
Sudah satu bulan Elvan pergi. Sudah satu bulan pula Elvan tidak memberi kabar padaku. Pesan yang kukirim dua hari yang lalu pun belum ia baca.
Banyak yang berubah dalam hidupku. Semenjak kepergiannya, Teguh menjadi selalu ada di sampingku. Maksudku, dia selalu menjemput dan mengantarku pulang. Begitu saja siklusnya satu bulan ini.
Aku bingung, harus tetap di siklus itu atau justru menjauh darinya. Sudah beberapa kali aku menolak dijemput atau di antar pulang olehnya, tapi lelaki itu terlalu keras kepala. Bahkan kalau dibandingkan dengan Elvan, Teguh lebihhh keras kepala. Ah, sudah. Kenapa pula harus membandingkan Teguh dengan Elvan? Sudah jelas mereka berdua berbeda.
Selain itu, sahabatku juga sikapnya berubah. Sella, dia seperti menjauhiku. Aku tidak tahu letak kesalahanku dimana, yang pasti saat aku mengajaknya mengobrol, dia selalu tak acuh.
Yang lebih parah lagi, dia pindah tempat duduk. Pindah ke barisan belakang bersama Alisha. Aku tidak percaya kalau Sella akan benar-benar menjauhiku, bahkan aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Beberapa kali aku mencoba meminta penjelasan tentang sikapnya yang berubah padaku, tapi dia selalu tidak menjawab. Seolah-olah tidak mendengarkan apa yang aku katakan.
"La, aku salah apa? Bilang," kataku tapat berdiri di samping Sella. Tapi perempuan itu masih saja melanjutkan aktivitasnya membaca buku paket, tanpa sedikit pun melihat ke arahku.
"Sella, mau sampai kapan kamu kayak gini?" aku semakin geram. Tentu saja, aku tidak mau kehilangan seorang sahabat.
Sudah cukup lelaki bernama Elvan saja yang pergi. Jangan ditambah lagi.
"Sella?" panggilku tegas. Akhirnya, Sella mendongak, melihat ke arahku. "Aku salah apa? Bilang, nanti aku perbaiki di mana letak kesalahannya."
Sella berdiri, lekas menarik lenganku keluar dari kelas. Aku masih bungkam, membiarkan Sella menggenggam lenganku meskipun cengkramannya cukup erat.
Ternyata, Sella membawaku ke toilet. Lalu ia melepaskan lenganku begitu saja. Dia menatapku, aku tidak tahu apa arti tatapannya itu.
"Aku cemburu, Ta."
Aku geming. Tidak kusangka Sella akan mengucapkan kalimat itu. Dua detik kemudian otakku berpikir keras, apa maksud 'cemburu' itu, dan... dia cemburu kepada siapa?
"Aku suka Teguh."
Aku membelalak. Kedua kalinya aku tidak menyangka kalau Sella akan berkata seperti itu. Oke, sekarang aku tahu di mana letak kesalahanku. Sella menyukai Teguh, dan dia mungkin tidak suka saat aku berdekatan dengan Teguh.
"Kamu harusnya bilang sejak awal, mungkin aku akan segera menjauh dari Teguh. Tanpa harus kamu menjauhi aku, La," ucapku dengan masih menatap netranya.
"Jangan menjauh, aku enggak punya sahabat lain selain kamu, La," imbuhku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Maaf, aku enggak tahu kalau kamu itu suka sama Teguh. Mulai besok aku akan menjauh dari Teguh, kalau itu memang kemauan kamu."
Sella tiba-tiba memelukku. Aku mendengar isaknya, dia menangis sembari berkata dengan suara yang gemetar. "Maafin aku, Ta. Aku seharusnya enggak menjauh dari kamu. Maaf..."
Aku menepuk punggungnya pelan, menghela napas panjang sembari tersenyum getir. "Iya, enggak apa-apa. Kalau kamu suka dia, perjuangkan."
Sella melepas pelukannya, "Bantu aku, Ta."
"B-bantu apa? Bilang, nanti aku bantu semampuku," jawabku sembari tersenyum tipis.
"Mendapatkan teguh," kata Sella dengan mata berbinar, melihatnya seperti itu, aku menjadi ikut senang. Mungkin Sella sudah tidak akan menjauh dariku lagi.
***
"Ayo pulang."
Seperti hari-hari biasanya, Teguh mengajakku pulang bersama. Tapi hari ini aku menolaknya karena harus menjaga perasaan Sella.
"Aku mau pulang sendiri aja, Guh," jawabku. Tentu saja aku ingat kalau Sella menyukai Teguh.
"Eh, kenapa? Kan, lo udah biasa pulang bareng gue?"
"Mau pulang naik angkot aja. Aku duluan, Guh," aku pergi meninggalkan kelas. Semoga saja Sella berhasil mengajak Teguh untuk mengantarnya pulang.
Sudah lama rasanya tidak naik angkot. Bayangan Elvan yang pertama kali naik angkot denganku kembali teringat. Saat itu terlihat sekali wajahnya kepanasan, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. Tapi dia masih bisa saja menampilkan senyumnya. Bahkan saat wajahnya penuh luka lebam sekali pun.
Elvan, aku rindu.
Semesta, kalau aku diperbolehkan untuk bertemu Elvan saat ini, aku ingin sekali hal itu terjadi. Lelaki itu sedang apa ya di kota Jogja? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kuliahnya? Dia tidak merokok lagi, kan? Kenapa pesan dariku tak kunjung dibalas olehnya?
"Kiri!" ucapanku menginterupsi sopir angkot itu. Entah kenapa aku mengucapkan kata itu, bahkan angkot yang kini aku naiki belum sampai di depan gang kompleks perumahanku.
Langkah kakiku memaksa untuk turun dari angkot, setelah membayar ongkos, aku melihat-lihat sekitar. Ternyata aku turun tepat di depan gang kompleks perumahan Elvan. Aku bingung, kenapa tiba-tiba aku ingin turun di sini?
Tanpa rasa cemas, aku melangkah masuk ke dalam area kompleks. Tentu, aku masih ingat betul arah jalan menuju rumah Elvan. Tidak jauh, hanya berjalan beberapa meter saja.
Semoga saja Bunda Elvan sudah pulang kerja, karena saat ini sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku ingin berbincang dengannya, setidaknya menanyakan kabarnya dan kabar anaknya yang bernama Elvan.
Tapi, andai saja aku mengurungkan niat untuk menemui Bunda, pastinya hatiku tidak akan sesakit ini.
Di depan pagar hitam rumah Elvan, dari tempatku berdiri saat ini terlihat spanduk besar bertuliskan: Rumah ini akan dijual.
Tubuhku lemas seketika. Aku berjalan mendekat ke arah spanduk itu, memastikan kalau spanduk itu tidak benar. Tapi mau bagaimana pun, spanduk itu benar-benar nyata. Rumah Elvan akan dijual, bahkan di paling bawah spanduk itu terdapat nomor ponsel yang harus dihubungi apabila ingin membeli rumah itu.
Aku terduduk lemas, memeluk lututku sembari menangis sejadi-jadinya. Lalu kembali teringat ucapan Elvan saat itu: "Elvan pasti kembali, Ta. Selama kamu dan Bunda masih di Bogor. Itu yang akan menjadi alasan Elvan pulang, karena kalian dua perempuan yang Elvan sayang."
Sekarang apa? Bundanya sudah dipastikan tidak tinggal di Bogor lagi. Kemungkinan besar Elvan tidak akan kembali. Tidak akan pulang. Tidak akan bertemu denganku lagi.
Semesta? Kenapa rumit sekali kisahku dengan Elvan? Kukira kisah cinta yang akan kualami di masa SMA akan sama seperti kisah-kisah di dalam novel yang kemungkinan happy ending. Tapi kenapa kisahku dengan Elvan serumit ini? Kenapa harus terlampau dengan jarak? Kenapa Elvan harus pergi?
Dan kenapa saat aku menangis selalu saja hujan turun dengan deras?!
Seragamku basah, tubuhku kedinginan. Kenapa kota Bogor hobi sekali turun hujan saat sore hari? Kenapa pula air hujan harus turun dengan deras disaat aku sedang menangis?
Elvan pulang...