Elvaretta

Elvaretta
28. Berani Melawan Masalah



Semakin hari, aku merasa ada yang berbeda. Kehadiran sosok Danu rasanya seperti merubah hidupku. Entahlah, mungkin hanya aku saja yang ke-geer-an. Habis pria itu terlalu baik kepadaku. Contohnya saja seperti pagi ini.


"Danu, kamu enggak ke klinik? Tumben mau antar aku ke kampus," ucapku saat pintu mobil kututup.


Pria itu tersenyum, "Itu klinik saya, jadi... terserah saya dong."


"Baik, Pak Dokter," kataku seraya tersenyum kecut. Dia masih sama seperti yang dulu, menyebalkan.


"Pulang saya jemput, ya?" tanyanya sembari menyalakan mesin mobil.


Aku menoleh, "Kamu setiap hari jemput aku pulang, Danu. Kamu enggak sadar?"


Dia terkekeh, "Tentu saja saya ingat. Otak saya kuat merekam apa pun saat bersama kamu, Ta."


"Merayu!"


Dia hanya terkekeh mendengar ucapanku.


"Ada beberapa hal yang memang harus dilupakan, Retta."


"Contohnya?"


Danu terdiam beberapa saat, lalu meraih jari jemariku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang kemudi.


"Yang sudah lama menghilang darimu."


Aku mencerna baik-baik perkataanya. Hingga isi kepalaku tertuju kepada sosok lelaki yang kini berada Jogja. Danu sedang membicarakan Elvan?


"Maksudmu aku harus melupakan Elvan, begitu?" tanyaku pada intinya.


"Aku hanya memberi saran," ucapnya. Aku langsung menepis tanganku yang semulanya digenggam oleh Danu.


"Aku akan tetap menunggu Elvan, jadi kamu enggak perlu kasih saran, Danu." kataku dengan nada tegas.


"Walaupun kemungkinannya kecil dia akan kembali padamu?"


"Aku mau turun!"


Entah kenapa, atmosfer di dalam mobil yang kunaiki berubah. Danu untuk yang pertama kalinya bersikap seperti itu. Memang, dia menyebalkan. Tapi kali ini seribu kali lipat dia lebih menyebalkan.


"Saya antar kamu sampai kampus."


"Aku mau turun! Berhenti!"


Danu tetap melajukan mobilnya, dia seperti tidak mendengar ucapanku. "Berhenti atau aku turun sekarang?!" aku mengancam.


"Oke, oke."


Danu memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Secepat mungkin aku turun dari mobil, menutup pintu dengan kencang, menyebrang, dan...


"Mbak, hati-hati!"


Astaga! Hampir saja aku tertabrak oleh mobil yang melaju begitu kencang di hadapanku. Untungnya bapak penjual koran menarik pergelangan tanganku sehingga tubuhku tertarik kembali ke tepi jalan.


Tanganku gemetar, tatapanku masih lurus ke depan. Aku belum tersadar bahwa apa yang aku lakukan tadi bisa saja mengakhiri hidupku, mengakhiri cerita ini.


Danu, pria itu keluar dari mobilnya lalu berlari menghampiriku.


"Retta, kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Aku tidak menjawab, satu detik kemudian dia memelukku. "Tenangkan dirimu."


"Da-danu..." ucapku gemetar. Kakiku rasanya lemas sekali. Semesta, apa yang tadi aku lakukan?!


"Ayo, masuk ke dalam mobil saya kembali," Danu merangkul pundakku dan kami kembali masuk ke dalam mobil.


Setelah aku duduk, Danu memberikan aku sebotol air mineral. "Minum," titahnya.


Selama aku menenggak air minum, Danu berbicara panjang kali lebar. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya? Kamu tidak sayang pada dirimu sendiri, Retta? Kenapa, sih, kamu ini susah sekali diberi tahu? Sudah saya bilang, sebelum menyayangi orang lain, sayangi dirimu sendiri terlebih dulu."


"Kamu kok marah-marah?!"


"Saya tidak marah-marah."


"Saya tidak gila."


Elvan, tolong bela aku dari temanmu yang menyebalkan ini.


"Hidungmu mimisan!" kata Danu tiba-tiba. Refleks aku memegang hidungku, lalu kulihat ternyata terdapat darah, lagi.


Akhir-akhir ini kepalaku sering terasa pusing, wajahku juga kata Ibu selalu terlihat pucat. Selain itu, aku juga sering mimisan. Di dalam totebag untungnya aku selalu menyediakan tisu, untuk berjaga-jaga kalau mimisan datang tiba-tiba. Seperti kali ini.


Aku sama sekali belum menceritakan kondisi tubuhku kepada siapa pun. Baik Ibu, Ayah dan juga Danu. Oke, kalau Danu mungkin sudah tahu kalau kesehatanku menurun.


Aku segera membuka totebag lalu mengambil tisu, membersihkan darah yang terus keluar dari hidungku. Setelah aku rasa selesai―tidak ada noda darah lagi yang keluar dari hidung―aku menatap Danu. Aku terkejut saat melihat ekspresi Danu saat ini. Netranya terlihat berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?" tanyaku dengan nada ketus.


"Ayo cek ke Dokter, Retta."


"Enggak mau!"


"Saya akan lapor ke Ibumu."


Aku berdecak sebal, "Kamu bisa enggak sekali aja jangan bikin aku kesal? Setiap hari ada aja tingkah kamu itu yang buat aku naik darah!"


"Karena saya peduli. Kalau bukan saya siapa lagi yang akan peduli padamu? Ibumu? Dia peduli tidak dengan kesehatanmu itu? Dia tahu tidak kalau kamu sering mimisan? Lalu Ayahmu, dia tahu tidak kamu kuliah di mana? Kondisi kesehatanmu bagaimana? dan kamu berteman dengan siapa? Apalagi lelaki yang kamu selalu tunggu-tunggu itu. Dia sudah lama menghilang, memang dia peduli padamu? Memang dia selalu mengabarimu? Menanyakan kamu sudah makan atau belum? Tidak, bukan? Kamu harus belajar menjadi gadis dewasa, Retta. Jangan seperti anak kecil, jangan seperti remaja SMA lagi."


Aku menangis, menatap Danu tak percaya kalau dia akan berbicara seperti itu padaku.


"Jangan menangis, jangan kabur, jangan lari tidak jelas lagi. Jangan menghindar dari masalah, sesekali kamu itu harus menghadapinya, Retta."


Aku tidak mengelak. Semua ucapan Danu memang benar. Aku selalu menghindar dari masalah. Berlari, kabur. Contohnya saat aku tahu kalau Elvan gabung dengan Geng Erlassca, aku menjauhinya tanpa memberi dia kesempatan untuk bicara. Saat Ayah memberitahu kalau dia akan menikah, aku langsung berlari masuk ke dalam kamar. Aku kini tersadar, sikapku masih belum dewasa. Dan Danu, pria itu yang memberitahuku, pria itu yang menegurku, membangunkanku untuk berani melawan masalah, menyayangi diri sendiri sebelum menyayangi orang lain, dan jangan lupa makan.


***


"Jus melon seperti biasa?"


"Ah, iya, Bu."


Saking fokusnya aku melamun, sampai tidak menyadari saat ini aku sudah di depan kedai jus langgananku sejak SMA. Pikiranku selalu saja kepada lelaki bernama Elvan itu, sudah lama ditinggal olehnya, tapi tetap saja sosoknya selalu ada di dalam pikiranku. Sesulit itu aku melupakanmu, Elvan.


"Sendirian terus, Neng? Enggak sama pacarnya?" Ibu pemilik kedai bertanya padaku.


"Aku enggak punya pacar, Bu," aku sedikit ragu untuk menjawabnya. Namun memang begitu faktanya, bukan?


"Cowok yang waktu itu dateng sama Neng pas masih SMA udah lama enggak ke sini lagi. Dia kemana?"


Aku tahu siapa yang ditanya oleh Ibu paruh baya itu. Siapa lagi kalau bukan Elvan? Sekali mampir ke kedai ini bersamaku, Ibu pemilik kedai pun rasanya belum bisa melupakanmu, Elvan. Apalagi aku.


"Dia kuliah, Bu," jawabku sembari menampilkan senyum. Mencoba bersikap baik-baik saja, padahal tidak sama sekali.


"Kuliah? Bukannya Neng juga kuliah?"


"Dia kuliah di Jogja," jawabku. Ibu pemilik kedai itu menangguk paham sembari memberikan pesanan jus melon untukku.


"Saya tunggu di kampus, ternyata kamu ada di sini." Aku menoleh ke asal suara itu, ternyata Danu yang wajahnya kini terlihat khawatir. "Sudah makan belum?"


"Enggak ada pertanyaan lain selain menanyakan aku sudah makan atau belum?" tanyaku lalu mencebik.


"Tidak ada. Kesehatanmu itu penting."


Aku tertawa tanpa suara, "Aku sehat, Danu."


"Sok tahu, besok saya akan ajak kamu ke Dokter."


Aku langsung memelototkan mata, "Ih, enggak mau!"


"Harus mau."


Dia masih saja menyebalkan.