FALSE LOVE

FALSE LOVE
Gapapa



Seminggu telah berlalu, Kai dan Anya kembali fokus ke masalah Ayah Rama dalam pengumpulan bukti. Dibantu Kak Marcell yang menjadi kunci perantara antara pemegang saham Syd Group.


Kai merasa bersyukur memiliki kekasih yang mau menerima apa adanya. Meskipun keluarganya dirundung masalah tapi tetap saja Rava mendukung dan membantunya.


Siang itu Marcell ingin memberikan dokumen penting salah data inti dari laporan keuangan Syd Group. Dokumen itu tidak bisa sembarangan diberikan. Marcell berpikir harus bisa menemui Kai secara langsung.


"hallo Kai, kakak menemukan dokumen yang menyangkut poin besar dalam penyelewengan laporan anggaran Syd Company. Tapi masalahnya dokumen ini harus benar-benar sampai di tangan kamu." jelas Marcell dalam telpon tanpa konfirmasi pada Anya karena Marcell tau Anya tidak akan memberikan izin bertemu dengan Kai.


"siang kak, kalau benar begitu kita harus bertemu kak. Kira-kira kapan kakak ada waktu luang?. Sebenarnya ini harus cepat karena waktunya cuma satu minggu sebelum ayah diperiksa polisi"


"nanti malam bagaimana, tapi kamu tak perlu bilang Rava, tentang rencana kita. Aku melakukan ini hanya bentuk ucapan terimakasih" ucap Marcell keceplosan


"terimakasih apa kak, kenapa tidak perlu mengajak Rava" ucap Kai bingung dalam telpon


"hmm.. kamu kan sudah menjaga Rava selama ini. Aku cuma ingin berbicara 4 mata denganmu" ucap Marcell kebingungan karena seharusnya dia berterima kasih atas pertolongan saat Anya pingsan di Rooftop


"nanti kita bertemu di Hotel Camoe Park jam 7 malam nomor kamar aku kirim setelah aku booking, pastikan bawa semua data yang kamu peroleh. Waktu bertemu kita tidak banyak aku pergunakan sebaiknya"


"siap kak"


tuttt.tuttt.....


Malam itu terasa dingin karena Sydney baru saja di guyur hujan.


Kai turun dari stasiun kereta dan bergegas menuju hotel Camoe Park berjalan kaki. Setelah menunggu di lobby hotel sekitar 15 menit akhirnya muncul seorang pria tinggi sekitar 180 cm tampan, maskulin berpostur tegas, berkulit kecoklatan terkesan sangat macco. Ditambah rambut klimis, penampilan Marcell seperti CEO muda dengan diikuti ajudannya di belakang.


Kai selintas melirik ke arahnya dan tidak menyangka kalau itu adalah kak Marcell.


"Kamu Kai?" ucap Pria itu tiba-tiba


"Iya benar. Jangan-jangan anda kak Marcell kakak Rava?" ucap Kai kaget


"iya benar saya Marcell. Perkenalkan" ucap Marcell sambil menjabat tangan.


"Saya Kaizo kak, panggilan saja Kai"


"Ayo kita masuk"


Marcell berjalan menuju room diikuti ajudan dan juga Kai. Dalam pikiran Kai sedikit rumit sebenarnya apa latarbelakang keluarga Rava.


Hampir 3 jam mereka berdiskusi akhirnya sudah menemukan titik temu yang pasti bisa membebaskan ayah Rama. Kai lega setengah mati, aura bahagia sangat terpancar di wajahnya. Marcell menilai Kai seorang yang sederhana dengan dibekali wajah tampan dan otak yang luar biasa encer akhirnya Marcell percaya kalau Anya tidak berbohong.


Setelah semua selesai Marcell memesan room service untuk makan malam, karena perutnya mendadak lapar karena banyak berpikir. Awalnya Kai ingin langsung pulang tapi Marcell memaksa untuk makan dulu.


"Kai kamu kok bisa suka sama Rava" tanya Marcell tiba-tiba


"Hmmm.... " Kai terlihat kikuk akan pertanyaan Marcell


"Kamu ini masih kaku aja aku cuma ingin tau kamu tulus apa tidak dengan adikku"


"Aku tulus dengan Rava Kak, Rava seperti anugerah dalam hidup Kai. Dia wanita pertama yang ada di hidup Kai. Sampai kapanpun Kai tak ingin melepaskannya." ucap Kai tulus dari hati


"kalau aku tidak menyetujui hubungan kalian bagaimana?"


"Aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari kakak apapun yang terjadi"


"hmmm.."


"Awalnya aku tak mengerti kalau ini perasaan cinta. Awal bertemu gadis itu menabrakku di perpustakaan mata dan senyumnya indah. Membuat hatiku berdebar"


"Artinya kau melihat fisik adikku?"


"Sebenarnya aku suka dengan kesederhanaannya.. dia memiliki hobby yang sama denganku. Gadis yang ceria dan sangat pintar. itu yang membuat aku selalu memikirkannya. Rava sangat spesial di mataku dia berbeda dengan gadis yang lain. Aku selalu nyaman di dekatnya meski baru mengenal tapi rasanya sudah sangat lama."


"oo.. begitu, apa kamu benar sudah mengenalnya?"


Kai terdiam akan pertanyaan itu. Pasalnya hubungannya dengan Rava berjalan mengalir. Rava tertutup tentang keluarganya bahkan Rava bilang kakaknya seorang Karyawan tapi mengapa tampilannya berbeda setelah bertemu. Dalam hati Kai ingin sekali menggali lebih dalam tapi saat ini belum saatnya.


"kenapa terdiam, jelas kau sangat tidak mengenalnya mengapa kau bicara seperti mengenal lama" ucap Marcell mencoba memancing emosi Kai.


"Hubungan kami mengalir apa adanya ada banyak hal yang aku ketahui tapi banyak juga aku yang belum mengetahui. Aku tak pernah menekan Rava untuk menjelaskan siapa dirinya sebenarnya aku pun sama. Kita sama-sama memiliki alasan untuk semua ini." ucap Kai tegas


"kau tidak penasaran tentang latar belakang kami sebenarnya?"


"sangat berbohong kalau aku bilang tidak penasaran. Tapi selama Rava merasa nyaman diposisi ini aku akan selalu mendukungnya"


"hahaha wahh wahh benar kau dengan dia memang sama" ucap Marcell tertawa karena dari analisis jawaban Kai menggambarkan sifatnya yang hampir mirip dengan adik satu-satunya.


Kai tersenyum tipis.


🍁🍁🍁🍁


Hari pemeriksaan pun tiba. Kai mendampingi ayahnya di periksa polisi meskipun menunggu di luar. Status ayah Kai saat ini masih sebagai saksi. Kak Marcell membantu mengirim pengacara ternama untuk menyelesaikan masalah ini.


Sekitar 6 jam ayah Rama berada di ruang pemeriksaan. Kai mondar-mandir di ruang tunggu tak lama kemudian Rava dan Diffan datang sepulang dari Kampus. Kai menatap cemburu Rava dekat dengan Diffan.


"Bagaimana paman sudah keluar" ucap Anya


"Belum" ucap Kai kesal karena mengapa Rava harus membawa Diffan


"Kau sudah makan" tanya Rava khawatir


"Belum" balas Kai singkat


"Bro kamu yang sabar ya.. semoga paman cepat diberi keadilan" ucap Diffan sambil memegang pundak Kai.


"Thanks Dif" ucap Kai singkat


"Makasih diff" teriak Rava


Kai semakin kesal melihat tingkah mereka berdua. Tanpa membalas pamitan Diffan Kai melanjutkan mondar-mandirnya.


"Kai duduk sini paman akan baik-baik saja"


Kai tak menghiraukan omongan Rava sedikit pun. Satu sisi dia khawatir dengan ayahnya sisi lain dia kesal dengan Rava yang dekat dengan cowok lain.


"Kai kamu kenapa sih" ucap Rava


"Gapapa"


"Kai... kamu kenapa jadi begini sih" ucap Anya bingung


"Kaii...." ucap Anya mulai kesal


Kai tetap saja tidak menghiraukan Rava. Dengan kesal Rava berdiri dan beranjak ingin keluar. Tiba-tiba tangannya di tahan oleh Kai.


"Mau kemana"


"Pulang percuma disini aku di kacangin"


"Duduk lagi temani aku"


Rava kembali duduk tak lama Kai juga duduk di sampingnya.


"Aku tak suka kau dekat dengan Diffan" ucap Kai tiba-tiba


Rava kaget ternyata tadi Kai cemburu melihatnya dengan Diffan berdua. Dalam hatinya bahagia campur kesal. Karena semua ini tidak seperti yang ada dipikiran Kai.


"Kau cemburu ya" goda Rava


"Siapa juga yang cemburu aku cuma tak suka melihat Diffan sangat dekat denganmu."


"Yah masih aja nggak mau ngaku"


Kai tersenyum kecil


"Sebenarnya yang terjadi bukan seperti yang ada dipikiranmu Kai. Diffan tadi membantuku"


"Membantu??"


"Iya jadi begini ceritanya Kai ......


⚡Flashback Anya⚡


Setelah keluar kelas Anya berlari menuju gerbang Kampus untuk mencari bus arah Kepolisian. Setelah menunggu beberapa menit bus tak kunjung datang. Dari arah sebrang ada taksi yang sedang menunggu penumpang. Anya memberi kode kepada sopir itu untuk putar balik. Karena kondisi jalan sangat padat hal itu tidak memungkinkan. Dengan terburu Anya ingin menyeberang sudah memasuki marka penyebrangan jalan tiba-tiba sebuah mobil putih dengan kecepatan sedang melanggar lalu lintas tapi untung Anya dapat menghindar. Tapi tubuhnya terjatuh di tengah jalan. Diffan yang berada tepat di tepian jalan melihat kejadian itu langsung berlari dan membantu Rava menuntunnya ke mobilnya.


"Pu loe gapapa?"


"Makasih diff udah bantu gue. Tapi gue sekarang buru-buru sorry ya" ucap Rava bergegas ingin pergi


"hey cupu loe mau kemana gue anter" teriak Diffan


Rava menoleh dan memperhatikan sekitar kendaraan umum yang ditunggunya tak kunjung tiba.


" Anter aku ke kantor polisi ya"


"Whatt...."


"Ayo buruan mau nganter nggak?"


"iya-iya ayo masuk"


Akhirnya Anya masuk ke dalam mobil Diffan.


"Loe tau tadi itu mobilnya siapa?"


"mana aku tau dif. aku sudah kaget tiba-tiba nyelonong gitu aja"


"tadi itu mobilnya Sherly"


"Apa cewek itu lagi" ucap Rava lemas


"iya gue hafal banget. Secara dia sering nongkrong bareng gue."


"Ya.. ya.. ya... thanks ya.."


⚡Flashback off ⚡


Setelah mendengar cerita itu Kai bergegas menarik lengan baju Rava dan mengecek apa ada luka.


"Eh kamu mau ngapain" ucap Rava kaget


"Aku cuma mau ngecek ada yang luka apa nggak. Kita kerumah sakit sekarang ya" ucap Kai khawatir.


"tak perlu Kai aku gapapa kok. Kamu santai aja ya" Ucap Rava menenangkan hati Kai


"Aku minta maaf Rav, aku sudah begitu tadi"


"Iya, lain kali jangan gitu lagi aku nggak suka liat kamu ngambek, gantengnya jadi hilang" goda Rava.


Kai tertawa dan memeluk Rava dengan erat. Rasanya beban sehari ini seketika luntur dengan satu pelukan itu.


🤗🤗🤗🤗🤗