FALSE LOVE

FALSE LOVE
Putri Presedir



Malam harinya setelah sampai di Rooftop, Anya menenggelamkan badannya ke dalam bath up. Hembusan aroma terapi dan air hangat membuat badannya yang dingin seolah melemas dan rileks.


Anya tersenyum sendiri sambil memejamkan matanya mengingat kejadian tadi sore yang tak akan pernah ia lupakan hatinya tetap malu tak karuan.


"Aku tak menyangka bisa bertemu pria seperti Kai. Orangnya lembut pengertian dan sangat baik. Tapi kira-kira sampai kapan aku harus menyembunyikan identitasku ini" gumam Anya sendiri dalam lamunannya.


Satu jam Anya berendam dan akhirnya keluar. Setelah berganti pakaian ia mengecek ponselnya. Anya heran puluhan panggilan tak terjawab dari Marcell dan Mama Marissa. Anya membuka beberapa pesan di WhatsApp.


πŸ“¨Mama❀️


Syg, Kamu pulang ke Indonesia sekarang ya penting..


πŸ“¨Mama❀️


Syg..


πŸ“¨Mama❀️


Syg kamu kemana tolong angkat telfon mama


"Memangnya ada apa sih kok sampai sebanyak ini" gumam Anya heran melihat 36 panggilan tak terjawab. Tak lama pintu Rooftop diketuk seseorang.


Anya bergegas membuka dan tak lain itu adalah Kak Marcell.


"An kamu belum siap-siap" ucap Kak Marcell kebingungan


"Emangnya ada apa sih kak? aku telpon mama balik nggak diangkat"


"Ayo kemasi barang-barangmu sekarang kita terbang ke Indonesia malam ini juga"


Anya mengernyitkan dahinya..


"Tak ada banyak waktu ayo segera an." ucap Kak Marcell meninggalkan Rooftop dan turun kebawah.


Anya memasukan beberapa berkas-berkas penting dan laptopnya dengan segera ke dalam tas. Dan bergegas mengganti pakaiannya dan tak lupa memakai topi favoritnya dan langsung turun ke bawah.


"Aku sudah siap kak"


Tanpa banyak bicara Marcell menancapkan gas menuju bandara.


"An, papa dan mama kecelakaan tadi dan papa sekarang keadaannya koma. Kita tak bisa membuang waktu, perusahaan lagi diambang masalah Rav. Para pemegang saham sekarang ini banyak yang meminta keterangan terkait legalitas. Lebih jelasnya setelah sampai di Indonesia kamu pasti tau sendiri"


Anya hanya terdiam hatinya bersedih mendengar kalau presedir Marvell dalam keadaan koma. Tanpa banyak bicara ia terus mengekori kakaknya tanpa berkata-kata.


Jakarta


πŸ•£08.30πŸ•£


Setelah penerbangan hampir 7 jam mereka akhirnya sampai di Bandara Soekarno Hatta.


Dengan gontai Anya berjalan di bopang kakaknya.Pikirannya blank seketika badannya rasanya lemas tak bertenaga.


"Kamu jangan banyak berpikir ini semua akan baik-baik saja"


Anya mengangguk pelan, gadis ceria itu pun berubah jadi murung tak bersuara. Marcell yang melihat adiknya sangat khawatir pasalnya gadis cerewet itu tiba-tiba menjadi pendiam. Setalah sampai di Rumah Sakit, Anya membuka pintu kamar tempat ayahnya di rawat. Terlihat mamanya lemas duduk di kursi roda sambil menggenggam tangan presedir yang koma itu, terlihat kakinya di perban hingga ke lutut.


"Ma" ucap Anya sambil menangis tak tega melihat keadaan kedua orang tuanya yang seperti ini.


"Sayang.."


Anya menangis sejadi-jadinya di pelukan mamanya. Rasanya sangat lama tak bertemu sekali bertemu keadaan mereka seperti ini.


"Sudah sayang mama dan papa tidak apa-apa. Kamu jangan sedih lagi ya. Kau jangan lemah. Sekarang tanggung jawabmu saat ini sangat besar. Kau harus kuat sayang" ucap Marissa menenangkan hati putri satu-satunya.


Kejadian ini merupakan pukulan terbesar untuk Anya, pasalnya selama Presedir Marvell belum pulih, perusahaan BS Group otomatis jatuh ditangannya. Komitmen itu sudah ada jauh-jauh hari. Marcell sudah tidak bisa menggantikannya karena terikat sumpah jabatan dan juga kontrak di Universitas Sydney. Tetapi Marcell tidak pernah melepas adik semata wayangnya untuk berjuang sendiri Marcell tetap bersedia membantu dari belakang.


Anya bahkan belum mendapatkan Ijazah tapi tugas dan tanggung jawab besar ini sudah berada di depan mata.


"Ma sebenarnya bagaimana kronologi kejadiannya kenapa kalian bisa seperti ini?"


"Kemarin mama dan papa mau pergi ke acara amal di hotel Rizh Hilton. Saat mama papa sudah hampir sampai di lokasi tiba-tiba dada papamu sakit sayang dan setirnya tak terkendali. Dari arah berlawanan ada truk yang melintas tapi masih untung truk itu berkecepatan rendah jadi kami hanya terpental sekitar 200 meter. Mama tidak membayangkan kalau truk itu melaju kencang soalnya papamu kemarin berkecepatan tinggi."


"Kenapa kalian tidak pakai pak sugeng sopir pribadi kita"


"Pak Sugeng anaknya lagi sakit sayang jadi izin cuti"


"kenapa dada papa tiba-tiba sakit ma" kembali penasaran


"Siang itu papamu pulang dari kantor tampak murung, mama mencoba menanyakan tapi jawabannya selalu tidak apa-apa mama jangan khawatir begitu. Sore harinya beliau bilang kepalanya sakit. Sebenarnya mama sudah bilang kita tidak perlu berangkat kalau memang kesehatan kurang baik. Tapi papamu tetap memaksa karena terlanjur berjanji kepada koleganya."


"Sebenarnya apa yang terjadi" gumam Anya sendiri


"An jam 4 ada rapat direksi, kakak akan menemanimu"


"Baiklah kak"


"Kamu siap An?"


"Anya harus siap apapun yang terjadi, mau tidak mau Anya akan terus berjuang demi perusahaan kita".


"Baiklah kakak selalu mendukungmu"


Anya memeluk kakaknya seketika.


"Ya Tuhan beban ini terlalu berat sebenarnya aku belum siap sepenuhnya. Targetku aku masuk ke perusahaan masih dua tahun lagi tapi mengapa secepat ini. Tapi aku akan berusaha tolong beri aku jalan keluar" gumamnya dalam hati


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Setalah pulang dari Rumah Sakit, Anya dan Marcell kembali ke Rumah.


"An kamu jangan terlalu terbebani, kakak tau bagaimana posisimu. Kakak tidak akan meninggalkanmu jangan kau pikul sendiri beban ini"


" Iya kak terimakasih" ucap Anya memeluk kakaknya dan berlalu masuk ke kamar yang lama sekali tidak ditempati.


Anya merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Kehidupannya kembali normal menjadi putri Presedir BS Group.


"Aku harus fokus. Ah aku lupa belum menghubungi Kai, dia pasti khawatir"


Anya menghidupkan ponselnya tapi tidak bisa karena kehabisan baterai. Sambil mengecas handphone Anya mencoba memejamkan matanya sejenak.


Sydney


πŸ•’15.00πŸ•’


Perbedaan waktu 4 jam antara Jakarta dan Sydney. Kai berkali-kali menelpon Rava tapi tidak aktif. Kai sedikit bingung karena ia tidak tahu rumah Rava sebenarnya dimana. Kai berinisiatif untuk menelfon Marcell karena tidak biasa ponsel Rava mati pada jam siang hari.


"Hallo Kak Marcell."


"Iya Kai.."


"Kak maaf sebelumnya kakak tau tidak alamat Rava, soalnya mulai tadi malam aku hubungi selalu tidak aktif aku takut terjadi apa-apa"


"Kai.. sebenarnya"


"Ada apa kak?"


"Kai kakak ingin minta tolong padamu. Tolong jangan mencari Rava untuk sementara ini. Keluarga kami lagi ada masalah Rava harus fokus saat ini aku mohon padamu Kai"


"Kak sebenarnya apa yang terjadi"


"maafkan aku Kai sebelumnya tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kebaikan Rava, masalah detailnya aku belum bisa menjelaskan semua padamu. Kakak harap kamu bisa memahami posisi Rava saat ini"


Marcell menutup telponnya seketika.


Kai tercengang mendengar semua itu..


berkali-kali ia menghubungi Rava tapi tetap saja tidak bisa. Hatinya kalut mendengar penjelasan dari Kak Marcell. "Sebenarnya apa yang terjadi" gumamnya dalam hati


✈️✈️✈️


Sore itu Anya tampil cantik dan modis dengan balutan busana kantor keluaran Zara dengan dipadukan menggunakan tas branded brand C.Dior yang lama tak pernah ia pakai. Dengan rambut terurai panjang ditambah riasan tipis di wajahnya menambah nilai elegan dimata orang lain yang melihatnya.


Dengan semampai Anya diikuti Marcell dan dua ajudannya berjalan masuk kedalam ruangan rapat. Dan duduk di kursi depan yang sudah dipersiapkan.


Setelah semua menatap bingung sekaligus kagum dengan kecantikan Anya.


"Sore semua.. Perkenalkan saya Maureen Ravanya Santoier putri dari Presedir Marvell. Kalian pasti sudah mendengar tentang musibah yang Presedir kita alami. Untuk itu saat ini selama papa saya belum pulih, saya akan menggantikannya. Mohon dukungan dan bimbingannya" Anya dengan sopan membungkuk kepada semua dewan direksi yang sebenarnya ingin merebut posisi CEO.


Semua bertepuk tangan dan mempersilakan Anya kembali ke tempat. Meskipun ada beberapa pasang mata yang tidak senang tapi mereka tidak berani mengungkapkan sepatah katapun karena tidak memiliki kewenangan untuk itu.


"Sekarang kita mulai rapat ini. Untuk selebihnya saya mempersilahkan siapa saja yang ingin mengajukan kritik dan saran untuk kedepannya" ucap Anya tegas


Seorang pria seumuran ayahnya mengangkat tangan dan berkata


"Saya Harry Manajer Advokasi disini. Begini belakang ini ada isu dari luar kalau perusahaan ini sebenarnya bukan milik keluarga Santoier. Untuk itu kami semua disini ingin mengetahui klarifikasi dari pihak keluarga Santoier mengenai hal ini"


"Terimakasih atas pernyataan dari taun Harry. Begini untuk masalah ini jujur saja kami berdua baru saja mendengarnya. Untuk itu beri kami waktu untuk mencari bukti dan segera mengklarifikasi hal tersebut terimakasih. ada kritik lain" ucap Anya tegas


Marcell lega sekaligus tenang melihat adiknya yang sangat berbakat dalam hal berdebat. Marcell yakin Anya pasti bisa menjadi CEO yang baik.


πŸ‘©πŸ»β€πŸ’ΌπŸ‘©πŸ»β€πŸ’ΌπŸ‘©πŸ»β€πŸ’ΌπŸ‘©πŸ»β€πŸ’Ό