FALSE LOVE

FALSE LOVE
Frustasi



Sudah seminggu ini hubungan Kai dan Rava semakin merenggang tapi berbanding terbalik dengan hubungan Kai dengan Sherly semakin dekat. Dimana ada Kai pasti disitu pula ada Sherly.


Sherly yang mempunyai latar belakang anak seorang dekan dengan mudah pindah kelas untuk lebih dekat dengan Kai.


Semula tempat duduk Rava persis disamping Kai kini berpindah digantikan oleh cewek sexy itu. Rava tak ingin terjerumus urusan mereka jadi lebih memilih berpindah duduk di bagian depan.


Jam istirahat pun tiba, Diffan melangkah menuju tempat duduk Rava yang sekarang berada jauh darinya.


"cupu ngapain loe pindah. Loe gak kasian sama gue jadi obat nyamuk disana" ucap Diffan memelas sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja.


Anya tersenyum geli melihat tingkah cowok berambut pirang itu jadi lembek seperti ini.


"Ke Kantin yuk. Gue badmod disini. Gue beliin susu kesukaan loe deh.." eret Diffan sambil menarik lengan Anya dan mereka berdua beranjak pergi.


Sepasang mata memperhatikan tingkah mereka. Yah itu adalah Kai yang merasa terasingkan sekarang. Sebelum ini setiap istirahat Kai dan Anya selalu pergi ke Kantin bersama. Kenapa sekarang jadi Diffan yang lebih dekat dengan Rava. Bukannya Diffan suka membully Rava. Pikiran Kai bertambah frustasi, Kai tak ingin berlarut-larut dengan masalah seperti ini tapi dia belum menemukan jalan keluarnya.


Sepulang dari mengajar Kai mengayuh sepedanya entah mau kemana langkah kakinya mengayuh dan tetap mengayuh. Pikirannya kosong hatinya sesak entah mengapa. Dalam benaknya hanya muncul bayangan Rava yang mengacuhkannya.


Ciiiiiiiiiiiiittttttt.....


suara mobil yang mengerem mendadak lamunan Kai buyar. Dari balik jendela mobil muncul seorang pria dewasa.


"woyyy... nak kau cari mati yah. Kalau tidak fokus jangan berkendara di jalan raya.." teriak pria dewasa itu langsung melanjutkan perjalanan.


Kai tersadar dirinya hampir menyebabkan kecelakaan orang lain. Untuk menenangkan pikirannya Kai mampir ke cafe Calmati. Dengan lemas Kai berjalan gontai ke lantai dua setelah memesan secangkir Americano dan duduk di smoking area. Meskipun Kai tidak merokok tapi dia hanya ingin merasakan angin malam saat ini.


Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan Kai. Pelayan berwajah Asia Tenggara itu pun kaget melihat pengunjungnya tak lain adalah seorang yang ia hindari belakang ini.


Dengan profesional Anya berperan sebagai pelayan cafe. Tak ada yang menyangka bahwa gadis pelayan berwajah cantik itu tak lain adalah pemilik dari cafe Calmati yang terkenal itu.


"silahkan kak" ucap Anya


Kai hanya terdiam tak bergeming. Terlihat wajah Kai yang tampan dan dingin semakin dingin sedang melamun. Sebenernya Anya ingin kembali seperti dulu tapi Sherly selalu berada di samping Kai.


Satu jam. Dua jam. Tiga Jam. Empat Jam.


Selama empat jam ini Kai duduk sendiri dengan ditemani alunan musik Jazz serta secangkir kopi Americano.


Selama 4 jam ini Kai memikirkan bagaimana cara untuk meluruskan masalah ini dan hasilnya benar-benar membuatnya frustasi tak ada solusi yang pas dalam pikirannya.


Sampai pada akhirnya....


"Maaf kak setengah jam lagi waktunya kita tutup" ucap pelayan berwajah Asia Tenggara itu sopan.


Lamunan Kai buyar seketika.. dilihat jam sudah menunjukkan pukul 22.45


"Astaga berapa jam aku sudah duduk disini" batin Kai


"Oke" jawab Kai singkat


"mmmb bukannya kaka anggota basket itu" ucap Anya memecahkan lamunan Kai


Kai menoleh mengernyit dahinya.. sambil mengingat..


"Oh kamu.."


"Kaka ingat sama saya?" ucap Anya berakting seperti baru kenal.


"iya gara-gara kamu aku disangka gay sama teman-temanku" ucap Kai tersenyum dingin


"kenapa bisa kak"


"sudahlah kau tak perlu tau. Bukannya waktunya tutup kenapa kamu belum pulang" ucap Kai sambil beranjak diikuti Anya dibelakangnya


"Bagaimana aku bisa pulang kaka masih disini. Aku hari ini punya tugas memegang kunci." ucap Anya sambil tersenyum


"oh.." jawab Kai datar melihat pelayan itu membuntutinya


"Kak aku lihat kau sepertinya ada masalah. Wajahmu kelihatan sangat Frustasi".


"Apakah terlihat jelas" ucap Kai tiba-tiba berhenti berjalan


Anya yang berada dibelakangnya tanpa sengaja menabrak punggung Kai.Brrrukk.. ini sudah ketiga kalinya mereka bertabrakan..


"Kenapa kaka tiba-tiba berhenti" ucap Anya sambil memegang hidungnya yang merah


"Tak apa maafkan aku" ucap Kai sambil menyusuri anak tangga.


"Kak kalau kau perlu teman curhat aku tidak keberatan" ucap Anya


"Curhat?" ucap lirih Kai.


"Aku tak tega melihat wajahmu yang frustasi seperti itu. Mungkin kalau kau berbagi dengan seseorang bisa meringankan beban pikiranmu. Aku tau kita tak saling kenal tapi tenang saja aku bisa menjaga rahasia. Dan juga bisakah kita berteman mulai sekarang". ucap Anya meyakinkan


Kai menoleh pelayan cantik itu, dilihatnya situasi cafe sudah sangat sepi hanya beberapa karyawan membersihkan meja.


"Kau ada waktu?" ucap Kai kepada Anya.


" Iyah kak aku luang saat ini ayo kita duduk di teras" ucap Anya sambil berjalan ke smoking area lantai dasar.


"hei untuk niatmu berteman denganku aku minta maaf. Aku tak berencana berteman denganmu." ucap Kai lirih..


"kenapa kak" ucap Anya berusaha memecahkan situasi


"maaf sebelumnya aku belum terbiasa berteman dengan seorang wanita.. semenjak ibuku meninggal saat aku masih kecil aku jarang sekali bergaul dengan wanita. Entah itu tetangga saudara ataupun teman sebaya. Aku merasa aneh kalau berdekatan dengan wanita. Tapi sebenarnya aku mulai belajar... sejak dia datang semua berubah perlahan." ucap Kai sambil nyeruput kopi yang baru saja dibawakan teman pelayan cantik itu.


"aku tak punya pacar. Berteman dengan wanita aja baru sebulan ini bagaimana aku bisa langsung berpacaran. Aku hanya ingin fokus kuliah mengejar cita-cita dan membahagiakan ayahku. Dia itu teman wanitaku yang pertama. Gadis yang manis." ucap Kai sambil tersenyum memikirkan Rava.


"mmbb pasti gadis sexy ya kak. Kakak normal kalau gitu. Banyak cowok suka sama cewek sexy."


"Kalau kau tak tau jangan asal bicara" ucap Kai dingin


Anya tersenyum melihat Kai berwajah kesal


"Dia gadis yang berbeda. Awal kita bertemu di perpustakaan. Padahal aku baru saja mengenalnya beberapa minggu ini tapi rasanya aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Hobby kita sama. Pikiran kita pun sering sama. Aku sangat nyaman didekatnya." ucap lirih Kai


Anya tersentak mendengar penjelasan dari Kai.. dalam benaknya " .. perpustakaan berarti yang di bahas Kai adalah Aku bukan Sherly..". Hatinya sedikit senang mendengar semua itu.


"Terus" ucap Anya penasaran


"yang membuat aku frustasi, akhir-akhir ini dia menghindariku. Awalnya kita sering jalan berdua tapi sekarang dia malah jalan sama sahabatku. Aku merasa sedih dan sakit entah mengapa. Apakah aku terlalu egois?" ucap Kai yang bertambah frustasi


"apakah kaka tau penyebab dia seperti itu?"


"kalau aku tau aku tak mungkin sampai seperti ini. Aku sudah beberapa kali meminta penjelasan darinya tapi dia selalu diam." ucap Kai kesal


"Ini sedikit sulit.."


"iya sangat sulit bagiku. Aku tidak terbiasa mempunyai teman seorang wanita. Aku tak tau bagaimana menghadapinya. Ini semua sejak saat itu.."


"Saat apa kak?"


"Saat dia membantu temanku untuk dinner berdua. Aku bahkan tak menyalahkannya untuk kejadian ini. Aku cuma ingin penjelasan darinya kenapa bisa dia mengenal temanku ini padahal selama beberapa minggu ini tak pernah melihatnya berbicara dengan mahasiswi kelas lain".


"mungkin itu kenalannya sebelum masuk kampus. Atau mereka bertemu di toilet banyak tempat kak pliis deh..".


"Tapi aku yakin bukan itu. Aku mengenalnya. Dia baru transfer dari Indonesia. Dia bilang tak ada teman di kampus. Mana bisa langsung membantu orang yang tidak ia kenal." ucap Kai semakin emosi


"bukannya membantu orang itu baik"


"benar baik kalau tujuannya baik. Malam itu temanku menyatakan cinta tapi aku tolak. Aku sudah jelaskan bahwa aku ingin fokus kuliah dan tak memikirkan masalah percintaan untuk saat ini. Dia menangis aku tak tega melihatnya. Dia ingin aku berjanji meskipun tak menjadi pacarnya setidaknya ia menjadi temanku." jelas Kai


"Kau menerimanya menjadi temanmu?"


"Sherly sering menangis. Dia berkata hatinya sakit selama ini hanya karena ingin dekat denganku. Aku tak tega melihatnya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih. Semenjak saat itu hubunganku dengan Rava semakin merenggang.. bahkan dia sering duduk dengan Diffan sahabatku aku sedih melihat semua ini. apakah aku terlalu egois menurutmu" ungkap Kai kembali melirih


Hati Anya akhirnya lega mendengar semua penuturan dari Kai. Selama setengah jam baru kali ini ia menyebutkan nama Rava yang tak lain adalah dirinya sendiri.


"Rava.. seperti nama laki-laki" ucap Anya tertawa


Kai melihat sinis pelayan cantik itu.


"Sorry kak..ayo lanjutkan" ucap Anya menahan tawa. Sebenarnya yang membuat dia tertawa adalah Kai membicarakan dirinya.


"Iya namanya adalah Rava gadis yang tiba-tiba hadir dan merubah semuanya. Menurutmu aku harus bagaimana?"


Anya tak pernah berpikir Kai sakit hati melihatnya berjalan dengan Diffan. Ternyata bukan hatinya saja yang terluka. Hati Kai juga terluka atas kejadian ini.


Anya mulai berpikir serius...dia tak ingin salah membuat solusi dan egois untuk enaknya sendiri. "seharusnya mulai awal aku tidak salah sangka pada Kai" batinnya sumringah


"Kalau menurutku kaka sempatkan waktu untuk memperoleh penjelasan darinya. Tak peduli sepahit apa kebenarannya. kaka coba jelaskan yang selama ini terjadi. Kaka coba cari tau apa yang mendasari dia menghindari kaka. Semua perempuan itu penuh perasaan kak berbeda dengan laki-laki yang mengandalkan logika." ucap Anya sebenarnya ini solusi untuk dirinya sendiri.


Keesokan harinya Kai mencoba mencerna perkataan Anya pelayan cantik itu. Dalam benaknya harus ada kesempatan menjelaskan kepada Rava sebenarnya terjadi. Sebentar.. aku harus tau dulu kenapa Rava menghindariku selama ini.


Pada jam mata kuliah berlangsung Sherly izin tidak masuk karena ada pertandingan tim cheerleaders tingkat distrik. Kai yang melihat Rava duduk sendiri langsung menempatkan posisi sebelah Rava.


"Rav.. aku mau omong sebentar"..


Anya terlihat kaget kedatangan Kai yang tanpa ia sadari. Anya menoleh tempat duduk Kai yang kosong tanpa ada Diffan ataupun Sherly.


"pacarmu kemana tumben sendiri" ucap Anya berakting sewot


"pacar?? siapa pacarku aku tak punya pacar." ucap Kai bingung


"yah siapa lagi kalau bukan gadis sexy itu" ucap Anya kesal


"ampun Sherly itu temanku Rav. Aku menolak cintanya karena aku ingin fokus kuliah. Kau marah gara-gara ini?" ucap Kai


Wajah Anya seketika merah karena malu..


"nggak kok siapa yang marah. Aku cuma tak mau ganggu kalian."


"ampun Rav. kenapa kita harus jadi begini?" ucap Kai sambil mengusap kasar wajah maskulinnya.


"begini Rav. kau jangan salah paham aku tak marah kepadamu saat kau membantu Sherly. Hanya saja aku khawatir padamu. Aku takut kau diperalat olehnya. Itu alasanku mengapa aku mendesakmu untuk menjelaskan bagaimana bisa kamu membantu Sherly" ucap Kai sedikit tegang


"Ayolah Rav. beri aku penjelasan agar aku tak membebanimu lagi." ucap Kai lirih


Anya tak tega melihat Kai bersedih seperti itu. Bukan hanya dirinya yang sedih. Kai juga sedih. Dia tak ingin menjadi egois..


"Aku hanya takut cara pandangmu pada Sherly berbeda setelah mendengar penjelasanku. Maafkan aku Kai." ucap Anya lirih


"Baiklah kalau kau tak ingin menjelaskan. Aku akan cari tau sendiri. Tapi bisakah kita seperti dulu lagi?" ucap Kai penuh harap


tanpa ragu Anya mengangguk cepat dan tersenyum. Kai melihat senyuman itu rasanya beban di hati selama beberapa hari ini telah memudar. Senyuman manis dari balik bibir tipis Rava membuat Kai melayang. Wajah manis Rava, Kai bisa merasakan meski tertutup poni dan kacamata tebal. Deg..deg..degg... suara detak jantung Kai melihat senyuman itu.


"terimakasih Rav" Kai balik tersenyum.


😊😊😊😊