
"Aku ikut kumpul anggota OSIS," jawabku saat Sella menanyakan kenapa aku memasukan buku-buku ke dalam tas secara terburu-buru. "Kamu kumpul paduan suara lagi, kan?" tanyaku padanya.
Sella mengangguk, "Satu minggu ini, aku setiap jam istirahat dan pulang sekolah latihan, Ta," jawabnya.
"Oh, semangat, Sella!" kataku sambil memakai tas. "Aku duluan, ya?"
"Iya, semangat!" Sella berteriak karena aku sudah berlari mendekati pintu kelas, aku menoleh sebentar, tersenyum pada Sella sembari melambaikan tangan ke udara. Setelah itu pergi meninggalkan kelas.
Saat hendak ke ruang OSIS, aku mendadak berhenti melangkah saat melihat Elvan keluar dari kelasnya.
"Kamu mau pulang? Ayo, aku antar," ajak Elvan dan berancang-ancang mengajakku pergi.
Aku langsung menggelengkan kepala, "Retta ikut kumpul anggota OSIS," jawabku jujur. Elvan seperti terkejut saat aku bilang seperti itu.
"Kamu OSIS?" tanyanya.
"Bukan, tapi Kak Haris bilang, Retta disuruh kumpul pulang sekolah."
"H-haris?" Elvan bertanya dan raut wajahnya seperti sangat terkejut.
Aku mengangguk dan netraku bertemu dengan iris mata hitam pekat milik Kak Haris yang baru saja keluar dari kelasnya. Kak Haris tersenyum dan berjalan ke arahku.
"Ikut kumpul, kan, Retta?" tanya Kak Haris tepat di samping aku dan Elvan yang sedang berdiri berhadapan.
"Iya, Kak," jawabku tersenyum kecil.
"Retta bukan OSIS," Elvan tiba-tiba menyahut.
"Gue tahu," jawab Kak Haris sambil tersenyum tipis.
"Terus kenapa disuruh kumpul? Lo bukan ketua OSIS lagi bukannya?"
"Tapi gue masih termasuk panitia festival musik."
"Oh, jadi lo suruh Retta ikut kumpul mau ngomongin festival itu?" tanya Elvan, suaranya sangat berbeda saat ia bicara padaku beberapa saat lalu. Nada suaranya saat ini seperti nada seseorang yang sedang marah. Elvan marah?
"Iya, kenapa? Anaknya mau-mau aja kok ikut kumpul," Kak Haris menatapku, disusul Elvan juga. Aku **** bibir, peredabatan mereka terjadi begitu saja.
"Kenapa harus dia? Anak OSIS masih kekurangan buat jadi panitia?" Elvan sedikit mengangkat dagu, kedua tangannya ia masukan kedalam celana.
"Bukan gitu maksud gue. Ada alasan lain gue pilih dia jadi panitia festival," Jawab Kak Haris.
"Eh, bro. Retta juga sibuk, bentar lagi UAS. Dia harus fokus belajar."
"UAS kelas sebelas masih lama, man."
Aku melihat rahang Elvan mengeras, kedua alisnya menekuk, sorot matanya tajam. Baru kali ini Elvan seperti sangat marah kepada seseorang. Dan ini hanya karena masalah sepele.
Aku segera menarik ujung baju seragam Elvan―yang memang selalu saja di keluarkan―sambil menggelengkan kepala, memberi isyarat untuk berhenti berdebat dengan Kak Haris.
"Kamu mau ikut kumpul sama dia?" tanya Elvan padaku. Perlahan, kepalaku mengangguk. Hingga aku mendengar decakan pelan dari mulut Elvan.
"Ta? Aku antar pulang ya?" tanya Elvan, nada suaranya kembali melembut.
"Retta mau kumpul, Van," Kak Haris kembali menyahut.
Ah, aku pusing sekali saat ini.
"Kok maksa, sih?" Elvan kembali menatap Kak Haris tajam.
"Man, Retta nya juga mau ikut kumpul. So, gue juga enggak maksa kalau dia enggak mau ikut kumpul panitia!" jawab Kak Haris dengan nada tinggi.
"Kok ngegas?" nada suara Elvan kembali berat, seperti menantang Kak Haris.
Segera kuberdiri di antara keduanya, melerai mereka yang mendebatkan hal tidak penting sama sekali.
"Elvan, Retta ikut kumpul panitia dulu. Sebentar, kok. Boleh, ya?" tanyaku pada Elvan.
"Tapi pulang bareng aku, ya?" kata Elvan. "Aku tunggu di parkiran."
Aku segera mengangguk sambil tersenyum, setelah itu Elvan berbalik badan dan pergi meninggalkan koridor kelas.
"Ayo, Kak," Ajakku pada Kak Haris yang masih menatap kepergian Elvan.
"Oh iya, ayo," Kak Haris tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju ruang OSIS, aku mengikutinya langkahnya dari belakang.
***
"Sudah, maaf Elvan jadi menunggu," kataku merasa tidak enak padanya. Pasalnya kumpul panitia festival ternyata lama, memakan waktu sampai satu jam. Itu pun hanya ketua OSIS yang berbicara, selanjutnya Kak Haris yang membuat susunan acara.
"Enggak apa-apa, Ta," Elvan tersenyum sembari memakaikan helm di kepalaku. "Kamu jadi ikut panitia festival?" tanyanya sambil menyalakan mesin motor.
"Retta bingung."
"Bingung kenapa?"
"Menurut Elvan, Retta ikut atau jangan?" Mungkin tidak ada salahnya aku meminta pendapat Elvan.
"Jangan," suara Elvan mendadak dingin, lalu kedua matanya berisyarat menyuruhku untuk segera naik di motornya.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Karena aku enggak suka kamu dekat-dekat Haris."
Aku mengernyit, "Kak Haris? Dia baik kok," jawabku.
"Ta?" Elvan memanggil seraya melihatku melalui kaca spion.
"Kak Haris baik," tegasku
"Jangan sebut nama dia lagi."
"Kenapa?"
"Aku enggak mau debat sama kamu."
Aku berdecak pelan, pertanyaanku selalu saja tidak pernah dijawab olehnya.
"Elvan, ini bukan arah ke rumah Retta," Segera kutepuk pundaknya saat Elvan membelokan motornya ke kanan, padahal gang kompleks perumahanku arahnya belok ke kiri.
"Aku mau beli kura-kura," katanya.
"Untuk?"
"Untuk kura-kura," Elvan tertawa renyah. Aku hanya bisa mengangguk saja, entah kenapa selalu saja tidak bisa menolak apa pun ajakannya.
Elvan memberhentikan motornya di depan sebuah toko. Entah, aku tidak tahu toko apa namanya. Yang jelas ada berbagai macam ikan hias, kura-kura dan binatang laut lainnya yang terpajang rapi di dalam kotak kaca.
"Sebentar ya, kamu duduk dulu di sini," ucapnya seraya menunjuk kursi di sampingku.
"Enggak ajak Retta ke dalam?"
"Sebentar, sayang."
Aku mengernyit, "Retta bukan pacar Elvan."
"Aku belum siap nembak kamu. Nanti, ya?" Elvan mengacak puncak rambutku lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko itu.
Sepertinya wajahku sekarang sudah memerah, Elvan selalu bisa saja membuatku blushing dengan tingkahnya itu.
Aku duduk di kursi besi, kursi yang sepertinya disediakan untuk para pengunjung toko itu. Tak lama, Elvan kembali dengan satu kotak yang terbuat dari kaca di tangan kanannya.
"Kura-kura, untuk kura-kura," kata Elvan sambil duduk di sampingku, kotak kaca itu memperlihatkan jelas satu kura-kura kecil berwarna hijau lumut.
"Untuk Retta?" tanyaku,
Elvan mengangguk. "Dijaga, ya?"
"Oke."
Aku mengamati kura-kura itu, sesekali menyentuhnya dengan telunjuk. Sementara Elvan tersenyum melihatku yang senang dengan pemberian kura-kura darinya.
"Retta?" Elvan memanggil setelah beberapa saat hening.
"Apa?" aku menoleh, menatap wajahnya yang selalu memperlihatkan tatapan teduh, tatapan yang aku suka.
"Elvan akan selalu ada di samping Retta," sahutnya seraya tersenyum tipis.
"Dan Retta percaya," aku membalas senyumannya.
"Kalau Milea punya Dilan, Salma punya Nathan, dan Wulan punya Roman," Elvan berdeham kecil sambil mengubah posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku. "Kalau Retta punya Elvan."