FALSE LOVE

FALSE LOVE
Rava



Selama Anya dan Prilly berada di toilet, Kai sangat was-was karena takut terjadi hal yang tak ia inginkan. Beberapa kali ia menoleh kearah toilet tapi kedua gadis itu belum menampakkan diri.


Sudah hampir 15 menit Kai menunggu akhirnya kedua gadis itu berjalan kembali ke arahnya. Kai lega melihat mereka berdua baik-baik saja. Kai paham dirinya selama ini menjadi penyebab kesengsaraan Rava. Berpengalaman dari urusan dengan Sherly, Kai tak ingin kejadian itu terulang lagi.


Dengan perlahan Anya mendorong kursi roda Prilly karena sisi kanan kiri jalan menuju table tempat Kai adalah kolam. Anya takut kalau sampai lepas kendali karena jalanan dari kayu itu sedikit licin. Setelah hampir sampai kurang lebih jarak 2 meter Anya melepaskan tangannya dari pegangan kursi itu dan sedikit mundur untuk mengambil haluan kemudian Anya menyerongkan badannya sedikit apa yang terjadi ia melihat tangan gadis itu dengan sengaja membelokan roda kursinya supaya masuk kolam. Dengan sigap Anya menahannya dan kakinya tersandung. Akhirnya.... Byuuuuurrrrrr.....


Gadis kursi roda itu tercengang semula Prilly yang ingin mendapatkan perhatian dari Kai hasilnya malah Anya yang tercebur untuk menyelamatkannya.


Kai yang melihat itu langsung berlari lalu masuk ke kolam untuk menolong Rava yang hampir tenggelam. Para pengunjung menyaksikan kejadian itu dan tak sedikit yang merekam aksi heroik Kai. Prilly yang bingung akhirnya memanggil Maid yang menemaninya untuk membantu mencarikan handuk untuk Kai.


Setelah beberapa detik Kai muncul dengan memeluk tubuh Rava dan membawanya ketepian. Kai memberikan pertolongan CPR dengan menekan telapak tangan di bagian tengah dada Rava. Kai menekan dengan menggunakan dua tangan yang saling tumpang tindih. Menekan sedalam kurang lebih 5 cm dengan hati-hati, sebanyak 30 kali dengan rata kecepatan sekitar 100 kali tekanan per menit. Kai menekan sebanyak 30 kali dalam waktu sekitar 20 detik. Akhirnya berhasil, Anya mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya. Dan matanya sayup-sayup mulai terbuka. Kacamatanya yang hilang di dasar kolam dan riasan ala gadis cupu sedikit memudar membuat Kai bertanya-tanya. Kenapa sangat berbeda dengan gadis manis yang biasanya dia lihat.


Kai memeluk Rava kembali. Dan segera memberikan selimut tebal yang diberikan oleh maid bawaan Prilly. Kai dan Anya pulang diantarkan sopir Prilly. Prilly pamit tak bisa mengantar karena dirinya mendadak kepalanya pusing mungkin syok melihat kejadian ini.


Dalam mobil..


"..Rav apa pandangmu baik-baik saja. Kacamatamu tadi tenggelam. Besok kalau kau ada waktu kita pergi cari yang baru" ucap Kai mengeringkan rambut Anya yang basah dengan handuk.


Anya baru tersadar kalau wajahnya kini hampir berubah semula Rava menjadi Anya. Dengan sigap ia menutupi langsung wajahnya.


"..Kenapa kau menutupi wajahmu?apakah enak untuk bernafas" Kai menarik selimut itu tapi tak berhasil


"aku kedinginan Kai lebih baik seperti ini.lebih hangat"


Kai langsung memeluknya.


"Apakah sudah tak dingin?"


"Badanmu juga basah kenapa kau memelukku Kai?" Ucap Anya melepaskan pelukan.


"Aku ingin kau lebih hangat" ucap Kai sedikit malu.


Anya tersenyum melihat tingkah laku Kai yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Ia bersandar di pundak Kai dan memejamkan mata sejenak. Dalam pikirannya Anya tak habis pikir mengapa Prilly melakukan hal itu. Sengaja menceburkan dirinya ke kolam itu sangat berbahaya mengingat kaki Prilly lumpuh bagaimana dia akan selamat kalau tak ada usaha dari dalam dirinya.


⚡Flashback⚡


"Rav aku harap kau tidak berperilaku egois disini. Kita sama-sama punya kekurangan. Aku lumpuh dan Kau tak sebanding dengannya. Disisi lain Kai sangat membutuhkanku. Aku juga membutuhkannya." ucap Prilly mengusap air matanya.


"Aku tau maksudmu tapi aku tak ingin meninggalkannya sebelum dia meninggalkanku." ucap Anya lirih


"Kita lihat saja nanti aku akan berusaha merebut hati Kai darimu. Kau sebaiknya bersiap-siap." ucap Prilly bernada licik


"semua itu terserah padamu Prill. Intinya sebelum Kai meninggalkanku aku tak akan meninggalkannya." ucap Anya penuh penekanan.


⚡Flashback off ⚡


Akhirnya perjalanan 20 menit Kai dan Anya turun di persimpangan dekat cafe Calmati. Anya tak melepaskan penutup wajahnya dari selimut tebal itu. Hanya terlihat lentik mata Anya yang selama ini tersembunyi di balik Kacamata.


Kai sangat familiar dengan mata itu. Tapi ia tak merasakan bertemu dimana. Seperti serupa tapi tak sama. Akhirnya Kai tak ingin berpikiran yang tidak-tidak.


"..Rumahmu sebelah mana? Biar aku antar sampai ke dalam" ucap Kai


"..No.. kamu sekarang pulang aku bisa masuk sendiri.. rumahku di flat dekat daerah sini" ucap Anya menahan tangan Kai yang ingin menggandengnya


"..Tapi aku khawatir Rav."


"..Sudah aku tak apa. Kau sekarang pulang badanmu basah juga angin malam tak baik untuk atlit sepertimu" ejek Anya sambil mendorong tubuh Kai agar menjauh.


Kai berbalik badan lalu.Cup 😘 satu ciuman mendarat di dahi Rava.


"..Kenapa kau selalu menciumku tanpa izin Kai" ucap Anya manyun


"..Itu ciuman selamat malam.hehe kamu masuk dulu aku pergi"


". Oke bye.hati-hati sayang" ucap Anya sambil berlari


Kai tertawa senang melihat punggung gadis itu dari belakang. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau ia akan mempunyai seorang kekasih. Punggung itu terlihat tinggi semampai sangat familiar pikir Kai. Tapi entahlah.


1 jam kemudian....


Di dalam rooftop di dalam kamar Anya sudah mandi dengan air hangat dan membalut badannya dengan selimut tebal. Hidungnya sedikit tersumbat beberapa kali ia bersin.


Malam itu tubuh Anya menggigil. Kepalanya pusing penglihatannya buram. Dengan cepat ia menghubungi kakak Marcell untuk menanyai obat.


"Hallo tumben adekku sayang ini nelpon" suara Marcell menggoda


"Kak.. Haaaiiicuuw.. "


"Kamu kenapa sakit?" ucap Marcell khawatir


"iya sepertinya kena flu. tapi aku baik-baik saja"


"kamu tuh yah badan udah lemah gampang sakit masih bilang baik-baik saja."


"kakak sekarang ada dimana?sibuk tidak?"


"kebetulan kakak ada di Sydney ini di Darling Harbour habis ketemu rekan bisnis papa masalah proyek pengembangan kampus. Kakak mau mampir kesana 20 menit lagi kakak sampe tunggu jangan kemana-mana" ucap Marcell langsung menancap gas mobilnya dengan cepat menuju cafe Calmati.


30 menit kemudian Rooftop Anya..


Tokk...tokk..


Anya berjalan sempoyongan membukakan pintu. Marcell sudah di depan matanya membawa beberapa kantong kresek.


Marcell memapah Anya untuk duduk di sofa dekat TV. Marcell mengeluarkan beberapa alat medisnya untuk mengecek suhu tubuh Anya. Suhunya tinggi sekitar 39°C.


"Kau demam An kenapa bisa begini." Marcell mengompres dahi adiknya


"hmm"


"Sudah makan?"


"sudah tadi kak"


"makan lagi sebelum minum obat kakak bawakan sup merah kesukaanmu"


"hmmb benarkah sepertinya enak" ucap Anya lirih dan tetap tiduran di sofa.


"Untung kakak di Sydney kalau tidak siapa yang mau merawatmu?"


Anya tersenyum masam..


"Dari kecil tubuhmu itu lemah. Jangan terlalu capek biar pekerjaan cafe kau memantau saja jangan ikut melayani pelanggan." ucap Marcell khawatir


"ayo makan dulu kakak suapin"


"hmm" Anya mengangguk


Marcell sudah terbiasa dengan karakter Anya yang di depan semua orang dia berusaha untuk mandiri tetapi sebenarnya sedikit kekanak-kanakan.


Drrrtttt...drrrtttt suara getar ponsel. Anya melihat "Kaizo🌹" dan buru-buru menekan tombol hijau untuk menjawab..


"Hallo Kai"


"Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu pusing?"


"Aku tak apa Kai jangan khawatir..Haaaiiicuuw"


"Kamu flu yah. Disana ada obat tidak? Kalau tidak aku akan mengantarkan untukmu"


"Ada kok tenang aja. Minum hangat-hangat udah agak mendingan"


"Kalau butuh sesuatu cepat hubungi aku"


"Iyah.. oh ya Kai kamu belum menjelaskan detail masalah tadi. Aku belum paham akan masalahmu"


"Besok aku jelaskan semua. Kamu sekarang istirahat jangan lupa pakai selimut tebal"


"Oke kalau gitu bye." Anya menutup telponnya karena tak enak dengan Marcell yang mengawasinya mulai tadi


"Bye Rav. Love you" ucap lirih Kai yang tau telpon itu sudah terputus.


Marcell melihat tingkah laku adiknya paham. Sepertinya dirinya sudah kalah dengan adiknya yang sudah punya pasangan.


"pacarmu?"


"hmmm"


"kok tidak dikenalkan sama kakak? kakak takut mereka cuma manfaatin kamu aja"


Anya tersenyum tipis...


"anak kampus?"


"iya"


"jurusan?"


"ih kakak kayak survey aja detail banget"


"kakak khawatir aja An. Soalnya pengalaman kakak sebelumnya hampir semua seperti itu" kata dosen tampan itu mengusap kasar wajahnya yang lesu


"kakak aja kurang pake trik"


"trik apa maksudmu?"


Anya menjelaskan dengan detail mulai awal ia masuk dan menyamar hingga bertemu dan jatuh cinta kepada Kai. Sampai akhirnya Kai mengungkapkan perasaannya. Dan mereka berdua berkomitmen untuk bersama.


Marcell mengangguk-angguk


"jadi pacarmu siapa itu Kai.. tidak pernah tau wajahmu sebenarnya?"


"sudah tau Kak tapi Identitas Anya seorang pelayan cafe. Kalau Rava gadis cupu di kampus. Aku sengaja emang dandan kayak gitu cuma pengen tau mana yang tulus sama tidak eh ternyata lebih banyak yang nyinyirin aku" ucap Anya tertawa


"yah emang orang itu sering ngeliat dari penampilan. kakak jadi penasaran identitasmu sebagai Rava" ucap Marcell membayangkan


"tenang aku ada fotonya kak" Anya mengambil ponselnya dan mencari foto di galery. Setelah ketemu Anya menunjukkan beberapa foto dirinya kepada Marcell.


"njiiirr jelek amat kamu An. Apa mata Kai tidak sakit tuh suka cewe kayak gini"


"ih kakak ternyata sama aja kayak anak lainnya" ucap Anya kesal


"loh gue kan jujur. ha..haha..ha" Marcell tertawa terbahak-bahak


"hu.. tau deh" Anya kesal.


"sorry..sorry bukan maksud kakak menghina tapi apa kamu udah mikirin gimana reaksi Kai saat kamu ketauan bohong?"


Anya terdiam..


"An.. rencanamu emang masuk akal sih meski dibilang konyol. Tapi kakak khawatir perasaan Kai apakah akan tetap sama jika kamu merubah identitasmu menjadi Anya sepenuhnya"


"Aku belum memikirkannya kak. Kuliah tinggal 6 bulan lagi selama itu aku bakal cari sesuatu yang bisa menerimaku secara tulus"


"Latar belakang keluarga Kai kamu tau?"


"Dia hidup sama Ayahnya. Mamanya uda meninggal saat umur 3 tahun maka dari itu Kai anti banget sama cewe. Dia merasa asing gitu. Tapi setelah aku dateng mungkin merubah hidupnya" ucap Anya senyum-senyum sendiri


"narsis banget kamu. Kakak jadi penasaran seperti apa sosok Kai sebenarnya"


"kakak kan uda ketemu"


"hah? kapan? kita aja jarang ketemu mana bisa kakak ketemu Kai"


"hmmb kakak lupa? kemarin pas dinner sama mama papa"


"whatttssss cowok tampan yang kamu pantau terus itu?"


"hmmmbb" Anya mengangguk bangga


"bercanda kamu ah." Marcell tidak percaya


"yeh kapan-kapan aku ajak kakak ketemu dia"


"sumpah kamu gak bercanda" Marcell heran


"Ngapain aku bercanda coba tak ada untungnya"


"kakak nggak nyangka aja cowok cakep kayak gitu bisa jatuh hati sama Rava gadis cupu."


"Biarin artinya dia tuh tulus sama Anya tak pandang penampilan ataupun latar belakang"


Marcell mengangguk-angguk kembali. Dalam pikirannya dia harus menyelidiki siapa Kai sebenarnya apakah dia benar-benar tulus dengan Anya atau hanya sandiwara.


🌛🌛🌛🌛