Elvaretta

Elvaretta
18. Menghilang



Ada yang berubah dari Elvan. Dia menjauh. Semakin menjauh. Aku pun tidak tahu alasannya apa, yang pasti saat kami saling bertatap mata atau bertemu secara tidak sengaja, dia bersikap seolah-olah tidak mengenaliku.


Sudah tiga minggu kami seperti itu. Dia diam, aku pun diam. Tidak pernah menyapa ataupun saling melempar senyum. Seperti kami berdua itu tidak pernah saling kenal. Asing.


Disaat aku ingin menyapanya, ia sudah berlalu begitu saja. Tidak memberiku kesempatan untuk mengajaknya berbincang. Kupikir seorang Elvan tidak akan mendekati kalau akhirnya pergi. Nyatanya, dia sama saja seperti lelaki masa kini. Mengucapkan janji, lalu akhirnya mengingkari.


Entah, aku belum yakin kalau dia benar-benar mengingkari janjinya. Bahkan dia sendiri yang bilang padaku kalau 'kura-kura tidak boleh meninggalkan rumahnya'.


Acara perpisahan kelas dua belas semakin mendekat. Elvan akan segera lulus, akan pergi meninggalkan kota Bogor, meninggalkanku. Ralat, bahkan dia pergi dari tiga minggu yang lalu. Sosoknya memang masih ada, tapi sosok Elvan yang biasanya sudah tidak ada.


Dia yang sering memberiku hal sederhana, kini hanya meninggalkan luka. Menyesal memaafkan begitu saja saat aku mengetahui kalau dia gabung dengan geng Erlassca. Seharusnya kutinggalkan saja Elvan saat itu. Retta bodoh.


Yang sering kulakukan akhir-akhir ini adalah melamun sembari mendengarkan playlist dari spotify, yang dikirim olehnya saat itu. Memutarnya random karena menurutku semua lagu yang terdapat di playlist itu asing di telingaku. Dan yang kulihat, kebanyakan lagu yang dinyanyikan oleh Shawn Mendes. Entahlah, mungkin dia adalah sosok yang diidolakan Elvan.


Yang kudengarkan saat ini berjudul Show You, masih dinyanyikan oleh Shawn Mendes. Liriknya mengalun, membuatku berpikir keras tentang arti dari lagu tersebut.


***


"Dia masih suka ikut kumpul sama geng Erlassca?" tanyaku pada Teguh. Kami sedang berada di depan minimarket, duduk berdua karena aku yang mengajaknya. Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin mengetahui keadaan Elvan saja. Tidak lebih.


"Suka tapi jarang, eh gimana ya jelasinnya," jawab Teguh sembari menggaruk kepalanya, mulutnya seperti sulit untuk berkata.


"Guh?" panggilku serius. "Dia menjauh," imbuhku lalu menundukan kepala.


"H-hah?" Teguh terkejut dengan ucapanku. "Gimana-gimana?"


Aku menatapnya, menghela napas panjang dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "Aku enggak tau alasan dia menjauh itu apa, Guh."


Aku menyeka air mata yang terus jatuh tanpa diminta, "Selama itu? Bahkan sekarang satu minggu lagi acara perpisahan, Teguh."


"Ta, kalau dia serius sama lo, pasti balik lagi, kok," Teguh menepuk-nepuk bahuku pelan. "Orang pernah bilang, ikan yang ada di laut, sama sayuran yang ada di kebun aja bisa ketemu di warteg. Nah, gue yakin Kak Elvan sama lo pasti disatuin lagi, dimanapun itu. Sejauh apapun itu, Ta."


Seketika aku terkekeh mendengar ucapannya, "Kalau kita enggak dipertemukan lagi, gimana?"


"Ya, berarti belum jodoh," Teguh meminum es teh lalu kembali berbicara. "Mungkin dia bukan yang terbaik buat lo. Semesta tahu apa yang terbaik buat lo, Ta. Percaya sama gue."


Aku tersenyum getir, "Huh, dasar Teguh Mario," ejekku.


"Senyum, Ta. Kak Elvan pernah bilang sama gue, hal yang sangat dia suka itu senyum di wajah lo," katanya. "Nih ya, kalau kita lagi pada ngumpul, Kak Elvan selalu cerita tentang lo. Padahal kita semua enggak ada yang tanya, seolah-olah dia lagi curhat aja gitu. Anehnya lagi, kita semua tertarik apapun yang Kak Elvan ceritain. Meskipun itu tentang lo."


Aku tersenyum, "Masa?"


"Gak percaya?"


"Kalian gosip, ya?!"


Teguh langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak-enggak. Maksud gue, lo jadi topik pembicaraan terus."


Aku mengangguk mengerti, "Makasih Teguh atas waktunya."


"Lo mau pulang?" tanyanya. Aku mengangguk. "Bareng kuy?"


Rasanya ingin menolak ajakannya, tapi tidak bisa. Akhirnya aku mengangguk, lalu menaiki motornya.