
Mata lentik itu sayup-sayup terbuka buram dan berat. Badannya terasa lemas nafasnya pun berat. Anya memejamkan mata kembali dengan pikiran linglung mengingat perkataan ayahnya. Sakit hati tak tertahankan hingga tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.
Kai semula lega mata itu terbuka sekarang sedikit bingung kenapa dia menutup matanya kembali dan menangis apa ada yang sakit? Kai tidak berani menyentuh wanita cantik yang terbaring di sofa itu.
Setelah sadar sepenuhnya Anya membuka mata dan kaget kalau didepannya ada sosok yang tak asing. Pria itu tersenyum tapi tampak bingung..
Anya membelalakkan matanya dan duduk karena kaget siapa yang ada di depannya.
"Syukurlah kau sudah bangun.. minum air dulu" ucap Kai sambil memberi Anya segelas air putih
Anya masih tertegun dia mencoba menggigit bibir tipisnya awww.. sakit ternyata ini bukan mimpi..kenapa Kai bisa ada di depannya Anya bingung tak bisa berkata-kata.
"An.. kamu masih pusing..? Aku akan keluar sebentar membelikanmu obat lalu aku bisa pulang" ucap Kai sambil berdiri
"tunggu.. kak Kai kenapa bisa ada disini?"
"ceritanya panjang tuggu aku akan segera kembali" ucap Kai melangkah
"aku ada obat kak.. jadi tak perlu membelinya lagi ada di kamarku"
"oh syukurlah" ucap Kai kembali duduk di sofa sambil mencari termometer di kotak P3K
"kak kau belum menjawab pertanyaanku"
"begini tadi ada nomor baru telpon aku katanya itu kakak kamu. Sebenarnya aku juga bingung kenapa bisa kakak kamu tau nomor aku padahal kita aja belum tukeran nomor.., dan lebih anehnya dia langsung percayain aku buat ngecek keadaan kamu. Dia bilang kalau kunci cafe dikunci suruh panjat tembok.. setelah aku sampai disini aku liat kamu pingsan dan ponselmu hancur. Apa yang sebenarnya terjadi??" jelas Kai
Anya terdiam dalam batinnya kesal dengan kak Marcell karena semudah itu dia menelepon Kai.
"Kak boleh pinjam ponselmu?? ucap Anya melemah
"ini.." sambil menyodorkan ponsel Kai baru kali ini ia memegang ponsel Kai selama dia kenal. Anya kaget ternyata wallpaper ponsel Kai foto Rava yang diambilnya secara candid waktu di perpustakaan. Anya tersenyum kecil melihat ini.
"kenapa kau senyum-senyum sendiri" ucap Kai bingung
"tak apa kak tunggu aku menghubungi kakakku dulu" ucap Anya tersenyum kecil
tutt..tuttt..
"halo Kai apa Anya sudah bangun?" ucap Marcell nada khawatir
"halo kak aku baru sadar.."
"puji tuhan akhirnya kau sadar sayang"
"sementara aku tidak bisa dihubungi ya.. ponselku rusak besok siang aku mampir beli ponsel.."
"An.. sebenarnya apa yang terjadi?"
"ceritanya panjang kak nanti aku jelaskan padamu.. Aku tak enak dengan kak Kai kalau kelamaan menunggu"
"baiklah jaga kesehatanmu yah atur emosimu jang terlalu banyak berpikir"
"baik kak.."
Anya menutup telponnya dan memberikan kepada Kai..
"Kak terimakasih yah atas bantuanmu hari ini"
"Yaudah kalau kamu sudah sehat aku balik dulu yah.."
"oh ya kakak tadi lewat mana?"
"lompat tembok" ucap Kai berlalu pergi
dalam hati Anya dia sedikit cemburu melihat Kai juga perhatian pada wanita lain tapi untung saja itu dirinya sendiri. Anya tak habis pikir kenapa kak Marvell bisa menghubungi Kai untung saja Kai panik jadi tak memikirkan terlalu jauh kalau tidak bisa terbongkar penyamarannya.
Pagi harinya di kampus..
Anya duduk lesu menghadap luar jendela.. tiba-tiba sosok itu pun datang..
"Rav.. kamu kenapa kok pucet gitu, kamu masih sakit??" ucap Kai sambil memegang dahi Anya.
"entahlah.. gara-gara tadi malem ada temenku minta bantuan.."
"oh.. aku kira kenapa" ucap Rava memalingkan muka
"sebenarnya aku bingung Rav.. aku sama dia akrabnya cuma sedikit sih cuma temen curhat kita gak pernah tukeran nomor tapi anehnya kakak dia bisa tau nomorku" ucap Kai bingung
"temenmu cowok?" ucap Anya memancing kejujuran Kai
"Cewek Rav.. tapi kamu jangan salah paham ya.."
"oh terus gimana?"
"iya kemarin dia itu entah sakit atau gimana tiba-tiba malem itu kakaknya telpon.. suru cek keadaannya. Aku percaya nggak percaya sih penasaran aku cek aja.. Ternyata bener dia pingsan barangnya berantakan."
"kok bisa gitu?"
"aku juga nggak tau Anya nggak jelasin kenapa dia pingsan"
"kamu ketemu cewek lain nggak ngabarin aku" ucap Rava manyun
"hahaha.. kamu cemburu?" Kai tertawa sambil mencubit pipi Rava.
"tuh kan kamu ngaling.. jangan-jangan kamu ada apa-apa sama cewek sapa itu Anya".. ledek Rava
"kamu itu tak pernah tergantikan dihati aku" ucap Kai menyentil hidung Anya sambil berlalu duduk di bangkunya karena dosen sudah datang. Rava tersenyum malu wajahnya memerah kena gombal Kai. Sejak kapan Kai bisa seromantis ini pikir Anya.
Sore itu Anya menuju ke Mall untuk mencari ponsel tanpa berganti penampilan. Banyak mata menghina dirinya karena penampilan cupu dam tak modis sedikit pun. Dengan enjoy dia memilih ponsel keluaran terbaru dari Apple 11 Pro Max di pilihnya warna white.
Sambil berkeliling melihat-lihat dia memilih beberapa tas dan juga sepatu. Karena pada dasarnya dia memang pecinta barang branded tapi hobbinya terhalang karena perannya sebagai Rava tak membutuhkan semua itu.
Sesampainya di Rooftop Anya menyalakan ponsel barunya dengan menggunakan sim lama.
Beberapa panggilan tak terjawab dari mama, papa dan kak Marcell dan banyak juga pesan dari Kai.
tutt...tuttt...
"Halo An.. apa kabar sayang lama mama tak mendengar suaramu. Mama kangen banget sayang"
"Sama Anya juga kangen mama. Mama sehat kan?"
"iya sayang tuhan selalu melindungi mama"
"kamu jaga kesehatan yah.. akhir-akhir ini mama sering mimpi buruk An.." ucap Mama Marissa nada sedih
"mama mimpi apa sih jangan terlalu di pikirin"
"aneh mimpi mama.. kayak kepantai gitu terus ada gadis nangis-nangis sayang ada kamu ada papa ada mama.. kamu marah-marah entah kenapa"
"mungkin mama terlalu kangen Anya itu.. sampai kebawa mimpi" ucap Anya mencoba tertawa meski paham ini petunjuk dari tuhan untuk Mama.
"iya gimana nggak kangen biasanya kamu ngerecokin mama setiap mama buat kue. Sekarang rumah sepi." curhat mama Marissa
"Kak Marcell tu suruh cepet cari bini ma biar mama papa dapet cucu hehe" ucap Anya tertawa
Bener kamu sayang nanti mama bilang kakakmu dulu ya pokok hati-hati jangan lupa makan. Tidur jangan terlalu malam"
"Siap ibu suri" ucap Anga tertawa melepas rindu dengan mama Marissa yang selama ini menjadi belahan hidupnya.
Mama Marissa paling tau bagaimana karakter anak-anaknya. Anya sangat dekat dengan mamanya karena sejak kecil papa Anya kebanyakan sibuk di kantor mengurusi perusahaan. Meskipun itu perusahaan dari mama tapi Presedir Marvell berlaku profesional.
Setelah menutup telponnya Anya mencoba mengirim pesan kepada kak Marcell untuk meminta penjelasan kenapa bisa Kai yang menolongnya.
Di sisi Lainnya....
Kai duduk menghadap ke laptop di dalam kamarnya. Ayah Rama mondar mandir di depan pintu. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Ayah Rama..
Apakah itu...???