FALSE LOVE

FALSE LOVE
Papa



Dua jam telah berlalu, Kai beserta orang tua Prilly sangat khawatir keadaan di dalam kamar. Mereka tidak mendengar teriakan-teriakan itu yang membuat orang tua Prilly bertambah khawatir.


Berbeda dengan Kai, ia lebih khawatir dengan keadaan Rava yang dihina oleh Prilly.


Tak lama kemudian keluarlah Prilly dan Anya. Mereka bercengkrama dengan raut ceria, penampilan Prilly sudah cantik seperti sedia kala. Mata sembabnya di tutupi dengan kacamata brand keluaran Paris.


Dibelakangnya Rava tampak sumringah melihat Kai setia menunggunya.


Mama Prilly segera memeluk anaknya yang baru keluar.


"Sayang kamu baik-baik saja kan? Mama papa khawatir sekali sayang. Apapun yang kamu mau kita bakal turutin, kamu jangan nekad lagi ya sayang" ucap mama Prilly sambil menciumi gadis kursi roda itu.


"sudahlah ma.. jangan gini malu dilihat Rava sama Kai"


"bagaimana kamu sudah merasa baikan?" ucap Herman sambil mengambil alih dorongan kursi roda dan membawa anaknya ke ruang tengah.


"aku baik pa, maafkan aku yang bertingkah tidak dewasa selama ini, Prilly menyesal pa"


Kedua orang tua Prilly memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Kai maafkan aku ya aku telah membebanimu, dan gara-gara aku ayahmu terancam masuk penjara. Aku harap kita kedepannya bisa berteman baik" ucap Prilly tersenyum tipis


Semua orang terheran-heran sihir apa yang diberikan Rava dalam dua jam ini sikap gadis itu berubah 180°


" Iya aku juga minta maaf, aku tidak bisa memilihmu karena Rava seorang yang sangat berarti untuk hidupku" ucap Kai sambil menggenggam tangan Anya.


"Aku doakan kalian bahagia selamanya"


"Puji tuhan Ameeeennn" jawab Kai dan Rava


Malam itu Rava dan Kai makan malam di rumah Prilly.


Herman tetap tidak suka dengan kehadiran Rava yang semakin dekat dengan anaknya. Berbeda dengan mama Prilly yang sangat menyukai Rava karena telah menyadarkan anaknya kembali ke Prilly yang dulu.


Setelah Kai dan Rava pulang, Herman memulai obrolan dengan Prilly.


"Prilly sayang bukannya papa tak ingin kamu berteman tapi papa tidak begitu suka dengan Rava. Papa takut dia memanfaatkan kamu sayang" ucap Herman sambil meneguk secangkir kopi


"Papa kenapa begitu Rava orangnya baik, dia tulus berteman dengan Prilly pa. Bahkan dia membantu Prilly untuk memperoleh dokter syaraf terbaik."


Herman tak percaya dan sangat kalau Rava menolongnya secara cuma-cuma pasti akan ada motif dibalik ini.


"Papa cuma khawatir sayang. Dia bisa mempengaruhi pikiranmu secepat itu padahal papa mulai tadi membujukmu kamu tak tergeming. Dia sekali ketuk kamu langsung keluar. Papa yakin dia mempunyai motif jahat dibalik semua ini. Papa nggak setuju kamu berteman dengannya."


"papa... Rava orangnya baik pa. Prilly bersyukur bisa berteman dengan dia. Meskipun dia jauh diatas Prilly tapi dia tulus berteman dengan Prilly"


"Jauh diatas kamu dari segi apa, gadis kumel gitu sangat berbeda dengan kamu. Pokoknya papa nggak setuju kamu terapi di dokter rekomendasi dari dia titik"


"Terserah Papa mau bilang apa" Prilly kembali marah dan sakit hati karena sikap tulus Anya di terima buruk oleh papanya.


"Sudahlah pa, Rava sepertinya anak baik. Toh anak kita juga butuh teman. Papa tau sendiri temen Prilly semua menghilang setelah tau Prilly kecelakaan."


Herman tak bergeming...


💢💢💢💢


Dua hari berikutnya Prilly diam-diam mengatur janji dengan Anya. Sore itu Anya berpenampilan Anya bukan sebagai Rava. Dengan mengendarai mobil sport putih keluaran Ferarri Anya memarkir mobilnya tepat di depan mini market. Prilly ditemani assistennya bernama Sofia yang dapat dipercaya tidak akan membocorkan ke orang tuanya tengah duduk menghadap berlawanan arah. Anya berjalan menghampiri mereka


"Sudah lama nunggu" Anya menepuk pundak Prilly.


Prilly dan maid Sofia tersentak kaget dan tertegun tiba-tiba gadis cantik sangat cantik berparas Indonesia asli menyapanya.


"Astaga cantik sekali kamu Rav.. cantik baget banget"


"Halah kamu berlebihan ayo cepet kakakku sudah tungguin kita di kliniknya. Sopir kamu suruh pulang aja kita naik mobil aku ya.. aku nggak mau banyak orang yang tau".


Akhirnya mereka bertiga naik mobil sport milik Anya menuju Klinik Marcell. Perjalanan cukup panjang sekitar 45 menit perjalanan.


Setelah sampai mereka turun, Marcell sudah menunggu di depan. Mereka masuk ke dalam klinik sambil berjalan Marcell menciumi adiknya gara-gara kangen dan khawatir Anya pingsan kemarin.


"Kakakmu sangat khawatir untung papa telepon kakak jadi kakak bisa ambil jalan keluar"


"Iya gara-gara kakak aku jadi jantungan"


"loh kenapa bisa kakak yang salah"


"mana nggak jantungan kalau tiba-tiba Kai ada di depan aku" Anya berbisik


"ha-ha-ha itu jalan pintas an. Kakak sangat khawatir, anak cafe aku telfon nggak ada yang aktif ponselnya."


Dari belakang Prilly melihat mereka berdua sangat akrab ia pun sedih dan iri pasalnya kakaknya tidak pernah memberikan perhatian kepadanya.


Setelah 30 menit melakukan pemeriksaan akhirnya kesimpulannya ada salah satu metode efektif yang masih dalam tahap penelitian. Prilly sudah pasrah kepada kak Marcell untuk merawat kakinya. Hatinya bersemangat melihat orang-orang mendukungnya terlebih lagi dokter yang menangani Kak Marcell yang tampan khas orang asia. Membuat hati Prilly berdebar tak karuan tapi dia tak ingin mendalami perasaannya karena dia belum bisa menstabilkan pikirannya untuk saat ini.


"Bagaimana kalau kamu setuju kita lakukan terapi stimulus listrik. Tapi sebenarnya ini masih tahap penelitian, setidaknya hasil penelitian terdahulu 80% cara ini efektif."


jelas Marcell sambil menulis di lembar DPJP.


"Aku ikut saja dok, aku percaya kalian pasti memberikan yang terbaik untukku" ucap Prilly bersemangat


"Baiklah nanti kita atur jadwal terapinya, seminggu biasanya sekitar 4-5x kebanyakan pasien tetapi ini lebih memilih stay di klinik agar dokter bisa lebih mudah mengawasi."


"untuk hal itu aku pikirkan dulu dok, karena Papaku sebenarnya tidak setuju aku berobat dengan Rava. Entah aku sudah menyakinkan beliau tapi percuma tetap saja bersikeras untuk tidak berhubungan dengan Rava. Maafkan aku ya Rav" ucap Prilly memelas


"Sudahlah jangan memikirkan aku. Sekarang kamu fokus gimana caranya kamu cari alasan bisa stay di klinik ini." ucap Anya bernada santai


"Akan aku coba. Terimakasih ya untuk kalian padahal kemarin aku telah berbuat jahat pada Rava tapi kalian dengan semudah itu membantuku"


Anya dan Marcell hanya tersenyum.


Setelah Prilly pamit dijemput sopirnya, Anya dan Marcell bergegas menuju restoran karena mereka sudah jarang makan berdua.


Anya memesan beberapa masakan western ditambah lagi menu olahan cumi karena Anya dan Marcell tidak suka makanan seafood kecuali cumi-cumi.


"An.. kakak pengen ketemu Kai secara langsung" ucap Marcell secara tiba-tiba.


"Kakak jangan bercanda deh"


"Loh emangnya kenapa coba. Kakak kan cuma pengen kenal sama dia"


"udahlah kak bercandanya nggak lucu"


"hahaha.. kau pikir kakak bercanda. Kakak serius an."


"Whatever kakak emang suka goda Anya" ucap Anya sebal


Marcell tertawa melihat adik satu-satunya menekuk wajahnya dan cemberut.


😖😖😖😖