
Elvan, sudah satu tahun lebih kamu menghilang.
Kamu apa kabar? Baik-baik saja, bukan? Bagaimana kuliahmu? Lancar? Aku harap begitu ya.
Hei, kura-kura rindu rumahnya. Kura-kura rindu ingin menemui rumahnya. Kura-kura kesepian ditinggal pergi oleh rumahnya.
Elvan? Bagaimana tinggal di Jogja? Apa menyenangkan? Ah, itu pasti ya sepertinya. Kamu sudah ada niatan untuk pulang? Sudah ada niatan untuk menemuiku? Sudah ada niatan untuk kembali membawaku jalan-jalan dengan motor vespamu itu?
Sedang apa, di mana, dan dengan siapa pun kamu, aku harap kamu selalu bahagia. Karena kalau kamu bahagia, aku tentunya akan ikut bahagia. Elvan, tahu tidak? Aku rindu senyum kamu, rindu suaramu di telepon. Oh iya, aku lupa, kita hanya satu kali berbincang di telepon ya? Jadi kapan kita berbincang di telepon lagi, nih?
Aku selalu berharap, semesta akan selalu melindungimu.
Dari kura-kura yang merindukan rumahnya.
***
Hari ini di sekolahku kembali mengadakan festival musik. Dan kali ini, aku tidak akan menjadi panitia. Biar apa? Biar kalau Elvan tiba-tiba datang, dia tidak perlu meminta izin untuk membawaku pergi. Meski pun aku tahu kemungkinan hal itu sangat kecil untuk menjadi kenyataan.
Berangkat sendiri, membeli tiket sendiri, dan melihat festival sendiri. Itu yang aku lakukan hari ini. Jangan tanya Sella kemana, dia sedang berduaan dengan Teguh. Tentu saja aku memilih menghindar dari mereka, aku tidak mau menjadi nyamuk.
Sampai sore aku tetap berada di depan gerbang. Menunggu Elvan datang, ya... meski pun itu tidak mungkin sepertinya. Orang-orang sudah banyak yang pulang, bahkan Sella dan Teguh pun sempat memaksaku untuk segera pulang, tapi aku tetap menolak.
Aku masih berharap kalau Elvan akan datang, lalu mengajakku pergi, menculikku seperti satu tahun yang lalu. Mengobrol di tengah perjalanan membicarakan kakaknya yang bernama Devano, lalu diajak olehnya bertemu dengan Bunda.
Sampai jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku menunjukan pukul setengah enam sore, aku masih berdiri di depan gerbang sekolah sembari bergumam. Elvan, kenapa ya aku tidak bisa melupakan apapun yang berkaitan denganmu? Kenapa sulit sekali untuk melupakan namamu dalam ingatanku? Kenapa kita dipertemukan, kalau pada akhirnya sangat sulit sekali untuk bertemu?
Semesta, aku mohon Elvan pulang hari ini. Aku yakin dia pasti tahu kalau hari ini festival musik kembali dirayakan, iya dia pasti tahu kan, semesta?
"Mau sampai kapan kamu berdiri di sini, Retta Dwyriska?"
Elvan!
Ya Tuhan.
Aku menghela napas kasar, bukan dia yang aku harapkan untuk datang, tapi Elvan. Elvano Aryawinata!
Dia mendekat ke arahku sembari membuka jas putihnya itu, dan hal yang membuatku terkejut selanjutnya adalah, dia memakaikan jas itu di pundakku untuk menutupi lengan bajuku yang memang tidak terlalu panjang.
"Jam setengah enam, tidak pantas anak gadis masih di luar," katanya. "Saya antar pulang."
Aku menggeleng, "Aku enggak mau pulang, sampai Elvan datang!"
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu sia-sia?" ucapnya dengan masih menatapku. "Kamu bisa sakit, sudah berapa jam kamu menunggunya? Sudah berapa jam kamu berdiri tanpa duduk sekali pun?"
Aku tidak menjawab, aku menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini aku menunggu seseorang tanpa memperdulikan tubuhku sendiri. Seumur hidup, aku tidak pernah melakukan hal ini. Elvan, kenapa enggak datang?!
"Jangan nangis, saya tidak suka melihat perempuan nangis," katanya. "Cengeng."
Aku mendongak saat mendengar dia mengatakan 'cengeng' padaku.
"Maaf?"
"Cengeng. Dasar anak SMA," kali ini dia akhiri dengan kekehan. Aku mengernyit, tidak ada yang lucu di sini.
"Kenapa bisa tahu aku ada di sini?" tanyaku.
"Saat perjalanan berangkat ke klinik sampai perjalanan pulang, saya masih saja melihat perempuan jelek sedang berdiri seorang diri di pinggir jalan. Eh salah, di depan gerbang."
Aku membelalak. Dia yang belum kenal dekat denganku sudah berani mengejek? Wah, Dokter hewan yang satu ini tidak tahu diri.
"Ayo pulang, saya antar," dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari posisiku berdiri saat ini.
Finalnya, aku mengikuti langkah pria itu dari belakang.
Elvan, aku pulang. Hari ini aku kecewa karena kamu tidak datang.