
Hari ini tepat peringatan kematian mama Kai. Menjadi kebiasaan Kai selalu membawakan bunga Lily putih kesukaan mendiang mamanya menuju pemakaman. Pagi itu Kai melaju dengan mengendarai sepeda motor yang ia pinjam pada tetangga satu komplek menuju halte busway dekat kampus. Mengingat jarak pemakaman yang jauh, hari peringatannya tampak berbeda.
Setelah sampai di tepi jalan dekat halte busway, Kai tampak menunggu seseorang sambil merapikan penampilannya. Hem berwarna hitam pemberian ayah Rama dan dipadukan dengan celana panjang berbahan cotton twill berwarna coklat susu dengan sepatu adidas hamburg menambah kepercayaan dirinya. Beberapa kali Kai melihat kaca untuk merapikan rambutnya yang berantakan terkena helm. Entah mengapa bukan kebiasaan Kai yang seperti ini. Hatinya terlalu bahagia mungkin itu alasannya. Perjalanan kali ini hampir seperti kencan pertama untuknya.
Dari balik arah berlari seorang gadis berkulit coklat berkacamata tebal rambutnya di ikat tanpa dikepang. Gadis itu memakai sweater rajut berwarna salem dan menggunakan syal dilehernya.
Setelah berada tepat dibelakang Kai, gadis itu menepuk lembut punggung Kai. Dengan cepat Kai menoleh..
"Rava.. Kau sudah datang"
"Apakah kamu sudah lama disini?" ucap Anya
"Tidak aku baru saja datang...bisa minta tolong bawakan ini" ucap Kai seraya memberikan seikat bunga Lily Putih.
"Bunga ini.."
"Kau pegang saja dulu sebentar lagi kau akan tau kita kemana. Sini kepalamu" ucap Kai sambil memasang helm pada gadis manis di depannya.
Jantung Anya berdetak kencang seketika. Deg.deg.deg..
"Aku bisa sendiri Kai" ucap Anya sedikit mundur
"Diamlah.." ucap dingin Kai
Anya menahan senyumnya.
Setelah selesai mereka berangkat menuju suatu tempat.
"Kai bunga ini sangat cantik. Apakah ini untukku?" ucap Anya menggoda Kai
"Kau suka?. Kalau suka besok aku belikan untukmu" ucap Kai
Anya berpikir keras sebenarnya untuk siapa bunga ini. Pikiran yang tidak-tidak pun datang. ".. jangan-jangan ini milik Sherly.." tapi ia tetap berpikir positif karena tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti kemarin.
"Bukan begitu aku penasaran saja. Bunga cantik ini untuk siapa" ucap Anya yang berada di bangku belakang motor
"Kau orangnya benar-benar tidak sabaran" ucap Kai sambil tersenyum tipis
Setelah perjalanan 45 menit akhirnya mereka sampai di sebuah halaman parkir pemakaman. Kai memakir motornya, lalu masuk ke dalam pemakaman. Anya hanya terdiam mengikuti langkah kaki Kai sambil membawa seikat bunga Lily putih. Setelah melewati beberapa baris makam akhirnya Kai berhenti di depan batu nisan
bertuliskan Elizabeth S. Christoper. Terpampang dalam bingkai wajah wanita Inggris yang memiliki mata sama persis dengan mata Kai. Anya melihat dengan seksama..
"Kai apakah ini nisan ibumu" ucap Anya lirih
"Kau sangat jelih. Ayo sini aku kenalkan kau kepada mamaku". Ucap Kai sambil menarik lengan Anya agar sejajar dengannya.
Kai menaruh bunga Lily kesukaan mamanya lalu mengangkat kedua tangan dan meletakan di dada seraya memanjatkan doa, Anya mengikuti sambil memejamkan mata.
Dalam hati Anya berkata "..tante salam kenal namaku adalah Maureen Ravanya temannya Kai anak tante. Aku baru saja berteman dengannya beberapa waktu yang lalu. Kai anak tante orangnya baik, lembut tapi sedikit dingin. Kemarin dia bercerita kepadaku bahwa dia tidak bisa dekat dengan perempuan semenjak tante pulang ke surga. Tolong izinkan aku berteman dengan Kai tante. Meskipun aku memiliki rahasia dibalik identitasku aku harap tante bisa mengerti. Maafkan aku ya tante. Semoga tante selalu tenang di Surga..."
Selesai berdoa Kai berucap di depan batu nisan mamanya
"Ma kenalkan ini temen Kai. Hari ini aku membawanya untuk memperkenalkan kepadamu sahabat wanitaku yang pertama. Pertemuan kami seperti diatur oleh Tuhan. Doakan kita selalu bersama ya ma. Semoga mama selalu mencintai Kai, Ayah dan juga Rava. Ameeeennn"
Anya tetap terdiam mendengar ucapan dari Kai untuk mamanya. Dalam batinnya Kai tipikal orang yang sayang pada orangtuanya. Hatinya bahagia mempunyai teman seperi itu. Dalam hidupnya jarang ada yang mau berteman dengannya secara tulus. Sahabat Anya hanya bisa dihitung jari. Teman-teman di Indonesia dulu memandang Anya sebagai gadis yang sombong. Tetapi itu bukan sifat Anya sebenarnya. Hanya saja terlalu banyak pengalaman dulu yang membuat hatinya terluka jadi dia lebih pemilih dalam berteman.
Setelah selesai dari pemakaman Kai mengajak Rava untuk makan di kedai yang biasa ia datangi bersama Ayahnya.
"Wah nak Kai.. sama siapa wanita ini? Ayahmu tidak ikut?" ucap pria pemilik kedai
"Ini temanku Rava paman. Ayah sedikit ada urusan nanti menyusul." Ucap Kai sambil meneguk air mineral.
"Selama hampir 20 tahun ini kau wanita pertama yang diajak Kai kesini nak." Ucap pria itu kepada Anya
Anya hanya tersenyum kegirangan..
Drrrrtt..drrrttt..drrrt suara getar ponsel Anya berbunyi terlihat di layar bertuliskan "Mamaβ₯οΈ"
"Iya hallo ma"
"Kamu dimana sayang mama sekarang di cafe kamu kok gak ada. Bianca bilang kamu pergi pagi-pagi" suara mama Anya dalam telpon
Anya sedikit menjauh dari Kai. Anya memakai bahasa Indonesia agar tidak diketahui oleh Kai.
"Loh mama katanya bulan depan kesini kok udah sampe cafe?. Anya hmbb aku lagi keluar sama temanku ma. Tapi tempatnya jauh."
"Jam berapa kamu balik sayang?. Mama sama papamu ada urusan sebentar disini. Tapi kami akan balik Indonesia seminggu lagi."
"Oke kalau gitu nanti mama kabari kamu lagi yah. Mama mau ke Canberra dulu. Bye sayang hati-hati." Ucap mama Anya
"Siap ma love you" jawab Anya sambil menutup sambungan telepon itu.
Dari jarak yang tak jauh Kai tanpa sengaja mendengar samar-samar perkataan Anya. Ayah Kai yang berdarah Indonesia membiasakan untuk berbahasa Indonesia setiap harinya. Jadi Kai paham apa yang diucapkan Anya. Tapi terdengar sangat samar beberapa kata yang menjadi bingung Kai. Dalam benak Kai, Rava beberapa kali bilang cafe dan Anya. Apakah mereka saling mengenal? Apakah benar Anya gadis Asia tenggara itu? Karena terlalu samar Kai tak bisa mengambil kesimpulan apapun.
Anya kembali duduk disamping Kai, dan melihat beberapa hidangan sudah tertata di meja.
"Wah sepertinya enak" ucap Anya
"Ayo kita makan" ucap Kai tersenyum tipis
"Kai aku penasaran kenapa kau membawakan bunga Lily putih untuk mendiang ibumu. Kenapa bukan bunga Mawar Putih atau bunga Krisan " ucap Anya sambil mengunyah makanan
"Karena mamaku paling suka bunga itu. Lily Putih adalah sebuah kemurnian dan kesucian. Kata ayahku mama suka merangkai bunga Lily di rumah."
"Ibumu sepertinya bukan keturunan Australia ya"
"Mamaku keturunan Inggris Rav. Ayahku berdarah Indonesia."
"Haah.. Indonesia aku tak menyangka Kai ternyata ketampananmu ini dihasilkan perpaduan Inggris dan Indonesia. Keren..keren.." ucap Anya sambil memberikan 2 jempolnya kepada Kai
Kai melihat tingkah Anya hanya tersenyum geli.
Drrttt..drrtttt....suara ponsel Kai sekarang yang berbunyi
"Hallo yah. Ayah dimana?" ucap Kai menjawab telepon Ayahnya menggunakan bahasa Indonesia
Sontak Anya kaget mendengar Kai sangat mahir berbahasa Indonesia. Dalam pikirannya jangan-jangan tadi Kai mendengar percakapanku.
"Ayah hampir sampai kedai ini. Kamu dimana?" Ucap Ayah Rama
"Aku udah di kedai yah ini selesai makan"
"Oke ayah hampir sampai. Tunggu ayah ya"
Kai menutup telepon dari ayahnya. Tak sengaja melihat wajah gadis disebelahnya.
"Kauuu bisa bahasa Indonesia?" Ucap Anya sambil berbicara bahasa Indonesia
"Yah tentu saja" ucap Kai santai
"Apakah kamu tadi mengerti pembicaraan dengan mamaku di telpon?"
" Maksud kamu..... Ah tidaklah. Kau kan sudah menjauh mana bisa aku mendengar. Lagian itu privasimu kenapa aku harus menguping" ucap Kai datar
"Oh oke aku percaya padamu Kai" ucap Anya penuh ragu tapi dalam hatinya harus percaya temannya tidak mungkin mengkhianatinya.
Selang 5 menit tiba-tiba muncul Pria dewasa tampan berwajah Indonesia duduk di samping Kai.
"Ayah kau sudah datang... Kau mau pesan apa?"
"Seperti biasa sayang. Omong-omong Siapa gadis ini Kai?" Ayah Rama tersenyum melihat Anya.
"Ini teman sekelas Kai yah. Namanya Rava"
"Halo om saya Rava teman sekelas Kai" sambil menjabat tangan Ayah Rama.
"Baru kali ini Ayah melihat kau jalan sama gadis" goda Ayah Kai
"Ayah sudahlah" ucap Kai malu
"Kamu orang Indonesia nak? Saya juga asli orang Indonesia loh wong jowo"
"Om asli Jawa mana ayah saya Jakarta om, ibu saya asli malang"
"iya saya juga orang Malang nak, senang kalau bertemu saudara setanah air gini" ucap Ayah Rama sumringah.
"Ayah jangan bahas itu.. aku satu-satunya orang gak pernah ke Malang meski itu kampung halaman Ayah." ucap memelas.
"benarkah Kai.. kalau kita liburan ayo pergi. Malang kota yang indah banyak wisata di sana seru deh" ucap Anya sambil tersenyum membayangkan
Ayah Rama hanya tersenyum melihat tingkah kedua pemuda itu. Dalam hati ayah Rama berkata "..sabarlah sayang ada saatnya kamu bakal hidup di Indonesia. Aku akan mengembalikan asalmu kita akan mengambil kembali apa yang menjadi hak kita..."
π¨π»βπΌπ¨π»βπΌπ¨π»βπΌπ¨π»βπΌ