
Keesokan harinya Kai menunggu Rava di perpustakaan. Rava hari itu tidak masuk karena kepalanya terasa berat efek demam kemarin. Tapi ia tetap berupaya menemui Kai pada jam pulang kuliah.
Kai duduk di bangku pojok melihat pemandangan di luar jendela perpustakaan. Di halaman kampus terlihat beberapa mahasiswa berlalu lalang. Sedangkan saat ia menatap ke atas terlihat langit yang mulai senja. Setelah 15 menit berlalu akhirnya sosok yang ditunggu itupun datang. Dan langsung duduk tepat di belakang Kai. Kai yang mengetahui Rava memilih duduk di belakangnya heran dan berbalik melihat pundak wanitanya.
"Kenapa kau duduk disitu rav. Aku kan ada di sini? Mana nyaman aku bicara kalau terus berbalik seperti ini" ucap Kai bingung
Ki
Rava tersenyum tipis.. tanpa menoleh Anya berkata :
"Biarkan seperti ini Kai sampai kau menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi. Aku ingin mendengar kata hatimu secara jujur."
Kai berbalik heran tapi ia mencoba mengerti apa yang dimaksud Rava.
Tanpa saling memandang akhirnya mereka bicara dari hati ke hati..
Kai mulai berbicara pikirannya kosong semua kata yang diucapkan murni dari hatinya..
" Saat ini adalah hal tersulit bagiku.. saat aku dihadapkan pada pilihan yang tak bisa aku pilih. Aku tak mau egois tapi nyatanya aku tetap egois. Awalnya aku tak menyangka bisa seperti ini. Disaat aku mulai membuka hati untuk pertama kalinya pada satu wanita. Tuhan memberi ujian baru untukku aku dihadapkan pada pilihan memilih kepentingan ayahku atau kebahagiaan pribadiku. Aku paham kalau Tuhan merencanakan sesuatu yang baik untuk ini. Tapi ini pilihan terberat"
Anya mendalami perasaan Kai saat ini..
Sambil memejamkan mata Anya tetap mendengarkan apa yang diucapkan Kai saat ini
"Rava kau bisa mempercayaiku. Aku tidak akan ingkar padamu aku akan terus disampingmu dan menjagamu. Tak peduli apa yang akan terjadi kedepannya aku hanya ingin kau mengingat kata-kataku saat ini. Yakinlah kau wanita pertama yang ada di hatiku apapun yang terjadi aku tak akan bisa melepaskannya. Percayalah kepadaku jangan sampai kau goyah melihat keadaan yang tak sesuai keinginan kita. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa membuat kamu dan ayahku bahagia."
Tak terasa butiran air mata Anya mengalir begitu deras membasahi pipi. Dalam hatinya keputusan untuk meredam amarah dan tidak salah paham kepada Kai merupakan keputusan yang benar.
"Rav.. aku mencintaimu tapi aku juga mencintai ayahku. Kalian berdua sama-sama orang sangat penting dalam hidupku."ucap Kai sambil mengusap kasar wajahnya.
"Rav tunggulah aku sekarang sedang berusaha mencari jalan keluar yang terbaik untuk kita semua. Untuk masalah Prilly dia gadis yang dijodohkan denganku. Prilly anak om Herman teman ayah. Rav aku tak memiliki perasaan apa-apa terhadap prilly. Aku anggap dia temanku tidak lebih." Jelas Kai..
"Kai.. "ucap Anya lirih dalam isak tangisnya
"Maafkan aku yang banyak kekurangan. Jika kau ingin menyelamatkan paman dengan cara ini. Aku akan berusaha menerimanya. Kau jangan bandingkan aku dengan paman. Dia orang yang disampingmu selama ini. Sedangkan aku hanya beberapa bulan ini. Jika cara ini satu-satunya aku siap menerima semua kenyataannya."
"Tidak rav.. kau jangan berpikir seperti itu. Bagaimanapun caranya aku hanya ingin bersamamu. Aku akan cari cara untuk menyelesaikan masalah ini. Dari awal aku juga sudah bilang pada Ayah kalau aku tidak setuju jangan sampai ada yang memaksa. Kau tak perlu khawatir cukup percaya aku dan ayahku bisa melewati masa ini dengan baik." Ucap kai sambil membalikkan punggungnya dan melihat Rava yang semula duduk tegap kini menunduk menahan isak tangis.
Kai bergegas berpindah tempat dan memeluk tubuh Rava yang bergetar karena isak tangis.
"Kau jangan sedih yah. Ayo kita sama-sama berjuang melawan masalah ini." Ucap Kai menyeka air mata yang mengalir di wajah Rava.
Rava mengangguk pelan. Dalam hatinya Anya ingin sekali membantu beban Kai tapi dia belum menemukan caranya. Anya percaya Kai tak semudah itu akan jatuh cinta pada wanita lain.
ππππMinggu kemudian ππππ
Anya termenung di halaman Rooftopnya sambil menikmati hembusan angin malam yang saling beradu. Sudah seminggu ini Rava dan Kai jarang bertemu semenjak Kai fokus dengan perusahaan tempat ayahnya bekerja Kai jarang masuk kuliah.
Anya sangat khawatir keadaan Kai meskipun kadang Kai mengabarinya lewat telpon tapi tetap saja Anya belum puas sebelum menemui titik terang.
Anya berpikir dan akhirnya memberanikan diri untuk mengambil langkah belakang.
tuut.. tutt.. tuuut...
"selamat malam nona.. apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Boni tangan kanan presedir
"bon kamu sibuk tidak aku ingin bertanya mengenai Syd Company denganmu."
"iya nona.. info apa yang ingin nona tanyakan silahkan"
"kemarin papa bilang ada kontrak dengan Syd Comp. kalau boleh coba kamu kirimkan berkas kontraknya lewat email saya."
"baik nona nanti saya bicarakan dengan sekertaris Eva. Untuk segera mengirimkan kepada nona."
" oke saya tunggu bon. oh ya bon papa terakhir ke Jogja kapan yah??"
"kalau presedir trkhir itu sebelum terbang ke Australia dia ke Jogja dulu non untuk mengurus administrasi pajak cabang jogja."
"hah.. kan sudah ada petugas yang mengurus itu kenapa papa sampai kesana sendiri?"
"saya kurang tau non.. saya kemarin tidak ikut karena saya ditugaskan ke NTB untuk survey lokasi cabang baru."
"oh.. ya udah makasih yah aku tunggu berkasnya"
Setelah menutup telponnya Anya mematung. Pikirannya tak karuan hatinya menggebu ingin menyelesaikan semua ini. Aku harus diam atau aku harus bertindak. Anya berada di ambang dilema yang mendalam. Satu sisi dia tak ingin keluarga yang sangat ia sayangi akan hancur gara-gara orang lain. Tapi disisi lain sesuatu yang salah bila dibiarkan akan selamanya salah.
Anya meraih ponselnya.. dan menelfon presedir Marvell
tuuutt...tuttt
"halo sayang. papa senang kamu akhirnya mau telpon papa". ucap Presedir Marvell
"hmm.."
"papa kangen kamu sayang"
"pa.. Anya mau tanya sesuatu"
"iya sayang.. anak papa mau tanya apa?"
"papa masih berhubungan dengan wanita jogja itu??"
degg...
presedir itu kaget mendengar pertanyaan dari anak gadisnya.
"ayo jawab pa.."
"pa.. papa tega sama Anya tega sama mama sama kak Marcell juga. Anya pikir papa sudah berubah tapi apa? Anya tinggal papa jadi lebih bebas. yah kan?" ucap Anya berteriak dan menangis
Tubuh tinggi tegap itu seketika lemas terhempas di kursi kantornya mendengar anak gadisnya menangis karena kesalahannya.
"sayang.. maafkan papa maaf"
"percuma papa minta maaf semua tak akan berubah. Papa lebih memilih melindungi wanita itu daripada mengurusi keluarga papa. Anya benci sama papa"
seketika ponsel itu Anya banting ke lantai karena tak bisa menahan emosinya.
Anya menangis sejadi-jadinya. Hatinya sangat hancur papa yang selalu dia banggakan bisa mengkhianatinya.
Kepalanya sangat pusing matanya remang tiba-tiba bruuuukkkkkkkk.
ππ Disisi lainππ
Presedir Marvell tau kalau Anya sedang emosi saat ini. Berkali-kali nomornya dihubungi tapi mendadak tidak aktif.Presdir Marvel khawatir dengan keadaan putri kesayangannya. Sejak kecil Anya kalau terlalu emosi bisa jadi akan pingsan. Marvell tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu pada Anya.
Dengan sigap dia menelfon putra pertamanya
"Halo cell kamu dimana sekarang?"
"Aku di london pa.. ada pelatihan selama seminggu disini. Ada apa pa kok suara papa khawatir gini?"
"Papa khawatir sama adik kamu cell. Tadi dia telpon papa terus marah sama papa. kamu bisa minta tolong siapa buat mengecek keadaan adik kamu. Papa sangat khwatir nak"
" kenapa Anya bisa marah-marah sama papa? tumben sekali biasanya paling manja sama papa"
" Papa yang salah sayang. tolong yah cepat hubungi papa kalau sudah ada perkembangan"
"siap pa"
Marcell menghubungi ponsel Anya tapi tidak aktif. Beberapa karyawan cafe pun juga tidak ada jawaban. Mengingat memang ini pukul 01.00 dini hari di Sydney waktunya mereka istirahat. Nomor handphone Bianca pun tidak aktif.
Marcell jadi bingung harus menghubungi siapa. Tanpa pikir panjang Marcell mencari nomor handphone Kai..
tuutt..tuttt akhirnya tersambung
"halo" suara Kai yang masih tegas karena lembur laporan perusahaan ayah Rama.
"halo ini benar Kai?" suara Marcell sedikit bimbang
"iya benar ini siapa ya?"
"Aku Marcell kakaknya Anya"
"Anya... Anya... oh Anya Calmati?"
"iya benar.. kakak bisa minta tolong tidak?"
"minta tolong apa?" dalam hati Kai bingung malam malam begini apa yang sebenarnya terjadi
"tolong kamu pergi ke cafe sekarang yah. kalau terkunci kamu bisa ambil jalur samping ada tembok kamu panjat aja. Tolong kamu cek di Rooftop. Keadaan saya lagi diluar kota.
Saya khawatir dia terjadi sesuatu soalnya handphonenya tidak aktif."
"tunggu.. tunggu.. saya bisa membantu tapi kenapa bisa saya??"
"kakak cuma bisa menaruh harapan ke kamu tolong segera berangkat cepat kabari saya secepatnya terimakasih"
Marcell menutup telponnya dan berharap Kai bisa percaya dan mau membantu
Dengan bimbang Kai mengambil jaket dan mengeluarkan sepedanya.
Suasana jalanan Sydney ramai di padati kendaraan roda 4. Dengan sekuat tenaga Kai mengayuh sepedanya dengan cepat. Sekitar 10 menit akhirnya dia sampai di depan cafe yang biasanya tampak ramai sekarang sepi tak berpenghuni.
Dengan ragu Kai mencoba membuka pintu masuk cafe itu ternyata dikunci.
Dalam pikirannya apakah ini jebakan atau bagaimana..
Kai berjalan menuju samping cafe terlihat tinggi tembok sekitar 2,5 m Kai melompat dan meraih ujung tembok dengan mudah karena terbiasa bermain basket.
Setelah berhasil melewati tembok Kai melihat sebuah tangga menuju rumah atap..
Dengan perlahan dia berjalan dan terkejutnya dia melihat gadis cantik itu tergeletak di samping gazebo Rooftop. Dengan segera dia membopong tubuh itu sesuatu terinjak di kakinya dilihatnya sebuah ponsel yang hancur berkeping layarnya retak body casingnya sudah remuk. Kai menaruh tubuh Anya di atas sofa. Kai mengecek denyut nadi gadis itu ternyata normal. Kai lega gadis itu hanya pingsan.
Dengan bingung Kai menelfon nomor tadi..
"halo Kai bagaimana?"
"Kak Anya pingsan aku menemukannya di dekat gazebo. Anehnya ponselnya hancur? Apa ini tidak kejahatan??"
"Ya Tuhan.. apa yang sebenarnya terjadi. Kai tolong kamu jaga Anya sampai dia sadar. Aku percaya padamu."
tiba telpon itu ditutup Kai yang duduk di samping Anya sangat bingung keadaan ini
apa sebaiknya aku bawa dia ke rumah sakit?
Tapi orang pasti salah sangka kalau aku bawa sekarang secara aku masuk lewat tembok rumahnya. Ampun bagaimana ini.
Kai mencoba beranjak mencari kotak P3K. Dia menyusuri beberapa ruangan dan akhirnya mendapat minyak kayu putih. Setelah mengusap ke hidung gadis itu tak lama mata sayu itu pun terbuka. Perasaan senang campur lega yang Kai dapatkan saat ini.
Apakah perasaan Anya akan sama dengan Kai??