
"Mending nonton festival di sekolah. Elvan udah beli tiket tapi nggak dipakai, sayang uangnya," kataku, rasanya tidak enak hanya ada kami berdua di dalam rumah.
"Acara seperti itu enggak cocok sama aku, Ta."
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Ya, enggak suka aja, berisik."
"Ya sudah, keluar aja yuk, kemana aja."
"Rumah kamu?"
Aku berpikir sejenak dengan ajakannya, "Oke."
***
"Eyang?" panggilku sembari membuka pintu kamar Eyang. Untungnya Eyang sedang tidak tidur, ia keluar dari kamar dan menghampiri Elvan yang tengah duduk di ruang tamu.
"Eh, ada Nak Elvan?" Eyang sumringah. Elvan mencium punggung tangan eyang seraya tersenyum ramah. "Kok, udah pulang? Udah selesai festivalnya?"
"Enggak nonton, Eyang," aku menyahut lalu duduk di samping Eyang.
"Lho, kenapa? Retta bukannya panitia?" tanya eyang bingung.
"Ada yang nyulik Retta," aku terkekeh kecil sambil melihat ke arah Elvan.
"Maaf, eyang. Habis kalau enggak gitu, kita pasti enggak bakal baikan," sahut Elvan. Aku kesal sekali padanya karena membahas hal itu lagi.
"Memang kalian bertengkar?" Tanya eyang. Aku mengerucutkan bibir kesal. Kenapa hal itu harus diperpanjang, sih?
"Iya. Elvan yang salah," jawab Elvan sambil menatapku sekilas.
Memang, kamu yang salah, Elvan.
"Salah? Salah apa?" Eyang semakin penasaran.
"Mengingkari sebuah janji." Jawab Elvan, membuat Eyang terlihat terkejut.
"Oh, pantas Retta beberapa hari kemarin wajahnya kesal terus."
Mereka berdua melihat ke arahku. Aku mengernyit, kenapa disini seperti aku yang salah?
"Elvan berbohong, Eyang. Dia nakal kalau Eyang pengin tahu," aku mendengus seraya memutar bola mata malas.
"Hush! Kamu jangan sembarangan bicara."
Aku membulatkan mata tak percaya. Eyang lebih percaya kepada Elvan, begitu maksudnya?
"Benar, Ryang. Dia masuk geng Erlassca. Geng enggak jelas!" jawabku kesal. Elvan terlihat mengulum bibir sambil memainkan jari-jari kukunya.
"Itu benar, Nak Elvan?" Eyang bertanya kepada Elvan. Seketika yang ditanya tersenyum kikuk lalu mengangguk.
Eyang geleng-geleng kepala saat melihat jawaban Elvan. "Bener, kan, bandel dia Eyang. Merokok pula," ungkapku. Biar saja semuanya aku beritahu kepada eyang. Elvan terlihat memelototkan kedua matanya padaku.
Haha, rasakan.
"Nak Elvan, Eyang saran kamu jangan merokok. Enggak baik, enggak sehat."
Aku setuju kalau yang ini, "Betul, tuh!" kataku seraya menjentikan jari.
Elvan terlihat mengangguk pasrah. Jujur aku penasaran, wajah dia kenapa selalu lucu seperti itu, sih?
"Eyang masuk ke dalam kamar dulu, ya." Eyang beranjak menuju kamar dan kini menyisakan aku dan Elvan saja di ruang tamu.
"Kura-kura mana, Ta? Kangen, nih," tanya Elvan dan wajahnya kini berubah drastis menjadi ceria.
"Sebentar, Retta ambil dulu," aku berjalan mendekati radio kesayangan Eyang, di sampingnya ada kotak kaca berisi kura-kura pemberian Elvan.
"Kamu enggak kasih dia makan, ya?" seketika aku terkejut mendengar pertanyaan Elvan. Kok dia bisa tahu kalau beberapa hari terakhir ini aku tidak dan memberi makan kura-kura itu?
"Kok tahu, sih?" Tanyaku lalu mendengus sebal.
"Kelihatan, dia kurusan." Jawab Elvan sambil menyentuh kura-kura itu dengan telunjuknya.
Aku tertawa mendengar jawabannya, dilihat dari mananya kalau kura-kura itu berat badannya turun? Sudah kupastikan kalau Elvan memang benar-benar lelaki aneh, lucu, dan misterius dalam satu waktu.
"Sok tahu."
"Kenapa sih, Ta? Benci banget sama geng Erlassca?"
Aku terdiam sesaat, "Karena mereka semua itu nakal, Elvan. Retta enggak mau kalau Elvan ikut-ikutan bikin ulah, enggak mau kalau Elvan nanti dikeluarkan dari sekolah."
"Maaf," lirihnya.
"Udah berapa kali hari ini bilang maaf?"
"Maaf sudah buat Retta kecewa."
"Retta enggak bisa kalau nggak maafin Elvan."
Elvan terkekeh pelan seraya menyubit pipiku dengan gemas, "Udah bisa gombal ya sekarang?"
"Elvan yang ajarin," kataku malu.
"Udah ah, Elvan mau minum apa? Teh mau?" tawarku mengalihkan topik pembicaraan.
"Boleh."
Aku segera pergi menuju dapur. Membuatkan teh manis untuknya. Untuk si lelaki aneh namun istimewa bagiku.
***
"Kemarin kamu kemana, Ta? Enggak nonton aku tampil ya!" Sella mendengus kesal.
Aku menoleh, "Elvan ajak aku pergi gitu aja," jawabku jujur.
"Kamu deket lagi ya sama Kak Elvan?"
Aku bingung harus menjawab apa, jujur saja aku memang belum menceritakan apa pun tentang hubunganku yang bisa dikatakan dekat dengan Elvan kepada Sella.
Perlahan kepalaku mengangguk, membuat Sella membulatkan mata dan mulutnya sempurna.
"Kenapa dimaafin gitu aja, Ta?!" Sella terlihat kesal. "Dia merokok, kamu tahu, kan?"
Aku mengangguk, "Iya, tapi aku coba untuk membujuknya berhenti merokok."
"Memang bisa?"
"Semoga," jawabku sembari tersenyum tipis.
"Hfttt, kenapa harus Kak Elvan sih, Ta? Memang enggak ada cowok lain yang lebih―"
"Elvan baik, La," aku memotong ucapan Sella begitu saja.
"Oke, fine," aku melihat Sella mengembuskan napasnya pasrah.
***
"Retta!" aku menoleh ke asal suara itu. Kulihat Kak Haris berlari kecil menghampiri aku dan Sella yang sedang menyusuri koridor menuju kantin.
"Iya, kenapa, Kak?" tanyaku. Basa-basi, aku tahu pasti dia akan menanyakan kenapa kemarin aku tidak ada di acara festival.
"Kemarin kenapa enggak ada? Lena jadi jaga tiket sendirian." Raut wajah Kak Haris terlihat kesal. Aku mengulum bibir, merasa tidak enak padanya.
"Maaf, Kak." Jawabku pelan.
Kak Haris mengangguk, "Ya sudah, enggak apa-apa, deh."
"Sudah Kak? Kita mau ke kantin," kata Sella sembari mengangkat satu alisnya ke atas.
"O-oh, sudah, kok."
Sella menarik lenganku dengan cepat dan menyeretku menuju kantin. Melihat kejadian ini, aku kembali teringat kepada Elvan yang hobinya selalu menarik lenganku secara tiba-tiba.
Ngomong-ngomong, aku belum melihat lelaki itu sejak tadi pagi.
Disaat pikiranku dipenuhi dengan sosok Elvan, tiba-tiba saja seseorang menabrakku dengan kencang dari arah belakang. Membuat aku dan Sella refleks berhenti melangkah, menoleh ke pelaku yang menabrak dan membuat es teh yang ia pegang membasahi seragamku.
"Woy! Jalan yang bener dong!" Sella berteriak kencang kepada lelaki yang kini membuat seragamku basah. Aku menarik lengan Sella, mencoba memberi isyarat untuk tidak memarahi lelaki itu.
"Apaan sih, lo? Ngegas!" Kak Aldo membentak Sella. Membuatku menjadi kesal padanya. Bukannya meminta maaf malah memarahi sahabatku.
Jujur saja aku tidak suka Kak Aldo, dia yang waktu itu membentak dan menunjuk ke arahku, dia yang memberitahu kalau Elvan gabung dengan geng Erlassca.
"Eh elo, si tukang nempel sama Elvan," Kak Aldo tersenyum sarkas padaku. Aku mengerutkan dahi, ucapannya barusan membuatku sakit hati. Tentu saja, ucapan Kak Aldo tajam seperti tatapannya.
"Maksud Kakak apa?" tanyaku pelan dengan kepala sedikit menunduk, tidak berani menatapnya.
"Maksud gue apa lo bilang?" Kak Aldo berdecak pelan seraya mendekatkan wajahnya padaku. "Lo itu pengganggu tau enggak?!"
Mataku rasanya seketika perih, bibirku gemetar menahan tangis. Benar kan, aku bilang. Geng Erlassca aslinya seperti itu kalau kalian ingin tahu. Penindas, pokoknya pembuat onar.
"Kalo ngomong jangan sembarangan!" Sella mendorong bahu Kak Aldo dengan kasar. Membuatnya menyungging senyum, senyum yang menyeramkan.
"Lo jangan ikut campur, deh! Suara lo cempreng, enggak enak didenger!"
"Kak!" aku berteriak kesal. Tidak peduli pada mereka yang berlalu lalang kini menatap ke arah kami bertiga.
"Apa? Berani lo sama gue?" Kak Aldo menarik kerah seragamku, membuatku sesak, sulit bernapas.
Cengkaramannya kuat sekali, seperti sedang mencekik leherku. Aku menangis sejadi-jadinya. Sella mencoba mendorong tubuh Kak Aldo tapi tidak membuahkan hasil.
Kakiku sedikit menjinjit, lidahku kaku, aku semakin sulit bernapas.
Elvan tolong Retta.
Mereka yang menonton sama sekali tidak ada yang menolongku. Mereka hanya diam melihat Kak Aldo berbuat seperti ini padaku.
Bugh!
Tiba-tiba saja satu pukulan kencang dari seseorang melayang di pipi kanan Kak Aldo. Membuat cengkraman di kerahku seketika melonggar. Aku mencoba mengatur napas, tapi tiba-tiba tubuhku terhempas begitu saja ke atas lantai, pandanganku mulai menghitam, dunia terasa seperti berputar cepat, dan kepalaku pusing bukan main.
Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Aku pingsan.