Forced Love

Forced Love
Prolog



Islami menatap nanar dirinya di depan cermin. Gadis berusia 22 tahun itu tengah memikirkan masa depan dalam ilusi kebahagiaan, mencoba menyunggingkan sebuah senyuman seraya menahan butir air mata mengaliri pipi tirusnya dibalik kacamata bulat yang kini ia kenakan.


Senyum penuh keterpaksaan itu terpampang di depan cermin diikuti air mata yang tak terbendung mengalir melewati pipi tirus, hidung mancung, dan bibir mungilnya hingga ke dagu dan menetes ke pahanya. Dirinya adalah produk kecewa dari sebuah kegagalan, tak pernah diharapkan dan seolah terbuang. Ibunya hampir membantingnya kala usianya masih 35 hari akibat stress hidup miskin dan menderita dengan Ayahnya yang seorang pemabuk gila. Tetangga sebelah rumah yang mendengar kegaduhan dan jerit tangis bayi itu segera menggedor pintu dan menemukan sang Ibu penuh luka terbujur kaku disebelah sang Ayah yang pingsan karena kebanyakan minum. Tetangga itu melihat bayi yang masih menangis dengan darah segar menetes dari kepalanya. Dia segera menelpon ambulans.


Syukur tiada tara ia panjatkan pada Allah Sang Pencipta atas keselamatan bayi tersebut. Ia juga mengunjungi si Ibu yang ketika sadar ia berkata "Aku hampir membunuhnya karena sudah muak hidup di neraka dunia, Aku menyesal" isak tangis mewarnai kata-kata yang Ibu bayi itu lontarkan secara berulang-ulang sampai nafasnya tersenggal kemudian detak jantungnya menipis.


Tetangga itu memanggil dokter berharap nyawa si Ibu dapat di selamatkan. Dokter datang dengan sigap mengobati pasiennya. Kondisi pasien dapat ditangani, kemudian dokter meninggalkan ruangan. Si tetangga masih menunggu di ruang itu, dering telpon dari suaminya segera ia angkat. Rupanya kabar bahwa sang suami sudah sampai di rumah, maka tetangga itu menjelaskan situasinya dan suaminya memahami hal itu.


Tiga hari berselang, ketika tetangga kembali mengunjungi si Ibu itu. Ternyata Allah telah memberi Ibu itu kesadaran. Tetangga itu berusaha menenangkan, si Ibu hanya berkata lirih "Aku ingin kau menjaga anakku, ini permintaan terakhirku" nafas Ibu itu pun tersenggal hingga akhirnya berhenti, bagitupun detak jantungnya. Tetangga panik dan memanggil dokter.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun" menggema di pemakaman Ibu bayi itu dari beberapa orang tetangga walaupun sebenarnya ia bukanlah muslim. Ini karena suaminya tak mau andil memakamkannya dan jenazahnya justru diurus oleh keluarga Ibu itu dan dapat dikunjungi oleh tetangga terdekat, termasuk sepasang pasutri yang telah menyelamatkan bayinya.


Usai pemakaman pasutri itu meminta izin untuk merawat si bayi demi menjalankan wasiat. Ayah bayi itu menyetujui surat perwalian sehingga bayi itu masuk ke dalam KK keluarga pasutri tersebut. Mereka senang karena akhirnya memiliki anak setelah lima tahun menikah, walaupun hanya anak angkat.


Islami mendengar cerita itu sejak usianya 12 tahun tatkala menguping obrolan Ibunya di ruang BK. Ketika usianya mencapai 17 tahun, akhirnya kedua orang tuanya membuka pembicaraan terkait itu yang selama ini selalu ia pertanyakan tapi tak pernah di beri sebuah jawaban.


Adiknya yang juga turut mendengar kisah itu selalu meolok-oloknya lantaran tidak suka dengan kasih sayang orang tuanya yang berlebihan kepada Islami ketimbang dirinya yang seorang anak kandung.


Kilas balik malam itu, setelah makan bersama. Ami diminta menemui sang Ayah di ruang kerjanya. Setibanya di sana, dia dipersilahkan duduk serta disuguhi secangkir teh hangat. Ketika suasana sudah nyaman, Ayah angkatnya mengatakan bahwa ia telah meminjam uang dari temannya demi membayar hutang karena kena tipu oleh seseorang saat ia hendak memperbesar bisnis restorannya dengan membuka cabang. Sayang, bukannya beruntung justru buntung dan restorannya pun harus tutup serta rumahnya hendak di sita oleh bank. Ia sudah melaporkan hal itu ke kepolisian, tetapi kasusnya masih di selidiki.


Temannya itu sebenarnya hanyalah senior satu almamater yang terkenal mahasiswa paling kaya di fakultasnya. Namun, tidak ia kenal dengan baik. Temannya memberikan syarat peminjaman uang, yakni pernikahan. Karena sudah buntu menghadapi masalah, maka ia pun menerimanya.


Temannya itu hanya memiliki satu orang putra berusia 27 tahun, walau masih muda tetapi belum memiliki pasangan hidup. Sedangkan istrinya saat ini tengah berbaring sakit karena kanker dan berharap dapat melihat cucunya sebelum meninggal dunia.


Mengakhiri cerita itu, sang Ayah mengatakan "Selama ini, Ayah sudah membesarkanmu layaknya darah daging sendiri. Bahkan, diawal masa pertumbuhanmu sempat terkendala akibat luka di kepalamu sewaktu bayi sampai menghabiskan banyak uang, waktu dan tenaga demi membesarkanmu. Sebenarnya Ayah tidak ingin bicara begini, hanya saja bukankah sekarang saatnya kamu balas kebaikan Ayah?"


"Tapi, kenapa aku? Bukan Arumi?"


Islami terdiam sejenak, menatap binar mata penuh harap sang Ayah. Bibirnya membuka seraya berkata "Baiklah Ayah."


Semua itulah yang membuat dirinya menangis di depan cermin sejak tadi. Impiannya untuk melanjutkan S2 ke luar negeri harus kandas, begitu juga dengan mimpinya untuk travelling keliling dunia harus sirna. Ditambah, bayangan menakutkan sosok pria yang akan dinikahinya yang bahkan tidak pernah ia kenal sebelumnya.


***


Muhammad Raonar, biasa dipanggil Rao merupakan seorang pria berusia 27 tahun. Telah mencapai kesuksesan karir diusia muda yakni 25 tahun. Dia telah menangani perusahaan sabun milik keluarganya sejak usia itu dan merupakan keturunan ke sembilan dari awal dirintisnya perusahaan.


Terlahir dengan kejeniusan dan kekayaan serta berkat berupa wajah tampan membuatnya banyak didekati pria dan wanita hanya untuk sekedar berbagi sapa. Itu juga yang membuatnya dijuluki "Malaikat berhati iblis". Gelar itu dia dapat sejak menginjak bangku SMP, walaupun dia pria yang taat beribadah dan memiliki senyum secerah mentari tapi kata-katanya yang seolah pujian itu selalu terasa menusuk bak anak panah yang menghujam hati.


Ketika disapa ia selalu menjawab, hanya saja ia tak pernah bisa diajak bicara. Kejeniusan membuatnya menganggap temannya bodoh karena tak mengerti ucapannya baik mengenai iptek maupun ucapannya yang ingin menyendiri. Selalu di kelilingi orang membuatnya tidak bisa fokus berpikir dan membaca buku kegemarannya. Akhirnya dia mulai mengeluarkan rasa jengkel itu dengan kata-kata pedas yang tampak manis. Seketika dirinya dijauhi.


Ketika SMA ada teman SMP yang satu sekolah dengannya dan menyebarkan julukan tersebut bahkan dilebih-lebihkan dengan adanya adegan pemukulan dan penolakan gadis-gadia tercantik di sekolah, hal yang sama terulang sampai kuliah hingga ia bekerja saat ini. Sampai gelar itu disingkat "MBI" dan selalu jadi gosip trendi di kantornya. Yang sesekali ia dengarkan dan menganggapnya bak angin lalu.


Dia yang hidup dengan mendapatkan apa pun yang diinginkan terpaksa harus menuruti permintaan kedua orang tuanya yang tak masuk akal dan jauh dari keinginannya. Padahal dia ingin hidup menyendiri seumur hidup sampai mati tanpa ada pasangan hidup. Namun, kondisi Ibunya yang terbaring lemah menghadapi kanker membuatnya harus menerima keinginan konyol itu.


***


Pernikahan antara wanita suram dengan pria MBI akan bermuara pada suatu hal yang mungkin tak akan terduga. Latar belakang kehidupan yang berbeda menimbulkan berbagai perselisihan dan rasa sakit diantara mereka. Hingga rumor MBI kerap melakukan KDRT terhadap si suram pun menyebar dengan cepatnya menjadi bahan gosip warga +62 di Lifesoap office.


Konflik batin dan perselisihan rumah tangga mereka ditambah dengan kehadiran orang ke tiga dalam rumah tangga semakin memperkeruh suasana, akankah si gadis suram mampu bahagia? Akankah si malaikat berhati iblis mampu menjadi manusia seutuhnya?


****