FALSE LOVE

FALSE LOVE
Khawatir



Anya berjalan menuju kelas dengan gontai. Bukan karena tanpa alasan, ini sudah kebiasaan Anya saat hari pertama PMS. Perutnya kram dan nyeri bagian pinggangnya. Anya lupa kalau hari ini jadwalnya, untung saja ia selalu membawa persediaan pembalut tetapi ia lupa tak membawa obat pereda di dalam tasnya. Kepalanya mulai pusing mukanya pucat pasi. Beberapa mahasiswa melewati Anya dengan acuh. Memang Anya tak banyak memiliki teman di kelas lain.


Di dalam kelas Kai dan Diffan sedang mengobrol di barisan bangku mereka. Kai sekilas melihat Anya yang berjalan sempoyongan dari arah pintu masuk langsung berdiri menghampirinya.


"Rav kamu gak papa?" tanya Kai sambil membantunya berjalan menuju tempat duduk Rava yang tak disampingnya lagi.


"Kai bisa kau panggilkan Sherly?" ucap Anya sambil memegang perutnya keringat Anya juga terus bercucuran. Anya malu kalau harus minta tolong kepada Kai "ini masalah perempuan mana bisa aku minta tolong padanya" batin Anya


"Sherly belum datang Rav, kau ini kenapa sebenarnya?" Ucap Kai khwatir


Anya menoleh sekeliling kelas sekuat tenaga mencari teman wanita untuk dimintai tolong untuk membelikannya obat pereda nyeri.


Masalahnya semua teman cewek dikelas membencinya. Entah karena iri kecerdasan Rava atau karena dia dekat dengan Kai. Semua memandang sebelah mata Rava si gadis cupu itu.


Dari arah pintu terdapat manik lentik berkelopak sipit memperhatikan Kai lagi berdekatan dengan Rava. Kaki mulus jenjang itu mulai masuk ke dalam kelas. Batinnya geram melihat Rava dekat degan pujaan hatinya. "Berani kau dekat-dekat seperti ini. Aku harus memberimu pelajaran".


"Kamu kenapa Rav." ucap Sherly sok perhatian


"Untung kamu datang coba sini (sekarang jadwal bulananku aku membutuhkan obat itu, perutku kram bisa bantu aku)" Anya berusaha berbisik kepada Sherly


Sherly mengangguk paham tapi dalam hatinya ini adalah kesempatan. Lalu Sherly membopang bahu Anya menuju toilet untuk memasang pembalut.


"Kau tunggu didalam biar aku ambilkan obat pereda di klinik" ucap Sherly


Rava mengangguk dan masuk kedalam toilet sambil menahan rasa sakitnya. Memang hampir setiap bulan ia merasakan hal tersebut.


Sherly mulai awal memang tidak berniat membantu Rava. Ia cuma pura-pura baik di depan mata Kai. Setelah keluar toilet Sherly kembali ke kelas.


"Sebenarnya kenapa Rava?" Ucap Kai penuh kekhawatiran.


"Rava tak apa cuma tadi sedikit pusing jadi aku antar dia ke klinik" ucap Sherly sok perhatian.


"Tapi sekarang bagaimana keadaannya?" Ucap Diffan yang tak kala khawatir


"Dia baik-baik saja. Dia sudah tiduran di Klinik sebentar lagi sembuh kok. Kalian gak usah khwatir ya". ucap Sherly berbohong


Rava yang menunggu Sherly tak kunjung datang dari klinik akhirnya ingin menyusulnya dengan pelan dan tertatih berjalan langkah demi langkah sambil berpegangan di tembok menyusuri jalan menuju Klinik. Keringatnya dingin terus membasahi tubuh Anya. Kepalanya sangat berat matanya kabur. Anya melewati beberapa kelas suasana hening karena memang waktunya jam pembelajaran.


Setengah jam mata kuliah sudah berlangsung tapi Kai tidak fokus sama sekali. Hati Kai sedikit tidak tenang mengingat Rava terbaring sakit di klinik kampus. Tanpa pikir panjang Kai mengambil tas dan izin kepada Dosen Sissy. Sherly yang melihat Kai pergi ingin mengikuti tapi Diffan tidak mengizinkan dan menarik lengannya dan beralasan Kai ada urusan sebentar. Sherly tak tahan kalau sampai Kai pergi cuma gara-gara garis cupu itu.


Kai berlari menuju Klinik dengan jalan pintas memutar dekat kelasnya sampai ke Klinik dan langsung mencari Rava tetapi hasilnya nihil. Kai mulai cemas dan menyusuri setiap sudut jalan. Pikirannya semakin kalut beberapa kali Kai mencoba menghubungi Rava tapi tak ada jawaban.


Dari depan kelas Sandi terlihat berkerumun beberapa mahasiswa. Kai penasaran dan coba mendekatinya. Hati Kai mendadak sakit melihat gadis yang ia cari tak sadarkan diri di pangkuan sahabatnya Sandi. Kai langsung menerobos kerumunan itu dan membawa Anya menuju klinik. Diikuti Sandi yang berlari di belakang Kai.


Setelah mendapat penanganan medis Rava masih juga belum bangun. Kai sangat khawatir selalu disampingnya. Keringat dingin Anya masih saja bercucuran, tak henti Kai menyeka dengan tisu basah. Ia melepas kacamata gadis itu karena takut mengganggu tidurnya dan tanpa sengaja Kai memperhatikannya dengan seksama sepertinya sangat familiar batin Kai. Kai memegang tangan Rava dan berharap gadis manis itu bisa sadar secepatnya.


Sandi masuk melihat Kai memegang tangan Rava penuh khawatir. Ia berdiri disamping Kai dan menepuk pundak Kai. Kai yang sadar akan keberadaan Sandi langsung meminta penjelasan apa yang terjadi.


"San makasih yah udah nolongin temen gue" ucap Kai lirih


"Santai aja bro. Dia kan juga temen gue" ucap Sandi datar.


"Bisa loe ceritain gimana bisa jadi kayak gini" ucap Kai sambil melihat Anya yang terbaring lemah.


"Gue tadi duduk di taman depan kelas terus gue liat dia baru keluar dari toilet. Jalannya sempoyongan. Gue perhatiin terus kayaknya dia mau ke arah Klinik deh soalnya bukan kearah kelas loe".


Dalam batin Kai "Bukannya kata Sherly dia uda di klinik"


"Terus gue perhatiin terus lah waktu mau turun anak tangga deket kelas gue dia mau jatuh gue lari nangkep dia. Eh ternyata udah gak sadar aja. Anak-anak mau bantu gue bawa ke klinik. Terus loe dateng itu." jelas Sandi pada Kai.


"Loe yakin dia sebelumnya gak ke Klinik?"


"Yaelah bro gue duduk lumayan lama di taman gue yang liat sendiri dia keluar dari toilet ujung deket kelas loe itu" ucap sandi.


"Thanks ya bro" ucap Kai menepuk pundak Sandi ketua tim basket itu.


"Hah maksud loe kenapa loe tiba-tiba bilang itu?"


"Keliatan dari muka loe. Gimana khawatirnya loe. Gimana loe ngerawat dia. Mata tak bisa bohong". ucap Sandi sambil menahan tawa. Hatinya gembira sahabatnya yang dulu terkenal anti wanita akhirnya jatuh cinta.


"Loe ngomong apa sih" Kai malu


"Udah loe jujur aja loe suka kan sama Rava?"


"Gue mau fokus kuliah bro" ucap Kai lirih


"Udahlah daripada loe ntar telat nyesel."


Kai terdiam lama dalam pikirannya apakah ia benar-benar jatuh cinta dengan Rava.


"Sekarang loe bisa bandingin gak gimana perasaan loe deket sama Sherly dan Rava. Coba jujur sama gue"


"Gue.. cuma kasian sama Sherly. Tapi gue risih dia ikutin gue terus. Kalau sama Rava gue nyaman banget. Pikiran kita sejalan dia mau nerima gue apa adanya". ucap Kai sambil membayangkan kedua perempuan itu.


"Tuh kan rasa nyaman tu awal dari cinta bro..."ucap Sandi.


Mereka tak sadar gadis yang terbaring itu tiba-tiba siuman. Anya mengucek mata melihat sekitar masih remang-remang. Anya tersentak kaget karena kacamata tebalnya tak melekat di matanya. Dengan seksana dia mencari akhirnya meraih di meja samping bed.


Kai yang melihat gadis itu langsung membantunya untuk duduk. Anya buru-buru memasang kembali kacamatanya agar Kai tidak identitas aslinya.


"Kau sudah sadar Rav coba minum ini pelan-pelan. Ini obat anemia kalau ini obat pereda" ucap Kai sambil memberinya obat yang diberikan dokter klinik.


"Kenapa aku ada disini?" Ucap Anya


"Kata dokter kau anemia dan kram perut?" Ucap Kai


"Ah sepertinya kambuh ya. Maaf aku merepotkanmu Kai " ucap Anya lirih


"Hmmbb hmbb (..sandi berdehem). Apakah kau sudah mendingan?" ucap Sandi


"Dia membantumu saat kau tak sadar Rav" ucap Kai


Anya mengangguk..


"Terimakasih kak atas pertolonganmu"


"Tak masalah. Kalau begitu aku tinggal kalian berdua yah. Aku balik kelas dulu. Bye" ucap Sandi sambil melangkah pergi keluar ruang klinik.


"Rav. Apakah kau masih pusing, apakah perutmu masih sakit?" ucap Kai. Terlihat jelas wajah Kai sangat khawatir.


"Sudah mendingan makasih ya"


"oh iya Rav tadi pagi kenapa kau tak minta tolong padaku. jawab aku dengan jujur. Aku sangat khwatir Rav" Kai lirih mencoba memastikan sesuatu


"Sebenarnya ini sedikit memalukan. Kalau aku cerita padamu kau jangan berpikir aneh-aneh ya" jawab Rava sambil tersenyum manis


Kai mengangguk..


"Sebenarnya hari ini jadwal aku PMS. Memang ini sudah menjadi kebiasaan. Dulu di Indonesia saat hari pertama aku selalu cuti tak masuk sekolah. Aku malu mau minta tolong padamu Kai. Jadi aku minta tolong ke Sherly untuk mengambilkan aku obat pereda di klinik. Tapi dia sangat lama aku sudah tak bisa menahan sakit perut ini jadi aku berusaha menyusulnya. Maafkan aku buat kamu khwatir" ucap Anya malu


Dalam batin Kai ...Sherly bukanya ke klinik malah balik ke kelas dan bilang kalau Rava istirahat di Klinik. Apa sebenarnya tujuanmu kenapa kau tak tulus membantu temanmu kenapa kau harus berbohong.


"Sudahlah sekarang kau istirahat nanti kalau sudah baikan aku antar kau pulang" ucap Kai sambil mengelus rambut Anya tanpa sadar.


Anya mengangguk dan terdiam.. jantungnya jadi tak karuan. Setiap Kai mendekat jantungku selalu berdetak kencang, didalam perutku seperti banyak kupu-kupu berterbangan.


Tuhan aku sebenarnya kenapa???


🦋🦋🦋🦋🦋