" Rao menanggapi.


"Untuk apa, aku hanya ingin melakukan apapun sesuai keinginanku. Daripada ribut tentang itu atau dipaksa menikah dengan rekan bisnis Ayah, Aku memilih bahagia."


"Kau tidak berubah ya." ucap Rao membuat Aria tersipu.


***


Malam itu, Aria menghubungi Ayahnya supaya menerima kerjasama dengan Lifesoap Company dan mengatakan bahwa ia akan pulang seminggu kemudian. Sang Ayah senang dengan kabar tersebut dan berjanji akan menerima kerjasama selama anak perempuan satu-satunya dapat pulang.


Aria membuka laptop miliknya, membuka kembali memori cinta pertamanya dan memori persahabatannya. Satu-satunya pria yang tidak pernah mampu ia lupakan dan belum bisa ia dapatkan, Rao.


Aria yang sejak kecil terkenal sebagai princess di sekolah bahkan di universitas membuat banyak pria jatuh hati padanya terpaksa patah hati karena ia tidak pernah mencintai siapapun. Namun, sekalinya rasa itu datang ia tidak mampu menggapainya.


Waktu itu, aku tidak mengambil keputusan yang tepat. Aku menyalahkan waktu, karena sampai hari perpisahan itu, rasa cinta ini tak pernah bisa aku ucapkan. Kini, sudah 10 tahun aku menyukaimu, aku akan berusaha mengungkapkannya!


***