Elvaretta

Elvaretta
05. Kura-kura dan Rumahnya




Sudah jam istirahat. Sejak tadi pagi sampai saat ini aku tidak melihat sosok Elvan. Atau dia sedang sibuk dengan praktik olahraga-nya?


Ah, sudah lah. Toh, dia kelas dua belas. Pasti sedang sibuk-sibuknya dengan tugas dan ujian-ujian. Terpaksa aku ke kantin seorang diri. Sella kumpul paduan suara, katanya latihan untuk tampil festival minggu depan.


Saat tiba di kantin, netraku tidak sengaja melihat sosok Elvan sedang duduk dan mengobrol dengan beberapa teman lelakinya. Tapi ada yang mengganjal, aku lihat teman-teman lelakinya itu seperti beberapa anggota geng Erlassca. Ya, benar, aku juga melihat Teguh―teman sekelasku duduk di samping Elvan.


Yang aku tahu, Teguh masuk geng Erlassca. Entahlah kenapa dia bisa mau untuk masuk geng tidak jelas itu. Padahal, kan, dia masih kelas sebelas. Dan tentu saja hal itu membuat geng Erlassa semakin banyak anggotanya. Geng nakal seperti itu kenapa banyak peminatnya, sih?


Yang jadi pertanyaanku adalah; sedang apa Elvan duduk di sana?


Perlahan aku melangkahkan kaki mendekat ke meja yang ditempati Elvan dan teman-temannya. Saat aku sudah berada tepat di hadapan mereka, seketika Elvan dan teman-temannya menatapku. Aku lihat Elvan yang sedikit terkejut dengan kedatanganku, tapi ia langsung memperlihatkan senyumnya.


"Hai, Ta?" sapanya sembari berdiri. Aku hanya tersenyum kikuk sambil menatap satu-persatu teman-temannya.


"Kenalin, dia Retta," Elvan mempersilakan aku duduk di sampingnya. Teman-temannya tersenyum padaku, termasuk Teguh. Ah, dia memang selalu tersenyum, lebih tepatnya menampilkan senyum jahil.


"Kamu sendiri?" tanya Elvan, aku mengangguk.


"Pacar lo, Van?" Aku mendengar temannya Elvan yang memakai bandana hitam bermotif tengkorak bertanya.


Aku ingat lelaki itu, seingatku dia kelas dua belas―anggota geng Erlassca, pernah ketahuan bolos oleh guru piket. Dia yang selalu memakai bandana itu membuatku selalu teringat kalau dia itu anggota geng Erlassca.


"Hampir mau jadi pacar gue," jawab Elvan disusul kekehan.


"Asik nih, Retta. Bakal jadi cewek yang―" ucapan Teguh terpotong saat Elvan berdeham keras. Aku bingung sekaligus penasaran dengan apa yang akan Teguh ucapkan selanjutnya.


"Kenapa, Guh?" tanyaku, tapi Teguh hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.


"Kamu sudah makan?" tanya Elvan padaku.


"Ahay, bucin!" Lelaki yang duduk di pojok sana menyahut. Aku tidak kenal dia siapa. Yang pasti mereka semua seperti sudah terlihat akrab dengan Elvan. Padahal Elvan pindah ke sekolah ini baru sekitar satu minggu yang lalu.


"Belum," jawabku singkat. Seketika pandanganku terhenti saat melihat samar-samar satu batang berwarna putih yang dipegang tangan kanan Elvan.


"Itu apa?" tanyaku, dan seketika Elvan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana, seperti menyembunyikan benda itu padaku.


"Eh, Ta. Lo mau soto enggak?" tiba-tiba Teguh menyahut. "Gue pesenin, ya?" belum sempat aku menolak, Teguh sudah berjalan mendekati ibu penjual soto.


"Retta kelas berapa?" salah satu lelaki yang sedang duduk di hadapanku bertanya.


"Kelas sebelas, Kak," jawabku apa adanya. Pandanganku kembali ke Elvan. Dia masih tersenyum, padahal jelas sekali ada yang ia sembunyikan.


Sebisa mungkin aku berpikir positif kalau keenam lelaki yang sedang duduk di hadapanku ini adalah teman sekelas Elvan. Hanya sebatas teman sekelas yang mengobrol di kantin. Tidak lebih. Aku percaya janji Elvan yang tidak akan gabung dengan geng Erlassca. Tentang Teguh yang ikut duduk di sini, aku berpikir kalau beberapa temannya mengumpul―geng Erlassca―di sini dengan Elvan. Yang aku tahu pun, Teguh itu rata-rata berteman dengan kelas dua belas, dengan geng Erlassca. Menyebalkan.


"Retta, abisin soto betawinya. Itu pake uang gue, lho," kata Teguh.


Lalu mereka semua berjalan keluar dari kantin. Yang tadinya ramai, sekarang menyisakan aku dan Elvan saja di depan meja kantin saat ini.


"Makan, Ta," suara Elvan membangunkan lamunanku yang sedari tadi menatap kepergian teman-temannya.


"Elvan kok bisa dekat sama mereka?" tanyaku. Maksudku, masih banyak kelas dua belas yang tidak gabung dengan geng Erlassca, dan kenapa Elvan memilih berteman dengan mereka yang jelas-jelas anggota geng Erlassca? Ada Teguh pula.


"Berteman dengan siapa aja, Ta," jawabnya.


Memang betul, tapi kalau salah bergaul bisa berbahaya juga baginya.


"Retta enggak mau kalau Elvan gabung dengan geng Erlassca," kataku lalu memulai memakan soto yang dibelikan Teguh. Tenang Teguh, uangmu ini akan kuganti, kok.


"Iya, kura-kura," jawab Elvan dan membuatku bingung seketika.


"Kura-kura?" tanyaku sambil mengernyit.


"Kamu kura-kura, dan aku rumahnya."


"Kok?"


"Karena Elvan akan selalu di samping Retta. Seperti kura-kura yang selalu membawa rumahnya kemana-mana."


"Serius?" tanyaku malu.


"Ta, aku akan selalu serius kalau sedang mengobrol sama kamu."


"Termasuk janji Elvan yang enggak akan masuk geng Erlassca?"


Entah pertanyaanku salah salah, atau bagaimana. Yang pasti ekspresi wajah Elvan berubah seketika. Garis bibirnya tidak terangkat ke atas lagi. Sekarang lurus, tidak ada senyum di wajahnya.


"Elvan?" panggilku pelan.


Elvan menoleh, perlahan kepalanya mengangguk kecil. Menjawab pertanyaanku tadi.


"Kalau Retta tahu Elvan gabung dengan geng Erlassca―"


"Kenapa?" Elvan memotong ucapanku.


Aku terdiam sejenak, menaruh sendok di atas mangkuk soto, lalu menatap kedua iris mata cokelat kayu miliknya.


"Kura-kura akan meninggalkan rumahnya."