Elvaretta

Elvaretta
03. Sebuah Janji




Saat sampai di kantor, aku segera menghampiri meja Pak Heri. Sungguh, aku malas sekali untuk bertatap muka dengannya. Dengan wajah yang tersenyum paksa, aku mencoba untuk menyapanya.


"Siang, Pak?" sapaku dengan suara yang diramah-ramahkan.


Pak Heri menoleh, "Duduk, Retta."


Aku mengikuti perintahnya, duduk di hadapan Pak Heri. "Ada apa, Pak?"


"Ada apa kamu bilang? Nilai kamu paling kecil, tahu?"


"Tahu, Pak. Tahu banget."


"Nah, saya ingin kamu praktik ulang."


Aku membulatkan mata. Benar, kan, guru olahraga baru ini selalu membuat kesal. Dengan gampangnya dia menyuruhku untuk praktik ulang.


Aku mengernyit sambil menatapnya tidak suka, "Tapi Pak, saya sudah lari tujuh putaran."


"Saya suruh berapa putaran?"


"Sepuluh."


"Itu kamu tahu!"


"Tapi, Pak. Saya enggak kuat kalau praktik ulang."


"Terus mau kamu apa?"


Maunya guru olahraga diganti dengan yang lama lagi.


"Apa aja yang penting enggak disuruh lari," kataku lalu mencebik.


"Ya sudah, saya punya tugas lain untuk membuat nilaimu di atas KKM."


"Apa, Pak?" tanyaku penasaran.


"Beli dua bola basket untuk praktik kelas dua belas."


Aku terdiam sejenak, memang lebih baik membeli dua bola basket daripada berlari sepuluh putaran di lapangan.


"Siap, Pak!" jawabku semangat.


"Hari Jum'at temui saya dan pastikan dua bola basket sudah kamu beli."


"Iya, Pak. Siap!"


Setelah itu, aku beranjak dari kantor. Aku bisa bernapas lega sekarang, tentang nilai olahraga sudah aman. Hanya pergi ke toko peralatan olahraga saja lalu membeli dua bola basket.


Saat hendak kembali ke kelas, aku mendengar seseorang memanggilku dari arah belakang.


"Ta!" Aku menoleh ke asal suara itu, ternyata lelaki yang beberapa menit lalu aku temui di kantin.


"Ke kantin, yuk?" ajaknya.


"Ke kantin lagi? Memang udah bel istirahat?"


Lelaki itu mengangguk, "Sudah, baru tadi."


"Tapi Retta belum ganti baju."


"Kamu ganti baju dulu, nanti susul aku ke kantin, ya?"


"Oh... oke," terpaksa aku mengiyakan ajakannya.


"Mau di pesanin makan apa?" tanyanya lagi.


"Mi ayam, boleh?"


Lelaki itu tersenyum lebar, "Boleh."


Setelahnya aku langsung pergi ke toilet, sebelum itu mengambil baju seragam di loker terlebih dulu. Setelah selesai mengganti baju dengan seragam putih abu, aku langsung pergi ke kantin.


Saat aku ingin melewati jalan pintas menuju kantin―koridor yang selalu sepi dan gelap―tiba-tiba terdengar suara sorakan keras dan obrolan para lelaki.


Tapi yang pasti, aku tahu mereka siapa. Mereka kelas dua belas―geng Erlassca. Di mana yang isinya anak-anak nakal yang hobi bolos, ribut, tawuran, lalu pada akhirnya ada saja salah satu dari mereka yang dikeluarkan oleh pihak sekolah.


Nama gengnya itu sudah dikenal dikalangan siswa, bahkan para guru pun sudah tahu dan membencinya. Aku juga termasuk salah satu orang yang benci dengan geng Erlassca.


Anehnya lagi, geng itu sudah dibubarkan tahun lalu, tapi entah kenapa sekarang jadi muncul kembali untuk kelas dua belas angkatan sekarang.


Aku berpikir untuk putar balik saja, tidak jadi melewati jalan pintas tersebut.


Saat tiba di kantin, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Terlihat lelaki bernama Elvan itu duduk di kursi yang kemarin saat aku dan dia makan nasi goreng. Aku pun segera menghampirinya.


"Ini, Ta," lelaki itu menyodorkan satu mangkuk mi ayam di depanku.


"Makasih, Kak," kataku sambil tersenyum tipis.


"Kamu tadi habis dari mana?" lanyanya lalu memulai memakan mi ayamnya.


"Dari kantor, menemui Pak Heri."


"Ada apa?"


"Nilai praktik olahraga Retta di bawah KKM," lelaki itu terbatuk, aku segera menyodorkan satu botol air mineral untuk segera diminum olehnya.


"Nilai kamu di bawah KKM?" tanyanya lagi mengulangi ucapanku. Aku mengangguk sambil memasukan satu suap mi ayam kedalam mulut.


"Kenapa? Kok kaget gitu, Kak?"


Lelaki itu mengerutkan kening, "Aneh aja, kamu sudah lari sampai keringetan tapi masih kurang nilainya."


"Iya, Retta juga bingung," gumamku.


"Terus kamu dikasih tugas tambahan?"


Aku mengangguk, "Pak Heri suruhnya beli dua bola basket."


Aku kembali mengangguk, "Iya, Kakak tahu toko peralatan olah raga dekat sini?"


Salah sepertinya bertanya kepadanya, lelaki itu baru satu minggu pindah sekolah, bahkan dirinya itu bukan asli Bogor.


"Enggak tahu, Ta. Tapi kalau mau diantar, aku siap."


Aku langsung menggelengkan kepala, "Enggak usah, Kak."


"Oke, aku antar," lelaki itu tidak mengerti ucapanku atau bagaimana, sih?


"Kak?" panggilku tegas.


"Panggilnya Elvan saja."


Aku mengernyit, "Kenapa?"


"Lebih bagus begitu."


Aku mengangguk seraya bergumam kembali, "Elvan."


"Kamu mau lanjut kuliah?" tanyanya tiba-tiba.


"Iya, tapi kemungkinan nanti pindah ke Jakarta," jawabku apa adanya.


"Jakarta? Enggak di Bogor aja?"


"Ayah kerja di sana, kemungkinan mau kuliah di sana juga."


"Terus sekarang kamu tinggal sama siapa?" tanyanya lagi dan kembali memakan mi ayam miliknya.


"Sama Eyang dari SMP."


"Andai kamu SMP-nya di Jogja, pasti kita sudah bertemu."


"Kenapa pula harus SMP di Jogja?" Aku terkekeh mendengar ucapanya yang tidak masuk akal.


"Kalau kita lebih dulu bertemu, mungkin sudah..." lelaki itu menggantungkan ucapannya.


"Sudah apa?" tanyaku penasaran.


Dia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Enggak, Ta. Enggak jadi."


***


"Elvan bawa motor?" tanyaku pada Elvan. Jujur saja, aku masih merasa kesulitan untuk melontarkan namanya saat ini.


Elvan mengangguk, lalu memberi helm untuk dipakai olehku. Helm berwarna cokelat dan ternyata sangat pas di kepalaku.


"Iya, sekarang sudah punya SIM. Jadi aman mau ajak kamu kemana pun."


"Maksudnya?"


Elvan tersenyum tipis, "Sudah, kamu jangan bertanya terus."


Aku **** bibir. Hingga pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan dari kemarin, sekarang aku lontarkan.


"Elvan, pipi kamu itu kenapa?"


Elvan terdiam, menatapku cukup lama, "Kamu tidak perlu tahu, Ta," jawabnya lalu menyalakan mesin motor vespa berwarna hijau lumut miliknya itu.


"Naik," titahnya dan aku menurut saja.


"Retta, kamu tahu?" tanya Elvan saat motornya berhenti karena lampu merah.


"Tahu apa?"


"Kamu perempuan pertama yang duduk di motorku."


"Serius?" aku terkejut, tentu saja.


"Serius, dan kamu juga harus tahu satu hal lagi."


"Apa?"


"Aku senang bertemu denganmu di bumi."


Aku tidak bisa tidak tersenyum!


"Elvan?" Panggilku.


"Hm?"


"Pipi kamu itu luka karena apa?" aku memberanikan diri untuk bertanya hal itu lagi padanya.


Elvan terdiam, tak lama menjalankan motornya kembali karena lampu sudah berubah warna menjadi hijau. Sama sekali dia tidak menjawab pertanyaanku, lagi.


"Elvan?" aku memanggil lelaki itu kembali.


"Kenapa?"


"Elvan tahu geng Erlassca yang dibentuk kelas dua belas itu?"


"Tahu, kenapa?"


"Retta enggak suka sama mereka."


"Memangnya kenapa?"


"Mereka nakal, sering bolos dan tawuran," Elvan mengangguk setuju. "Elvan jangan gabung sama mereka, ya?"


Elvan mengerutkan alis, aku bisa melihat jelas melalui kaca spion.


"Iya, Ta."


"Janji?"


Cukup lama Elvan menjawab, tapi akhirnya, lelaki itu menganggukkan kepalanya.