
Siang itu mahasiswa mata kuliah Sir Gilbert berhamburan keluar kelas. Sedangkan Kai belum beranjak dari tempat duduknya sambil merapikan buku. Tak lama kemudian muncul segerombolan pemuda berpostur tinggi berjalan dari arah kelas seberang itu teman adalah teman basket Kai.
Tak lama mereka masuk ke kelas Kai dan duduk diatas meja dan ada juga yang menunggu di luar kelas.
"Kai ke basecame yuk sekalian kita bahas strategi tanding buat minggu depan." ujar Sandi ketua tim basket.
"Oke tapi gue gak bisa lama-lama ya soalnya ada jadwal bimbel sore ini" jawab Kai sambil mencangklong tas.
"Siap ayo loe mau bareng kita apa jalan sendiri?" kata Frans yang duduk di sebelahnya.
"Gue jalan sendiri aja Frans". jawab Kai sambil berdiri
Setelah itu mereka menuju ketempat parkir.
Teman-teman Kai mengendarai mobil sport keluaran Amerika.
Tetapi hanya Kai yang memakai sepeda gunung.
It's oke semua teman Kai tidak mempermasalahkan hal tersebut mereka tulus berteman dengan Kai. Mengingat kemampuan basket kai yg luar biasa.
🚴🚴🚴🚴
Setibanya di sebuah cafe bernuansa retro yang sangat diminati kalangan muda jaman sekarang. Terlihat deretan bangku yang terbuat dari kayu yang dilapisi spon empuk diatasnya. Terdengar alunan musik masa kini yang menambah kenyamanan duduk di cafe tersebut. Calmati Season itulah nama cafe tersebut.
Teman-teman Kai sudah sampai duluan dan memesan beberapa cemilan dan minuman. Setibanya Kai masuk dan menoleh kanan kiri mencari mereka. Karena biasanya mereka duduk di teras cafe. Melihat Kai kebingungan Roey pun melambaikan tangannya menandakan bahwa mereka ada di kursi bagian pojok dekat jendela. Sebelum Kai duduk ia memesan ice cappucino di meja kasir.
Setelah Kai bergabung dengan mereka, mulailah Sandi sebagai ketua tim memberikan arahan kepada anggotanya.
Tak lama pembicaraan mereka terpotong karena terkesima melihat seorang cewek bermata lentik berkulit putih, tinggi berwajah Asia mengantarkan pesanan mereka.
"Silahkan" ujar gadis itu sambil mempersilahkan pesanan mereka lalu pergi kembali ke meja pegawai.
Segerombolan pemuda itu seketika tersenyum menatap satu sama lain seperti mendapat sebuah Durian Runtuh dari Langit. Tetapi tidak dengan Kai yang disibukan membalas pesan dari ayahnya.
"Luar biasa gaess " ujar Frans
"Very Beautiful" tambah Roey
"Perfect" jawab Diffan menggeleng kepala
" Apanya Bro" kata Kai bertanya datar tanpa melihat ekspresi teman-temanya.
Sontak semua melirik Kai yang asik mengetik diponselnya
"Loe gak pelayan tadi ?" sahut Sandi
"Emangnya kenapa" jawab kai spontan sambil bingung lihat teman-temannya semua cenggenesan.
"Cantik banget broo. Seperti bidadari syurga" ungkap Frans smbil meremas pundak kai.
Kai hanya tersenyum dan geleng2 kepala.
"Loe beneran nggak perhatiin tadi?"
"Emang dasar loe Kai anti banget sama cewek" ejek Roey pada Kai
"Bukannya gitu bro gue cuma pengen fokus untuk saat ini" jawab Kai sambil tersenyum
"Ya tapi gak gitu juga Kai. Sherly yang cantik gitu loe abaikan. Pelayan bidadari tadi juga loe cuekin". sambung Roey
"Eh jangan-jangan Kai itu..." goda Frans sambil memberi kode kalau Kai suka sama cowok seketika segerombolan pemuda itu tertawa pecah membully Kai yang anti perempuan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.25 Karena keasyikan ngobrol bareng temennya, Kai hampir lupa kalau hari ini ada jadwal dia mengajar bimbel.
"Astaga udah jam segini aku lupa ada bimbel" ucap Kai sambil membereskan barangnya lalu berdiri.
Kai berpamitan kepada semuanya lalu beranjak pergi dengan terburu-buru dan sedikit berlari.
Bruuuukk....praangg..
Terdengar gaduh suara napan besi dan gelas plastik jatuh ke lantai. Tak kecuali seorang pelayan cafe pun tersungkur jatuh karena bertabrakan dengan tubuh Kai yang kekar.
"Maaf..maaf saya tidak melihat karena saya terburu-buru" kata Kai sambil membantu menarik pelayan itu dan jongkok merapikan gelas yg berantakan karenanya. Tanpa menatap wajah satu sama lain mereka berdua merapikan barang yang tercecer.
" Tak apa kalau kau terburu-buru sebaiknya kau pergi ini hanya masalah kecil dan sudah menjadi tugas saya" ungkap pelayan tersebut.
Kai meminta maaf sekali lagi lalu pergi sambil berlari. Bukan karena tak ingin bertanggungjawab tetapi dia memang ada kewajiban lain yg lebih penting.
Setelah pelayan itu selesai merapikan gelas yang tumpah tersebut tanpa sengaja dia melirik pria tinggi tegap yg berlalu mengayuhkan sepeda tersebut dari belakang.
" Nona Anya tidak apa" ungkap salah Bianca satu pegawai kepada anya tersebut.
" Santai aja. Kamu jangan terlalu memperhatikanku, aku disini sama seperti kalian. Jangan memandangku berbeda. Yah." Ungkap Anya sambil tersenyum tipis dan berlalu meninggalkan Bianca.
Dari sudut terlihat beberapa mata melihat kejadian tersebut dan mulai bergosip. Yah mereka tak lain adalah teman Kai itu.
🕙22.10🕙
Bianca dan Shiren pulang bersama berjalan kaki karena flat mereka sangat dekat dengan cafe.
Sambil berjalan mereka mengobrol.
" Eh gue gak habis pikir deh sama nona Anya. Dia tu anak miliyarder punya perusahaan sana sini pemilik cafe kita juga tapi kok dia mau jadi pelayanan kayak kita sih gak habis pikir aja gue reen" ungkap Bianca penasaran
"Gue gue denger dari Boni sepupu gue kalo nona Anya itu pengen mandiri sambil belajar bisnis soalnya entar kalau presedir mundur dia yang gantiin".
"bukannya masih ada tuan Marcell yah" jawab Bianca.
"tuan muda kan udah jadi dosen kedokteran." jawab Shiren.
"iya juga sih bingung gue" jawab Bianca tetep penasaran.
"ngapain loe yang bingung sih kepo banget" ejek shiren merangkul sahabatnya.
Pelayan cafe Calmati Season memang sudah familiar dengan Marcell Ravone Santoier. Kakak Anya yang berkarir menjadi dosen kedokteran di Universitas ternama di Australia. Meskipun jalannya bersebrangan dengan bisnis dia tetap sebisa mungkin membantu mengontrol bisnis milik keluarganya termasuk cafe itu. Setiap akhir pekan Marcell meluangkan waktunya untuk minum segelas kopi di sana. Mengingat Anya adik satu-satunya pindah dan sekarang tinggal di rumah atap ke cafe tersebut, Marcell tambah sering berkunjung.