
Kai berniat untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Ia mencoba memperhatikan gerak gerik Sherly. Kai berinisiatif untuk membongkar ini secepat mungkin sebelum terlambat.
Jam istirahat Kai membeli beberapa roti dan susu untuk Rava yang masih terbaring di Klinik. Tak disangka Sherly melihatnya dan mengikutinya dari belakang. Sherly penasaran Kai rela izin keluar kelas. Maniknya tak henti melihat gerak gerik Kai. Akhirnya ia tersadar saat Kai masuk kedalam kamar klinik. Sherly sudah mengetahui kalau Rava yang ada di bed itu. Hatinya geram tak karuan. Emosinya meledak-ledak tapi harus ia tahan karena tak mau citranya jelek di depan Kai.
Otaknya mulai berpikir tidak jernih. Bagaimana pun ia harus membuat pelajaran untuk si cupu itu. Sherly menelpon papanya yang menjabat sebagai Dekan untuk minta tolong agar Kai keluar ruangan itu segera. Hasilnya tak sia-sia Kai keluar dari ruangan itu. Tanpa berpikir panjang Sherly masuk kedalam ruangan dimana Rava istirahat. Terlihat gadis cupu itu tertidur seperti tanpa dosa.
Sherly yang emosi menarik kuat rambut Rava tanpa ampun. Rava yang awalnya hampir tertidur akhirnya bangun kaget karena kepalanya sakit akibat rambutnya di tarik seseorang.
"aaauuwww ...........sakiitt apa yang kau lakukan sher. Kau sudah gila" ucap Rava menahan rasa sakit. Tangannya tak henti mencoba melepaskan tarikan itu tapi sia-sia
"Kau tuli ya..Aku sudah bilang Kai itu cuma punyaku. Kau sudah berusaha merebutnya ini balasannya. Kai rela izin keluar kelas cuma buat kamu yang tak tau diri. Aku sudah kuperingatkan Kau untuk menjauhi Kai. Kenapa kau sangat tak tau malu. Dulu aku minta bantuanmu untuk dekat dengan Kai kau menolak ternyata ini alasannya.Kau ingat perkataanku dulu ayahku itu dekan fakultas kau berani macam-macam aku tak segan-segan mengeluarkanmu dari kampus ini dasar jalaaaang..." teriak Sherly
"lepaskan sher.. apa yang kau lakukan" ucap Kai tiba-tiba datang sambil menarik tangan Sherly. Kai yang semula dipanggil untuk keruangan Dekan berbalik karena ponselnya tertinggal. Ia khawatir Rava membutuhkan bantuannya saat ia tak ada. Tetapi apa yang ia dapati saat kembali ke ruangan itu. Terlihat teman sebangkunya kini telah menarik keras rambut Rava.
Sherly kaget melihat Kai bukannya dia pergi menemui papanya kenapa bisa disini.
"Kai aku bisa jelaskan semua. Kau jangan salah paham.
"Aku tak butuh penjelasan darimu. Aku mendengarnya semua. Kau tak perlu berbohong lagi. Salahku sudah mempercayaimu sebagai temanku. Aku sungguh kecewa padamu sher" jelas Kai tampak marah kepada Sherly
"Kai ini bukan seperti yang kau bayangkan. Ini semua gara-gara Rava yang merebutmu dariku. Aku sangat mencintaimu Kai. Aku tak mau kau membagi perhatian degan wanita lain" teriak Sherly
"Rava tak pernah merebutku darimu. Mulai awal aku bukan milik siapa-siapa. ini bukan cinta sher.. itu hanya obsesimu untuk mendapatkanku. Cukup aku tak mau melihatmu lagi kau sekarang keluarrrr" teriak Kai marah
"Aku tak rela kau dengan gadis jalang sialan ini Kai. Aku yang mencintaimu dari dulu. Aku tulus Kai" ucap Sherly sambil menangis
"Maaf Sher, aku tak bisa berteman denganmu lagi. Sudah cukup aku tau bagaimana wujud aslimu.
"Aku mencintaimu Kai" teriak Sherly dalam isak tangisnya
"tapi aku telah mencintai orang lain" ucap Kai lirih..
Sherly tak tinggal diam dalam pikirnya itu pasti Rava si gadis sialan ini. Melihat Rava yang tertunduk lemah tak berdaya ia tak segan-segan membalaskan dendamnya dan berusaha menyerangnya kembali.
Anya yang tubuhnya lemas tak bisa berbuat apa pikirannya berkalut kenapa bisa jadi seperti ini.
"Keluarrr kau sekarang. Aku tak ingin melihatmu lagi" wajah Kai tampak merah karena marah. Emosinya sudah mencapai tingkat tertinggi. Ingin rasanya melampiaskan kemarahannya tapi ia tak bisa karena menyakiti seorang wanita artinya dia pengecut.
"kalian lihat saja bagaimana aku membalas semua ini. Terutama kau jalang sialan" Ucap Sherly sambil mendorong tubuh Anya yang lemas hampir terjatuh dari tempat tidur. Dengan sigap Kai menangkap tubuh Rava yang lemah.
Sherly berlari keluar menuju ruangan ayahnya sambil menangis. Ia ingin cepat-cepat mengeluarkan Rava gadis cupu sialan itu.
Kai melihat Rava menangis dan tertunduk lemah rambutnya acak-acakan karena serangan dari Sherly mencoba memeluknya.
"Rav maafkan aku yang tak bisa melindungimu. Ini semua gara-gara aku. Aku teman yang tak berguna"
Anya menenggelamkan kepalanya kedalam dada Kai. Isak tangisnya semakin jadi. Dalam hatinya yang semula kacau karena mendapat penganiyaan dari Sherly akhirnya sejuk saat merasakan kelembutan pelukan Kai.
Tetapi dalam kepalanya terbayang kalau keadaan menjadi seperti ini. Tujuannya hanya ingin hidup lebih baik kenapa menjadi semakin keruh.
Anya melepaskan pelukan itu. Kai membantu mengusap air mata Anya perlahan.
"Maafkan aku Rav" ucap Kai sekali lagi
"Kai maafkan aku juga. Seharusnya kau bisa lebih memahami perasaan Sherly. Gara-gara aku kamu jadi bertengkar dengan Sherly" ucap Anya lirih..
"Jangan Kai biarkan aku saja" ucap Anya malu.
"Maafkan aku bukan maksudku lancang aku hanya ingin membantumu merapikannya" ucap Kai bingung karena sikapnya..
"Aku hanya tak ingin menjadi penghalang untuk kalian berdua" ucap Anya lirih
"Sebenarnya aku tak tau bagaimana perasaanku terhadapmu. Dalam pikirku kau selalu muncul Rav. Aku tak tau ini perasaan cinta atau bagaimana. Ini perasaan pertama yang aku rasakan. Aku merasa senang saat kau disampingku. Aku sakit jika melihatmu berdekatan dengan pria lain. Aku sedih saat kau sedih. aku bahagia melihat senyuman manismu" ucap Kai lirih
Anya tercengang mendengar perkataan Kai..
dalam hatinya sangat bahagia karena Kai merasakan yang ia rasakan. Tapi bagaimana mengungkapkannya.
"Maafkan aku Rav yang selalu mempersulitmu" ucap Kai
"Kai kau tak malu bersama denganku? Aku gadis cupu, tak punya apa. Wajahku fisikku seperti ini. Apakah kau tak menyesal jika temanmu tau bagaimana perasaanmu kepadaku. Sedangkan kau seorang jenius berprestasi. Wajahmu sangat tampan. Tak sedikit wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihmu" jawab Anya lirih
"Kenapa harus malu Rav. Perasaan ini sangat tulus. Aku ingin kau selalu disampingku." ucap Kai
Tak terasa air mata Anya menetes kembali. Bukan perasaan perih yang ada tetapi terharu mendengar perkataan Kai yang tulus. Kai mengusap air mata Anya sekali lagi.
"Kau jangan menangis. Apakah aku tak pantas ada disampingmu?" ucap Kai sambil memeluk Anya kembali.
"Kai bukannya kau ingin fokus kuliah kenapa kau mengatakan perasaanmu kepadaku" ucap Anya lirih..
"Aku takut semua terlambat. Aku ingin mencobanya Rav. Mulai sekarang aku akan selalu melindungimu Rav. Aku tak mau kejadian seperti ini terulang kembali" ucap Kai
Anya mengangguk pelan.. dalam pikirannya apakah hubungan ini bisa seperti orang lain.
Karena keduanya sama-sama tak memiliki pengalaman dalam percintaan.
🌺🌺🌺🌺
Sesampainya Sherly di ruangan Dekan Fakultas.
"sayang mengapa kau menangis seperti ini?"
"pa.. cepat keluarkan si cupu jalang itu aku tak mau Kai terlena rayuannya" ucap Sherly menangis manja
"sudah..sudah coba ceritakan sebenarnya apa yang terjadi"
"Papa tau mahasiswa transfer dari Indonesia itu. Gadis cupu sialan itu pa.
"hmm Rava maksud kamu?"
"iya pa. Dia telah merebut Kai dariku. Aku tak mau melihatnya disini lagi. Kalau papa tetap membiarkannya tinggal biar Sherly yang pergi dari kampus ini"
"Sabar sayang nanti papa urus. Kamu sekarang balik ke kelas dulu yah"
"Papa janji ya jangan buat aku kecewakan" ucap Sherly sambil mencium pipi papanya.
Dekan papa Sherly pun mulai berpikir bagaimana cara dia mengeluarkan gadis itu. Karena tidak mungkin kalau tiba-tiba mengeluarkan tanpa alasan. Akhirnya terlintas dalam benaknya untuk mencurangi nilai ujian Rava yang beberapa pekan lagi akan dimulai. Dia tak ingin membuat anak semata wayangnya kecewa. Meskipun ini cara tak benar apapun bisa dia lakukan.