Forced Love

Forced Love
Part 3 The "D" day



"Walau dunia terasa keji, tetaplah indah bagiku."


***


Seperti biasa, Ami turun dari kamarnya langsung ke ruang makan. Langkahnya terhenti mendapati sosok pria paruh baya yang tidak dikenal. "Ayah, dia siapa?" pria itu berjalan mendekati Ami hingga berdiri tepat di depannya. Tangan kanan pria itu bergerak memberi salam layaknya pelayan dalam cerita cinderella.


"Perkenalkan Nona, nama saya Jupri. Anda bisa memanggil Saya dengan sebutan Pak Ju atau Pelayan Ju. Saya ditugaskan oleh Tuan Muda untuk menemani Anda menyiapkan pernikahan."


Ami terdiam, sorot matanya mengarah kepada sang Ayah.


"Kalian berdua, duduklah dan makan sarapannya." ucap Ayah.


"Maaf Tuan, Saya sudah makan. Lebih baik, Saya menunggu di luar. Silahkan nikmati hidangan kalian. (senyum)."


Ami duduk di kursi bersamaan dengan perginya Pelayan Ju.


Selepas menyantap sarapan, Ibu mengantar kepergian Ayah, Rumi dan Ami hinggga ke depan pintu. Ami mencium tangan Ibunya, begitupun yang dilakukan Rumi. Ayahnya memeluk Ibu serta mencium keningnya.


Rumi biasa berangkat kuliah menaiki mobil ayahnya. Hal yang tak pernah di rasakan Ami sejak masuk SD. Ami berjalan menuju pintu mobil yang telah dibuka oleh Pelayan Ju.


"Maaf Pak Ju, Saya tidak bisa hari ini karena harus berangkat kerja."


"Tapi Nona, Tuan Rao telah memberikan daftar yang harus Anda beli. (menyerahkan daftar)"


Ami kaget ketika daftar yang harus ia beli sangat banyak. Ia juga kaget melihat tanggal pernikahan di bagian paling atas kertas, yakni 12 September 2017. Itu berarti pekan depan.


"Pak, apa maksudnya ini? Kenapa bisa ada pernikahan secepat ini? Apakah semua persiapan itu bisa selesai dalam sepekan?" Kaki Ami sedikit gemetar menahan bobot tubuhnya yang amat ketakutan.


"Jika Nona tidak terlalu pemilih, semua itu akan selesai dalam tiga hari. " ujar Pelayan Ju.


Mulut Ami sedikit terbuka tidak percaya dengan ucapan itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Siapa sih yang menggangu saat penting seperti ini?. Ami melangkah sedikit menjauh dari Pelayan Ju untuk mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal.


"Assalamu'alaikum, ini siapa?"


"Kau sudah bertemu Pelayan Ju?"


Ami mencerna kalimat itu lalu berkata "Rao"


"Sebaiknya Kau tidak membuang waktu dan lakukan saja yang diperintahkan. Ingatlah hutang keluargamu!"


"Tapi-"


Tuut... Sambungan tertutup.


Ami menatap sekilas Ayahnya yang sudah berada di dalam mobil tepat di depan rumah. "Haaah...." menghela nafas panjang, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil yang pintunya telah dibukakan oleh Pelayan Ju.


***


Pemberhentian pertama adalah sebuah butik yang tampak mahal, yakni MF atau "Muslimah Fashion". Para karyawan menyabut kedatangan Ami, bahkan manager mereka sendiri yang mengantar Ami memilih gaun pengantin.


Sorot mata Ami langsung tertuju pada sebuah gaun putih yang tampak seperti gamis dengan permata ruby dipinggangnya dan renda putih yang menjulur di atas bagian roknya bertabur manik-manik yang berkelap-kelip. Serta kerudung panjang dengan renda dipinggirannya dan bros dari permata ruby dan dibagian atasnya dilengkapi dengan mahkota bertahtahkan ruby. Dan sepatu putih dengan hak 5 cm.


"Pilihan yang bagus Nona. Rendanya dapat memancarkan warna biru ketika gelap sangat cocok dengan permata ruby di baju tersebut. Bagaimana jika Anda mencobanya. Anna, antar Nona ke ruang ganti!"


Ami merasa kebingungan ketika di seret oleh dua orang karyawan wanita." Tunggu, berapa harganya? Ruby? Apakah sangat mahal? Sebaiknya Saya cari yang lain saja." kedua pelayan itu tidak mendengarkan perkataan Ami dan tetap menggeretnya.


Cermin berukuran besar telah memantulkan dirinya berbalut gaun mewah tersebut. Padahal pernikahan itu seperti kematian bagiku, tapi kenapa terasa begitu indah?. Pelayan Ju mendekati Ami, ia berkata "Apakah Nona menyukainya?" Ami hanya tersenyum.


Pelayan Ju memberikan kartu premium kepada manager butik dengan berkata "Kami ambil yang ini dan pasangan pakaian prianya."


"Eh? Pak Ju, ini sangat mahal. Saya tidak bisa menerimanya."


"Bukankah sudah Saya katakan Nona, jika ingin selesai dalam tiga hari maka Nona tidak boleh terlalu pemilih. Ambil saja apa yang disukai." (tersenyum)


Ami terdiam. Kemudian berkata "Lagipula kenapa harus mengadakan resepsi, bukankah katanya ingin sederhana? Apakah Anda tahu Pak Ju?"


"Nyonya besar ingin yang terbaik untuk putranya."


Karyawan butik memasukkan dua pakaian yang telah dibungkus rapi itu ke dalam jok mobil. Pelayan Ju membukakan pintu supaya Ami masuk. Kemudian dia ke balik kemudi, menyetir menuju toko perhiasan.


Ami minta ditunjukkan cincin pernikahan oleh penjualnya. Dia memilih cincin biasa tanpa berlian. Pelayan Ju lantas berkata "Berikan yang ada berliannya!"


"Tunggu, itu akan mahal. Saya-"


"Nona sebaiknya tidak mempermalukan Tuan Muda."


Penjual memperlihatkan berbagai cincin nikah dengan bermacam berlian, dari ukuran kecil hingga besar.


"Pilihlah!"


Ami memilih cincin dengan permata kecil ruby.


Pelayan Ju langsung memberikan kartu untuk membayarnya. Sebagaimana perintah Rao.


Perjalanan berikutnya, Ami memilih desain undangan yang akan digunakan. "Pilihkan saja yang simpel namun tetap terlihat elegan." ucap Ami.


"Bagaimana dengan yang hitam ini?"


"Iya itu saja. "


" Buat berapa buah?"


"200 undangan dalam waktu tiga hari." ucap Pelayan Ju.


"Tapi itu sedikit sulit. Kami juga punya pesanan lain. "


Pelayan Ju memberikan kartu nama Rao beserta kartu premium untuk membayar dua kali lipat. Akhirnya pria itu sepakat dan meminta nama yang akan menikah serta orang tuanya. Pelayan Ju memberikan kertas yang berisi data untuk undangan pernikahan tersebut.


"Tolong antarkan ke alamat tersebut. " ucap Pelayan Ju sembari memgambil kembali kartu yang telah di gesek. "Ayo Nona!" ucapnya lagi mengajak Ami yang masih diam terpaku keluar dari tempat itu.


Usai shalat, perjalanan dilanjutkan ke restoran terdekat. Ami duduk dan memesan beberapa makanan juga minuman.


"Pak Ju tidak duduk?"


"Nona, silahkan nikmati hidangannya. Saya akan ke meja lain. "


Ami mengangguk.


Ternyata perjalanan masih harus berlanjut. Mengunjungi katering pilihan Rao dan memilih menunya. Lalu mengunjungi gedung pernikahan pilihan Rao untuk reservasi. Dan mengunjungi wedding organizer pilihan Rao. Yaps, semua itu pilihan Rao yang ada dalam daftar. Ku pikir dia tidak memikirkannya, ternyata dia menuliskan daftanya begitu detail seolah sangat memikirkannya.


"Pak Ju, apa benar Rao yang telah membuat daftar ini?" Ami terseyum mengakhiri kalimatnya seolah ada kehangatan yang merasuk ke hatinya.


Pelayan Ju yang tidak bisa membaca situasi justru menjawab dengan jujur. "Bukan Nona, Tuan Muda yang menyuruh Sekertaris An untuk membuatnya. Apakah ada yang salah atau tidak sesuai selera Anda, Nona?"


Hati Ami terasa teriris. Ia hanya menggeleng dengan senyum yang telah memudar. Memang tidak mungkin iblis melakukan kebaikan.


Pukul 18:00 akhirnya Ami telah selesai melakukan perjalanan untuk pesta pernikahannya. Kini dia tengah berbaring sejenak di atas kasur kamarnya sebelum mandi dan sembahyang.


***


Langit semakin gelap, kala Ami hendak terlelap. Namun, ia perlu menyusun rencana untuk esok hari sehigga ia membaca keseluruhan daftar barang yang harus ia beli. Ia terkejut dengan adanya tulisan kasur, perabot rumah, mobil, alat dapur, sofa dsb. Seolah hendak pindah rumah.


Ami menghubungi nomor Rao yang sebelumnya pernah menghubunginya.


"Assalamu'alaikum Rao."


"Hem"


"Mengapa Saya harus membeli berbagai perlengkapan rumah?"


"Kau bisa bertanya pada Pelayan Ju besok. "


" Hah?"


Tuut... sambungan ditutup.


Merasa kesal Ami akhirnya memaki Rao sampai lelah. Lalu kembali tersenyum dan berbaring untuk tidur. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata dari atasannya.


"Assalamu'alaikum Ami"


"Wa'alaikumussalam Pak Yusuf, ada apa ya?"


"Kamu sudah Saya pecat. Jadi segera bereskan barang-barangmu di kantor. "


"Baik Pak. " bulir air mata itu berjatuhan, Ami menahan senyumnya tetap mengembang. Malam itu, lagi-lagi Ami tidak bisa tidur.


***


" Maaf Pak Ju, bisakah sebelum membeli yang ada di daftar ini, Bapak antarkan Saya ke kantor?!"


"Baiklah Nona, tetapi hanya sebentar."


Dengan tatapan sendu dan senyum setipis debu, Ami berkata "Bapak tenang saja, Saya sudah dipecat."


Pelayan Ju terdiam tidak ingin mengusik luka majikannya.


***


Walau hanya sebentar bekerja di tempat itu, Ami sudah merasa nyaman. Dia mentap kursi kerjanya, membereskan barang miliknya sebelum akhirnya mengucapkan terimakasih dan salam perpisahan kepada rekan kerja dan atasannya.


"Nona, maaf jika lancang. Sebentar lagi Nona akan menikah dengan Tuan Muda. Pemilik perusahaan sabun nomor satu di Indonesia. Jadi, Saya rasa Nona tidak perlu bersedih."


Ami hanya tersenyum mendengar ucapan Pelayan Ju. Mungkin kekayaan ini harus ku nikmati, walau hanya satu tahun saja. Ya, aku akan menikmatinya.


Pelayan Ju membawa Ami ke rumah yang baru dibeli oleh Rao tiga hari yang lalu. Rumah dengan ukuran besar serta halaman yang luas, kolam renang dan juga garasi yang luas. Ami menatap takjub sebelum masuk ke dalamnya.


Rumah itu telah di desain dengan sangat apik. Hanya masih kosong di satu ruang kamar yang luasnya hampir menyamai dua kamar di rumahnya bila digabungkan.


Tidak ada perabot rumah lainnya, seperti peralatan dapur, kulkas, oven, microwave dsb. Seperti yang tertera di daftar.


"Nona, Tuan Muda berkata bahwa ruang kosong itu adalah kamar Anda. Jadi, Nona bisa mellengkapinya dengan barang apapun. Saya harap Nona mempercantik ruang tidur Nona supaya dapat tidur dengan nyaman. "


Setelah mengamati rumah itu, Ami bergegas mengajak Pelayan Ju untuk menemaninya membeli yang dibutuhkan. Dan semua itu akan di antar besok pagi.


Hari itu, Ami selesai lebih cepat ketimbang hari kemarin. Dan besok Ami hanya harus mengatur tata letak barang yang telah dibelinya. Kemudian menulis nama tamu yang diundang di atas undangan yang telah dikirimkan. 100 buah undangan akan ditulis Pelayan Ju sesuai daftar dari Rao, sedangkan 100 buah sisanya akan ditulis oleh Ami sesuai dengan nama tamu yang ingin ia undang.


***


Akhirnya, hari kematian pun tiba. Ami menatap dirinya dipantulan cermin setelah di make up oleh MUA. Pagi itu, Ami beserta kedua orang tuanya, Rao beserta Ayahnya dan seorang penghulu berada di kamar 314 tempat Ibu Dinar terbaring sakit. Mereka melangsungkan ijab kobul di sana.


Bulir air mata sudah tak terbendung di wajah Bu Dinar, dia begitu bahagia melihat prosesi sakral tersebut. Baginya, menikah itu haruslah sekali seumur hidup. Bagaimana jika dia tahu bahwa putranya akan bercerai?


Usai ijab kobul, Rao dan Ami terpaksa harus pergi ke gedung resepsi pernikahan. Namun, orang tua mereka tidak dapat mendampingi karena harus menemani Bu Dinar, Ibu dari Rao.


Selama perjalanan di dalam mobil, mereka sama-sama menatap keluar jendela. "The death day, kah?" gumam Ami.


"Apa?" rupanya telinga Rao setajam silet sampai mampu mendengar gumaman itu.


Ami diam tidak menanggapi.


"Death day?" Rao kembali mengulik.


"Begitulah." Ami tersenyum menatap jalanan.


"Benar, hari kematian. Kita terlihat sedang berkabung" Ucap Rao menatap Ami sembari tersenyum tulus.


***