
Samar-samar, kulihat sosoknya duduk di sampingku. Wajahnya sudah banyak sekali luka lebam, tapi sepertinya sudah diobati.
Elvan terkejut saat aku membuka mata, dia membantuku untuk duduk dan bersandar dengan sangat hati-hati.
"Ta? Syukurlah udah sadar," katanya sambil tersenyum lega.
Aku memijat pelipis karena rasanya pening sekali. Setelah aku melihat sekitar, ternyata aku sedang berada di UKS.
"Elvan, Retta pingsan berapa lama?" tanyaku dengan suara yang masih parau.
"Sebenarnya bel pulang udah dari tadi, Ta. Tapi enggak apa-apa, kalau kamu mau tidur, tidur dulu aja," jawabnya seraya mengambil satu botol air mineral di atas nakas, lalu memberinya padaku.
Aku meminumnya setelah itu merapikan rambutku yang ternyata berantakan.
"Wajah Elvan kenapa? Berantem ya?" tebakku seraya memasang wajah kesal. Pasalnya wajah Elvan sekarang sudah babak belur.
Elvan tidak menjawab, dia malah mengambil karet gelang yang berada di atas nakas.
"Sini, rambut kamu harus diikat," ucapnya seraya membantuku untuk duduk membelakanginya.
Aku mengulum senyum saat Elvan mengikat rambutku dengan lembut. Bagaimana tidak senang kalau hal sesederhana ini dilakukan oleh Elvan?
"Mau pulang? Aku gendong ya?" tawarnya saat sudah mengikat rambutku dengan rapi. Jujur saja aku tidak menyangka kalau Elvan bisa mengikat rambut serapi ini.
"Jawab dulu pertanyaan Retta, Elvan berantem sama Kak Aldo?" tanyaku sambil menatap lekat wajahnya.
"Iya, dia harus dikasih pelajaran supaya enggak gangguin kamu lagi," Elvan membelakangiku seraya sedikit berjongkok, menyuruhku untuk naik di punggungnya.
Aku menurut saja, karena jujur, tubuhku masih lemas saat ini. Terlebih kalau mengingat kejadian Kak Aldo yang mencengkram kerah seragamku saat jam istirahat. Itu mengerikan.
Saat Elvan mulai menyusuri koridor, ternyata sudah terlihat sepi. Yang kulihat hanya ada beberapa anak OSIS berlalu lalang.
"Elvan, Retta berat enggak? Kalau berat Retta jalan aja, deh," kataku.
"Berat dari mana? Berat kamu itu kayak candy cotton," ucapnya lalu tertawa tanpa suara.
Aku mendelik, "Enak aja!"
"Ta, maaf ya aku tadi telat datang untuk tolong kamu," Elvan memperlambat langkahnya.
Ternyata pukulan yang mengenai pipi Kak Aldo itu ulah Elvan. Dia yang sudah menolongku dari cengkraman kuat Kak Aldo yang mengerikan.
"Makasih ya, rumahku."
"Kembali kasih, kura-kura."
***
"Elvan, hujan!" menepuk pundak Elvan saat aku merasakan air hujan jatuh mengenai lenganku.
Elvan segera menepikan motornya di dekat sebuah pohon. Gemuruh guntur kini saling bersahutan, hujan turun semakin deras. Aku dan Elvan segera berlari untuk berteduh di bawah atap toko kecil di seberang sana.
Kedua tangannya melindungi kepalaku untuk tidak terkena air hujan. Meskipun menurutku itu sia-sia, seragamku sudah sedikit basah, dan seragam dia jauh lebih basah lagi.
Kami tiba di depan toko itu, dengan napas tersenggal karena berlari menerjang hujan.
Suasana cukup hening. Aku memeluk diriku sendiri karena angin kencang yang rasanya seperti mengenai tulang. Aku menoleh ke arah lelaki di sampingku, rambutnya basah dan luka di wajahnya pasti terasa sangat perih sekarang.
"Elvan..." panggilku pelan. Dia menoleh, dengan tatapan teduh dan lekuk sabit yang akan selalu aku suka.
"Dingin, ya? Maaf aku jarang pakai jaket, Ta. Jadi enggak bisa bikin kamu enggak kedinginan," ucapnya.
Aku menggeleng, tentu saja berbohong, aku tidak mau melihatnya khawatir. "Retta enggak kedinginan. Sakit enggak lukanya itu?"
Dia menggeleng sambil mengulum bibir, lalu menunduk menatap sepatunya yang sudah basah kuyup.
"Ta..." dia memanggilku lirih.
"Apa?"
"Kalau Elvan menghilang dari bumi, bagaimana?"
Aku tercekat dengan pertanyaannya. Mengerjapkan mata berkali-kali, terkejut. "Kok, nanya gitu?"
Dia diam, menatap lurus ke depan. Hujan turun semakin deras begitupun dengan tangisku. Entah rasanya menjadi tidak nyaman, tidak karuan.
Dia yang melihatku menangis langsung memelukku erat. Tangisku semakin menjadi, pertanyaannya tadi tidak pernah terpikirkan olehku. Bagaimana nantinya kalau Elvan pergi? Tidak ada di sisiku lagi?
"Jangan menangis," ucapnya seraya menepuk punggungku pelan.
Aku melepas pelukannya, lekat kupandang mata berwarna cokelat kayu miliknya. Bisa kulihat kalau dia menahan tangis, tatapannya menandakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja.
"Elvan kenapa?" tanyaku sembari menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
"Aku lanjut kuliah di Jogja."
Seketika aku tertegun. Suara hujan terasa menghilang, dan sahutan-sahutan guntur kian mendatang. Rasanya seperti dijatuhkan ke dalam jurang dan jantungku berdegup dengan kencang. Lima kata yang dia ucapkan, berhasil membuat tangisku tidak berhenti untuk dikeluarkan.
Aku belum siap untuk menerima kenyataan yang baru saja dia ucapkan. Bagaimana melewati hari-hari tanpa dia nantinya?
"Jogja?" tanyaku penuh isak.
Dia mengangguk.
Segera mungkin kuberlari meninggalkannya. Menerjang hujan yang kini berhasil membuat tubuhku basah kuyup.
Dia mengejarku, dengan terus memanggil namaku dengan kencang. Aku masih menangis, tubuhku kini lemas dan kedinginan.
"Ta..." panggilnya. Aku mendengar suaranya gemetar, seperti sedang menangis.
Aku memeluknya erat, "Kalau Elvan enggak ada nanti Retta sama siapa? Nanti siapa yang khawatir kalau Retta sakit? Siapa yang antar jemput Retta? Kalau Retta ada yang gangguin siapa yang nolongin? Siapa.."
Aku tidak sanggup lagi untuk berkata. Dia melepas pelukannya, "Elvan pasti kembali, Ta. Selama kamu dan Bunda masih di Bogor. Itu yang akan menjadi alasan Elvan pulang, karena kalian dua perempuan yang Elvan sayang."
"Memang enggak bisa kuliah di Bogor aja?" isakku.
Dia menggelengkan kepala, "Enggak bisa. Ayah suruh aku kuliah di Jogja."
"Elvan..."
"Ayo, kamu kedinginan," dia merangkulku dan kembali menepi di toko kecil itu.
Tak lama, hujan reda. Tapi tidak dengan hujan di pelupuk mataku. Aku masih menangis, masih belum menerima kalau beberapa minggu lagi Elvan akan pergi. Minggu depan yang kutahu kelas dua belas Ujian Nasional, dan itu semakin membuatku takut untuk ditinggalkan.
"Ayo naik, jangan menangis terus, Ta." Ucapnya dan sudah siap untuk melajukan motornya. Saat ini aku hanya pasrah, menaiki motor dan memeluknya erat. Menyandarkan kepalaku di punggungnya, dan menangis diam-diam.
***
Sampai di depan rumah aku langsung berlari masuk ke dalam rumah dan tak mengindahkan Elvan yang mengantarku pulang. Dia tidak mengejarku, dia tahu aku sedang ingin sendiri dulu.
Eyang yang melihat kondisiku yang basah kuyup pun terkejut, tapi aku memilih untuk langsung memasuki kamar dan membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku memilih duduk lalu mengecek ponsel. Ternyata ada satu pesan whatsapp masuk dari nomor yang tidak kukenal.
08+
|Jangan menangis.
|Malam aku ke rumahmu.
|🏠>🐢
17:01
Aku yakin itu Elvan. Kusimpan nomornya dengan nama kontak 'rumahku'.
Mau apa ke rumah?|
17:01
Rumahku
|Enggak boleh ya?
17:02
Boleh.|
Elvan lagi apa?|
17:03
Rumahku
|Memikirkan bagaimana membuatmu tidak menangis lagi.
17:03
Kalau rumah tidak|
meninggalkan kura-kuranya, itu sudah cukup.
17:04
Rumahku
|Ta..
17:04
Iya-iya.|
Tadi hanya bergumam.|
17:04
Aku menutup ponsel, keluar dari kamar dan menghampiri Eyang yang sedang memutar dan mencari saluran radio yang bagus untuk didengar.
"Eyang?" panggilku lalu duduk di sampingnya. Kupeluk sosoknya yang sudah merawatku dari SMP, semenjak Ibu pergi meninggalkan bumi.
"Kenapa? Marahan?"
Tebakan Eyang kenapa pas sekali?
"Elvan kuliah di Jogja," kataku lalu mengambil kotak kaca yang berisi kura-kura lalu mengusapnya pelan dengan telunjuk.
"Bagus itu, berarti dia masih ingin melanjutkan pendidikannya," kata Eyang, aku mengangguk paham.
Masalahnya bukan itu, Eyang. Aku tidak mau jauh-jauh dengannya. Meskipun itu di Jogja, masih di Indonesia. Tapi tetap saja berat rasanya.
"Sudah makan belum? Makan dulu sana," titah Eyang seraya mematikan radio. Wajahnya terlihat kesal karena tidak ada saluran yang bagus.
"Oke," aku mencium pipi Eyang, lekas ke dapur untuk makan. Aku sampai lupa kalau perutku sedari tadi meronta-ronta meminta jatah makan.