
Prilly memuncakkan amarahnya dengan membanting seluruh barang di kamarnya. Prilly menangis meraung-raung karena mendengar perkataan ayahnya yang tak bisa mel anjutkan perjodohannya dengan alasan om Rama menolak.
"Aku memang gadis cacat tak pantas dicintai. Lebih baik aku mati kalau tak bisa mendapatkan Kai" teriak Prilly
Pikirannya berkalut karena obsesinya kepada Kai sangat tinggi. Prilly sakit hati dan merasa kalah bersaing dengan gadis cupu tak berkelas seperti Rava.
Herman dan istrinya sangat khawatir keadaan Prilly yang terguncang. Pintu kamar Prilly terkunci Herman takut Prilly bunuh diri karena depresi. Dengan berat hati Herman menghubungi Rama sahabatnya untuk minta tolong agar Kai mau membujuk Prilly.
Sudah hampir 2 jam Prilly terus meraung-raung tak jelas. Herman cemas karena Kai tak kunjung datang padahal sudah berjanji mau datang.
Sekitar setengah jam kemudian dua sejoli berboncengan memasuki halaman luas rumah Herman. "Akhirnya Kai datang siapa gadis itu" gumam Herman dalam hati.
"Sore om maaf Kai dan Rava baru datang" ucap Kai sambil bersalaman dengan Herman dan Istrinya. Di susul Rava juga ikut bersalaman dengan mereka. Herman merasa tidak suka dengan kehadiran Rava.
Herman mempersilahkan Kai untuk menuju kamar Prilly terdengar Prilly tetap menangis. Rava meminta izin untuk berbicara dengan Prilly berdua.
Tok tokk..
"Prill ini aku Rava. Aku mau membicarakan tentang kesepakatan kita." ucap Anya
Herman dan Kai saling menatap kebingungan.
Kai mendekati Rava dan berbisik "kesepakatan apa rav?"
"sudah diamlah aku lagi membujuknya" ucap Rava sambil memberi kode diam.
"kenapa kau kesini, kau ingin menertawakan aku dengan keadaanku seperti ini " teriak Prilly dari dalam kamarnya.
"tingkahmu seperti ini berbanding terbalik dengan wajah cantikmu, kulit mulusmu, mata lentikmu. Hah pantas saja Kai tak memilihmu"
Emosi Prilly memuncak dengan segera dia menuju pintu kamarnya dan membuka ingin sekali dia menjambak wanita culun itu.
Akhirnya Prilly masuk jebakan Anya. Memang ini strategi Anya agar Prilly cepat membuka pintu.
Terlihat wajah cantik itu berantakan matanya sembab tak karuan. Istri om Herman langsung memeluk putrinya.
"Sayang kamu baik-baik saja kan. Kamu jangan seperti ini Papa dan mama sudah memanggil Kai untuk kamu"
Prilly menyembunyikan wajah sembabnya karena malu kepada Kai.
"Kerja bagus beib" bisik Kai ke telinga Rava
Rava menjulurkan lidahnya dan menunjukkan jari tanda peace.
Kai mendekatinya perlahan.. Anya menarik dan memberi kode jangan.
Kai bingung yang dibutuhkan sekarang dirinya mengapa Rava seperti ini.
"Om Tante .. Rava minta izin bicara berdua dengan Prilly apakah boleh."
Semua orang menatap kebingungan..
"masuklah kalian tunggu di ruang tengah" ucap Prilly terbata sambil membelokan kursi rodanya
Anya mengunci pintu kamar.
"mau ngomong apa lagi kamu. Om Rama lebih memilih masuk penjara daripada menjodohkan aku dengan anaknya. Kai juga bilang sudah memilih kami. Kau kesini mau menertawakan aku" ucap Prilly marah
" tunggu Pril redakan dulu amarahmu.. aku kesini ingin membuka pikiranmu. Caramu seperti ini sangat tidak dewasa. Kau putri dari kolongmerat keluarga terpandang seharusnya kau malu dengan sikapmu yang seperti ini. Bagaimana Kai bisa melirikmu kalau belum apa-apa kau sudah bertingkah egois. Ayahmu menahan pinjamannya padahal ayah Kai dangat membutuhkan. Kalau kau ingin membantu bantulah dengan tulus jangan ada motif dibaliknya. Kau mengorbankan reputasi ayahmu dia berani menanggung malu memohon kepada om Rama hanya untuk dirimu. Dan apa balasan darimu sikap putus asa seperti ini. Wah gila saja. Kalau aku jadi kau aku akan berusaha untuk tetap maju meski ada kekurangan. Aku akan rajin terapi agar bisa cepat berjalan. Aku tak ingin merepotkan dan mengobarkan orang disekitarku hanya untuk diriku".
"emang kau tau apa tentang diriku berani menceramahi ku."
"aku sudah menganggap kau sebagai temanku."
"aku tak sudi berteman denganmu"
Prilly terdiam dalam hatinya bukan karena fisik dan status Anya yang tak sederajat dimata Prilly hanya saja dia marah karena Kai lebih memilihnya.
"aku sudah tau kau bukan gadis seperti itu. Kau marah denganku karena kau sangat menyukai Kai."
" aku tak bisa berpikir jernih semenjak kecelakaan itu. Dulunya aku sangat banyak teman mereka menjauhiku karena aku sudah jarang ikut nongkrong dengan mereka. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan kekasihku dulu mengganggap aku gadis cacat. Aku berpikir dengan menjodohkan Kai denganku semua akan berjalan lancar. Benar aku memanfaatkan masalah ini pikiranku sangat kacau."
Anya memeluk Prilly dengan erat, Prilly menangis sejadi-jadinya. Anya merasa sangat iba melihatnya Anya paham bagaimana perasaan Prilly saat ini. Ia menggambarkan dirinya kalau di posisi Prilly.
"Rav maafkan aku telah berlaku kasar kepadamu" ucap Prilly terisak.
"Sudahlah jangan dipikirkan. Aku sudah biasa memperoleh cemooh seperti itu"
"Rav kamu mau kan jadi temanku, tak ada seorangpun yang mau dekat dengan seorang yang cacat seperti aku"
Anya memeluk Prilly kembali dan berbisik..
"Tentu saja kita akan menjadi sahabat mulai sekarang"
"terimakasih Rav kau telah menyadarkan aku".
"untuk masalah kakimu aku akan meminta kakakku untuk mencari terapi yang paling efektif agar kau cepat berjalan"
"kakakmu dokter?"
"mmmb... aku akan kasih tau kamu rahasia terbesarku. Bahkan Kai tidak tau tentang ini, ini sebagai jaminan awal pertemanan kita aku tulus denganmu".
Prilly bingung maksud Anya.
"rahasia apa Rav."
"aku membongkar ini agar memudahkanmu berinteraksi dengan kakakku. Ini semua demi kamu. Tapi aku minta kamu jangan membocorkan kepada siapapun termasuk kepada Kai."
"aku janji Rav.. terimakasih kau sudah percaya padaku. Aku tau ini demi kebaikanku. Aku sangat menyesal memperlakukanmu buruk"
Prilly bersemangat karena ada harapan untuk dirinya sembuh
"Sudahlah jangan bahas itu lagi"
"Maafkan aku ya" ucap Prilly berharap..
"Sebenarnya aku ini putri kedua Presedir BS Group, Kakakku seorang dekan Kedokteran Universitas Sydney."
"what..whatt...." ucap Prilly tersentak kaget
" kau jangan kaget seperti itu aku belum selesai bercerita"
"Ya tuhan benarkah" ucap Prilly terheran-heran mendengar didepannya adalah sosok calon Presedir BS Group yang sangat terkenal itu.
Anya menunjukkan foto dirinya yang asli beserta keluarga.
"Nama asliku Maureen Ravanya Santoier, biasa dipanggil Anya tapi alasanku menyamar seperti ini hanya untuk mencari sesuatu yang tulus. Dari dulu temanku tak ada yang tulus denganku. Beberapa cowok yang mendekatiku cuma ingin ketenaran saja. Aku tak ingin orang yang mendekatiku cuma gara-gara statusku."
"Ya Tuhan aku sangat menyesal. Maafkan aku maafkan keluargaku ya Rav."
"Sudahlah jangan begitu kau jangan ikut-ikutan melihat statusku"
"iya-iya maaf..maaf"
" begini aku akan mengabari kakakku sekarang. Tunggu ya"
Akhirnya Anya berhasil menghubungi Marcell dan menjelaskan secara detail masalah kaki Prilly. Marcell menyuruh Prilly datang ke Klinik tempat Marcell praktik. Dan mereka saling bertukar nomor ponsel.
Bagaimana kelanjutannya??