Elvaretta

Elvaretta
26. Senja dan Tangis



"Sudah dibaca surat dari Elvan?"


Aku terdiam lemas mendengarkan pertanyaan dari Dokter hewan yang ternyata bernama Danu itu. Kemarin, aku tak henti-hentinya membaca ulang surat dari Elvan. Menangis, sampai akhirnya tertidur di atas meja belajar dengan kedua tangan yang dijadikan bantal.


Saat aku mengetahui kalau Elvan tidak akan pulang sampai ia lulus S1, rasanya sulit sekali menerima kenyataan itu. Aku bingung semesta, harus menyerah atau tetap menunggunya?


Kukira dia akan datang di acara perpisahanku nanti, mau bagaimana pun aku ingin dia datang. Tidak ingin diucapkan selamat atau apa pun itu, aku hanya ingin bertemu dengannya. Walau pun hanya sebentar.


"Sudah," jawabku singkat.


"Nangis?"


"Pak Dokter, tolong ya jangan buat aku kesal terus. Aku enggak suka dibilang cengeng," sahutku, tapi yang kulihat dia malah terkekeh. "Enggak ada yang lucu."


"Kamu jangan panggil saya 'Pak' dong, saya masih muda, tahu?"


"Aku enggak peduli," jawabku tak acuh. Kalau saja dia tidak sering membeli jus di kedai ini, mungkin hari ini aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Tapi sepertinya, pria itu kecanduan untuk membeli jus mangga di kedai langgananku.


"Panggil saya Danu saja."


"Oke," aku mengangguk. "Danu, Elvan enggak akan pulang sampai dia lulus S1," ucapku sembari mengaduk-aduk jus melon dengan sedotan.


"Serius? Dia udah berapa lama sih, di Jogja?" Danu terlihat terkejut mendengarkan ucapanku.


"Satu tahun lebih. Aku bingung harus menyerah atau tetap menunggunya."


"Biar isi hati kamu yang memilih, saya tidak bisa memberi jawaban, karena saya bukan Elvan."


"Aku takut, Danu. Takut Elvan tidak akan pulang, tidak akan menemuiku lagi."


"Jogja dekat, kenapa tidak menemuinya langsung?"


"Ayah enggak bakal izinin aku pergi sejauh itu. Mungkin menurutmu Jogja dekat, tapi untuk remaja seusiaku, itu jauh. Aku enggak pernah pergi ke tempat jauh seorang diri."


"Berarti kamu harus cepat lulus kuliah, nanti bisa ke Jogja sendiri. Betul tidak?"


Aku menghela napas panjang, salah rasanya meminta saran kepada Dokter hewan yang satu ini. Tidak bisa diajak diskusi.


"Kalau aku nunggu lulus kuliah, Elvan pasti udah lulus dari lama, Danu!"


"Kok marah?" Danu terkekeh tanpa suara. "Kenapa kalau sedang marah bisa selucu itu, Retta Dwyriska?"


Bukan Danu yang mengucapkan hal itu pertama kali. Elvan pernah mengucapkan hal itu padaku, Teguh juga. Aku bingung, sebenarnya dimana letak lucunya?


"Lucu," dia mencubit pipiku. "Saya ajak ke suatu tempat mau?"


"Sakit!" seruku. "Kemana!"


"Habiskan dulu jus melonnya."


Entahlah, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba menuruti perintah Danu.


Setelah meminum jus melon sampai habis, aku mengikuti langkahnya dari belakang. Tapi dua langkah kemudian, Danu tiba-tiba memutar tubuh ke belakang, membuatku refleks menabrak tubuhnya dengan kencang.


"Ih, kenapa sih?!" seruku kesal sembari mengusap-usap kening.


"Perempuan harus berjalan di depan."


"Tapi kamu tahu mobil saya parkir di mana, kan?"


"Emang ada acara naik mobil kamu segala?" tanyaku kesal. Untung saja kedai saat ini tidak terlalu banyak orang. Jadi beradu argumen dengan Danu tidak membuatku malu.


"Terus kamu mau jalan kaki?" Danu masih tidak mau kalah. "Oke, kamu jalan kaki, saya naik mobil."


"Danu!!!" aku berteriak sembari mengentakkan kaki ke lantai, setelah itu berjalan pergi dari kedai.


Aku mendengar Danu meminta maaf kepada ibu penjaga kedai. Ah, aku tidak peduli. Dokter hewan yang satu itu menyebalkan.


***


Berdua di dalam mobil bersama Danu, itu bukan hal yang pertama kalinya. Kamu pasti tahu dia tiba-tiba datang saat aku berdiri di depan gerbang saat festival musik, lalu dia memaksa untuk mengantarku pulang.


Perjalanan kali ini hening. Danu fokus menyetir, sementara aku menyandarkan kepalaku ke jendela sembari bergumam. Elvan, aku tidak suka naik mobil. Aku lebih suka naik motor vespa warna hijau lumut milikmu. Elvan, motor itu sekarang dipakai untuk memboncengi siapa? Tidak ada yang menaiki tempat duduk di belakangmu itu, bukan? Pulang Elvan, aku ingin diboncengi olehmu lagi.


"Retta Dwyriska, bangun!"


Tepukan pelan di pipiku langsung membuat kedua mataku terbuka, ternyata Danu yang membangunkanku.


Tunggu, aku tertidur?!


"Ini di mana? Jam berapa?!" aku terkejut bukan main saat melihat ke arah luar, langit sudah berwarna jingga, dan di sekelilingku... ah, aku tidak tahu ini di mana!


"Tenang dulu, buka seatbelt-nya. Ayo keluar."


Danu sudah keluar dari mobil, dia mengancingkan jas putihnya itu, mungkin agar terlihat rapi. Akupun segera membuka seatbelt lalu keluar dari mobil, menghampirinya.


"Danu ini di mana? Kok sepi banget? Serem!"


Tentu saja aku takut. Kalau kamu ingin tahu, di sekelilingku saat ini sepi sekali. Lampu yang temaram membuat suasana terlihat horor.


"Mau ikut saya masuk ke dalam sana tidak?" Danu menunjuk pintu gerbang yang sudah berkarat, aku tidak tahu gerbang itu menuju ke arah mana. Namun yang pasti, di ujung sana, terlihat gedung tua yang tinggi sekali.


Aku mengangguk saja, menuruti apa maunya Danu. Kami berjalan beriringan. Danu menyalakan senter di ponselnya, karena lampu temaram saja rasanya kurang cukup untuk menerangi jalan.


Setelah menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga, akhirnya kami berdua sampai di lantai atas. Ternyata bangunan tua ini dulunya kantor, tapi sudah lama tidak dipakai lagi.


Netraku dibuat takjub saat melihat pandangan ke sekeliling, indah sekali untuk di lihat. Matahari yang akan terbenam, suasananya semakin membuatku nyaman untuk lebih lama duduk di sini. Kakiku berayun, sembari sesekali melihat wajah Danu yang duduk di sampingku.


"Danu?" panggilku pelan.


"Apa?"


"Aku menyerah aja kali, ya?" gumamku sembari menatap lurus ke depan, melihat matahari yang sangat indah dipandang seperti lekuk sabit milik Elvan.


"Payah, ditinggal ke Jogja saja masa langsung menyerah? Retta, saya masih ingat ucapan Elvan saat itu. Katanya matamu itu indah untuk dilihat, jadi saya harap, kamu jangan terlalu memikirkan hal-hal yang membuatmu sedih. Elvan tidak suka matamu yang indah itu mengeluarkan air mata."


Aku menunduk, air mataku sudah siap untuk di keluarkan. "Kalau itu maunya dia, kenapa dia pergi lama sekali, Danu? Kenapa tidak pernah menemuiku? Seharusnya dia tahu kepergiannya itu yang membuatku menangis. Aku capek, Danu. Remaja seusiaku memang harus merasakan hal yang seperti ini, ya? Tidak bisa merasakan bahagia dengan jangka waktu yang lebih lama?"


Danu menatapku lekat, "Semuanya pasti akan berakhir, Retta. Entah itu menyenangkan atau justru menyedihkan. Semuanya butuh waktu untuk membuktikan bahwa penantian akan ada akhirnya. Tidak perlu tergesa-gesa, baik itu menunggu, atau justru melupakan. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti mendapatkan apa yang pantas untuk kamu miliki."


Aku tidak kuasa menahan tangis, kubiarkan jas putihnya basah oleh air yang terus mengalir dari pelupuk mataku. Aku memeluknya, erat.