FALSE LOVE

FALSE LOVE
Pelayan



Pagi ini suasana cafe sedikit sepi mengingat ini masih jam orang kantor dan anak sekolah masih beraktivitas. Anya libur tidak ada mata kuliah aktivitasnya seharian di cafe. Seperti biasa dia berseragam pelayan dan mengurai rambut hitam panjang itu.Tidak ada kacamata ataupun rambut kepang kuda. Berwajah mulus pipi merona bermata lentik. Anya berpenampilan seperti dia aslinya. Sudah sebulan Anya menjadi pelayan cafe di tempatnya sendiri. Bukan tanpa tujuan dia memiliki tanggung jawab untuk menjadi presedir berikutnya. Dengan bekal ilmu Manajemen Bisnis yang dia pelajari saat ini, Anya juga ingin merasakan bagaimana kerja keras sebagai bawahannya. Sehingga kelak bila dia menjabat sebagai presedir tidak akan memberikan kebijakan atau peraturan yang merugikan segala pihak.


Di lantai dua Anya duduk di teras cafe sambil memperhatikan beberapa kendaraan berlalu lalang keluar masuk parkiran cafenya.


Anya merasakan hidupnya kini sedikit demi sedikit berubah. Di Indonesia dulu dia selalu bergantung pada kakak ataupun orang tuanya. Meskipun dia bukan anak manja tapi hidup bersama keluarga sangatlah menyenangkan.


Tapi semua itu hancur semenjak papa Anya yah benar presedir BS Group Marvel Santoier menghancurkan segala kebahagiaan keluarga itu.


Beliau sosok ayah yang sempurna dimata keluarga. Menjadi pemimpin keluarga dan sangat sayang kepada istri dan dua anaknya.


Tetapi berbeda dengan penilaian Anya terhadapnya. Seorang pria busuk yang bersembunyi didalam kesalahannya.


Mengapa demikian...


⚡Flashback Anya⚡


Siang itu Anya diajak Sovia pergi kerumah saudaranya di Jogja. Anya hanya berpamitan ke mamanya karena papa Anya lagi dinas keluar kota.


Perjalan Jakarta Yogyakarta cuma 45 menit. Setelah itu mereka berlanjut dari bandara ke tempat tujuan menggunakan taxi online. Sepanjang perjalanan pikiran Anya sedikit tidak tenang entah kenapa. Atau karena mabuk pesawat itu kah pikir Anya. Tapi hal ini tidak berlangsung lama karena cantiknya kota Gudeg itu membuat hati Anya jadi senang.


Sampai di rumah saudara sovia yang kebetulan dekat pesisir pantai Anya langsung mengajak Sovia main ke pantai. Mengingat di Jakarta jarang ada pemandangan pantai tenang seperti ini dalam benak Anya. Setelah membereskan beberapa barang bawaan masuk ke kamar mereka berdua langsung berjalan menuju pantai yang damai itu.


Sepoi Angin menerpa wajah Anya. Terlihat barisan pohon kelapa yang menambah ke sejuknya pantai itu. Semilir angin menghepas rambutnya yang hitam panjang. Anya memutar-mutar badannya dan membentang tangannya kesamping. Mata Anya tak habis-habisnya memperhatikan sekeliling sangat takjub dengan keindahan pantai itu. Sangat tenang itu dalam benak Anya.Tapi ketenangan itu berubah menjadi ketegangan.


🌅🌅🌅


Ketegangan itu bermula pada mata Anya tertuju pada pemandangan di seberangnya. Bukan karena apa terlihat jelas seorang lelaki dewasa usia 45 th dan seorang perempuan berumur 30 tahunan sedang asyik bermesraan di gajebo bibir pantai. Anya mulai menyipitkan matanya.


Dengan seksama dia melihat laki-laki itu. berdenyut kencang dalam pikirannya berkalut ada yang tidak beres.


Perasaannya kacau kala itu. Dalam hatinya ia bergumam "itu papa".


Anya bingung harus bagaimana. Disatu sisi Sovia ada disampingnya jarak mereka dengan papa Anya tidaklah jauh bagaimana kalau Sovia tau atas kelakuan papa pikir Anya bingung tak karuan.


" Kenapa sih loe tadi semangat banget narik gue kesini sekarang jadi lesu gini? " Tanya Sovia


"Sov.. aku lapar" kata Anya berbohong


" Kamu ini lapar aja bisa jadi pucat, yaudah ayo kita makan dirumah"


"Bagaimana kau balik duluan ya aku mau foto disini bentar entar aku balik sendiri kamu cari makanan dulu ya aku mau gudeg Jogja" ucap Anya memaksa tersenyum. Sambil memutar otak agar sahabatnya pergi tanpa mengetahui kelakuan papanya yang bejat itu.


"Oke siap bos.. tunggu ya aku bilang ke saudaraku dulu" ucap Sovia sambil beranjak pergi meninggalkan pantai


Anya memperhatikan sosok Sovia sampai meninggalkan bibir pantai. Anya memastikan bahwa sovia tidak melihat pemandangan apa yang tersuguh di balik arah.


Tubuh Anya bergetar. Dalam hatinya bingung.


Diambilnya ponsel lalu mulai menjepret beberapa foto. Mulai awan dilangit, ombak karang, sampai pasangan yang asyik bercumbu itu.


Anya mencoba mendekat tetapi langkah kakinya terasa berat. Lalu ia bersandar dibalik pohon kelapa yang tumbuh kokoh di bibir pantai.


Dari situ terlihat jelas bahwa itu memang papa Anya. Ingin Anya melangkah dan melabrak tapi apalah daya tubuhnya bergetar dan berkeringat hatinya terlalu kacau. Tak terasa air matanya jatuh melihat pemandangan itu.


Dengan sekuat tenaga Anya bersikap tegar diambilnya foto mereka kembali dengan sudut yang berbeda.


Setelah itu Anya mencoba menelpon papanya.


Nada tersambung di sebrang terlihat laki laki itu mengeluarkan ponsel dan memberi kode kepada perempuan itu untuk diam.


"Halo papa"


"Papa lagi sibuk?"


"Emh iya sayang ini papa ada meeting sama klien".


"Anya kangen papa bisa videocall sebentar anya mau nunjukin sepatu baru Anya"ucap Anya sambil menggit jarinya.


Memang sudah kebiasaan Anya sering menelepon papanya untuk melepas rindu ataupun berbagi kesehariannya. Sealami mungkin Anya berbicara. Sambil menekan dadanya sendiri. Sakit sangat sakit.


"Hmm satu jam lagi ya sayang papa belum bisa ini aja papa keluar sebentar buat angkat telpon anak kesayangan papa"


"Anya sedih deh kalau gitu" ucap anya manja


" Sebentar lagi sayang papa janji kalau udah santai papa telpon kamu yaa love you sayang"


"Love you too papa" ucap Anya melemah. Tangisnya pecah. Dadanya sangat sakit menahan semua ini.


⚡Flashback OFF⚡


Anya mengusap kadar wajah cantiknya. Menghela nafas dalam dalam hatinya hancur mengingat hidupnya yang sebenarnya sangat berantakan tapi ia tak pernah menunjukkan ke semua orang luar ataupun mama dan kakaknya sekalipun.


"Biar hanya aku yang merasakan sakit ini. Aku tak mau kalau kak Marcell dan mama menanggung sakit ini juga. Apakah aku egois tuhan?." Tak terasa air mata Anya mengalir. Langkah Anya pindah dari Indonesia ke Australia bukan tanpa alasan. Disisi lain Anya ingin belajar jadi pribadi lebih baik disisi lain Anya berusaha keras untuk menjauh dari papanya sendiri. Anya takut emosi melihat papa Anya berbohong setiap kali. "Demi menjaga hati mama aku harus kuat keluarga ini tidak boleh hancur gara-gara aku" begitu pemikiran dan sikap Anya benar atau tidak dia tidak pedulu karena terlalu mencintai keluarganya. Dengan segera ia menghapus dan menepuk pipinya untuk menyadarkan diri.


Tak terasa situasi cafe mulai ramai, Anya turun ke lantai dasar dan melewati beberapa pengunjung yang tak henti meliriknya. Terlihat padat pengunjung cafe siang ini. Anya mulai melakukan aktivitasnya sebagai pelayan cafe. Mulai dari mengantar pesanan ataupun mengantarkan buku menu.


Terlihat di teras lantai dasar segerombolan pemuda seusianya asyik mengobrol. Anya tak memperhatikan karena ia focus dalam bekerja. Anya memberikan pesanan mereka nampak ada wajah Diffan disana. Anya mulai sadar kalau mereka adalah anggota tim basket kampusnya. Dengan seksama Anya mulai melihat satu persatu wajah mereka dan mempersilahkan pesanan tersebut. Tapi tak terlihat Kai disana. Padahal sepengetahuan Anya alisa Rava, Kai merupakan salah satu anggota tim.


Hubungan Kai dan Rava sangat baik mereka sering ke perpustakaan bersama untuk membahas pelajaran ataupun tugas.


" Hei bolehkan kita berkenalan?" Goda sandi pada Anya.


Anya hanya tersenyum dan beranjak pergi. Di depan pintu Anya melihat sosok Kai yang memarkir sepeda gunung lalu masuk cafe melewatinya dan duduk dengan segerombolan pemuda yang tadi.


Anya melangkah ke meja tadi dan memberikan buku menu kepada Kai.


" Hey cewek kamu balik lagi, bisakah kita berkenalan" ucap Sandi lagi dengan dukungan teman-temannya.


Anya hanya tersenyum menunggu pesanan dari Kai.


" Aku mau ice cappucino" ucap Kai menyodorkan daftar menu sambil menatap pelayanan didepannya. Baru kali ini ia melihat gadis itu. Kai tertegun. Sangat cantik batin Kai.


" Ayo lah beri namamu saja. Kita kan sering nongkrong disini. Tidak pantas kalau belum berkenalan. Semua pelayan disini kita kenal" ujar Frans sambil mencoba merayu.


" Kalian bisa panggil aku Anya." Ucap Anya tersenyum masam dan meninggalkan mereka.


"Apakah dia baru disini? " Tanya Kai tiba-tiba


" Haha dia sudah disini sebulan lebih, kamu aja gak pernah lirik-lirik" goda frans pada Kai.


" Bukanya kalian udah ketemu?" sela Sandi sambil menyuput minumannya.


" Oh iya aku lupa yang kau tabrak waktu itu didepan” ujar Diffan menunjuk tempat Kai menubruk pelayan saat mau pergi mengajar.


" Oh ternyata dia" jawab kai tersenyum tipis


" Kamu naksir yaa" goda Frans lagi


" Enggak kok biasa aja" jawab Kai datar.


🌺🌺🌺🌺