Elvaretta

Elvaretta
20. Ada Yang Aneh



Hari ini adalah hari keberangkatan Elvan ke Yogyakarta. Ingin sekali melihat dirinya untuk yang terakhir kali, tapi sangat disayangkan sekali hari ini aku Ujian Akhir Semester.


"Udah, Ta. Jangan dipikirin mulu, fokus UAS!" ujar Sella yang duduk di belakangku. Sama dengan sekolah lainnya, saat ujian semester di sekolahku kami duduk sendiri-sendiri.


Aku hanya tersenyum padanya seraya mengangguk, tak lama ponselku yang di simpan di kolong meja bergetar. Saat kulihat, satu pesan dari Elvan muncul di halaman utama ponselku.


Rumahku


|Aku sudah naik kereta. Kamu semangat ujiannya, kerjakan sebisanya saja, ya.


07:25


"Ta, pengawas masuk!"


Bisikkan dari Sella berhasil membuatku langsung memasukkan ponsel ke dalam tas. Saat kulihat ke depan, guru yang mengawas kelasku itu... guru olahraga alias Pak Heri.


Baik, sepertinya aku harus bersabar pagi ini.


***


Sudah satu minggu aku melaksakan Ujian Akhir Semester, dan aku sendiri merasa hidupku ini seperti ada yang hilang. Hari-hariku hampa, waktuku dihabiskan untuk melamun sembari mendengarkan playlist dari Elvan.


Namun yang pasti, komunikasi aku antara Elvan masih berjalan lancar sampai saat ini. Dia selalu mengirim pesan whatsapp yang menurutku... ah, entah aku tidak bisa mendeskripsikannya. Yang pasti dia selalu membuatku senang dengan hal-hal sederhana.


Meskipun isi pesannya itu hanya mengingatkanku untuk makan, sholat, dan belajar. Sederhana, bukan? Tapi aku suka.


"Hayo ngelamun!"


Suara Teguh mengejutkanku, sampai-sampai jus melon yang sedang kupegang hampir terjatuh. Iya, selama seminggu ini pula, sepulang sekolah aku selalu ke minimarket. Bukan untuk berbelanja, hanya saja aku rindu saat duduk berdua dengan Elvan di depan minimarket waktu itu.


Saat dia menculikku. Ah, salah. Saat dia membawaku begitu saja padahal seharusnya aku jaga tiket festival. Lucu juga kalau kembali diingat-ingat.


"Kamu, kok, bisa ada di sini?" tanyaku bingung. Teguh tanpa disuruh sudah duduk di kursi, di sampingku.


"Ya ampun, Ta. Emang gue enggak boleh duduk di sini?"


"Ya, boleh. Tapi jangan ngagetin juga!" jawabku ketus.


"Kenapa, sih, ngelamun terus? Gue perhatiin pas awal UAS lo diem aja gitu. Bukan Retta yang biasanya."


Aku juga bingung, Teguh. Aku sendiri tidak tahu kenapa hidupku menjadi seperti ini. Sebesar itu pengaruh Elvan pergi dari hidupku. "Enggak apa-apa kok."


"Bohong! Cewek kalo ngomong 'enggak apa-apa' pasti ada yang disembunyiin."


Benar, banyak sekali yang aku sembunyikan. Aku memang seperti ini, menyimpan hal apapun seorang diri. "Sok tahu, deh."


"Ta, kalo lo gini terus enggak asik, ah!" Teguh tiba-tiba mengambil jus yang aku pegang, lalu meminum jus melon itu yang aku sendiri pun belum meminumnya. "Enak banget, jus apaan, nih?"


"Teguuuh!" aku menggeram kesal. "Gak sopan ya!"


"Lucu banget, sih, kalo marah," lelaki itu kembali mengejutkanku, dia menarik pangkal hidungku pelan. "Marah aja, deh, dari pada ngelamun terus."


"Ganti!"


"Iya nanti."


"Sekarang!"


"Kemana?"


"Ganti jusnya!"


"Ya udah, ayo."


Salah rupanya meminta ganti rugi kepada seorang Teguh. Dia menarik lenganku menuju motornya lalu menyuruhku naik begitu saja. Aku mengernyit bingung dengan tingkahnya itu.


"Ayo naik, gue traktir jus yang banyakkk."


Terpaksa aku mengikuti ucapannya. Kalau tidak, pastinya dia akan tetap memaksa.


Sesampainya di kedai jus langgananku, Teguh kembali menarik lenganku untuk segera duduk di kursi pengunjung.


"Mau jus apa? Gue pesanin."


Aku masih diam, memandanginya dengan tatapan tidak percaya. Pasalnya aku takut saat memesan, Teguh tidak membayar apa yang aku pesan.


"Sekarang aku enggak haus, Teguh. Ayo pulang," aku berdiri, berancang-ancang untuk pergi.


"Eh... Ta!" kelaki itu kembali menarik lenganku. "Duduk dulu kenapa, sih?"


"Aku mau pulang. Eyang sendirian di rumah," dalihku.


"Oh, gitu. Ya udah ayo gue anter."


"Enggak perlu."


"Ta?"


Aku hanya bisa menghela napas kasar. Pasalnya lelaki itu selalu memaksa. Hampir sama seperti Elvan. Bedanya, Elvan istimewa. (Lebay)


Saat motor Teguh berhenti di depan rumah, aku segera turun dari motornya. "Makasih, aku masuk duluan."


"Tunggu, Ta!" lelaki itu memanggilku, membuat langkah kakiku terhenti saat hendak membuka pintu pagar.


Aku menoleh, dengan wajah lemas, "Apa lagi?"


"Gue pengin ketemu Eyang, boleh enggak?"


Aku terkejut bukan main saat mendengar perkataanya, "Mau ngapain?" tanyaku sembari mengerutkan alis curiga.


"Silaturahmi," jawabnya dengan senyum lebar sembari turun dari motornya.


Lelaki itu membuka pintu pagar begitu saja, lalu memasuki pekarangan rumah mendahuluiku. Sementara aku masih tertegun melihat tingkahnya. Sekarang, Teguh sedang mengetuk pintu dengan santainya. Tentu saja aku langsung menghampiri lelaki sok tahu itu.


Belum sempat aku menjauhkan tubuhnya dari dekat pintu, Eyang sudah menampakkan diri di balik pintu.


"Retta? Ayo ajak temannya masuk."


Bahuku seketika lemas. Teguh dengan bangganya memasuki rumah setelah bersalaman dengan Eyang. Menyebalkan.


"Ini siapa? Temannya Retta?" Eyang dan Teguh kini sudah duduk di sofa. Tanpa basa-basi aku langsung memasuki kamar, menyimpan tas, lalu kembali menghampiri mereka yang tengah berbincang di ruang tamu.


"Eyang ke dapur dulu, ya." Kata Eyang, aku mengangguk lalu duduk di sofa yang berjauhan dengan Teguh.


"Kamu maunya apa, sih?" tanyaku ketus, tetapi lelaki itu malah tertawa. "Apa yang lucu?"


"Enggak ada yang lucu," jawabnya dengan sisa-sisa tawa. "Btw itu kura-kura dari Kak Elvan?"


Seketika pandanganku teralih ke kotak kaca yang di dalamnya terlihat jelas kura-kura yang selalu kurawat. "Iya, kenapa? Aneh, ya?"


"Enggak, kok. Jadi Kak Elvan itu pernah tanya di grup chat, katanya yang jual kura-kura di mana."


"Terus ada yang jawab?"


Teguh mengangguk, "Banyak yang respon, gue juga jawab, lho."


"Jawab apa?"


"Di pet shop. Lo diajak beli kura-kura itu di mana?"


"Pet shop, mungkin," jawabku tak acuh sembari mengedikkan bahu.


"Oh, berarti jawaban gue ada manfaatnya."


"Geer!" kataku lalu mencebik.


"Terserah lo, deh," Teguh menyandarkan tubuhnya. "Senin gue jemput ya?"


Aku membelalak, "Hah?"


"Kak Elvan, kan, udah enggak bisa barengan lagi berangkatnya sama lo. Jadi sebagai gantinya, gue yang akan jemput lo setiap hari."


Tentu aku langsung menggelengkan kepala. Mau bagaimana pun, aku tidak mau merepotkannya. Sudah cukup naik angkot saja pulang pergi sekolah.


"Enggak usah, Guh. Aku udah biasa naik angkot," jawabku tegas.


"Meskipun lo nolak, gue akan terus jemput lo setiap pagi, Retta Dwyriska."