Elvaretta

Elvaretta
09. Gara-gara Bersin




"Elvan harus langsung pulang ya. Oke?"


Elvan mengantarku sampai depan gang kompleks setelah selesai menikmati jus melon di kedai pinggir jalan. Sebetulnya aku masih ingin bersamanya, aku takut kalau Elvan akan ikut dengan teman-temannya yang gabung dengan geng Erlassca itu. Tapi setelah melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, sudah menunjukan jam lima sore. Eyang juga kalau belum melihatku pulang, pasti khawatir.


"Iya," jawabnya sambil membuka helm yang kupakai.


"Langsung pulang ke rumah, ya?" tanyaku untuk memastikan.


"Iya, Retta Dwyriska," Elvan tersenyum lebar sambil mengacak puncak kepalaku.


"Elvan?" panggilku.


"Kenapa? Retta mau apa?"


"Terima kasih,"


"Kembali kasih, Ta. Oh iya, besok bawa spidol berwarna, ya."


Aku mengernyit bingung, "Untuk?"


"Bawa aja," bingung sebenarnya, tapi aku harus mengangguk. Karena seorang Retta kali ini tidak bisa menolak apa pun ajakan Elvan. Aku juga bingung dengan diriku sendiri.


"Aku pulang," kata Elvan dan siap-siap untuk melajukan motornya. Setelah aku mengangguk sambil tersenyum tipis, Elvan benar-benar pergi meninggalkanku.


***


Berangkat sekolah bersama Elvan, kini sudah menjadi kebiasaanku. Aku tidak menyuruhnya untuk menjemput, tapi anehnya dia sendiri yang selalu menunggu di depan rumah setiap pagi. Eyang juga sudah kenal Elvan. Ternyata Eyang tidak melarang aku untuk diantar sekolah dengan Elvan setiap hari. Senang, sih, tapi Ayah belum tahu hal ini. Akupun tidak tahu reaksi apa kalau Ayah tahu aku dekat dengan lelaki. Dia terlalu sibuk bekerja, pulang ke Bogor paling satu kali per-bulan.


"Elvan kemarin langsung pulang, kan?" tanyaku padanya hanya untuk memastikan kalau dia tidak ikut-ikutan dengan geng Erlassca. Elvan memakaikan helm di kepalaku seraya mengangguk. Syukurlah, aku lega.


"Kamu sudah sarapan belum?" tanyanya.


"Sudah," aku mengeluarkan kotak bekal dari tas yang berisi donat buatan eyang. "Ini, donat untuk Elvan."


Aku menyodorkan kotak bekal itu padanya. Dia terlihat bingung, lucu sekali wajahnya saat bingung seperti itu.


"Ini apa?" tanyanya.


"Donat untuk Elvan. Itu enak, buatan tangan Eyang sendiri, lho!" kataku lalu tertawa kecil.


"Wah, bilang pada Eyang, makasih."


Aku mengangguk, lalu naik ke motor vespa Elvan. Kotak bekalnya Elvan masukan ke dalam tasnya.


Setelah sampai di parkiran sekolah, tak sengaja kami bertemu Kak Haris. Dia tersenyum padaku, aku pun membalasnya.


"Pagi, Retta!" sapanya setelah tepat berada di sampingku.


"Pagi, Kak," Jawabku.


"Pulang sekolah nanti ikut kumpul, kan?" tanyanya.


"Iya, ikut kumpul kok."


Tiba-tiba hidungku merasa gatal, kebiasaan. Selalu bersin disaat yang tidak tepat, terlebih sekarang berada di depan dua lelaki. Ah, ingin sekali aku bersin saat ini, tapi malu!


Hacim!


"Ini," Kak Haris menyodorkan sapu tangan berwarna cokelat, aku segera mengambilnya untuk membersihkan hidungku. Sial, aku malu sekarang.


"Makasih, Kak―" belum sempat mengucapkan kalimat terima kasih dengan jelas kepada Kak Haris, Elvan menarik lenganku dan pergi dari area parkiran.


"Kamu sakit," kata Elvan setelah memberhentikan langkahnya di koridor. "Sudah deh, kamu jangan jadi panitia."


"Loh? Kok gitu? Kemarin Elvan bilang Retta harus kumpul panitia? Kok sekarang malah suruh berhenti?" tanyaku bingung. Aku tidak tahu jalan pikirnya Elvan itu seperti apa. Isi kepalanya sama sekali tidak pernah bisa aku tebak.


"Kamu sakit, Ta. Aku enggak mau lihat kamu sakit pas jadi panitia festival nanti," sorot matanya terlihat khawatir padaku.


"Cuma bersin aja, kok. Elvan enggak usah khawatir."


"Bersin?" Elvan menempelkan telapak tangannya di keningku. "Kamu demam!"


Aku tersentak, nada suara Elvan cukup tinggi. Seperti berbicara kepada Kak Haris tempo hari. Jujur, aku tidak suka melihat Elvan marah seperti itu. Aku tidak suka tatapan teduhnya berubah menjadi tajam.


"Nanti juga sembuh," jawabku sambil mengalihkan pandangan, kemana pun yang terpenting tidak menatap Elvan. Entah kenapa jadi tidak berani.


"Kamu di UKS aja, jangan ikut KBM dulu."


"Ih, nggak mau!" tentu saja aku menolak. Ini hanya demam, siang nanti juga pasti sembuh.


"Kamu sakit, Retta."


"Tapi Retta enggak mau di UKS."


"Retta―"


"Elvan, Retta enggak kenapa-napa," aku mengerutkan alis.


"Sok tahu, kalau kamu kenapa-napa gimana?"


"Ih, tau ah!" aku mencebik.


"Hey! Hey! Hey!" tiba-tiba suara Kak Reno terdengar, memberhentikan perdebatanku dan Elvan yang sama sekali tidak penting. "Ini kenapa pagi-pagi sudah berdebat? Debatin apa, sih?"


"Ini, Kak. Retta nggak sakit tapi disuruh ke UKS," tak apalah aku mengadu pada Kak Reno. Sesekali meminta bantuannya untuk memberi saran kepada temannya yang keras kepala itu.


"Retta, kamu demam," Elvan kembali menyahut.


"Oh jadi masalahnya demam?" Kata Kak Reno sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Menurut gue, sih, Retta mending minum obat aja yang ada di UKS."


"Betul!" aku langsung menjawab. Ini lebih baik daripada aku tidak bisa mengikuti KBM hari ini.


"Ayo ke UKS, gini-gini gue mantan PMR!" kata Kak Reno dan aku mengangguk setuju. Kulihat ekspresi wajah Elvan kesal, tapi masih saja terlihat lucu. Kecuali sedang marah, dia berubah jadi sedikit menakutkan menurutku.


Aku mengikuti Kak Reno dari belakang, disusul Elvan juga. Aku tidak menyangka kalau Kak Reno itu mantan PMR. Sebuah kebetulan yang sangat menyenangkan untuk menyelamatkanku pagi ini. Aku juga tidak menyangka kalau Elvan bisa sekhawatir itu padahal aku hanya demam.


"Nih, parasetamol," Kak Reno menyodorkan satu tablet obat padaku.


"Yang bener, itu obat apa?" Elvan bertanya kepada Kak Reno.


"Ini obat, bro! Serius gue, mah."


"Minum, Ta," Elvan menyuruhku untuk meminum obat itu. Aku mengangguk.