Forced Love

Forced Love
Part 4 Honey Night



"Di hari-hari yang pahit ini, setidaknya izinkan Aku merasakan sedikit malam yang manis"


***


Rao dan Ami masih berdiri menyalami para tamu yang terus berdatangan tiada hentinya. Mereka hanya dapat beristirahat ketika waktu shalat dan makan saja.


Berbeda dengan Rao yang berada di tempat mempelai pria, yakni bagian kanan gedung yang diberikan batasan sebuah hijab setinggi 2 m berwarna pink terumbu karang, cerah tetapi terlihat lembut. Yang tetap berwajah datar tanpa sedikit pun menampakkan raut muka bahagia.


Ami yang berada di sebelah kiri gedung tampak sangat menikmati pesta pernikahannya. Dia pikir, walau hanya satu tahun, dirinya ingin menikmatinya. Dan kini, dia tengah mengganggap dirinya seorang putri dari dongeng kerajaan abad ke-18 di Eropa. Anggap saja diriku Cinderella atau Keth Middelton, misalnya?.


Ketika waktu shalat dan berganti model busana, Rao bertemu dengan Ami. Namun, tak pernah saling sapa. Mereka shalat berjamaah dengan beberapa tamu lain di ruang yang telah disiapkan sebagai tempat sholat dengan daya tampung 40 orang.


Mereka duduk bersebelahan ketika di make up, tetapi suasana hening tanpa percakapan.


Setiap kali Ami melirik Rao, wajahnya tetap sama ekspresinya datar. Sikap yang sangat menyebalkan bagi Ami.


Hei, ada apa dengan wajahmu Rao? Baru kali ini Aku bertemu orang jenius yang tidak bisa berakting dan membaca situasi dengan tepat. Dibanding sedih, rasanya seperti terbakar karena kesal membuatku sangat ingin mencakar wajahmu. Padahal Aku selalu mampu bertahan dari kesal, marah dan sedih dengan senyuman, tapi kenapa Kau tidak bisa lakukan itu? Dan, malah menyia-nyiakan senyuman untuk menghina orang.


Beragam hal dari Rao yang mengusik hati Ami selalu ia pikirkan matang-matang ketika tengah di make up. Itu bukan berarti ia mencintainya atau menyukainya. Ia berpikir untuk menghindari hal yang tidak diperlukan dan hal yang mampu menghancurkannya beserta keluarganya selama waktu yang telah ditentukan.


Temuannya yang pertama, ketika Rao tersenyum tandanya ia sedang marah dan hendak menusuk dengan kalimat setajam silet. Kedua, ketika dia berwajah datar itu tandanya tidak perduli.


Maka, Ami akan sebisa mungkin menghindari senyuman Rao. Dia harus siap mengalihkan pembicaraan ketika pria itu akan melengkungkan bibirnya. Memang tidak mudah, karena dia tahu pria itu pintar namun tidak akan bersedih lagi adalah moto hidupnya saat ini. Baru saja ia putuskan begitu.


Hari semakin larut, bukan semakin sepi tamu justru semakin bertambah ramai. Gaun pernikahan malam itu adalah gaun yang telah dipilihnya. Setelah, sebelum-sebelumnya ia mengenakan gaun yang entah datang dari mana, kini ia memakai pilihannya.


Sorot lampu tempat kedua mempelai duduk dibuat sedikit redup, hal ini demi menampilkan keunggulan gaun pengantin yang dikenakan.


Mahkota, bros, dan bagian bawah gamis Ami tampak berkelap-kelip dengan warna biru seindah langit malam saat berpadu dengan sorot lampu yang redup.


Busana pengantin yang dikenakan Rao adalah kemeja berwarna biru, jas putih sepanjang lutut tanpa kancing dan bros mawar biru dibagian atas dada sebelah kananya yang mampu bercahaya dalam redupnya cahaya. Dia memakai celana panjang berwarna biru senada dengan kemejanya dan sepatu berwarna putih dengan tali sepatu yang turut bercahaya.


Malam itu, orang tua mereka turut hadir mendampingi. Keramaian pesta itu mulai sepi. Perlahan para tamu meninggalkan tempat. Iringan suara piano yang beradu dengan violin memeriahkan suasana.


Irama yang keluar dari gesekan violin dan tuts piano yang ditekan itu menghasilkan suara yang sangat indah. Seolah mozart sedang berkata "Mulailah petualanganmu!", itulah hidup baru yang akan dilalui oleh Rao dan Ami.


Mereka akan menjelajahi hidup yang sama dengan suasana berbeda, situasi berbeda, dan sudut pandang yang berbeda. Seperti para petualang yang sedang mencari hal-hal baru dalam hidup mereka.


Acara telah selesai, Rao bersama Ami menaiki mobil menuju rumah baru mereka. Setibanya di sana, keduanya terkejut melihat keberadaan Ayah Rao, yakni Rendy atau biasa dipanggil Ren.


"Di hari spesial seperti ini, biasanya Ayah dan Ibumu akan merayakannya dengan makan malam dan berdansa berdua di balkon. Hari ini spesial bagi kalian berdua. Ayah ingin mengabadikan moment kalian tengah berdansa. Sebenarnya, Ayah tidak ingin repot melakukan ini, hanya saja Ibumu di rumah sakit ingin melihatnya. "


Ami dan Rao masih terdiam menatap Ren yang duduk di sofa ruang tamu, tepat di depan mereka.


"Pelayan Ju, putar kepingan hitam itu lalu videokan mereka tengah berdansa." titah Ren.


"Baik, Tuan Besar. "


Kepingan hitam itu berputar menghasilkan nada waltz yang merdu.


"Jangan pakai bahasa formal pada keluarga!" perintah Ren.


"Baik, Pah"


"Kamu cukup ikuti Aku saja. " ucap Rao yang bertindak sebagai leader dalam tarian tersebut.


Mereka mulai berdansa, Rao masih tetap berwajah datar. Memang ekspresi sulit ditebak itu keunggulan dalam berbisnis, tapi itu jelas kekurangan dalam hubungan pernikahan. Berbeda dengan Ami yang mulai menikmati iringan musik dengan senyum megembang.


Lima menit sudah mereka berdansa, Ren meminta videonya dari Pelayan Ju yang langsung dibawa oleh asisten pribadinya Pak Kom, aslinya Komaruddin. Ia meninggalkan rumah itu menggunakan mobil miliknya yang dikendarai oleh Pak Kom.


***


.


*Ami pov*


"Bagaimana rasanya, Nona?" tanya Nina, pelayan yang membawakan makan malam ke dalam kamarku seusai aku membersihkan diri dengan mandi dan berpakaian.


"Manis"


"He? Maafkan Saya. (hatinya bertanya-tanya, Bagaimna bisa supnya terasa manis?). Apakah perlu Saya ganti, Nona?"


"He? Ah, bukan maksudku. Malam ini, sedikit manis."


"Maafkan Saya karena tidak nyambung bicara dengan Anda, Nona."


"Tidak apa. Aku akan memanggilmu jika sudah menghabiskan makanan ini. "


"Baik Nona"


Nina meninggalkan kamar majikannya.


Setelah melewati malam-malam yang pahit, Aku menikmati hari ini. Seperti jadi putri dalam sehari, rasanya manis. Ku harap malam ini dapat tidur tanpa harus menitikkan air mata. Tentu saja, karena ini... malam yang manis.


Ami memanggil Nina untuk membereskan perlengkapan makannya, kemudian ia berbaring di atas kasur dan mulai terlelap dalam tidurnya..


***


*Rao Pov*


Hari ini sangat melelahkan. Padahal biasanya Aku bisa tidak tidur tiga hari karena pekerjaan. Namun, entah kenapa malam ini aku merasa dapat tidur dengan nyenyak bahkan tanpa obat tidur sekalipun.


Sejak dirisak, Aku masih sering memimpikannya. Mungkin, karena pelakunya masih belum diketahui hingga hari ini atau karena sangat menyedihkan dan menyebalkan. Sampai-sampai untuk tidur Aku harus minum pil. Memang merepotkan. Rasanya pahit, hidupku.


Anehnya, usai mandi dan berpakaian. Aku langsung memilih berbaring di atas kasur dan memejamkan mata. Mungkinkah, malam ini terasa sedikit manis. Entah mengapa bukan risak yang terbayang sebelum tidur, tapi wajahnya yang tersenyum seolah sangat menikmati dansa denganku. Manis, malam itu terasa begitu.


***