FALSE LOVE

FALSE LOVE
Dilema



Setelah mendapat pesan dari Rava, Kai langsung berpamitan kepada Ayahnya untuk mengurus sesuatu. Tak banyak bicara Kai langsung pamit dan meminta maaf kepada om Herman karena pulang dulu sebelum ada kesepakatan yang jelas antar kedua keluarga.


Terbesit perasaan kecewa yang dirasakan Prilly karena Kai pamit pulang dulu, karena dia belum puas berbincang dengannya. Sebenarnya dia merasa cocok dengan sosok Kai meski pertama kali bertemu. Tapi entah apa yang dirasakan Kai pria dingin itu. Selama beberapa jam ini yang banyak bicara adalah dirinya. Kai jarang memulai percakapan antar keduanya.


Om Herman melihat putri keduanya enjoy ngobrol bersama Kai merasa senang. Dia optimis mereka berdua pasti akan menjadi pasangan yang harmonis. Kai yang berparas tampan, berperilaku sopan dan memiliki otak jenius menambah nilai tersendiri untuk keluarga om Herman memilihnya.


Setelah keluar hotel Kai berlari menuju halte busway yang berjarak 300 meter dari hotel itu. Kai sangat khawatir dengan kondisi kesehatan gadis manis kesayangannya itu. Terlintas dipikiran Kai sakit yang dihadapi Rava seperi yang kemarin di kampus. Kai berjanji ingin melindungi Rava dan menjaga Rava tetap di sisinya untuk selamanya.


Turun dari bus, Kai langsung berlari mencari gadis pujaan hatinya. Kai sangat khawatir kalau Anya sampai kenapa-kenapa. Menyusuri kolam ikan ditengah taman, dan berputar sampai dua kali tapi tetap saja tak ketemu. Dan sampai akhirnya ia akan mengeluarkan ponsel pandangannya tertuju pada seorang gadis di bawah pohon itu. Nafasnya tersengal-sengal, entah mengapa. Telihat gadis itu memakai blouse panjang berwarna navy. Kai tersenyum akhirnya terlihat sosok yang ia cari. Perlahan ia mendekatinya melihat gadis itu memakai pakaian tipis Kai langsung melepas Jas yang ia kenakan dan memakaikan dari belakang untuk gadis itu.


Gadis itu terkejut langsung berdiri. Yah didepannya adalah sosok Rava pujaan hatinya. Terlihat wajah gadis itu yang pucat. Banyak keringat yang terlihat di balik poninya. Kai mengembangkan tangannya memberi sinyal ingin memeluk. Perasaan Anya sedih bercampur senang. Dia tak ingin berburuk sangka terhadap Kai.


Perlahan gadis itu maju dan menenggelamkan kepalanya dalam dada Kai yang bidang. Air matanya tak terasa mengalir deras. Pelukan Anya bertambah erat. Terasa damai, nyaman dan hangat itulah yang dirasakan Anya saat ini.


Kai yang melihat gadis itu menangis mengusap lembut butiran air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku sudah disini Rav. Aku akan selalu ada untukmu" ucap Kai lirih lalu menepuk nepuk punggung Rava.


Tangisan Rava mulai mereda tanpa sadar Kai mendekatkan bibirnya ke dahi Rava dan mengecup hangat. Bau shampo Rava sangat wangi membuat Kai kehilangan kendali. Setelah sadar mereka melepaskan pelukan rindu itu dan mencari tempat duduk yang nyaman.


Mereka berdua duduk di bangku dekat kolam ikan. Menikmati hembusan angin malam yang semakin dingin..


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sudah bilang harus pakai baju tebal. Mengapa kamu tak menurut." ucap Kai terlihat khawatir


Anya tersenyum mendengar perkataan Kai.


"Aku sangat khawatir Rav. Wajahmu sangat pucat. Saat aku tak disampingmu kau harus menjaga diri sendiri" Ucap Kai lirih dan mengelus pipi Rava.


"Apakah kau tak ingin disampingku? Ucap Anya lirih


Kai kembali mencium lembut dahi Rava. Cup


"Aku akan disisimu selamanya. Aku tak ingin kehilanganmu. Kau wanita pertama dalam hidupku. Aku tak akan melepasmu apapun yang terjadi" ucap Kai kembali memeluk erat tubuh Rava


Anya sangat senang mendengar perkataan Kai. Tetapi dia trauma mendengar itu dari mulut pria. Yah pengalamannya hampir sama seperti yang dialami papa Anya.


"Kai kenapa kamu kesini bukannya kamu lagi ada acara sama paman?"


"Acaranya sudah selesai Rav" ucap Kai sambil memalingkan wajahnya


"Kamu kenapa Kai, wajahmu sangat suntuk apa ada masalah?"


Kai terdiam..


"Sebenarnya hari ini perasaanku sangat tidak nyaman Kai. Entah mengapa. Rasanya sangat gelisah." Ucap Anya lirih sambil menyeka air matanya yang keluar lagi


Kai kembali terdiam..


Kai merasa sangat bersalah kepada Rava melihat gadis manis ini menangis karena merasakan pengkhianatan yang ia lakukan.


"Kai kenapa kau hanya diam. Maaf kalau aku banyak bicara dan telah membuatmu khawatir. "


"Rav.. aku yang seharusnya minta maaf padamu" ucap Kai mengelus rambut Anya yang halus.


"Aku yang salah Kai mengapa kau yang minta maaf"


Kai tertunduk lesu pikirannya bimbang saat ini...


Apa yang harus aku lakukan?


"Kai kenapa kau sering terdiam.. aku yang sakit mengapa kau yang murung" celoteh Anya sambil menggoda Kai untuk mencairkan suasana


Kai kembali terdiam.. dan tiba-tiba..


"Rav..andai saja kau disuruh memilih antara pria baik yang jujur atau pria yang bertanggung jawab?" Ucap Kai serius


"Aku lebih suka pria yang jujur" ucap Anya spontan


Anya mengerti ini sinyal yang diberikan Kai atas kejadian beberapa jam yang lalu..


"Alasannya?"


"Kenapa kau tiba-tiba serius gini sih. Gak asik deh"


"Aku sangat butuh alasanmu saat ini Rav."


"Karena suka aja katanya tadi suruh pilih" Anya mencoba menggoda Kai lagi karena tergambar jelas raut wajah Kai sangat tertekan saat ini.


"Rav aku serius" ucap Kai sedikit kesal


"Maaf..maaf Kai.. aku hanya ingin kau tersenyum"


Kai mengacak rambut Rava sembarangan. Ia tak bisa marah padanya. Karena rasa sayangnya terlalu besar.


"..kau ingin tau alasan aku memilih pria jujur? Begini.. seorang yang jujur itu artinya adanya kesesuaian antara apa yang mereka katakan dengan kenyataan. Meski kadang kenyataan membuat dirimu rapuh tapi dari situ kita bisa belajar menjadi lebih baik. Seorang yang jujur hatinya pasti bersih. Dan aku suka itu."


Kai terdiam..


"Kenapa kau tak memilih pria tanggungjawab?"


"Hmbb untuk saat ini aku lebih baik pria jujur" ucap Anya menggoda Kai lagi


"Rava kamu itu yah" Kai mencolek hidung Rava yang mancung gemas melihat tingkahnya yang seperti anak kecil


"Ini sudah malam ayo kita pulang. Aku antar kau pulang"


Anya mengangguk meski hatinya sedikit lega karena Kai berusaha terbuka untuknya tapi tak ada kesimpulan yang dia ambil dalam masalah ini. Anya menyakini pasti ada alasan dibalik semua ini. Kai bukan seorang yang playboy jadi mana mungkin melakukan hal itu tanpa alasan.


🥀🥀🥀🥀


Seminggu setelah kejadian hubungan Kai dengan Prilly semakin dekat. Prilly sering menelepon Kai saat waktu senggang. Dalam hubungan ini peran Kai sangat pasif selama ini Prilly lah yang sering menelepon atau menemui Kai di tempat bimbel. Kai belum menyatakan keputusannya kepada keluarga om Herman tetapi tetap saja Prilly sudah terlalu suka dengan sosok Kai yang dingin tapi hatinya lembut.


Malam ini Prilly mengajak Kai untuk dinner berdua dengannya. Awalnya Kai menolak akan rencana itu karena dirinya merasa hal ini tidak benar. Kai sudah mempunyai Rava yang sangat ia sayangi. Tapi setelah dipikir ulang mungkin ini momen terbaik untuk meluruskan segalanya. Selama ini hubungannya dengan Rava baik-baik saja karena di kampus Kai dan Anya menyembunyikan status mereka yang menjadi sepasang kekasih. Kai tidak mau ada salah paham antara keduanya.


Di Kampus..


Kai berjalan ke tempat duduk di samping Rava setelah dapat kabar dari Prilly. Kai ingin mengajak Rava juga supaya Prilly tau kalau Kai sudah punya kekasih.


"..Rav nanti malem ikut aku ya." ucap Kai berbisik


"..Kemana apa ada Grand opening toko buku baru yah?" ucap Anya sumringah


"..yeh artinya selama ini aku tidak cantik yah?" ucap Anya manyun


"..loh bukan gitu maksudnya. Maksudnya pake baju rapi aja.." Kai bingung karena sudah salah omong.


"ha..ha..ha.. kamu tuh di gutuin aja langsung bingung. Aku tuh bercanda" ucap Anya sambil tertawa


"..aku takut kamu salah paham Rav" ucap Kai datar sambil memainkan pena di jarinya


"..emang kita mau kemana"


"..hhmm dinner"


"..wih tumben.. dinner romantis yah"


"..bukan cuma berdua kita bakal ketemu seseorang"


Anya berpikir sejenak bertemu seseorang? Dinner ? Malam Minggu ?


akhirnya tanpa banyak tanya Anya mengiyakan ajakan Kai.


Pukul 19.00 La Primavera Resto


Seorang gadis cantik berkulit putih berwajah mungil duduk di atas kursi roda. Balutan dress berwarna Lavender dengan lengan terbuka menambah kecantikannya. Hembusan angin menerbangkan aroma parfum merek terkenal asal Paris semerbak dari tubuh mungilnya. Riasan tipis terlihat di wajah mulusnya. Menurut gadis ini hari ini sangatlah istimewa.


Prilly menunggu Kai di table yang ia pesan dekat dengan kolam. Tak lama kemudian sepasang muda mudi dari arah pintu masuk berjalan kearahnya. Yah itu Kai dan Rava mereka bergandengan tangan hingga di depan table Prilly.


Prilly melihat pemandangan itu tersentak kaget. Kai yang berpakaian casual berjaket tebal hitam menggandeng seorang gadis cupu tak berkelas sama sekali. Hanya memakai blouse yang dibalut jaket rajut berwana salem yang terlihat sudah tak zaman. Prilly mengernyitkan mata tak percaya apa yang dia liat didepannya. Kai yang tinggi tampan gagah bergandengan dengan gadis macam itu.


".. kau sudah datang Kai" silahkan duduk kita pesan makanan dulu ya ucap Prilly berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.


Kai dan Anya duduk bersebelahan di depan Prilly. Dari ujung jalan menuju pintu masuk Anya sedikit bingung karena gadis kursi roda itu tengah duduk menanti kedatangan seorang yang ada di sampingnya.


"oh ya Rav kenalkan ini Prilly anaknya om Herman temennya ayah." ucap Kai memperkenalkan gadis di depannya.


"Prilly"


"An eh Rava" ucap Anya hampir keceplosan karena tidak konsen sambil berjabat tangan.


"kamu tidak bilang kalau mau bawa temenmu kesini Kai. Tau gitu aku pesen tempat yang agak lebar"


"Gapapa kok gini aja cukup" ucap Kai datar..


Prilly tersenyum masam mendengar jawaban Kai.


Setelah waiters mengantarkan makanan berbagai menu masakan Italia tersaji rapi di meja. Suasana saat itu sangat canggung antara Kai, Anya dan Prilly.


Prilly sangat risih dengan kedatangan Rava yang selalu mengundang perhatian Kai. Hatinya geram melihat ini semua. Karena tidak tahan akhirnya....


"oh ya Rav kamu satu kampus yah dengan Kai?" ucap Prilly sok akrab


"hmm iya" ucap Anya pelan


"kita satu kelas malah" ucap Kai menambahkan..


"wah pasti seru juga kalau bisa satu kelas sama Kai" ucap Prilly


Anya hanya tersenyum masam..


"oh ya Kai waktu acara kita nanti kamu undang temen-temen kuliah kamu pasti bakal seru" ucap Prilly nyeletuk


Anya mengernyitkan dahinya dan menoleh kepada Kai. Mendengar Prilly mulai membahas masalah ini Kai tanpa berpikir panjang dan langsung menjelaskan maksud dia sebenarnya.


Kai menghela nafas panjang...


"Sebelumnya aku minta maaf untuk kalian berdua maksud aku datang ke sini sebenarnya mau meluruskan semua ini"


Anya terdiam.. hari ini hari yang ia tunggu selama hampir satu minggu karena dirundung kegalauan.


"Kalian jangan salah paham dulu biar aku jelasin satu persatu. Semua berawal dari insiden Ayahku yang ditipu temennya akhirnya harus mengganti uang perusahaan yang gak kecil jumlahnya dan om Herman membantunya dengan syarat aku dijodohkan dengan Prilly. Di saat itu memang ayahku tak ada pilihan lain kecuali mengiyakan syarat ini. Dengan catatan tidak ada pemaksaan dalam rencana ini." jelas Kai


"...Saat itu aku baru menjalin hubungan dengan Rava. Hubungan kita baru berjalan hampir satu minggu. Dan sekarang aku mau ngasih keputusan kalau aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini karena aku sudah punya Rava" tambah Kai sambil menggenggam tangan Rava.


Anya mendengar penjelasan Kai tak tahan menahan air matanya. Berulang kali ia mengusap linangan yang jatuh di pipinya. Kai melihat itu sangat tidak tega. Tapi ia harus menjaga sikapnya karena tidak mau menyulitkan Rava kedepannya.


Prilly sudah mengira hal ini terjadi tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Melihat gadis didepannya menangis dia melihat dengan sinis karena menganggap gadis itu cuma cari perhatian.


"Jadi selama ini kau tidak terbuka kepadaku Kai" ucap Anya lirih sambil menyeka air matanya.


sebelum Kai menjawab Prilly menyela omongan Anya..


"jadi ini keputusanmu Kai? kau tak memikirkan perasaanku yang sayang kepadamu? apakah kau yakin? apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan Ayahmu kalau kau telah memilih gadis ini daripada dia? Apakah kamu siap ayahmu dipenjara?" ucap Prilly menegang.


"Semua pasti ada jalan keluarnya Prill. Aku tak bisa menjalani hubungan tanpa adanya kasih sayang. Lagipula aku sudah mempunyai Rava"


"Aku jatuh cinta padamu Kai. Apakah kau tak sadar itu?" ucap gadis itu yang semula menegang akhirnya meneteskan air mata


Anya melihat Prilly sangat iba dan merasa bersalah. Andai saja dirinya dan Kai tidak saling jatuh cinta mungkin keadaan tak serumit ini. Anya melihat Kai sangat menyayanginya dan tak ingin melepaskan hubungan yang baru saja mereka bangun.


Dalam masalah Ayah Rama, Anya bisa saja membantu tapi dia bingung bagaimana caranya. Disisi lain Kai tidak tau kalau Anya calon Presedir BS Group.


"aku akan memberimu waktu berpikir Kai. Jangan buat keputusan yang gegabah... Oh ya Aku mau ke toilet bisa bantu aku Rav" ucap Prilly


"ha.. iya" ucap Anya langsung berdiri dan mendorong kursi roda gadis itu.


Sembari menunggu Prilly di toilet Anya melihat cermin. Nampak seorang gadis yang buruk rupa berkacamata dan berpenampilan sangat biasa jauh dari fashion masa kini. Dia heran mengapa Kai bisa jatuh cinta kepadanya. Rasa senang pasti ada tapi untuk saat ini dia sangat dilema untuk jalan keluar dia harus berpikir panjang.


Tak lama kemudian gadis itu keluar. Anya mau mendorong kursi itu untuk kembali ke table. Tetapi gadis itu menahannya..


"tunggu Rav.. aku ingin bicara berdua denganmu sebentar"


"katakanlah" ucap Anya singkat


"Rav.. kau pernah berpikir bagaimana di posisiku saat ini? Sakit Rav. Aku jatuh cinta kepada Kai. Aku paham aku cuma gadis lumpuh tapi apakah orang cacat sepertiku tak berhak mendapatkan kasih sayang dari orang yang aku cinta? Aku tau Kai sekarang tak mencintaiku tapi aku yakin kelak jika kita bersama rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya" ucap Prilly tiba-tiba terisak


" Rav.. aku minta tolong tinggalkan Kai. Ayah Kai sedang ada masalah serius dan terancam masuk penjara. Kalau perjodohan ini batal ayahku pasti akan menarik uangnya lagi dan melaporkan ayah Kai ke polisi, apakah kau bisa membantunya?"


Anya terdiam keadaan ini membuatnya semakin dilema.


💫💫💫💫