Elvaretta

Elvaretta
12. Berkunjung



"Terus Kak Devano sekarang dimana?" tanyaku.


Aku dan Elvan kini sedang berada di depan minimarket, duduk berdua sambil menikmati jus melon yang sempat kami beli di salah satu kedai pinggir jalan.


"Dia di Jogja, Ta. Sama Ayah," jawabnya.


"Kak Devano di Jogja, terus Elvan di Bogor?" gumamku sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Iya, jadi bisa ketemu kamu, deh," Elvan terkekeh kecil.


"Dia kuliah?" tanyaku lagi.


"Iya, udah dong jangan nanya dia mulu."


"Kenapa?"


"Cemburu."


Baik, pipiku sepertinya sudah memerah sekarang.


Beberapa saat hening, lalu Elvan mengeluarkan ponselnya. Memainkan ponselnya cukup lama, entahlah dia sedang apa.


"Elvan jangan main handphone mulu," cercaku. Jelas aku kesal, seperti di duakan dengan ponselnya.


"Oh iya, maaf," Elvan kembali memasukan ponselnya kedalam saku celana.


Tak lama ponselku bergetar, tumben sekali Kak Haris menelepon, aku langsung mengangkatnya.


"Hallo, Kak?" sapaku. Ah, aku tahu. Dia pasti mencariku karena tidak ada di acara festival, padahal aku ini panitia.


"Kamu dimana? Kok nggak ada?" tanyanya di seberang sana.


"Um, maaf, Kak. Aku lagi sama―"


"Elvan!" itu bukan suaraku. Tapi suara Elvan yang tiba-tiba berteriak dan menarik ponselku dengan sengaja. "Jangan ganggu dulu, ah!"


Setelah mengucapkan kalimat itu secara ketus, Elvan mematikan sambungan secara sepihak. Raut wajahnya berubah kesal, tapi tetap saja terlihat lucu bagiku.


"Kamu punya nomor Haris?" tanyanya dengan wajah yang masih kesal.


Aku mengangguk, "Iya, katanya buat kepentingan festival," jawabku jujur.


"Dia punya nomor kamu, sedangkan aku enggak?" Elvan berdecak lalu menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


"Elvan, kan, belum pernah minta nomor Retta," sindirku.


"Aku enggak mau minta apa pun dari kamu, Ta. Biar kemauan kamu sendiri aja, aku cuma minta kamu di sisi aku terus. Itu cukup."


"Ya sudah, sini handphone Elvan, mau dimasukin nomor Retta," aku menadahkan tangan, meminta Elvan memberikan ponselnya padaku.


Elvan tersenyum lalu mengeluarkan ponsel yang sempat ia masukan ke dalam saku celana.


Aku terkejut saat melihat tampilan layar utama di ponselnya adalah fotoku.


"Dapat dari mana foto Retta?!" tanyaku gemas. Mending kalau wajahku sedang bagus dilihat, yang di foto ini parah sekali. Sungguh.


"Aku foto kamu diam-diam," dia tersenyum jahil, saat ini ingin sekali aku menghilang dari hadapannya. Malu.


"Ganti!" pintaku dengan wajah yang masih kesal.


Elvan menggelengkan kepala. Membuatku gemas melihatnya.


"Ganti atau enggak dikasih nomor Retta, nih!" aku mengancam. Tapi rasanya ancamanku itu tidak mempan baginya. Dia malah tertawa renyah.


"Aku enggak maksa, Ta. Kalau kamu enggak mau kasih nomor handphone kamu, ya enggak apa-apa. Aku masih bisa langsung ke rumah kamu kalau misalnya kangen. Jadi enggak perlu kirim-kirim pesan atau teleponan," jawabnya lalu tersenyum tipis. Aku mendengus. Elvan hari ini sangat menyebalkan sekali.


Tapi tetap, aku memasukkan nomorku di ponselnya. Itu harus. Bagaimana pun Elvan selalu membuatku menjadi perempuan terbahagia saat berada di dekatnya. Dia aneh, misterius, menyebalkan, dan menyenangkan dalam satu waktu.


Hanya Elvan yang seperti itu.


"Makasih, lho. Nomornya, Ta," ucapnya lalu menyubit pipiku gemas.


"Sakit!"


"Ta?" Elvan tiba-tiba memanggilku dengan tatapan teduhnya.


"Apa?"


"Maaf."


"Sudah dimaafkan, Elvan."


"Mau ketemu Bunda aku enggak?" aku membulatkan kedua mataku, terkejut. Tentu saja, aku belum siap.


Tidakkk!


"Enggak mau," jawabku sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa? Bunda aku enggak gigit."


"Belum siap." Sepertinya wajahku sudah pucat sekarang.


"Memang harus ada persiapan? Ayo, selagi Bunda belum berangkat kerja."


Sekarang aku tahu hobi Elvan itu apa, memaksa.


"Naik," titah Elvan saat sudah menyalakan mesin motornya. Aku masih berdiri, ragu rasanya.


"Elvan, mending ketemu Eyang aja, yuk?" tawarku seraya tersenyum ramah.


"Sudah pernah, Retta Dwyriska."


"Tap-tapi―"


"Tinggal, nih?"


"Eh, iya-iya!"


Terpaksa aku mengikuti perintahnya, menaiki motornya dan menuju rumah Elvan. Aku belum pernah ke rumahnya, dan tentunya belum pernah bertemu Bunda-nya juga. Aku gugup sekali sekarang.


"Elvan, balik lagi ke festival aja, yuk?" kataku yang masih mencegah Elvan mempertemukan aku dengan Bunda-nya.


"Ta, kamu ketemu dulu sama Bunda, baik, kok." aku percaya Bunda Elvan pasti baik, tapi aku belum siap!


Aku kini tak lagi menjawab ucapannya. Pasrah saja.


Dan ternyata rumah Elvan tidak terlalu jauh, dan kini Elvan sudah memberhentikan motornya di depan sebuah rumah bercat putih, dua tingkat.


Aku menghela napas panjang, merapikan rambut yang sedikit berantakan sebelum turun dari motor Elvan.


Elvan menggenggam tanganku, kami berjalan memasuki rumahnya dengan aku yang sedikit berada di belakang Elvan.


"Assalamualaikum, Bunda!" Elvan membuka pintu rumahnya, membuka topi putihnya lalu menyimpan di atas sofa.


Aku memandangi ke sekeliling rumah Elvan. Banyak foto keluarganya, aku juga melihat satu foto Kak Devano dan Elvan saat kecil. Lucu.


"Waalaikumsalam," Bunda Elvan keluar dari kamarnya. Dia seperti sudah siap untuk berangkat kerja. Dilihat dari penampilannya, Bunda Elvan seperti pegawai kantoran. Jujur, Bunda Elvan cantik sekali.


"Siapa ini? Retta, ya?" Bunda Elvan menghampiriku dengan sumringah. "Cantik sekali!"


"Cantik ya, Bunda? Jago, kan, Elvan cari calon istrinya?" Elvan menyombongkan diri sendiri. Kedua alisnya juga terlihat turun naik.


Sementara aku tersenyum kecut lalu mencium punggung tangan Bunda Elvan.


Dan aku terkejut sekali saat tiba-tiba Bunda Elvan memelukku erat. Pelukan yang aku rasakan kembali dari sosok perempuan selain Eyang. Aku rindu ibu. Ibu lagi apa ya sekarang? Ah, pasti sudah bahagia di atas sana.


Tidak terasa, aku meneteskan air mata. Membuat Bunda dan Elvan terkejut melihatnya, "Eh, kenapa kok nangis?"


"Bunda peluknya kekencengan kali!" sahut Elvan kesal. Aku tertawa kecil sembari menyeka air mata yang keluar tanpa izin.


"Bener? Bunda kekencengan meluknya? Maaf-maaf."


"Ah, enggak bunda. Enggak kok. Retta jadi kangan ibu aja," jawabku jujur.


Bunda dan Elvan terdiam sesaat dan saling tatap. Ah, sepertinya aku salah bicara.


"Oh..." Bunda mengangguk. "Sudah jangan nangis, nanti cantiknya hilang."


Aku tertawa kecil, "Bisa aja, Bunda."


"Kamu tahu enggak, Elvan itu sering banget ceritain kamu!" kata Bunda seraya mengajakku duduk di atas sofa. Elvan entah tidak tahu kemana, yang pasti dia menaiki tangga menuju lantai atas.


"Cerita apa?" tanyaku penasaran.


"Katanya dia itu rumah terus kamu kura-kuranya," Bunda mengernyit. "Aneh banget, kan? Mana ada kura-kura secantik kamu."


Baik, tidak Elvan, tidak Bundanya. Sama-sama selalu membuat pipiku memanas. Aku jadi penasaran dengan Ayah Elvan dan Kak Devano sifatnya seperti apa. Jangan-jangan mereka satu keluarga jago gombal!


"Retta biasa aja, Bunda," kataku disusul tawa renyah.


"Terus ya, dia juga pernah bilang kalau kamu itu magnet. Bunda enggak tahu itu artinya apa, dia bilang kamu magnet aja gitu katanya."


Aku terkekeh mendengarnya. Aku ingat sekali obrolan dengan Elvan di kantin waktu itu.


'Kamu perempuan yang berhasil buat aku tertarik'


Mungkin itu yang dimaksud dengan 'magnet' menurut Elvan, hanya saja Bunda-nya tidak paham.


Tidak kusangka mengobrol dengan Bunda Elvan sangat nyaman. Rasanya seperti mengobrol dengan sosok ibu. Kukira tidak akan seperti ini rasanya.


Aku melihat Bunda melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, sepertinya sudah waktunya untuk berangkat kerja.


"Haduh, Bunda sudah telat. Maaf ya, harus berangkat sekarang. Kamu sama Elvan ya," kata Bunda seraya menepuk pundakku pelan. Setelah itu berlari kecil keluar rumah.


Kini aku seorang diri. Elvan tak kunjung turun dari lantai atas. Suasana seperti horor tiba-tiba.


"Elvan?" panggilku dengan suara yang tidak terlalu kencang.


"Bentar, Ta," sahutnya di atas sana.


"Turun, Retta sendirian."


"Iya," Elvan menuruni tangga lalu duduk di sampingku.


"Ngapain ya enaknya?" tanya Elvan sembari menyenderkan tubuhya di sofa. Tiba-tiba saja suasana berubah, dan aku baru tersadar, kami hanya berdua di rumah Elvan.