
Aku pulang dengan seragam yang sudah basah kuyup, rambut yang acak-acakan, sepatu kotor penuh lumpur, dan mata yang sembab. Eyang yang melihat keadaanku tidak enak untuk dipandang pun mengernyit bingung.
"Retta? Kenapa hujan-hujanan?" Eyang bertanya. Aku hanya menggelengkan kepala sembari berlalu begitu saja memasuki rumah dengan tatapan kosong lurus ke depan.
Untuk saat ini, aku hanya ingin sendiri. Bertengkar dengan diriku sendiri. Sampai nanti saatnya memaafkan diriku sendiri.
Aku pusing, memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan oleh remaja seusiaku. Seharusnya, aku sama seperti remaja di luar sana. Mempunyai kasih sayang dari kedua orang tua, fokus belajar, dan berkumpul dengan keluarga. Aku rindu saat masa-masa Sekolah Dasar, rindu keluarga kecilku yang hangat.
Aku ingin berbagi cerita dengan kedua orang tuaku. Disaat sedih, ada mereka yang menenangkan tanpa harus diminta. Disaat sedang mempunyai masalah, ada mereka yang memberi solusi.
Bukannya aku tidak menghargai keberadaan Eyang. Tapi... aku tidak mau menambah beban di hidupnya. Sudah cukup lama dia merawatku di umurnya yang bisa dikatakan tidak muda lagi. Aku tidak mau berbagi cerita padanya hanya karena kisah asmara yang aku alami.
***
"Lo kenapa ngejauh gitu, sih?" Teguh bertanya.
Mungkin, dia menyadari kalau aku akhir-akhir ini memang menjauh darinya. Bukan bermaksud benar-benar menjauhinya, hanya saja aku harus menjaga jarak. Memberi jalan untuk Sella mendekatinya. Tapi yang kulihat sejauh ini, lelaki itu seperti belum menyadari perasaan Sella.
"Aku enggak menjauh, Teguh. Mau fokus untuk pelajaran nanti kelas dua belas, itu aja," dalihku.
"Alasan. Gue, kan, gak pernah gangguin lo. Cuma jemput sama pulang bareng sekolah doang. Emang ada sangkut pautnya sama pelajaran?"
Sekak. Aku tidak bisa menjawab.
"Hari ini mau pulang bareng gue, enggak?" Tanyanya lagi. Aku langsung menggelengkan kepala, lalu menatap Sella yang masih di dalam kelas sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Enggak," jawabku lalu melangkah pergi. Tapi nyatanya, teguh mengejarku.
"Retta, jelasin dulu kenapa, sih!" sentak Teguh saat kami berada di koridor yang sudah sepi. Aku berhenti melangkah, lalu memutar tubuh menghadap ke arahnya. "Jelasin, please."
"Sella suka kamu, Teguh. Kamu enggak merasa sikap dia ke kamu berubah?" kelasku lalu mengulum bibir. Dia melangkah mendekat ke arahku.
Aku terdiam, dia pun sama. Kami saling menatap dalam diam. Lalu lelaki itu meraih kedua tanganku, "Gue suka sama lo. Lo enggak ngerasa sikap gue berubah?"
Aku geming. Lidahku kelu untuk berucap. Bukan seperti ini jalan ceritanya. Ah! Kenapa pula Teguh berbicara seperti itu?!
"Guh―"
"Apa? Kak Elvan? Lo masih berharap sama dia?"
Aku menunduk, mataku terasa memanas seketika.
"Iya, aku yakin dia pasti kembali. Seperti apa yang kamu bilang, dia pasti pulang, kan? Iya, kan, Teguh?"
Teguh diam, masih dengan menatapku.
"Ta?" panggilnya.
Aku bisa melihat di belakang Teguh, Sella berjalan ke arah kami. Aku segera melepas tangan lelaki itu yang menggenggam tanganku. Lalu berlari meniggalkan koridor, berlari meninggalkan mereka.
Pikiranku berantakan. Aku tidak menyangka kalau Teguh menyimpan perasaan. Kenapa harus padaku? Kenapa tidak kepada Sella saja? Semesta, apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya?
***
"Eyang! Kura-kura kenapa enggak gerak-gerak lagi?" aku berteriak kencang saat melihat kura-kura di dalam kotak kaca itu tidak bergerak sedikit pun.
Segera kuberlari keluar rumah dengan seragam dan tas sekolah yang masih aku kenakan, menuju klinik hewan di depan gang kompleks perumahanku. Sepanjang perjalanan aku berdo'a agar kura-kura ini tidak kenapa-kenapa.
Kring!
Pintu klinik kubuka dengan kencang sampai bel pintu klinik tersebut terdengar dengan nyaring. Tanpa rasa malu ditatap oleh orang-orang yang sedang duduk dengan binatang peliharaannya masing-masing, aku langsung berlari mendekat ke petugas klinik.
Sampai akhirnya, petugas menyuruhku untuk menunggu beberapa menit sampai dipanggil oleh sang Dokter hewan.
Cukup lama, aku kesal sendiri melihat antriannya. Tak kunjung dipanggil, aku menjadi semakin gelisah. Kura-kura yang kulihat dia tidak kunjung bergerak.
Akhirnya, setelah setengah jam aku menunggu, aku dipanggil untuk masuk ke dalam ruang Dokter hewan.
"Kura-kuranya punya kamu?" tanya Dokter itu, aku mengangguk. "Tidak kenapa-kenapa, hanya sedang tertidur."
Aku membelalak sekaligus menahan malu, "Serius, Dok?" tanyaku sembari tersenyum kecut.
"Iya, kamu jangan terlalu khawatir. Rajin diberi makan dan setiap hari dijemur dua kali, kura-kura kamu akan tetap sehat."
Aku menghela napas lega, "Terima kasih, Dok. Saya permisi," ucapku sembari berancang-ancang untuk pergi. Tapi saat aku hendak berdiri, dokter muda itu memanggilku.
"Retta Dwyriska?"
Tunggu, kok dia tahu namaku lengkapku?
"Duduk dulu, saya ingin bicara," ucapnya seraya tersenyum lebar. Aku menurut, kembali duduk sembari menaruh kembali kotak kaca ke atas meja.
"Kenapa, Dok?" tanyaku penasaran.
"Elvan." Satu kata yang dokter itu ucapkan sukses membuatku kembali membelalak.
Nama itu, kenapa dia menyebutkan nama lelaki itu?!
"H-hah?" aku masih belum tersadar betul kalau Dokter itu benar-benar menyebutkan nama Elvan begitu saja. Ada maksud apa dia?
"Saya percaya kalau kamu suatu saat akan ke sini, dan ternyata benar," katanya. "Elvan juga pernah bilang begitu kepada saya."
"Elvan?!"
Elvan ke Bogor? Kok tidak memberitahu? Kenapa tidak menemuiku? Padahal jarak rumah dengan klinik hewan ini lumayan dekat.
"Iya, Senin lalu dia menemui saya. Katanya, 'nanti akan ada perempuan yang membawa kura-kura datang ke sini, Sorot mata dan senyumnya indah, namanya Retta Dwyriska'."
Aku geming, tubuhku memang ada di sini, tapi pikiranku menjalar ke mana-mana.
"Kamu pacarnya?" tanyanya lagi. Aku terdiam beberapa saat sembari mengalihkan pandangan. Aku bingung harus menjawab apa, apakah Elvan boleh disebut pacar?
"Sepertinya iya," gumamnya. "Sekarang kamu boleh keluar, Retta. Giliran pasien selanjutya."
Tanpa basa-basi, aku langsung keluar dari ruangan itu. Aku malu, sangat.
Elvan, kamu maunya apa, sih!