
Hari ini festival musik tiba. Semua panitia sibuk mempersiapkan semuanya. Aku pun sama, pagi ini aku sudah duduk di depan gerbang sekolah dengan beberapa box yang berisikan tiket untuk dijual.
Festival memang dimulai jam sembilan, tapi untuk mereka yang ingin membeli tiket sekarang pun bisa. Apalagi mereka yang merupakan bukan siswa sekolah ini, itu sangat diperbolehkan untuk membelinya sekarang. Selain itu, mereka yang sudah membeli tiket pun bisa melihat-lihat bazar selama menunggu festival dimulai.
Aku tidak sendiri, ada Kak Lena yang duduk di sampingku. Tugasnya mencatat nama pengunjung yang membeli tiket, sedangkan aku memberikan gelang yang terdapat logo festival sebagai tanda bahwa orang tersebut sudah membeli tiket.
Aku sempat melihat Sella sibuk mempersiapkan penampilannya dengan tim paduan suara untuk penampilannya nanti. Mereka memakai baju batik berwarna cokelat dan memakai rok hitam selutut. Sedangkan aku―semua panitia―memakai baju berwarna putih dengan logo festival yang sama dengan logo gelang, serta rok abu seperti biasa.
Aku juga melihat mereka―geng Erlassca―di parkiran sedang duduk di atas motornya masing-masing. Hanya saja aku tidak melihat Elvan. Entahlah aku tidak terlalu peduli padanya. Semenjak kejadian tempo hari, aku sama sekali tidak mengobrol dengannya lagi, meskipun dia selalu mendekatiku dan mengajak ngobrol yang aku sudah tebak pasti akan menjelaskan kenapa dia masuk geng Erlassca.
Menurutku alasannya apa itu tidak penting, karena dia sudah jelas-jelas membohongiku.
Dan tentang kura-kura kecil yang ia berikan padaku, sama sekali tidak kusentuh dan tidak memberinya makan lagi. Selain aku selalu pulang sore karena ikut kumpul panitia, aku juga malas dengan apapun itu yang berhubungan dengan Elvan. Untung saja kura-kura kecil itu tidak mati, aku sempat melihat eyang yang sering memberinya makan.
Sekarang, sudah jam setengah sembilan. Beberapa ada yang sudah mulai membeli tiket. Untung saja tugas yang diberikan Kak Haris padaku tidak terlalu berat, hanya duduk manis saja di depan gerbang sembari memberikan gelang kepada pembeli tiket.
Ternyata alasan Kak Haris memilihku untuk jadi panitia adalah, aku menarik. Katanya aku bisa menarik pengunjung untuk membeli tiket. Aneh, menarik dari mana coba?
Tiba-tiba saja, pandanganku menangkap sosok lelaki yang sangat aku kenal. Elvan, dia memakai topi putih, kemeja biru, dan celana jeans selutut. Untuk pertama kalinya aku melihat Elvan dengan baju biasa, maksudku tidak memakai seragam sekolah.
Parahnya aku salah fokus. Hei, dia tampan sekali.
Elvan berjalan mendekat ke arahku dan Kak Lena. Ah, wajar saja, mungin dia ingin membeli tiket.
Saat sudah berada di hadapan kami berdua, Elvan tersenyum tipis. Ternyata benar dia ingin membeli tiket.
"Retta?" Kak Lena membangunkan lamunanku. Sial, sedari tadi aku melamun menatap Elvan. "Kasih Elvan gelang."
"Oh, iya Kak," jawabku kikuk dan mengambil satu gelang, lalu memberikannya kepada Elvan.
Cukup lama Elvan membiarkan tanganku mengapung di udara dengan masih memegang gelang untuknya. Aku kesal, tentu saja. Dia terus-terusan menatapku.
"Ini gelangnya," ucapku sedikit ketus.
Bukannya mengambil gelang yang kusodorkan, Elvan justru mengulurkan tangan kirinya padaku. "Pakein," titahnya dengan santai.
Aku mengernyit. Dia orang pertama yang ingin dipakaian gelang di lengannya.
"Tidak terima jasa memakaikan gelang," jawabku sambil mengalihkan pandangan. Elvan terkekeh pelan membuatku berdecak kesal.
Lalu aku melihat dia membisikkan sesuatu kepada Kak Lena. Setelah itu, tiba-tiba saja Elvan menarik lenganku dan berjalan menjauhi gerbang sekolah. Aku menepuk-nepuk lengannya yang masih saja menggenggam lenganku. Alih-alih memberikan penjelasan padaku, dia justru memberhentikan langkahnya lalu memelukku. Di pinggir jalan, dilihat banyak orang.
Aku meronta agar Elvan melepaskan pelukan dan menjauh dariku. Memang pada dasarnya tenaga lelaki itu kuat, mungkin. Jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Rindu, Ta," ucapnya setengah berbisik.
Akhirnya Elvan melepaskan pelukannya. Tatapan teduh yang aku rindukan, kini terlihat jelas olehku. Lekuk sabitnya yang sudah berhari-hari tidak kulihat, kini aku lihat dengan jelas.
Ah, tidak-tidak! Aku harus menjauh darinya. Segera mungkin kuberlari menuju gerbang sekolah dan duduk di tempat semula. Tidak peduli pada Elvan yang terus memanggilku dari belakang.
Bukan Elvan namanya kalau tidak tetap pada pendiriannya untuk menjelaskan sesuatu padaku. "Ta, minta waktunya sebentar."
"Ya sudah, sekarang. Di sini bisa, kan?" ketusku.
"Jangan di sini juga, Ta."
"Aku harus jag―"
"Retta boleh izin?" Elvan memotong ucapanku dengan pertanyaan yang membuat Kak Lena bingung seketika.
"Elvan?!" aku kesal, tapi dia masih saja menatap Kak Lena yang sedang kebingungan untuk menjawab.
Yang membuatku tambah kesal lagi adalah anggukan kecil dari Kak Lena. Ah, kenapa sih harus di bolehkan aku izin?!
"Kak―"
"Ayo," Elvan menarik lenganku lalu berjalan mendekati motor yang ia parkirkan di dekat pohon.
Aku tidak bisa menolak karena cengkraman tangannya kuat sekali. Saat sudah di dekat motor vespanya, Elvan menyuruhku naik. Tidak-tidak, bukan duduk di belakangnya, tapi menyuruhku untuk duduk di motor vespanya karena dia sendiri pun masih berdiri.
"Duduk, Ta," titahnya dan aku menurut duduk di motor vespanya. Ragu, takut jatuh. Tapi untungnya motor vespa itu cukup kuat untuk menampung tubuhku yang duduk dengan miring, menghadap Elvan.
"Dengerin penjelasan aku dulu," ucapnya, aku menghela napas panjang masih dengan wajah sebal.
"Pertama, aku masuk Erlassca karena abang aku yang buat geng itu tahun lalu. Devano Aryawinata, kamu tahu?"
Aku mengangguk. Lelaki yang sering membuat keributan dan membolos tahun lalu itu ternyata kakaknya Elvan? Yang membentuk geng itu? Haha, aku tidak percaya mendengarnya.
"Tapi, kan, Elvan enggak harus ikut-ikutan!" seruku gemas dan juga kesal.
"Selama aku enggak bikin keributan, baik-baik aja, kan?"
"Maaf, Ta," Elvan meraih tanganku, menggenggamnya erat.
Aku menghela napas panjang, "Iya," jawabku singkat.
Elvan tersenyum senang, ah, senyumnya!
"Terus kenapa Elvan merokok!" itu bukan pertanyaan, tetapi aku marah. Tentu saja, merokok tidak baik untuk kesehatannya.
"Pengin aja," jawabnya seperti tanpa berdosa sama sekali.
"Hah?!" aku sangat tidak percaya mendengar ucapannya.
"Enak, Ta,"
Aku lag-lagi dibuat kesal dengan jawabannya itu, "Berhenti merokok!"
"Iya nanti, kalau Elvan sudah tidak ada di bumi."
"Mulutnya!" aku menyikutnya pelan. Jawabannya itu membuatku geram bukan main.
"Geng Erlassca waktu itu mau ngapain? Sampe Kak Aldo marah-marah sama Elvan? Kak Regy juga?" tanyaku lagi, masih dengan wajah kesal tentunya.
"Tawuran."
"ELVAN KAMU TUH YA!" Aku tidak bisa untuk tidak memarahinya.
Jawabanya itu seolah-olah sepele padahal bisa berakibat fatal kalau itu terjadi. Dia bisa dikeluarkan dari sekolah.
"Elvan enggak tau akibatnya kalo ikut tawuran? Elvan bisa dikeluarin dari sekolah tahu enggak? Sebentar lagi UN juga!" aku berteriak, tidak peduli pada mereka pengunjung festival yang melihat ke arah kami berdua. Dengan posisiku yang masih duduk di motor vespa Elvan.
"Ta?" Elvan memanggilku. Wajahnya seperti menahan tawa.
"Apa!" ketusku.
"Lucu, deh. Kalo marah-marah," Elvan mengacak puncak rambutku. Bisa-bisanya dia bilang seperti itu disaat amarahku di ujung tanduk.
"Elvan, Retta serius!"
"Iya-iya. Jangan marah mulu kenapa, sih?"
Aku berdecak pelan. Lalu menadahkan tangan di hadapan Elvan.
"Minta apa?" tanyanya bingung.
"Rokok, sini!"
"Enggak bawa, Ta."
Aku mendengus lalu menyipitkan kedua mata, "Bohong!"
"Serius, lagipula jarang, kok."
"Bodo, ah!" Aku tidak lagi peduli padanya. Batu. Kepala batu!
"Elvan ajak jalan-jalan boleh?" tanyanya tanpa berdosa sama sekali.
"Enggak! Retta harus jaga tiket festival!" Tentu saja aku harus kembali menjadi panitia fastival. Kalau tidak, sia-sia aku ikut kumpul setiap pulang sekolah.
"Tahun depan, kan, masih bisa. Kalau jalan sama aku tahun depan belum tentu bisa, lho."
Aku tercekat mendengar ucapannya, "M-maksudnya?"
"Tahun depan aku sudah lulus, Retta Dwyriska."
Aku mengangguk kikuk, benar juga.
"Kemana?" tanyaku akhirnya.
"Ada, deh, kamu turun dulu," Elvan memegang tanganku untuk membantu turun dari motornya. "Kura-kura masih hidup, Ta?"
Aku terkejut, memandangi Elvan yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Bagaimana reaksinya kalau beberapa hari ini aku tidak mengurus kura-kura kecil pemberiannya itu?
"Kok, diam?"
"Ah, hidup kok," jawabku kikuk. Setidaknya jawabanku memang benar sesuai dengan faktanya.
"Ayo, naik," titah Elvan yang sudah menyalakan mesin motornya. Aku menurut saja.
Sepanjang perjalanan, Elvan tak henti-hentinya mengajakku mengobrol. Tawaku juga tak kunjung terhenti saat dia menceritakan fakta konyol tentang kakaknya, Devano. Aku sempat tidak menyangka kalau Elvan benar-benar punya kakak. Entah aku yang tidak sadar atau bagaimana, kalau dipikir-pikir wajah Kak Devano itu memang mirip dengan Elvan. Bedanya, yang kuingat Kak Devano mempunyai lesung pipit, dan tubuhnya lebih tinggi dari Elvan.