
"Ta, enggak berasa ya, Senin kita UN!"
Sella, dari wajahnya terlihat bahagia. Berbeda denganku, aku merasa takut. Takut berpisah dengan teman-teman kelasku, takut berpisah dengannya―Sella. Bagaimana jadinya kalau dia benar-benar serius akan pindah ke Bandung?
Oh iya, aku lupa memberitahu. Sella, dia katanya akan lanjut kuliah di Bandung, ingin menetap di sana dengan pamannya.
Aku senang, dia sudah mempunyai tujuan, tapi aku juga belum sanggup berpisah dengannya.
Sementara aku masih bingung. Lanjut kuliah di Bogor, di Jakarta, atau jutru di Jogja. Oke lupakan opsi ketiga. Karena itu tidak mungkin.
Karena Ayah akan segera menikah dengan perempuan yang bernama Siska. Aku setuju. Setelah satu minggu wanita itu tinggal di rumah Eyang, aku semakin mengenal sosok wanita bernama Siska itu. Dia baik, lembut, dan... membuatku nyaman. Sebetulnya kalau dilihat dari wajahnya pun, itu semua sudah terlihat. Dia juga cantik setiap memakai jilbab warna apa pun.
"Kamu lanjut kuliah di mana, Ta?" tanya Sella. Aku berpikir sejenak, mencari jawaban yang pas.
"Masih di Bogor, mungkin?" itu bukan jawaban, melainkan kembali mengajukan pertanyaan. Pasalnya aku pun masih bigung.
"Oh, good luck ya," Sella memelukku. "Makasih, Ta. Udah jadi sahabatku selama hampir tiga tahun. Sudah selalu ada, kalau sudah sukes, jangan lupain aku ya?"
Aku terkekeh dengan masih memeluknya, "Iya, kamu juga," kataku. "Oh iya, Teguh mau kuliah di mana dia?"
Sella melepas pelukannya. "Dia katanya ikut kuliah di Bandung, mau merantau katanya," saat mengucapkan kalimat itu, terlihat sekali kalau Sella senang bukan main.
"Wah, enak tuh. Enggak terhalang oleh jarak jadinya," kataku, menyindir diri sendiri. Miris sekali hidupmu, Retta.
"Iya. Kamu jangan sedih terus, Ta. Aku yakin, Kak Elvan pasti balik lagi sama kamu."
Ingin sekali membenarkan hal itu, tapi... sulit.
Terlebih, lelaki itu sudah mengilang lama sekali. Tanpa memberi kabar. Padahal dia sempat kembali ke Bogor waktu itu. Sayangnya, dia hanya menemui dokter hewan. Bukan menemuiku.
Sejak pertama kali bertemu dengannya pun, aku tidak pernah bisa membaca pikirannya. Dia itu sulit ditebak, dia misterius.
***
"Retta pulang."
Kulihat Eyang sedang duduk di sofa berdua dengan wanita bernama Siska. Aku belum berani memanggil wanita itu dengan sebutan 'Ibu', karena dia pun belum menikah dengan Ayah.
Aku bersalaman kepada keduanya, setelah itu duduk di sofa dekat dengan mereka.
Sepertinya, sekarang adalah waktu yang pas untuk membicarakan bagaimana kelanjutan pendidikanku. Dimana aku akan kuliah, dan tinggal bersama siapa.
"Eyang," panggilku. "Retta nanti kuliah di Bogor atau di Jakarta?" tanyaku sedikit ragu.
Keduanya menatapku dengan tersenyum lebar, aku tidak tahu apa maksud senyuman mereka itu.
"Itu Retta yang memutuskan, Eyang setuju apapun yang akan menjadi keputusan Retta," setelah mengucapkan kalimat itu, Eyang terbatuk-batuk.
Akhir-akhir ini kesehatan Eyang menurun, apalagi di tengah malam, aku sering mendengar suara batuknya dari kamarku. Sempat mengajak Eyang untuk ke rumah sakit, tapi selalu saja ditolak. Katanya, hanya batuk biasa, nanti sembuh sendiri.
"Kuliah di Bogor aja, boleh?" tanyaku. Keduanya mengangguk sembari tersenyum.
Elvan, aku akan segera kuliah. Kamu tidak kepikiran untuk datang diacara perpisahanku nanti? Aku akan tetap di Bogor, agar saat kamu pulang, aku masih di tempat yang sama, kamu jadi tidak perlu repot-repot mencariku. Ah, lagi pula, kamu kapan pulang, sih?
***
Hari pertama UN.
Tidak terasa, perasaan baru kemarin Elvan yang menjalankan Ujian Nasional. Saat hari pertama UN, dia sempatkan datang menemuiku ke rumah langsung, dengan membawa satu cup jus melon dan secarik sticky note. Kenapa satu rahun terasa cepat sekali?
Kini, aku sudah berada tepat di depan komputer. Masih terasa deg-degan padahal satu minggu kemarin kami semua sudah mengikuti simulasi UNBK. Tapi tetap saja rasanya masih takut untuk menjawab tiap butir soal yang nantinya keluar.
"Ta, semangat!" Sella berbisik tepat di hadapanku, komputer kami saling membelakangi, tapi tetap saja hal itu tidak berpengaruh apapun. Aku harus mengerjalan soal sendiri, tentu saja.
"Kamu juga!" jawabku kembali berbisik.
Kulihat Sella tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke arah Teguh yang duduk tak jauh darinya. Lelaki itu tersenyum kepada Sella sembari mengepalkan tangannya ke udara, mengisyaratkan bahwa dia memberi semangat.
Tidak kusangka pula, Teguh menoleh ke arahku, dengan tangan yang masih dikepal di udara dan tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk dan membalasnya dengan tersenyum tipis.
***
Empat hari sudah aku mengikuti UNBK. Hari dimana perjuangan terakhirku di SMA. Semoga saja aku bisa masuk di kampus favoritku.
Sepulang dari sekolah, aku sempatkan kembali membeli jus melon di kedai langgananku. Sudah tiga hari aku tidak menyempatkan waktu untuk mampir ke kedai itu, karena setiap pulang sekolah aku langsung pulang ke rumah, mempersiapkan pelajaran yang akan diujikan keesokan harinya.
Tapi saat aku sampai di kedai, kulihat sosok lelaki yang tidak asing bagiku.
Dokter itu, berdiri tidak jauh dari poisiku saat ini. Dia terlihat seperti sedang menunggu pesanannya.
Semulanya aku ingin beranjak dari kedai, seandainya pria itu tidak menyadari keberadaanku dan memanggil namaku.
"Retta?" aku menghembuskan napas panjang, lalu menoleh ke belakang. Terlihat jelas wajahnya menampilkan senyum lebar. "Mau beli jus?"
Iya. Kalau kamu tidak di sini, Dokter.
"Sini, temani saya."
Apa dia bilang? Temani?
"Saya baru pertama kali ke kedai ini, kamu?" pria itu duduk di kursi pengunjung, terpaksa aku mengikutinya untuk duduk pula.
Lalu kulihat ibu penjual jus menghampiri kami dengan satu cup jus mangga di tangan kanannya, sepertinya pesanan pria yang sedang duduk di hadapanku ini.
"Eh, Neng Retta? Udah tiga hari enggak mampir. Jus melon seperti biasa?"
Aku menangguk seraya tersenyum lebar, "Iya, Bu. Jus melon."
Setelahnya, Ibu paruh baya itu kembali untuk membuat jus pesananku.
"Akrab banget, sering ke sini pasti," katanya lalu menyeruput jus mangganya itu.
Aku mengerlingkan mata, "Kan tadi aku bilang 'langganan', Dokter enggak tahu arti langganan itu apa?" Kataku sedikit ketus.
"Tahu, tapi biasa aja jawabnya. Jangan ketus juga," aku sama sekali tidak ingin menjawab ucapannya lagi. Entah kenapa jadi malas berbincang dengan pria itu.
"Kura-kura punyamu apa kabar?" pria itu kembali memberiku pertanyaan.
"Sehat."
"Kamu sering balas-balasan pesan dengan Elvan?"
"Kok, kepo?"
"Dari cara menjawabmu, saya tahu apa jawabnnya."
"Sok tahu."
"Memang tahu."
Aku mengernyit, "Tahu apa?"
"Elvan."
Aku refleks mendekatkan wajahku saat mendengar nama Elvan diucapkan olehnya. "Elvan? Dokter bertemu Elvan lagi? Kok enggak kasih tahu aku?" tanyaku antusias.
"Retta, wajahmu terlalu dekat dengan saya."
Baik, pintar sekali kamu Retta. Wajahmu kini dekat sekali dengan wajah Dokter itu.
Seantusias itu kamu mendengar nama Elvan?
Iya.
"Maaf," kataku malu, lalu segera menjauhkan wajahku dari hadapannya.
"Saya tidak pernah bertemu Elvan lagi sejak saat itu. Kami bertemu hanya sekali, itu pun dia hanya memberitahu kalau kamu akan datang ke klinik saya." Jelasnya, aku lemas seketika mendengar ucapannya.
"Oh," jawabku singkat. Tak lama ibu paruh baya kembali muncul dengan satu cup jus melon pesananku. "Makasih, Bu."
"Sami-sami, Neng," setelah itu, Ibu penjaga kedai kembali ke tempatnya.
Aku kembali menatap pria di hadapanku, "Tapi semalam saya sempat mendapatkan email dari Elvan," ucapnya.
Aku kembali membelalak, "Serius? Apa katanya?" tanyaku penasaran.
"Dia akan mengirim surat ke rumahmu. Katanya surat itu akan sampai hari ini."
Setelah mendengar ucapannya, lekas kuberlari pergi dari kedai menuju rumah. Tidak memperdulikan apapun kecuali surat dari Elvan.
Saat tiba di rumah, Eyang dengan wanita bernama Siska itu sedang memandang amplop berwarna hijau dengan kebingungan. Aku segera menghampiri mereka dengan napas yang masih terengah-engah.
"Itu surat untuk Retta, kan?" tanyaku. Mereka berdua mengangguk, aku segera mengambil surat itu dari tangan Eyang. "Retta mau baca dulu, makasih!"
Dengan cepat, aku segera berlari memasuki kamar, tidak memperdulikan tatapan mereka yang sangat kebingungan melihat tingkahku.
Aku duduk di depan meja belajar, dengan tas yang masih kukenakan. Perlahan kubuka amplop berwarna hijau itu, kini terlihat jelas kertas ukuran A4 yang terlipat dengan rapi. Aku pun segera membuka lalu membacanya.
*Hai, Kura-kura?
Apa kabar? Pasti baik ya?
Jangan menghawatrikanku, aku akan tetap ada di sampingmu.
Maaf aku tidak menghubungimu selama kurang lebih satu tahun, karena ponselku hilang, Ta. Aku jadi tidak bisa memberi kabar lagi karena tidak punya nomor kamu. Aku mohon, kamu jangan menangis saat membaca tulisanku ini.
Ta, tahu tidak? Ada kalanya kekuatan cinta itu diuji. Berbagai macam rintangan yang memang harus dihadapi. Tapi kamu harus tahu, semuanya akan baik-baik saja. Sama seperti kita. Kita akan baik-baik saja, Ta. Meskipun jarak yang menghalanginya.
Ta, aku dengar kamu sedang UN? Semangat ya, sayang. Maaf aku tidak bisa pulang, ada beberapa urusan yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku dengar-dengar lagi, kamu sudah bertemu dengan Dokter hewan yang bernama Danu itu, ya? Danu temanku, Ta. Dia baik, kamu boleh berteman dengannya. Tapi jangan dibawa perasaan ya. Nanti aku cemburu.
Aku sempat pulang ke Bogor, Ta. Ingin sekali menemuimu, tapi saat itu, aku lihat kamu sedang bersama Teguh. Kamu dekat dengan dia? Aku, sih, tidak masalah, tapi kamu jangan lupakan aku ya?
Dan satu lagi, aku sangat meminta maaf karena tidak datang ke acara festival musik. Maaf, katanya kamu menungguku lama ya? Aku tahu dari Danu. Dia bilang, kamu juga menangis? Ta, aku tidak suka melihat hujan di pelupuk matamu. Jangan terlalu sering menangis ya, kura-kura. Nanti aku ikut sedih.
Satu hal yang pasti, kita pasti akan bertemu kembali. Aku tidak tahu kapan hari itu tiba, semoga saja secepatnya. Ta, maaf aku tidak bisa pulang sampai lulus S1. Bunda tiba-tiba menyusulku ke Jogja dan katanya akan menetap di sini. Tapi tenang, aku akan berusaha lulus dengan cepat. Do'akan ya.
Yogyakarta.
Dari Rumah,
yang merindukan kura-kuranya*.