
Malam itu Kai dan Ayahnya lagi bersantai di teras apartemen kecilnya. Ditemani secangkir kopi asli serta beberapa camilan. Ayah rama banyak berbagi pengalamannya di Kantor sedangkan Kai menceritakan kehidupan di Kampusnya. Dan ada berita yang harus Ayah Kai sampaikan..
"Kai.. kau ada waktu sabtu ini?"
"Sabtu sepertinya pagi free soalnya mata kuliah sir Gilbert diganti hari jumat jam kedua cuma mungkin sore ada jadwal mengajar. Kenapa yah."
"Bisa ikut ayah?. Ayah mau mengenalkanmu pada seseorang."
"Boleh apakah ada proyek yang rumit yah. Apa perlu Kai bawa laptop juga?"
"Kai... Ayah akan jujur sekarang. Sebenarnya Ayah kemarin ayah ditipu client. Perusahaan mengalami kerugian sangat besar. Ayahmu jnj bertanggung jawab mengganti uang perusahaan yang rugi. Jumlah tak sedikit Kai. Meskipun kita jual apartemen kecil ini hanya bisa menutupi 10% saja. Tapi Tuhan memberikan jalan keluar yang terbaik untuk saat ini teman ayah om Herman itu bersedia membantu membayar sebagaian besar kerugian itu".
"Ayah kenapa baru cerita hari ini. Kalau saat itu ayah langsung cerita Kai pasti bisa bantu Ayah. Kai bisa cari jalan keluarnya"
"Sudahlah sayang ini sudah jadi tanggung jawab Ayah. Kamu jangan terlalu khawatir yah. Masalah ini hampir selesai sayang. Tapi yang menjadi beban untuk ayah sebenarnya adalah syarat dari om Herman itu."
"Maksud Ayah?"
"Jadi begini Kai. Dia teman baik ayah nak. Kemarin dia memberi bantuan hampir 80% dari total kerugian. Sebagai gantinya dia menawarkan syarat untuk ayah"
"Syarat apa yah?" Ucap Kai ragu
"Ayah sebenarnya tak ingin melakukan ini. Tapi kalau ayah menolak bantuannya pihak perusahaan akan mempidanakan ayahmu ini nak. Ayah termasuk orang yang egois saat ini. Tapi kalau ayah tiada kamu dengan siapa nak." Ucap Ayah Rama menunduk. Ayah Rama sangat mencintai Kai, begitu pula sebaliknya. Ayah Rama tetap mengganggap Kai sebagai bocah kecil kesayangannya. Meskipun postur tubuh Kai melebihi tinggi badannya, perlakuannya terhadap anak semata wayangnya itu tetap sama saja mulai saat Kai kecil hingga dewasa.
Syarat yang diberikan om Herman itu adalah menjodohkanmu dengan putri keduanya Kai. Kau jangan salah paham sayang. Ayah tak ingin menjadikanmu sebagai jaminan. Tapi coba kau lihat dulu kalau memang kalian cocok ayah harap kamu bisa menjalin hubungan dengan putri om Herman. Tapi kalau tidak ayah tak akan memaksa Kai. Ayah akan mencari jalan keluarnya sendiri " ucap Ayah Rama terlihat sangat sedih
Kai terdiam sangat lama... tanpa ekspresi
Dalam hati Kai sebenarnya apa ini baru kemarin aku menyatakan perasaanku pada Rava. Tapi mengapa saat ini ayah mau menjodohkan aku dengan putri temannya. Kalau aku menolak artinya aku tak mau membantu ayahku menyelesaikan masalah ini. Tapi kalau aku menyetujui rencana ini artinya aku telah mengkhianati Rava.
"Kai ayahmu minta maaf kamu pasti kecewa dengan ayah"
"Ayah kalau ini yang terbaik dan kau inginkan, aku mau mengikuti rencanamu. Tapi kalau memang tidak ada kecocokan antara aku dan putri om herman itu kalian jangan memaksakan."
"Terimakasih nak kamu memang bisa diandalkan" ucap Ayah Rama sedikit lega.
Keesokan harinya..
Kai tertunduk lesu di meja perpustakaan. Buku-buku berserakan di atas meja namun tak ada satupun yang terbuka. Pikiran Kai sangat bingung saat ini..
Tak lama kemudian Anya datang dengan wajah sumringah karena hampir beberapa hari tidak bertemu Kai karena dia lagi sakit.
"Kai.." ucap Anya menepuk pelan pundak Kai
"Kau sudah datang..cepat duduk.. apakah diluar hujan kenapa kau basah seperti ini?" Kai memperhatikan baju Anya yang sedikit basah karena berlari menerjang hujan
"iya tapi aku tak apa Kai" ucap Anya tersenyum
"Ayo ikut aku" Kai berdiri dan menarik tangan Anya pergi ke suatu tempat.
Mereka pergi ruang ganti olahraga. Dalam loker Kai tersedia baju ganti dan jaket costum basket milik Kai. Kai memberikan pada Anya dan menyuruhnya untuk segera berganti pakaian.
Setelah beberapa menit Anya sudah berganti celana training dan dipadukan jaket tim basket.
"Ini lebih baik. Aku tak mau kau sakit lagi" ucap Kai datar sambil menyentuh pipi Anya yang dingin karena air hujan.
Deg..degg..degg suara detak jantung keduanya..
Anya tersenyum lebar.. ia bahagia karena mendapat perhatian dari orang yang ia sayangi.
Setelah itu mereka kembali ke perpustakaan.
"Kai sabtu ini kita libur yah? bagaimana kalau kita pergi piknik" ucap Anya sambil membayangkan kencan pertamanya.
Kai terdiam...
"Sebenarnya aku ingin ke taman hiburan tapi aku tak tau disini yang bagus dimana" ucap Anya terus saja berbicara tanpa melihat ekspresi wajah Kai.
Kai tetap saja terdiam tanpa menjawab...
"Kalau pergi ke danau kita mancing bareng terus bawa bekal pasti deru juga. Menurutmu bagaimana Kai?" ucap Anya menoleh ke arah Kai yang masih terdiam.
"Kai kau tak suka rencanaku yah..kalau kau keberatan kau bisa ajak paman atau teman-teman basketmu. Biar kau tak terlalu canggung jalan berdua denganku" ucap Anya sedikit putus asa karena Kai tak merespon idenya.
"Rav.. maafkan aku. Hari sabtu aku ada acara dengan ayahku"
"seharusnya aku yang minta maaf Kai. Aku terlalu banyak bicara. seharusnya aku mendengarkanmu dulu." ucap Anya tersenyum tipis
Hari ini Kai ingin sekali jujur kepada Anya tentang apa yang sebenarnya terjadi.Tetapi ia mengurungkannya karena melihat Rava bersemangat untuk pergi berdua dengannya. Kai tak ingin Rava salah paham dan sakit hati saat ini. Bagaimanapun caranya dia ingin mencari jalan keluar untuk masalah ayahnya kini.
"Apakah kau marah Rav" ucap Kai menggenggam tangan Anya yang dingin
"Mengapa aku harus marah Kai. Lagian kamu pergi dengan paman." ucap Anya tersenyum kembali
Kai melihat Rava yang saat ini hatinya sangat sakit. Mengapa kebahagiaan ini baru saja datang harus berlalu begitu cepat. Aku berjanji ingin melindunginya tapi apa dayaku kenyataannya sekarang ia akan mengkhianati Rava gadis yang merubah kehidupannya itu.
Perlahan Kai mendekatkan ke tubuh Anya.
Anya hanya duduk mematung melihat reaksi Kai. Tak lama Kai menarik tangan Anya sehingga ia sekarang berada di pelukan pemuda tampan itu.
"Kai ini perpustakaan apa kau tak malu kalau ada yang melihat bagaimana?" ucap Anya sedikit memberontak
"Jangan banyak bergerak. Biarkan seperti ini beberapa saat. Aku hanya ingin menghangatkan tubuhmu. Aku tak mau kau sakit lagi" ucap Kai sambil membelai rambut Anya yang dikepang itu.
"Kai tapi aku malu. Dipojok ada CCTV bagaimana kalau mereka merekam kita?" ucap Anya
Dalam hati Anya sangat senang bukan kepalang. Tapi keadaannya sekarang mereka ada di lingkungan kampus. Anya tak ingin membuat masalah.
"Sudah jangan dipikirkan. Diamlah" ucap Kai datar
Akhirnya Anya menyerah di pelukan Kai selama kurang lebih setengah jam. Setelah hujan diluar mulai reda mereka berdua pulang kerumah masing-masing.
☔☔☔☔