Elvaretta

Elvaretta
17. Hanya Jaket



Pagi ini, tepat hari Selasa. Aku dan Ayah pergi ke Jakarta. Untuk apa? Untuk bertemu dengan wanita bernama Siska, yang katanya calon Ibu-ku. Aku berpikir semalam, mungkin tidak ada salahnya untuk bertemu dulu dengan wanita itu. Toh, kalau dia baik kepada Ayah dan juga aku, mungkin seiring berjalannya waktu, aku akan menerima wanita itu sebagai Ibuku. Meskipun aku sendiri pun rasanya sedikit kurang yakin.


Saat tiba di Jakarta, Ayah mengajakku langsung ke salah satu tempat makan di daerah Matraman. Menunggu beberapa menit untuk menunggu wanita bernama Siska itu datang.


Sesekali aku mengecek ponsel, berharap Elvan membalas pesan whatsapp yang kukirim semalam. Memberitahunya kalau aku akan ke Jakarta satu hari. Tapi sayangnya, lelaki itu tidak membaca pesanku. Terlihat jelas dua ceklis itu masih berwarna kelabu. Sesibuk itukah dia?


Iya.


Kalau tidak, dia pasti sudah membalas pesanku, bukan?


"Gelisah gitu, Ta? Kenapa?" Ayah bertanya. Mungkin sedari tadi melihat gerak-gerikku yang terus-terusan melirik ponsel.


Aku tersenyum kikuk, "Enggak apa-apa, Yah," kataku lalu memasukkan ponsel ke dalam ransel hitam yang kutaruh di kursi kosong, di sampingku.


Tak lama, wanita memakai jilbab berwarna merah muda dengan baju yang berwarna senada menghampiri meja yang aku dan Ayah tempati. Ia tersenyum ramah, menyapa Ayah dan juga aku.


"Ini anak saya, Retta Dwyriska," Ayah memperkenalkanku kepada wanita itu. Begitupun sebaliknya. Aku hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan. Entahlah, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman berada di sini.


Setelahnya, mereka―Ayah dan wanita itu―berbincang asyik berdua. Sempat wanita itu menanyakan kelas, dan hal lainnya padaku. Aku hanya menjawab apa adanya saja, tidak dilebih-lebihkan, lalu kembali asyik menikmati makanan yang aku pesan.


Dua jam berlalu, wanita itu terlihat hendak pergi. Ia juga sudah memakai tas kulitnya kembali.


"Senang bertemu kamu, Retta. Nanti kita bertemu lagi, ya," ucap wanita itu seraya mengelus rambutku sekilas, lalu pergi menyisakan aku dan Ayah saja di meja makan saat ini.


"Pulang, Yah," kataku setelah mengikat rambut asal, lalu memakai ransel hitam―berancang-ancang untuk pergi dari tempat makan ini.


Ayah mengangguk sembari tersenyum tipis.


***


Kembali berangkat sekolah seperti biasa. Tanpa Elvan yang menjemputku seperti biasa pula. Sejak hari Senin lalu, Elvan tidak menghubungiku. Pesan yang kukirim saat itu pun masih belum dibaca olehnya.


Pagi ini langit Bogor terlihat mendung. Aku berdesah pelan, rasanya berat untuk melangkahkan kaki menuju sekolah. Terlebih bayang-bayang wanita bernama Siska itu masih memenuhi pikiranku sampai saat ini. Oh ya, Ayah sudah berangkat kembali ke Jakarta dua hari yang lalu, sudah dipastikan ia kembali bekerja.


Sebelum hujan turun, kupaksakan berjalan menyusuri area kompleks perumahan. Sesampainya di trotoar, hujan turun begitu saja tanpa gerimis terlebih dulu.


Segera kuberlari mendekat ke sebuah pohon besar yang menjulang tinggi di dekat trotoar. Seragamku basah, pohon besar ini tidak cukup untuk melindungiku dari air hujan yang turun sangat deras, terlebih angin yang kencang membuat air hujan menerjang ke arahku.


Tidak ada yang berteduh selain aku sendiri di sini, langit pagi yang kukira akan cerah nyatanya tidak sama sekali. Seolah-olah sedang menggambarkan perasaanku saat ini.


Tid! Tid!


Suara klakson mobil menarik perhatianku, di seberang sana terlihat mobil yang tidak asing di mataku. Perlahan, pintu mobil itu terbuka, kini terlihat jelas Kak Haris dengan satu payung bening, berjalan menghampiriku.


"Retta? Enggak sama Elvan?" pertanyaan pertama yang Kak Haris ucapkan membuatku teringat kembali kepada sosok lelaki yang sudah menghilang satu minggu. Aku menggigit bibir bawah seraya menggelengkan kepala.


"Ya sudah, mau bareng?" tanya Kak Haris dengan senyuman tipis yang menempel di wajahnya. "Pegang payungnya dulu sebentar, boleh?" kak Haris memberikan payung bening itu padaku.


Aku memegang payung yang kini menjadi alat kami berdua terhindar dari air hujan, sedikit mengangkatnya ke atas karena tubuh Kak Haris lebih tinggi dari pada tubuhku sendiri.


Kulihat lelaki itu membuka jaketnya, dan hal yang tidak terduga lainnya adalah saat Kak Haris memakaikan jaket itu asal ke pundakku. Aku mematung beberapa saat sampai akhirnya suara Kak Haris menginterupsi dan merebut payung yang kupegang begitu saja.


"Ayo, kita larinya cepet dikit ya?" katanya, aku mengangguk.


Setelah melihat jalanan sepi tidak ada satupun kendaraan yang melintas, kami berdua berlari menerjang air hujan yang turun semakin deras.


Kak Haris membukakan pintu untukku masuk. Setelah itu ia kembali memutari mobilnya dan duduk di kursi pengemudi.


"Makasih, Kak," ucapku setelah mobil yang kunaiki perlahan melaju.


Kak Haris mengangguk, "Santai aja, Ta. Lagi pula kosong mobilnya."


Aku tersenyum tipis, "UN lancar, Kak?" tanyaku berbasa-basi.


"Ya gitu, deh. Bisa dibilang lancar, Ta," Ucapnya seraya merapikan rambut yang sedikit basah dengan tangan kirinya. "Kok nanya ke aku sih, Ta? Enggak nanya ke Elvan? Dia juga UN, kan."


Aku hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban, lalu kusandarkan kepalaku ke jendela, menatap rintik air hujan yang tak henti-hentinya mengguyur kota Bogor.


Kak Haris tidak mengeluarkan suaranya lagi, seketika suasana di dalam mobil ini menjadi sunyi. Hanya ada suara air hujan yang jatuh mengenai atap dan jendela mobil ini.


Sampai akhirnya, Kak Haris memberhentikan mobilnya di parkiran. Saat keluar dari mobil, hujan sudah reda. Segera kuberanjak dari parkiran setelah mengucapkan terima kasih kepada Kak Haris.


Sekilas aku melihat motor vespa Elvan yang sudah terparkir di tempat biasa. Aku tercekat, ternyata dia sudah datang.


Tidak aku hiraukan, segera kukembali melangkah menyusuri koridor menuju kelas. Sesampainya di sana, ternyata Sella pun sudah datang. Sedang duduk rapi, membaca buku paket.


"Hai," sapaku tepat di samping Sella.


Ia tersenyum, "Hai, Ta. Tumben pakai jaket? Biasanya kalau hujan pun kamu enggak mau pakai jaket."


Refleks aku melepas jaket Kak Haris yang masih menempel di pundakku, "Ah.. ini bukan jaket aku, La," ucapku sembari melipat jaket yang setengah basah itu. "Punya Kak Haris," imbuhku.


"Kak Haris?" tanya Sella bingung sembari menutup buku paketnya. "Kamu berangkat bareng dia? Enggak sama Kak Elvan?"


Aku berdecak pelan lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Kak Elvan enggak jemput?" tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepala sembari duduk di samping Sella.


"Dia enggak ada kabar dari satu minggu yang lalu," jawabku. "Sibuk dia."


"Oh, tapi saran aku, kamu jangan dekat-dekat Kak Haris, Ta. Kalau Kak Elvan tahu, beuh kacau."


Aku terdiam sejenak, "Kak Haris cuma ajak berangkat bareng doang, kok," jawabku tak mau kalah.


"Iya, tahu-tahu. Tapi kamu harus jaga jarak juga, Ta."


"Baik, baik," aku iyakan saja ucapan Sella. Kalau tidak begitu, dia bisa terus-terusan memaksa.


***


Setelah selesai upacara, aku berniat untuk mengembalikan jaket Kak Haris dan datang langsung ke kelasnya. Tapi rasanya itu tidak mungkin, bel masuk sudah terdengar dengan nyaring. Membuat langkah kakiku kembali ke tempat duduk.


"Saran aku, sih, kamu balikin jaket itu pulang sekolah, Ta. Dan jangan sampai ketahuan Kak Elvan."


Tiba-tiba Sella menyahut, membuatku menoleh padanya dengan bingung. "Kenapa harus pulang sekolah kalau jam istirahat bisa?"


Sella menggelengkan kepalanya, "Jam istirahat? Nanti kalau Kak Elvan lihat kamu berduaan sama Kak Haris gimana?"


"Kok jadi kamu yang atur, La?" tanyaku sarkas. Bukan maksudku untuk menyalahkan ucapannya, tapi aku sendiri tidak mau menyimpan terlalu lama barang yang dipinjamkan oleh orang lain.


"Terserah, Ta. Aku sih, kasih saran aja," ucap Sella sembari mengalihkan pandangan. Aku hanya mengulum bibir, dan kupastikan jaket Kak Haris akan kuberikan nanti saat jam istirahat.


***


"Kak Haris!" Panggilku dengan suara kencang, membuat koridor yang siang ini sepi menggema.


Yang dipanggil menoleh, aku menghampirinya dengan berlari kecil.


"Jaketnya, makasih," kataku seraya menyodorkan jaket itu padanya. "Maaf tadi aku main pergi gitu aja, Kak."


"Enggak apa-apa, santai aja," jawabnya sembari mengambil jaket yang aku sodorkan. "Aku duluan ya."


Lelaki itu pergi entah kemana, aku hanya tersenyum tipis memandangi kepergiannya. Setelah itu, aku melangkahkan kaki menuju mading, seperti biasa membaca puisi baru di hari Senin.


Saat tiba di depan mading, bayangan sticky note yang saat itu Elvan tempel kembali datang ke dalam pikiranku. Lelaki itu, aku belum bertemu dengannya lagi. Aku juga tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.


Ingin mengirim pesan, tapi rasanya tidak mungkin aku lakukan. Pesan satu minggu yang lalupun ia belum membalasnya. Membuatku mengurungkan niat itu, tentu saja.


Setelah semua puisi di mading kubaca, kembali ke kelas adalah jalan terbaik untuk saat ini.