
"La, geng Erlassca itu sepertinya akan membuat keributan lagi," kataku pada Sella.
"Hah, masa? Kamu tahu dari mana?" Sella terkejut, pasalnya Sella juga termasuk orang yang membenci geng Erlassca itu.
"Tadi di kantin aku duduk bareng teman-teman sekelas Elvan, mereka itu anggota geng Erlassca, sepertinya ada yang mereka rencanakan nanti sepulang sekolah," jelasku. Tapi Sella seperti kelihatan gugup, atau lebih tepatnya... salah tingkah? Seperti menyembunyikan sesuatu.
"Sella, kenapa?" tanyaku curiga.
"Eh, enggak apa-apa," Sella tersenyum kikuk. "Kamu pulang sekolah kumpul panitia lagi, kan?" Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Enggak tahu, bingung."
"Menurutku, kamu harus ikut kumpul, Ta."
"Iya, sih. Tapi aku juga harus―"
"Kamu harus ikut kumpul ya, Ta? Kamu enggak mau jadi panitia?" Sella memotong ucapanku. Kenapa dia terlihat memaksaku untuk kumpul panitia festival sama seperti Elvan?
"I-iya," jawabku akhirnya.
***
"Elvan!" aku memanggil Elvan yang baru saja keluar dari kelasnya. Tumben, dia terlihat buru-buru untuk pulang. Aku langsung berlari menghampirinya.
"Elvan, mau pulang?" tanyaku saat sudah berada di hadapannya.
Elvan mengangguk, "Iya, kamu kumpul panitia, kan?"
"Retta pulang bareng Elvan, boleh?" kali ini aku pastikan untuk tidak kumpul panitia dulu. Aku curiga pada Elvan.
"Ta, kamu enggak mau jadi panitia festival?"
"Mau, tapi hari ini Retta enggak mau kumpul dulu."
"Kenapa?"
"Ya, enggak mau aja."
"Satu minggu lagi festivalnya, kamu yakin enggak ikut kumpul?"
"Elvan enggak mau antar Retta pulang?" tanyaku yang masih memaksa untuk diantar pulang olehnya.
"Ta―"
"Elvan mau kemana?" tanyaku pada intinya.
"E-enggak kemana-mana," Elvan terlihat kikuk saat menjawab pertanyaanku.
"Ya sudah, Retta pulang bareng Elvan, ya?"
Elvan mengembuskan napas panjang, ia juga mengacak-acak pelan rambutnya. Jangan bilang kalau Elvan akan ikut dengan teman-temannya!
"Elvan?" aku memanggilnya lagi.
"Kamu sudah bilang sama Haris enggak ikut kumpul hari ini?" tanyanya. Aku menggelengkan kepala.
"Ya sudah, bilang dulu," Elvan menarik lenganku dan masuk ke kelasnya. Saat sudah di dalam kelas, aku melihat ke enam teman-teman Elvan sedang bercanda di sudut kelas. Kok mereka belum pulang? Jangan-jangan...
"Retta?" Elvan membangunkan lamunanku, hingga tersadar kalau saat ini aku sudah berada di depan Kak Haris.
"Kak Haris, Retta enggak bisa ikut kumpul hari ini," kataku ragu. Kak Haris mengangguk, membuatku mengembuskan napas lega.
"Retta mau pulang?" tanya Kak Aldo yang melihat kehadiranku di dalam kelasnya.
Aku mengangguk, "Kakak kapan pulang?" tanyaku pada mereka.
"Um... bentar lagi paling," jawab Kak Aji disusul anggukkan dari yang lain.
"Yuk," Elvan menarik lenganku keluar kelas dan cengkramannya sedikit keras, tapi aku tidak berani untuk mengatakannya. Elvan seperti menahan amarah, dia kenapa sih, sebenarnya?
Aneh. Kemarin memaksaku untuk pulang bersamanya, tapi hari ini kok malah memaksaku untuk kumpul panitia festival?
Kali ini aku tidak bisa menahan lagi, sepanjang koridor Elvan mencengkram lenganku kuat sekali.
"Elvan... sakit," kataku dan menghentikan langkah kaki, membuat Elvan membalikan badannya menatap ke arahku. Elvan melepaskan genggamannya, terlihat terkejut saat lenganku sudah merah akibat cengkramannya.
"Elvan kenapa?"
"Ke kantin dulu mau?" Elvan selalu saja tidak menjawab pertanyaanku. Apa pun yang aku tanyakan selalu saja di jawab oleh pertanyaan lain.
"Mau apa ke kantin?" tanyaku bingung.
"Kamu laper, enggak?" Lagi-lagi, dia yang bertanya dan tidak menjawab pertanyaanku.
"Elvan, bisa enggak jawab apa yang Retta tanya?" ketusku.
"Retta enggak boleh tanya apa pun. Biar Elvan aja yang bertanya. Jadi, Retta sayang Elvan enggak?"
Hah! Elvan tuh ya!
"Elvan, Retta gugup!" kataku. Lebih baik jujur saja, habis bingung harus menjawab apa. Pertanyaanya sangat di luar nalar.
"Retta gugup?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Iya."
"Berarti Retta sayang Elvan." ucap Elvan sambil tersenyum lebar. Bisa-bisanya dia menyimpulkan seperti itu!
"Elvan, Retta enggak mau ke kantin. Enggak laper," jawabku mengalihkan topik pembicaraan agar tidak semakin awkward suasananya.
"Ya sudah, Retta mau kemana?"
Aku terdiam sesaat. Berpikir kemana tujuan yang pas untuk tidak membuat Elvan bertemu dengan ke enam temannya atau geng Erlassca dari kelas lain. Entahlah, kenapa firasatku mengatakan Elvan akan ikut bersama mereka nanti.
"Kemana aja, terserah Elvan," jawabku akhirnya.
"Pulang aja ya?"
Aku langsung menggelengkan kepala, "Enggak mau."
"Retta maunya kemana? Pulang ya? Istirahat."
"Retta enggak mau pulang!" Nada bicaraku meninggi, entah kenapa tiba-tiba merasa kesal. Elvan pun terlihat terkejut mendengarnya. "Elvan mau kemana, sih? Aneh banget!"
"Eh... kok marah? Ya sudah, ayo kemana? Retta jangan marah, ya?" Elvan merangkul pundakku dan kami kembali berjalan.
Saat sampai di parkiran ternyata sudah terlihat sepi. Motor pun hanya tersisa sedikit, kulihat hanya ada motor Elvan dan beberapa motor lainnya yang masih terparkir.
Elvan memakaikan helm di kepalaku. Setelah itu menyalakan motornya dan menyuruhku untuk naik. Kami meninggalkan area parkiran dan gedung sekolah.
Selama perjalanan terasa hening. Aku pun sama sekali tidak berniat berbicara, dan Elvan tidak tahu akan membawaku kemana. Yang terpenting saat ini Elvan bersamaku, tidak dengan geng Erlassca itu. Tidak boleh.
Sampai akhirnya Elvan memberhentikan motornya di depan sebuah toko mainan. Aku turun dari motor dan mengikuti langkahnya mendekati toko mainan itu.
"Retta tunggu sebentar, ya," katanya, aku mengangguk. Tak lama Elvan kembali dengan gantungan kunci kecil berbentuk kura-kura, kali ini berwarna merah muda.
"Kura-kura lagi?"
"Iya, yang ini abadi. Kalau kura-kura yang aku berikan tempo hari, sewaktu-waktu bisa mati," kata Elvan dan menyodorkan gantungan kunci kecil itu padaku. Aku mengambilnya, yang Elvan berikan selalu sederhana, tapi sukses membuatku senang untuk yang kesekian kalinya.
"Makasih," kataku malu.
"Mau kemana lagi?" tanyanya. "Pulang, yuk?"
Aku segera menggelengkan kepala, ini baru beberapa menit dari bel pulang sekolah.
"Jangan dulu pulang!" ucapku tegas.
"Terus?"
"Main."
"Main? Kemana?" Elvan terlihat bingung.
"Kemana aja yang penting main."
Elvan tampak berpikir sejenak, "Beli jus melon, mau?"
Aku segera mengangguk, setelah itu Elvan menyuruhku naik di motornya lalu beranjak dari toko mainan itu.