Forced Love

Forced Love
Part 1 Asphyxia



"Sampai kapan Aku harus bernafas dengan rasa sakit yang menyengat?"


***


Kokokan ayam menyapa mentari, Ami menutup lembar demi lembar Al-Qur'an yang telah ia baca sejak subuh tadi. Melepaskan mukena lalu meletakkannya di gantungan. Kemudian, dia berjalan menuju lemari pakaian, memilih salah satu gamis miliknya yang berwarna hijau dan abu-abu dibagian lengannya. Dia juga mengambil satu buah kerudung wolfis berwarna kelabu senada dengan lengan bajunya. Usai berpakaian, dia memakai kaos kaki dan beranjak keluar rumah dengan sepatu pantopel tanpa hak.


Menyusuri jalan menuju track travel tempatnya bekerja sebagai tour gate. Dengan wajah suram dia menghampiri pimpinan. Diketuknya pintu dengan tangan sedikit gemetar, dia pejamkan mata serya menghebuskan nafas berat berusaha menguatkan hati.


"Masuk!" perintah itu langsung ia turuti. Wajah pria paruh baya di depannya membuat ia sedikit gemetar, tetapi ada neraka yang lebih kejam dari ini, ia mencoba kuat dan bertahan.


"Maaf Pak Yusuf karena telah mengganggu waktu Bapak. Saya ingin minta maaf karena tidak bisa menjadi gate untuk wisata religi ke Yogyakarta kali ini."


"Kamu- sudah dua kali yah Kamu tidak menerima pekerjaan menginap dan wisata ke luar kota. Selama ini kan kamu hanya menjadi tour gate keliling Jakarta dari sekolah SD dan TK saja. Baru sebulan bekerja tapi Kamu telah menolak tawaran pekerjaan dua kali, Saya sangat ingin memecatmu!"


Ami mencoba tetap tersenyum apapun yang terjadi.


"Sudahlah, Saya beri Kamu kesempatan satu kali lagi. Sekarang Kamu kerjakan saja rancangan wisata religi ke Kota Malang."


"Baik Pak, terimakasih."


***


Malam itu sekitar pukul 19.30, Ami keluar dari kamarnya dengan balutan gamis biru kegemarannya serta kerudung pink, tas hitam dan kaos kaki hitam. Dia mengingat perkataan Ayahnya pagi tadi sebelum berangkat kerja, "Ami, nanti malam temui calonmu ya!" kata perintah yang biasa diucapkan orang tua dengan lembut terasa mengerikan hingga membuat bulu kuduk Ami bergetar. Kini dia berjalan menuju rak sepatu, mengambil heals biru satu-satunya miliknya.


Ayah mengikuti dibelakangnya, dengan senyum tipis dia berkata "Maafkan Ayah karena tidak bisa mengantarmu. Ayah harus membereskan urusan restoran yang terbengkalai karena hutang. Ini (memberi uang sebesar Rp. 300.000) untuk ongkos taksi." Ami menerima uang tersebut seraya tersenyum walau perih, dia tetap harus tersenyum.


"Alhamdulillah, aku sampai tepat waktu. Yah, aku memang sengaja tidak ingin datang sebelum waktunya, bisa-bisa aku bosan menunggu. " gumamnya seraya berjalan menuju kasir. Pelayan menunjukkan tempatnya setelah dia menyebutkan nama calon suaminya, Rao.


Rupanya dia harus bersabar menunggu karena Rao masih belum datang. Dia pesan segelas air putih sembari menunggu calonnya. Rasa kantuk karena hampir tidak tidur semalaman memikirkan perkataan Ayahnya tentang hari ini.


Tentang ia harus menikah sebagai wujud terimakasih karena sudah diadopsi dan dibesarkan hingga hari ini. Tentang ia harus menikah untuk menutup hutang keluarga dan kembali hidup nyaman seperti biasa. Tentang impian yang terpaksa harus kandas ditengah jalan. Dan tentang cinta yang mungkin tak akan pernah dia dapatkan, seumur hidup. Kantuk itu semakin menjalar membuatnya terlelap.


Dua jam telah berlalu, Rao akhirnya menyelesaikan pekerjaan yang terjadi akibat kelalaian salah seorang karyawannya. Dia bahkan langsung memecat pria itu. Kini dia berjalan di sebuah restoran diikuti oleh sekertaris pribadinya, Pak An. Dia langsung duduk dengan kesal di depan Ami yang tengah tertidur pulas.


Rao memetikkan jari, pelayan datang menghampiri dan menulis setiap kata yang diucapkan Rao, lalu beranjak pergi. Rao kesal melihat wanita itu tidur dengan nyaman disaat ia harus bersusah payah menemuinya setelah kerja lembur.


BRAAKK. Rao menggebrak meja. "Tolong Aku!" ucap Ami langsung duduk tegak. Rao meminta berkas pada sekertaris An kemudian melemparkannya ke atas meja. Ami sedikit kebingungan dengan situasi aneh ini. "Kamu-Siapa?" tanya Ami bingung.


"Rao"


Ami mengangguk paham. Dia ambil berkas di atas meja, membaca kata demi kata hingga selesai.


"Kau harus tanda tangan!" titah Rao.


"Ini, perjanjian nikah kan. Jadi, hanya sampai setahun ya. Alhamdulillah. "


"Aku tak sangka wanita cantik nan soleha sepertimu ternyata mau ya dengan mudah menjual dirinya hanya untuk beberapa lembar rupiah. Bukankah menjual diri adalah hal yang dilakukan *******?!" Rao tersenyum sinis seraya langsung pergi diikuti An. Bersamaan dengan makanan yang diantarkan pelayan. "Sudah ku bayar." ucap Rao kepada Ami sebelum melangkah lagi.


Rao tahu, kalau Ayahnya meminjamkan uang pada orang tua gadis itu. Dan membuat gadis itu harus menikahinya. Rao benci dengan para wanita yang mendekatinya, terutama karena harta. Dan calon istrinya adalah salah satu yang paling dia benci. "Ku pikir berpenampilan rubah, ternyata ada juga bidadari berkelakuan iblis." gumam Rao ditengah perjalanan pulang.


Ami tersentak dengan ucapan Rao. Dia tersenyum dengan air mata yang mengalir. Ia mengambil makanan dengan sendok dan garpu, mendekatkan pada mulutnya yang masih tersenyum. Namun, ia tidak bisa memasukkan makanan itu ke dalamnya. Gigi grahamnya justru menggigit ujung bibirnya hingga mengeluarkan darah. Air matanya pun terus mengalir.


Seorang pelayan menghampirinya, "Nona, restoran kami akan tutup. Apakah Anda sudah selesai menyantap makanannya?"


Ami tetap diam menggigit bibirnya, air matanya seolah tak mau berhenti. "Nona, maafkan Saya jika membuat Anda tersinggung. Saya sungguh minta maaf." ucap pelayan itu lagi, khawatir setelah melihat air mata Ami yang menetes. Ami tersadar setelah pelayan itu meraih tangannya, menggenggamnya sembari mengucap kata "Maaf."


"Tida apa-apa. Terimakasih jamuannya. " ujar Ami seraya berjalan meninggalkan pelayan itu keluar restoran.


Ponselnya menunjukkan pukul 22:30 malam, dia memanggil taksi untuk mengantarnya sampai rumah yang sejak kelahiran adiknya sudah tak seperti rumah. Dalam perjalanan itu ia terbayang masa lalu, ketika adiknya lahir dirinya berusia 4 tahun.


Mainan yang dia inginkan dahulu selalu diberikan tetapi sejak itu tak pernah lagi dibelikan. Ibunya yang dahulu sangat memperhatikannya selalu meninggalkannya karena harus mengurus adiknya. Ayahnya hanya berkata "Ami, kamu sudah jadi kakak. Jadi, kamu harus bersabar." Namun, seiring berjalan waktu Ami seolah makin tersingkir. Setiap kali liburan keluarga ia sudah tak pernah diajak. Boneka kesayangan miliknya direbut paksa oleh si adik dan Ayahnya hanya berkata "Kamu kan kakak, jadi harus mengalah." Ia mulai sabar dan menerima. Sayangnya, sikap adiknya makin kurang ajar terhadapnya. Ia mulai mengacuhkan.


Diumurnya ke-12, dia tahu kebenarannya. Dia tahu alasan dibalik itu semua. Dia bertanya berkali-kali tetapi kedua orang tuanya hanya berkata "Saat kami siap, dan kamu sudah dewasa akan kami ceritakan." di usia ke-17 mereka pun menceritakannya. Air mata Ami kembali berurai diikuti isak tangis yang tak terbendung lagi.


"Maaf Nona, sudah sampai. " ujar supir taksi membuyarkan lamunan Ami.


" Terimakasih Pak. Tolong tunggu sebentar, biar Saya menenangkan diri sebelum turun. "


"Iya, tidak masalah"


***


Pagi itu, kabar mengejutkan terlontar dari lisan Ayah saat di meja makan. "Ami, Ayah dapat kabar katanya calon mertua kamu sedang kambuh subuh tadi. Jadi, Ayah mohon kamu jenguk beliau sekarang ya!"


"Maaf Ayah, aku harus bekerja. "


"Setelah pulang juga tidak apa-apa." Ucap Ayahnya tersenyum.


Ami mengangguk paham.


Sesuai perintah itu, Ami bergegas menaiki mikrolet pukul 17:00 setelah bekerja. Dia berdesak-desakkan dengan para penumpang lain, karena kursi sudah diduduki semua. Dia turun di halte kemudian berjalan sekitar 200 km untuk tiba di rumah sakit. Dia bertanya pada administrasi terkait letak kamar Ibu Rao. Namun, karena ia tak tahu nama Ibu itu, maka admin tidak bisa membantu.


Ami menghubungi Ayahnya, sehingga kini dia tahu bahwa nama Ibu Rao adalah Dinar. Ami kembali bertanya pada admin, kemudian mendapat jawaban "Bu Dinar dirawat di ruang 314" Ami mengucapkan terimakasih sebelum beranjak pergi.


Ami menarik nafas dalam sebelum mengetuk pintu. Kenapa bernafas terasa menyakitkan?. Ami mendengar seseorang menyuruhnya masuk, ia pun melangkah masuk. Rao terkejut ketika yang datang adalah calon istrinya, tetapi wajahnya tetap datar. Dia pikir yang datang adalah sekertaris An. Rao kesal melihat penampilan Ami yang berantakan, tetapi tetap berekspresi datar.


Dinar yang sudah siuman melihat gadis di samping kananya dengan heran.


"Assalamu'alaikum bu, Saya Islami." ucapnya sembari menyalami dan mencium tangan Dinar. Ami kemudian duduk di samping Rao.


"Kamu, calon mantuku? cantik ya. Ibu ingin lihat pernikahan kalian."


"Ibu tenang saja, kami akan menikah disini. Cukup pernikahan sederhana saja, karena kami tidak ingin bermewah-mewahan." Ujar Rao.


"Apa Ami setuju?"


"Tante tenang saja, InsyaAllah Saya setuju. "


" Panggil Ibu saja."


Ami mengangguk.


Ketika obrolan telah usai dan Bu Dinar telah tidur. Rao memerintah Ami untuk mengikutinya keluar dari ruangan tersebut. Rao berjalan ke arah tangga darurat, lalu berbalik menatap Ami dengan rasa jengkel. Rao menyudutkan Ami di tembok. Lalu tersenyum manis seraya berkata "Aku tidak tahu kalau kau semiskin ini sampai bajumu terlihat sangat kotor dan bau badanmu sungguh memuakkan, apakah untuk membeli parfume saja kau tidak bisa saking miskinnya? Ataukah kau meremehkan pria terhormat sepertiku?"


Ami hanya tersenyum.


Rao berbalik dan pergi meninggalkan Ami.


Di perjalanan pulang, lagi-lagi Ami menangis. Setibanya di rumah, ia kembali meakai topeng senyuman andalannya ketika Ayah menanyakan tentang Bu Dinar dan Rao.


Ami naik ke atas menuju kamarnya, dia mandi kemudian berwudhu serta melaksanakan sembahyang sekaligus mengadu dan mengeluhkan hidupnya yang terasa berat dan menyakitkan. Hidupnya yang membuat ia terasa sulit bernafas, karena sangat menyesakkan.


***


Rao mengendarai mobil miliknya melintasi jalan pulang. Setibanya di rumah ia mandi lalu sembahyang. Ia mengadu pada Allah betapa dia sedih melihat kondisi Ibunya, ia mengeluh kepada Allah betapa lelahnya bekerja dan menghadapi orang-orang disekitarnya.


Rao tidak mencintai Ami, dia bahkan membenci gadis itu. Namun, dia ingin Ibunya bahagia sebelum kepergiannya. Rao merasa sesak setiap kali bernafas. Ia ingat semua kata-kata kejam yang terlontar dari bibirnya, sebenarnya ia tak ingin begitu tapi ia benci dikelilingi banyak orang yang hanya memanfaatkannya.


Sewaktu SMP, Rao mengetahui bahwa sahabatnya Gilang selama ini hanya memanfaatkannya untuk meminjam uang dan barang-barang miliknya. Tanpa sengaja Rao menguping pembicaraan Gilang di belakang sekolah, sewaktu hendak membuang sampah. Merasa dikhianti, Rao menjadi waspada dengan orang-orang disekitarnya. Suara-suara yang tak pernah terdengar, seolah merasuk ke telinganya walau bervolume rendah. Kata seperti, "Kita harus panjat sosial, makanya berteman saja dengan Rao." atau "Rao itu jenius, tapi dia bodoh karena bisa dengan mudah kita manfaatkan."


Sosok Rao yang dahulu ceria berubah menjadi dingin. Membaca buku menjadi satu-satunya kegemaran yang menghiburnya. Kata-kata manis berbalut racun mulai ia lontarkan pada kawan-kawannya. Bahkan, ia sengaja berpura-pura mengajarkan temannya tentang pelajaran sekolah hanya untuk merendahkannya. "Mereka semua bodoh. Mereka tak mengerti ucapanku." itulah yang selalu dikatakan Rao dalam hatinya.


Sikap itu semakin membuat teman-teman membicarakan dia dan memberinya gelar "Malaikat berhati iblis." diam-diam ada seseorang yang selalu mengerjai Rao tanpa pernah diketahui batang hidungnya. Tersiram air ketika buang air, kehilangan baju olah raga, menemukan tempat makan di tong sampah, buku tugas yang tersobek mendadak. Rao melaporkan hal itu kepada pihak sekolah. Namun, dia semakin dikerjai. Maka, dia melaporkan kepada Ayahnya. Dan mengancam di depan semua orang pada saat pidato kemenangan olimpiade sains nasional. Dia berkata


"Alhamdulillah, Saya berhasil memenangkan olimpiade ini dan mengharumkan sekolah. Tidak seperti orang yang diam-diam mengerjai Saya dan tidak pernah menampakan diri seperti pengecut. Siapapun itu, Saya tidak akan pernah memaafkannya. Jika, tidak ada yang mengaku hingga detik ini juga. Maka jangan harap hidup kalian semua akan tenang. Saya akan buat hidup kalian semua seperti di neraka."


Benar saja, Rao meminta pihak sekolah untuk menambah tugas bagi siswa bodoh dan membuat pelajaran tambahan sepulang sekolah dengan dirinya sebagai pengajar di ruang auditorium. Selama mengisi kelas tambahan itu, Rao melempar spidol ke sembarang orang, melempar kertas, memberi tugas dan menghina dengan senyum secerah mentari.


Sejak itu, ia tidak pernah lagi dikerjai. Rao menghentikan aksinya yang telah berjalan hampir satu bulan. Keadaan kembali normal, hanya Rao yang tidak kembali normal. Ya, hanya dia yang berhenti ceria. Berhenti bahagia. Berhenti tertawa. Berhenti berkawan. Dan hanya menghabiskan hari dengan buku. Dia merasa kesepian, tapi juga menyesakkan. Namun, ia tak ingin dianggap sendirian. Dia membangun benteng dalam diri bahwa dia tidak butuh siapapun.


***