FALSE LOVE

FALSE LOVE
Teman



Keesokan harinya sesuai janji Sherly kemarin dia datang tepat waktu. Sesampainya di depan pintu kelas Rava, Sherly memberi komando kepada teman-temannya untuk mundur. Sherly tidak berani mendekati Rava dalam posisi seperti saat ini karena terlihat Rava gadis cupu itu duduk disamping Kai untuk berdiskusi. Diffan tanpa sengaja melihat Sherly di depan pintu lalu melambaikan tangannya memberi kode untuk bergabung. Dengan senang hati Sherly berjalan menuju tempat duduk Diffan yang bersebelahan dengan Kai. Ini peluang yang baik untuk pendekatan dengan Kai.


"Hai semua.." ucap Sherly seraya duduk di depan meja Kai.


Kai yang melihat hal tersebut cuma tersenyum masam dan melanjutkan berdiskusi dengan Rava.


"Ntar malem kalian bertiga ada waktu nggak gue mau ngajak kalian dinner bareng. Bukan cuma gue kok ini acara buat ngerayain anniv tim cheerleaders kampus." ucap Sherly berbohong karena sebenarnya anniv anggota tim masih seminggu lagi.


"Gue pasti datanglah. Tapi asal bareng Kai.Gimana Kai kita gak enak kalau sampe gak dateng. Tim merekalah yang selalu support kita di lapangan Kai." rayu Diffan


"Gue masih ada kerjaan" ucap Kai datar


Mendengar jawaban Kai yang menolak, Sherly mulai putar otak untuk mendapatkan perhatian dari Kai. Sherly melihat kaki Rava yang di balut celana kulot dengan sigap dia menendangnya untuk memberi tanda meminta bantuan.


Anya yang sedikit kaget langsung menoleh kearah Sherly. Anya menghela napas dalam-dalam. Dalam hatinya berkata


"maafkan aku Kai."


Mata Sherly tak henti melihat wajah Rava yang tampak gusar. Ditendangnya sekali dia tidak sabar. Terlihat dibalik kacamata Rava manik yang sendu dan kebingungan. Dan akhirnya saat yang dinantikan Sherly tiba..


Rava menoleh ke arah Kai dan berkata...


"Bukannya sebaiknya kau datang Kai. Maaf aku bukannya ikut campur tapi benar kata Diffan kalau tim mereka juga berpengaruh dalam tim basket kalian" ucap Rava alias Anya sedikit ragu.


Kai masih tidak bergeming...


tapi dalam pikirannya adalah mencerna perkataan sahabatnya Diffan dan Rava. Sebenarnya Kai bisa datang karena jam mengajar bimbel hari ini kebetulan maju karena mengingat para muridnya besok ada ujian akhir sekolah.


"Bagaimana kalian mau yah. Rava kamu ikut juga ya" ucap Sherly berharap sambil memegang tangan Rava


"Baiklah asal Rava ikut aku mau ikut" jawab Kai sambil melihat gadis berkacamata tebal itu.


"Baiklah aku ikut" ucap lirih Rava


"Oke terimakasih semua gue tunggu ntar malem di cafe Calmati Season yah. Jam 7 malem. Gue harap kalian gak ingkar yah bye". ucap Sherly sambil melangkah keluar.


"Kai kenapa aku harus ikutan? Aku bukan bagian dari kalian." ucap Anya meminta penjelasan.


"Santuy aja kali pu. Kita kan uda berteman jadi gak perlu sungkan lah bareng kita." jawab Diffan sambil cengar-cengir. Diffan yang mulai akrab dengan Rava sering memanggilnya dengan sebutan Cupu.


Jam mata kuliah telah berakhir. Kai berpamitan kepada kedua sahabatnya untuk pulang dulu karena ada jadwal bimbel. Rava dan Diffan masih di dalam kelas sambil merapikan barang mereka. Sherly berjalan dari kelasnya melihat Diffan dan Rava masih di dalam kelas. Dengan antusias dia langsung berlari kearah mereka.


"Tunggu jangan pulang dulu. Gue mau bicara sama kalian. Sebelumnya thanks ya Rav loe udah bantu gue deket sama Kai. Sebenarnya ntar malem itu bukan acara tim. Gue cuma alasan aja bisa dinner sama Kai. Kalian ngerti kan maksud gue?.” jelas Sherly


Diffan mengernyitkan dahinya.


Tak disangka Rava si cupu itu ternyata mau bantu Sherly. Ada apa sebenarnya dengan mereka. Selama ini Diffan mengenal Rava jarang bergaul dengan teman sekelasnya tapi kenapa bisa akrab dengan Sherly begitulah pikiran Diffan


"Jadi kau berbohong. Aku tidak bermaksud menolongmu. Sudah sepantasnya Kai datang saat acara tim. Kalau aku tau ini cuma akalmu aku tidak mau ikut campur urusan kalian". ucap Anya sedikit kesal


"Jadi kau menolak membantuku untuk dekat dengan Kai?. Ingat Rava apa yang aku katakan kemarin kau jangan macam-macam denganku". ancam Sherly


"tunggu aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan". tanya Diffan


"kau tak perlu tau diff. Tugasmu hanya meyakinkan Kai untuk datang." ucap Sherly dengan meyakinkan


"kau tak perlu mengancamku sher. Kai adalah temanku sama seperti Diffan aku tak akan mengambilnya darimu. Aku sadar diri bagaimana kondisiku. Tapi untuk urusan kau mau mendekati Kai aku tak mau ikut campur." ucap Anya geram.


"kalau gitu lihat aja kalau kau berani ambil Kai dariku. Aku tak segan-segan membuat perhitungan denganmu. Untuk nanti malam jadi kalian nanti tak perlu datang karena aku cuma ingin dinner berdua dengan Kai. Oke." ucap Sherly tanpa ragu sambil meninggalkan mereka berdua.


Diffan tercengang dengan perkataan Sherly. Ada yang sakit di balik hatinya. Sherly merupakan sosok yang dia dambakan mengapa harus menyukai sahabatnya sendiri.


Diffan mengusap kasar wajahnya. Anya yang melihat kelakuan Diffan memberanikan diri untuk bertanya.


"Diff kau sudah lama kenal sama Sherly?."


"Dia temanku mulai SMP Rav." ucap lirih Diffan


"Pantas saja kau akrab sekali dengannya"


"Bagaimana kau mengenalnya Rav" tanya Diffan


"Kemarin dia menemui ku. Dia ingin meminta bantuan untuk bisa dekat dengan Kai. Aku tak tega memanfaatkan temanku untuk kepentingan pribadiku." jelas Anya


"Maksud kamu kepentingan pribadi apa?"


"Kau tak perlu tau diff. Aku tak mau kau akhirnya merubah cara pandangmu kepada Sherly gara-gara aku." ucap Anya lirih


"Sudahlah Diff aku belum siap untuk menjelaskan ini kepadamu. Ayo kita pulang" ucap Anya sambil berdiri dan meninggalkan Diffan terdiam di dalam kelas.


πŸšΆπŸ»β€β™€οΈπŸšΆπŸ»β€β™€οΈπŸšΆπŸ»β€β™€οΈπŸšΆπŸ»β€β™€οΈπŸšΆπŸ»β€β™€οΈ


πŸ•–19.05πŸ•–


Kai menggenakan jaket Hoodie hitam dipadukan celana cargo selutut dan memakai sepatu New Balance tubuhnya yang tinggi dan atletis membuat dia cocok menggunakan fashion apa saja. Banyak pasang mata wanita yang terkesima dengan penampilan Kai yang simpel itu.


Kai masuk ke dalam cafe Calmati Season dan mulai menyusuri satu persatu wajah pengunjung cafe. Tak terlihat adanya perayaan didalamnya. Kai menoleh kanan kiri juga tidak ada teman-temannya yang datang. Lalu tiba-tiba tangan putih mulus merangkul lengan Kai dari belakang. Sontak Kai kaget dan mundur melepaskan rangkulan tangan itu.


"Kai ini aku Sherly" ucap Sherly mendekat


"oh itu kamu sher maaf aku kaget." ucap Kai sambil menyetabilkan perasaan kagetnya.


"Ayo ikut aku table kita ada di lantai dua" ucap Sherly sambil menarik lengan Kai.


Kai hanya bisa pasrah dengan perlakuan wanita di depannya. Sesampainya table, Kai merasa ada yang mengganjal. Pasalnya table yang mereka tempati cuma berisi 2 tempat duduk yang saling berhadapan.


Dengan ragu dan bingung Kai duduk diikuti Sherly didepannya. Terlihat wajah tampan dan dingin Kai membuat Sherly merasa tertantang untuk segera mendapatkannya.


"Anak-anak belum ada yang datang?” tiba-tiba Kai memulai percakapan


"tunggu sebentar kita pesan makanan dulu"


jawab Sherly sambil mengangkat tangan untuk memanggil pelayan cafe. Dipilihnya berbagai macam menu yang dia sukai. Kai hanya memesan ice cappucino kesukaannya. Tak lama pesanan mereka pun datang. Tapi teman-teman Kai belum muncul batang hidungnya.


"Aku senang akhirnya kita bisa dinner seperti ini" ucap Sherly sambil tersenyum manis kepada Kai


Terlihat Kai lagi sibuk mengetik pesan di layar ponselnya tanpa menghiraukan perkataan Sherly. Kai mengirim pesan kepada Diffan dan Rava.


"Kai kau tak perlu bingung menunggu temanmu. Mereka tak mungkin datang." ucap kesal Sherly karena merasa tak dihiraukan


Kai diam membisu sambil menunggu balasan dari temannya.


"Kai aku suka sama kamu. Kamu mau yah jadi pacar aku" ucap Sherly tiba-tiba sambil memegang tangan Kai


Kai kaget kesekian kalinya dalam pikirannya ......"Situasi macam apa ini".....


"Teman-temanmu telah mendukungku untuk hari ini. Tanpa bantuan mereka aku tak mungkin bisa jalan berdua denganmu." ucap Sherly


Kai sedikit bingung dengan perkataan Sherly. Pasalnya Kai datang hanya ingin melegakan hati Rava dan Diffan.


"maksud kamu apa" tanya Kai


"Hari ini aku mau kita dinner berdua. Aku meminta bantuan Rava untuk meyakinkanmu untuk datang. Maafkan aku mungkin caraku salah tapi ini kesempatanku untuk mengungkapkan perasaanku selama ini" ucap Sherly terlihat sedih.


Kai mulai mengerti arah pembicaraan Sherly. Dengan bijak Kai ingin meluruskan semua ini.


"Maafkan aku Sher bukan aku benci padamu. Saat ini aku hanya ingin fokus dalam kuliah dan basket. Aku belum berpikir untuk melangkah ke jalan Asmara. Untuk malam ini memang aku sedikit terkejut karena temanku ikut membantumu. Tapi tak apa aku menghargai usahamu." jelas Kai yang tak tega melihat wajah Sherly yang sedih


"Tapi aku mencintaimu Kai. Sejak pertama kau membantuku awal ospek aku sudah jatuh cinta padamu. Tolong jangan tolak aku. Aku merasa sakit jika kau sampai direbut oleh orang lain" jelas Sherly sambil menitikan air mata


Sebenarnya cinta Sherly pada Kai sangatlah tulus. Tapi ketulusan itu didasari sikap egois ingin memiliki. Tak peduli bagaimana caranya agar dia bisa menjalin hubungan dengan Kai.


Meskipun mengorbankan perasaan orang lain disekitarnya.


"Kau jangan menangis Sher ini tempat umum aku tak mau mereka salah paham dengan kita." ucap Kai memenangkan hati Sherly


"Apakah kau bisa berjanji padaku satu hal Kai. Meskipun kau tak bisa menerimaku saat ini aku tidak memaksa tapi jangan pernah kau melarang ku untuk menjauh darimu jangan abaikan aku. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin akrab denganmu aku mohon Kai."


Kai menghela nafas dalam dia tak tega melihat gadis itu menangis di satu sisi dia belum mengenal Sherly. Tapi apa salahnya kita hanya berteman tidak lebih seperti aku dan Rava dalam benak Kai seperti itu.


"Baiklah.. kita bisa berteman mulai sekarang kau jangan bersedih lagi." sambil tersenyum manis menenangkan hati Sherly.


Sherly senang bukan kepalang. Akhirnya yang di tunggu-tunggu selama ini terwujud. Meski hanya berteman tapi didalam hati dan pikirannya memikirkan bagaimana cara dia segera memiliki Kai.


Pukul 21.15 Kai menyuruh Sherly pulang terlebih dahulu. Awalnya Sherly menolak karena takut Kai berubah pikiran namun Kai berhasil meyakinkan dan akhirnya gadis sexy itu pergi meninggalkan cafe.


Kai mengusap kasar wajah maskulinnya terlihat wajah frustasi. Bukan karena apa ini pertama kalinya dia dinner berdua dengan seorang wanita. Selain itu pengakuan cinta dari Sherly membuat Kai semakin kikuk. Kai yang masih terdiam di tempat duduknya. Dalam pikirannya selain memikirkan situasi yang baru saja terjadi terbesit pikiran kecewa pada Rava. Kenapa bisa Rava membantu Sherly untuk meyakinkan dirinya. Padahal dia tak pernah melihat Rava berbicara dengan Sherly selama ini.


...."Aku butuh penjelasan dari Rava"....


Kai membuka ponsel lagi untuk mnegecek pesan yang terkirim pada Rava hasilnya nihil pesan itu terkirim tapi tidak terbaca.


πŸ“¨πŸ“¨πŸ“¨πŸ“¨πŸ“¨