Elvaretta

Elvaretta
23. Keinginan



"Ta, aku jadian sama Teguh!"


Sudah tiga bulan aku melihat Sella mendekati lelaki bernama Teguh itu. Aku senang, kalau sahabatku senang. Dan saat dia mengucapkan kalimat itu, aku sedikit... ah, aku iri, semesta. Kenapa kisahku tidak semulus kisah Sella dengan Teguh?


"Wah, selamat ya," ucapku seraya tersenyum.


"Kamu gimana kabarnya sama Kak Elvan, Ta?"


Elvan? Seharusnya tidak kutulis lagi namanya di dalam Bab ini. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Lelaki itu sudah menghilang, pergi begitu saja. Tanpa jejak, tanpa kabar.


Andai aku mempunyai sayap, ingin sekali aku terbang mengunjungi kota Jogja. Aku ingin bertemu dengannya, ingin melihat lekuk sabitnya yang aku suka, ingin mendengar suara serak basahnya yang aku rindukan.


Kalau kamu ingin tahu, whatsapp-nya sudah tidak aktif lagi. Beberapa kali aku telepon, beberapa kali pula aku mengirim pesan kepadanya, namun semuanya sia-sia. Aku tidak tahu ada masalah apa dengan ponselnya. Apakah sesibuk itu dia kuliah?


Dan andai aku mempunyai mesin waktu, aku ingin mempercepat satu tahun agar aku segera lulus SMA. Aku ingin kuliah di sana, di kampus yang sama dengannya. Agar kami tidak dipisahkan lagi oleh jarak.


"Hei, melamun!" Sella menepuk bahuku. "Kalau jodoh, pasti kembali, Ta."


Aku tersenyum, mencoba menampilkan raut wajah yang terlihat baik-baik saja.


"Jodoh?" aku bergumam sembari tertawa tanpa suara. "Kamu seyakin apa kalau aku jodoh dengan dia?"


"Ta, jodoh, rezeki dan mati itu enggak ada yang tahu," katanya. Aku hanya bisa tersenyum getir saja.


***


Setiap pulang sekolah, aku selalu menyempatkan untuk membeli jus melon langgananku. Hanya untuk kembali mengingat kebersamaan aku dengan Elvan. Sedang apa ya dia sekarang?


"Jus melon biasa?" tanya ibu penjual jus itu. Sepertinya dia sudah sering melihat wajahku, atau mungkin bosan melihatku yang selalu membeli jus melon.


"Iya, Bu," jawabku sembari tersenyum tipis.


Tidak lama, jus pesananku sudah siap. Setelah membayar, aku biasanya akan pergi ke minimarket. Duduk sendiri sembari membayangkan Elvan berada di sampingku. Hanya seperti itu setiap pulang sekolah. Meskipun di kedai jus tersedia tempat duduk, aku tetap memilih duduk di depan minimarket.


"Hoi!"


Kedua kalinya Teguh mengejutkanku. Sepertinya lelaki itu hobi sekali membuatku jantungan.


"Teguh!"


"Melamun mulu, lo. Masih mikirin Kak Elvan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Mau sampai kapan nunggu yang enggak pasti, Ta?"


"Kamu jangan tanya lagi, Guh. Aku akan terus nunggu dia sampai pulang," jawabanku itu sangat bodoh, bukan? Menunggu yang tidak pasti, menunggu yang sangat-sangat tidak pasti. Retta bodoh.


"Buka mata lo, Retta. Masih banyak cowok yang mungkin mau sama lo. Kalau lo nerima gue, mungkin gue bisa aja putusin Sella."


"Teguh!" aku membentaknya. "Kamu pulang, deh. Jangan ganggu aku. Kamu udah jadi pacar Sella, nanti kalau dia lihat kamu duduk di sini gimana?"


"Iya, dah. Gue pulang. Lo jangan melamun mulu, minum jusnya."


Aku mendelik, mendorong tubuhnya agar segera bangkit lalu pergi dari hadapanku.


***


Kura-kura, gantungan kunci kura-kura, boneka kura-kura, serta dua stickynote yang Elvan berikan padaku, berhasil membuatku rindu.


Playlist-nya sudah selesai kudengar semua. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain mendengar playlist kesukaannya.


Semua lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Shawn Mendes, entah kenapa aku jadi suka dengan artis yang satu itu. Pantas saja Elvan menyukai karya-karyanya, semua lagunya enak didengar.


Aku sempat searching di internet, Shawn Mendes ternyata sering mengadakan tour keliling dunia atau yang biasa disebut konser. Sesekali aku membayangkan menonton konser dengan Elvan berdua, menghabiskan waktu dengannya. Oke, itu sangat sulit untuk menjadi kenyataan.


Tapi apa salahnya menjadi wishlist bukan? Bisa saja nanti aku bisa menonton konser Shawn Mendes berdua dengan Elvan.


Hehehe.