
Seiring waktu berlalu bulan berganti bulan, Kai dan Anya menjalani kesibukan masing-masing mengerjakan tesis. Jarang bertemu karena mengingat tempat penelitian mereka berdua juga berbeda tetapi komunikasi mereka tetap berjalan dengan baik, mereka fokus dengan studinya. Dan sampai akhirnya semua benar-benar selesai dalam minggu ini. Untuk merayakan semua itu mereka merencanakan liburan ke Indonesia sambil menunggu pengumuman kelulusan.
Sore itu cuaca tampak mendung, angin berhembus dingin pertanda akan turun hujan tetapi tak mengurungkan niat mereka berjalan-jalan di taman kota. Momen ini sangat di nantikan karena mengingat kesibukan mereka berdua berapa bulan ini. Melepaskan semua penat pikiran setelah perjuangan tesis.
Setelah turun dari bis kota mereka berjalan bergandengan tangan, entah sudah berapa pasang mata melihat mereka berdua berjalan sangat mesra. Saat melihat Kai para gadis luluh padangan pertama. Tapi saat mereka melirik Rava yang berpakaian kumal berkacamata tebal dan berpakaian cupu, tak sedikit pasang mata itu melihat sinis. Anya dan Kai sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu tak heran mereka sangat santai berjalan tanpa menghiraukan sekeliling.
"Kai kita pesan tiket pesawat kapan nih aku nggak sabar jalan-jalan denganmu di Indonesia, nanti kita ke Bali, Bromo, ke Malang juga pasti seru" kata Anya bersemangat
"Mungkin baru sabtu ini Rav, soalnya aku juga ingin mengajak ayah Rama. Beliau masih mengurus surat cuti ke perusahaan."
"Wah senangnya kita traveling bertiga" Rava membayangkan.
Kai tersenyum melihat tingkah Anya yang bersemangat seperti itu. Beberapa kali Kai mengelus rambut halus Rava yang di kepang kuda.
"Apakah nanti kita juga menemui orang tuamu?" tanya Kai menggoda, dalam hati Kai sebenarnya sangat penasaran karena saat bertemu Kak Marcell semua seolah berbeda dengan penampilan Rava yang sekarang.
Rava berhenti berjalan tertegun seketika.
Kai tersenyum "Sudahlah tunggu kamu siap baru kita kesana ya"
Anya membalas dengan tersenyum lebar karena sangat bersyukur mempunyai Kai yang sangat pengertian dan tak pernah memaksakan apapun.
"Untuk saat ini kita fokus jalan-jalan dulu ya Kai. Tapi nanti kalau waktunya pas kita bakal ketemu orang tuaku yaa aku janji" ucap Rava sambil tersenyum manis.
Kai melihat senyuman itu seolah melayang tanpa disadari ia sudah mencium lembut puncak kepala gadis disampingnya.
"Kai ini taman banyak orang" ucap Rava tersipu malu.
"Loh emangnya kenapa kau kan kekasihku bukan kekasih orang lain kenapa harus malu.." ucap Kai kembali menciumi Anya.
"Kai jangan begini aku malu.." ucap Anya menghindar tersenyum menahan malu karena sekeliling orang yang berada di taman menyaksikan Kai mulai bertingkah.
Kai melebarkan senyumnya dan berjalan mengikuti arah Rava yang duduk kursi tepi danau buatan.
"Rav tunggu disini sebentar ya" ucap Kai tiba-tiba berlari dan menghilang dari pandangan Rava. Sebenarnya Rava bingung kemana Kai pergi tapi ia memutuskan untuk menunggu. Selang 15 menit Kai kembali dengan membawa dua buah es cream cone di tangannya.
"Ini untukmu" ucap Kai sambil memberikan Es Cream Coklat Tiramisu kesukaan Rava.
"Kenapa kau bisa tau aku suka rasa ini" ucap Rava kegirangan
"Hmmm rahasia" ucap Kai tersenyum tipis
Anya tidak menyangka ternyata Kai selama ini diam-diam memperhatikannya. Pasalnya hubungan mereka sungguh seperti air mengalir. Anya sangat bersyukur akhirnya menemukan seseorang yang bisa menerima dirinya tanpa melihat latar belakang.
Tak lama setelah kedua es cream itu habis, tiba-tiba tiga gadis bertubuh seksi datang menghampiri Kai dan Rava.
"Kak Kai.." ucap salah satu gadis itu
Kai menoleh dan menatap tanpa ekspresi gadis-gadis itu.
"Kak kita anggota cheerleaders Universitas Dilton, kami ngfans banget sama kakak" ucap salah satu gadis itu tampak gemas dengan ketampanan Kai.
Kai tetap tidak bergeming..
"Kak boleh kita foto bareng" gadis itu memohon.
"Maaf mungkin lain kali" ucap Kai dingin
Kai melihat Rava yang memalingkan wajahnya, Kai paham bagaimana posisi dan perasaan Anya sekarang
"Lain kali saja" ucap Kai lagi
"Uh.. hey cupu semua ini gara-gara kamu, Kak Kai tidak mau foto dengan kami"
Anya hanya diam tidak menghiraukan
"Kau jangan berlagak ya.. mentang-mentang dekat dengan Kak Kai. Ngaca dulu dirimu seperti apa jangan kepedean nempelin kak Kai terus. Kak Kai menolak kami gara-gara kamu" ucap salah satu gadis itu kesal karena sangat ketara Kai enggan foto dengan mereka.
"Cukup kalian.. pergi dari sini" usir Kai dengan Kasar
Ketiga gadis itu akhirnya pergi dengan muka marah dan malu karena diusir oleh idolanya. Kai memegang tangan Rava, seolah memberi isyarat aku milikmu.
Anya menoleh dan menahan tawa..
"Rav maafkan aku ya, Kau sering diperlakukan seperti ini gara-gara aku" Kai merasa bersalah
"Sudah..sudah aku tak apa.. aku sudah terbiasa kok Kai." ucap Rava mengeratkan genggamannya.
Tanpa disadari rintik air hujan menetes perlahan-lahan lalu menjadi deras. Kai segera melepaskan jaket yang ia kenakan dan menutupi kepala Rava dan dirinya. Sambil berlari mencari tempat berteduh mereka berlari kebingungan akhirnya mereka melihat Gazebo disudut taman dan berteduh disana.
"Kita berteduh disini dulu ya sampai hujan reda"
"Ya tuhan Kau basah semua Kai." ucap Anya kaget melihat punggung Kai basah terkena guyuran air hujan yang tiba-tiba sangat deras.
"Tidak apa-apa Rav. Kamu sendiri basah tidak" ucap Kai sambil memeras jaketnya yang basah dan melihat baju Rava yang aman tak terkena hujan. Ia sangat khawatir karena takut Rava terkena flu lagi. Kai mengingat berakhir kali Rava jatuh ke kolam waktu itu langsung sakit.
"Maaf aku mengajakmu kesini. Padahal tadi jelas sudah mendung tapi aku tetap memaksa" ucap Anya merasa bersalah
"Sudah tidak apa-apa" ucap Kai tersenyum
"Tapi lihat kau basah semua Kai. Semua ini salahku gara-gara aku, andai saja aku tidak memaksa, aku minta maaf, aku ceroboh, aku..." tak selesai Anya berucap tiba-tiba bibir lembut Kai sudah mendarat di bibirnya. Mengecupnya dengan lembut. Seditik.. dua detik.. tiga detik.. empat detik.. lima detik...
Dengan perlahan Kai menarik tengkuk Rava dan terus melumat bibir Anya yang ranum dan seksi itu semakin dalam dan tak terhenti.
Anya merasakan ada sensasi getaran kuat dalam dirinya tapi tak tau itu apa. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Dibawah derasnya hujan dan hawa dingin seolah ciuman hangat itu sebagai penangkalnya.
Anya tertegun matanya melotot seperti tak percaya hatinya dag dig dug tak karuan. Pipinya memerah, tubuhnya mematung seketika. Tak ada respon dari Anya karena dia sangat kaget akan ciuman itu.
Tak lama Kai melepaskan ciuman itu dan berkata "Akhirnya kau diam kan" ucap Kai santai
Anya meraba bibirnya tidak percaya kalau ciuman pertama yang dia jaga sudah diambil Kai kekasih hatinya dalam situasi yang tidak dapat ia percaya dan prediksi.
"Kai.." ucap Anya pelan
Kai tersenyum tanpa dosa. Padahal didalam hatinya dag dig dug tak karuan. Entah keberanian dari mana tiba-tiba hasratnya ingin mencium bibir ranum gadis disampingnya yang terus saja mengoceh menyalahkan diri.
"Kai... kau menciumku tanpa izin lagi" ucap Rava tertawa tapi bernada merengek kesal sambil memukul pelan pundak Kai, dalam hatinya malu senang semua rasa itu bercampur.
Sambil menunggu hujan reda Kai tak bisa berkata-kata cuma bisa tersenyum bahagia dan memeluk tubuh Rava dan sesekali melihat wajah Rava yang memerah karena malu.
😘😘😘😘