
Elvan mengantarku pulang sampai depan rumah. Sudut bibirnya masih terangkat ke atas meskipun luka lebam dari beberapa hari yang lalu masih terlihat jelas.
Dia membukakan helm yang kupakai. Lekas turun dari motor lalu berdiri di hadapanku―mengacak-acak rambutku.
"Sudah sore, pulang Elvan," ucapku seraya merapikan rambutnya meskipun harus dengan cara berjinjit karena tubuhnya yang terlampau tinggi.
"Jangan menangis lagi, nanti aku kirimkan playlist melalui whatsapp ya," ucapnya dengan senyum lebar yang masih menempel di wajahnya.
Aku mengangguk, "Jangan merokok!"
Dia tertawa, membuat kedua matanya sedikit menghilang, "Iya, lagi pula jarang, kok. Paling kalau lagi banyak pikiran aja."
"Nah, itu juga enggak boleh, Elvan. Hapus rokok dipikiran kamu, ganti dengan namaku."
"Wah," Elvan tertawa lagi. "Kura-kura hobi gombal ya sekarang."
Kalau ada cermin, pasti pipiku sudah terlihat memerah sekarang.
"Sudah, pulang sana!" Aku mendorong tubuhnya untuk segera menaiki motor.
"Maaf ya dengan sifat teman-temanku. Baik Aldo maupun Agi," ucapnya seraya memakai helm.
"Agi? Yang―"
"Iya, kurang ajar. Aku aja belum pernah sentuh-sentuh bibir kamu."
"Pulang-pulang!" aku memukul bahunya pelan, sementara dia kembali terkekeh.
***
Hari ini Elvan Ujian Nasional. Tadi pagi dia sempat menemuiku dengan langsung datang ke rumah. Dia juga memberiku jus melon dengan secarik sticky note yang menempel di cup jus melon itu. Di sana tertulis:
Dihabiskan, ya.
-Dariku, hari pertama UN.
Sederhananya dia menurutku itu istimewa. Mungkin hanya jus melon, tapi menurutku itu bukan hanya jus melon biasa. Rasa perhatian yang ia berikan padaku begitu istimewa.
Sudah sore dan kegiatanku hanya memandangi kura-kura sembari sesekali memberinya makan, kedua telingaku disumpal dengan earphone―mendengarkan playlist yang dikirim Elvan melalui whatsapp dan langsung tersambung ke spotify.
Ternyata banyak sekali daftar lagu yang disukai Elvan. Aku memutarnya random, dan lagu yang kini aku dengarkan berjudul Like To Be You, dinyanyikan oleh Shawn Mendes.
Drttt... drttt... drttt...
Lagu yang kudengarkan seketika terhenti karena ponselku bergetar menandakan ada notifikasi masuk. Ternyata pesan whatsapp dari Elvan, aku tersenyum melihat pesan yang ia kirimkan.
Rumahku
|Hai! 🐢
16:59
Hai!|
Bagaimana? Lancar UN-nya?|
17:00
Rumahku
|Lancar, karena ada kamu yang memberi semangat.
|Satu minggu ke depan, aku enggak bisa lihat wajah kamu dulu.
Aku mengernyit saat melihat pesan kedua yang dikirimkan Elvan.
Maksudnya apa?|
17:03
Rumahku
|Kata bunda, aku harus fokus Ujian.
|Maaf ya.
17:05
Aku mengerti.|
17:06
Aku menutup ponsel, melepas earphone lalu menatap kura-kura yang ada di kotak kaca, "Ayahmu sibuk, berat badan kamu jangan turun, ya. Nanti ayahmu bilang kamu kurusan lagi. Oke?"
"Bicara sama siapa, Ta?"
"Eyang!"
Aku terkejut bukan main saat Eyang membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dulu. Lekas kutaruh kotak kaca itu di atas nakas.
"Ada apa?" tanyaku sembari berjalan menghampiri Eyang.
"Ayahmu pulang, kamu temui di ruang tengah, ya."
Aku terdiam beberapa saat. "Oh... oke," sembari berlalu menuju ruang tengah.
Kulihat Ayah sedang duduk di sofa, dengan kemeja biru muda dan celana hitam seperti seragam biasanya bekerja. Dasinya sudah tidak terlihat rapi lagi, kaca matanya sudah ia lepas dan ditaruh di atas meja.
"Ayah?" panggilku pelan, berjalan dengan ragu mendekatinya.
Ayah menatapku, senyumnya mengembang lalu menepuk sofa beberapa kali mengisyaratkanku untuk duduk di sampingnya. Aku menurut, berjalan dengan kikuk.
"Retta apa kabar?" tanya Ayah saat aku sudah duduk di sampingnya. "Bagaimana sekolahnya?"
Aku tersenyum tipis, "Kabar Retta baik, Yah. Sekolah juga lancar."
"Bagus. Kamu kelas berapa sekarang?"
Aku terdiam sesaat. Iya, sesibuk itu dirinya sampai lupa aku ini sekarang kelas berapa. Kalau dibandingkan dengan Ibu, Ayah berbeda sekali sifatnya. Ibu selalu ada di sampingku dan selalu merawatku dengan penuh kasih sayang. Tidak seperti Ayah, hanya sibuk dengan pekerjaannya sejak dulu sampai sekarang.
Aku tahu dia bekerja untuk keluarga, tapi gara-gara pekerjaanya itu Ibu pergi.
Sempat saat aku masih Sekolah Dasar, perusahaan Ayah dulu bekerja bangkrut dan membuat Ayah depresi bukan main saat itu.
Sampai suatu ketika Ayah pulang ke rumah dengan keadaan mabuk. Aku benci sekali keadaan saat-saat itu. Ibu menangis, mereka bertengkar hebat di depanku.
Setelahnya, Ibu terkena serangan jantung, saat sudah dibawa ke rumah sakit, kata Dokter Ibu sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Jangan tanya bagaimana kondisiku waktu itu. Aku menangis setiap hari, aku rapuh. Finalnya Eyang yang menghiburku, menenangkanku dan akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di rumah Eyang, di Bogor sampai sekarang.
"Kelas sebelas, Yah," jawabku sembari mengalihkan pandangan. "Ayah apa kabar?"
"Baik, kok. Besok kamu sekolah?"
"Libur, kelas dua belas UN, kenapa?"
"Ayah pengin ajak kamu bertemu Tante Siska."
Aku menoleh, menatap Ayah yang kini sedang tersenyum. "Siapa?" tanyaku serius.
"Sepertinya calon ibu kamu."
Aku tercekat, menatap Ayah dengan tatapan tidak percaya. Dengan santainya ia berbicara seperti itu?
Aku segera berlari memasuki kamar, kulihat Eyang berdiri di depan pintu kamarnya. Aku tidak mengidahkannya dan langsung menutup pintu kamar dengan kencang.
Kuhempaskan tubuhku di atas kasur, menutup wajah dengan bantal lalu menangis sejadi-jadinya. Ucapan Ayah barusan membuatku kembali teringat dengan Ibu. Kenapa nada suaranya saat berbicara sama sekali tidak ada rasa ragu? Sebegitu cepatnya Ayah melupakan Ibu? Semudah itu mencari sosok pengganti Ibu?
Tok... tok... tok...
Kudengar pintu kamar ada yang mengetuk dari luar, aku tetap dengan posisi yang sama, menutup wajahku dengan bantal.
"Eyang masuk ya, Ta," ternyata Eyang. Aku mendengar pintu terbuka dan setelahnya Eyang duduk di sampingku, di pinggir kasur.
"Di dunia ini, tidak ada yang abadi, sayang," kata eyang seraya mengelus rambutku. "Kamu harus bisa menerima keadaan."
Aku merubah posisi menjadi duduk, dengan mataku yang kini sudah sembap, "Maksudnya apa, Eyang?" tanyaku bingung.
"Eyang suatu saat nanti akan pergi. Tidak bisa merawat Retta lagi, tidak bisa membuatkan donat cokelat kesukaan Retta seperti biasanya."
Aku terdiam, memandang Eyang dengan sendu.
"Mungkin sekarang kamu belum siap, tapi enggak ada salahnya bertemu dengan―"
"Eyang," aku memotong ucapannya. "Retta enggak mau hal itu terjadi!"
"Bertemu dulu," ucapnya seraya memelukku. "Ayahmu pasti bisa menentukan yang terbaik."