
"Aku di depan rumah."
"Rumah siapa?"
"Rumah kura-kura."
Aku terkekeh mendengar suaranya, ini pertama kalinya kami saling berbincang di telepon. Suaranya tidak berubah, serak basah yang aku suka.
Telepon diakhiri dan aku segera beranjak dari kamar. Kulihat pintu kamar Eyang sudah tertutup rapat, mungkin sudah tidur.
Bagaimana tidak? Ini sudah hampir jam sepuluh malam, aku tidak habis pikir dengan Elvan yang ingin sekali datang ke rumahku.
Aku membuka pintu. Terkejut bukan main saat boneka besar berbentuk kura-kura berada tepat di depan wajahku. Aku kembali terkekeh saat Elvan menampilkan wajah lucunya seperti ekspresi wajah kura-kura yang ia bawa.
"Malam, kura-kura!" ucapnya seraya menyodorkan boneka itu padaku.

Aku mengambil kura-kura itu lalu memeluknya, "Malam kembali, ayo masuk."
"Enggak usah, aku mau langsung pulang," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Aku mengernyit, "Lho, kenapa?"
"Kelihatan kamu sudah mengantuk. Maaf ya telat datang, tadi bunda minta diantar ke minimarket dulu soalnya," jelasnya, aku mengangguk mengerti.
"Makasih, Elvan. Maaf merepotkan," ucapku lalu tersenyum tipis.
Dia mengangangguk, menampilkan lekuk sabit yang ingin sekali kumasukan ke dalam saku celana, lalu kubawa masuk ke dalam.
Ah, cukup Retta!
Setelah itu, Elvan beranjak dari rumahku. Menyalakan mesin motornya lalu melambaikan tangan ke udara. Lekat kupandang kepergiannya sampai tidak lagi terlihat oleh netraku.
Aku berharap, semesta akan selalu melindunginya.
***
"Teguh!" panggilku.
Yang dipanggil menoleh lalu berjalan ke arahku seraya memasukan baju seragamnya ke dalam celana―merapikannya.
"Apa? Hutang soto, kan, udah lo bayar," ucapnya saat berada tepat di depanku.
Aku tersenyum kecut, "Bukan itu."
"Terus apa? Mau ngehutang lagi?"
Aku memutar bola mata, "Bukan, dengerin dulu," kataku menahan kesal kepada lelaki yang selalu memakai sepatu berwarna itu. Padahal peraturan sekolah seharusnya memakai sepatu hitam. Entah sudah berapa kali aku melihat sepatunya dirazia oleh guru piket.
"Kak Aldo kenapa enggak kelihatan lagi?" tanyaku penasaran. Beberapa hari ke belakang ini aku memang tidak melihat Kak Aldo berkumpul dengan teman sekelasnya lagi. Aku sempat menanyakan hal ini kepada Elvan, tapi tidak dijawab. Salah memang kalau bertanya kepada lelaki itu.
"Lo enggak tahu? Dia sakit," ucapannya membuat aku terkejut bukan main.
"Sakit? Karena?"
"Ya, orang dia berantem sama Kak Elvan waktu itu."
"Kok bisa sakit? Parah emang berantemnya?"
Teguh berdeham, "Iya lumayan, sih. Lo tau enggak? Kak Elvan waktu itu kayak kesurupan, demi belain lo!"
Aku refleks memukul lengannya, "Mulutnya, ya!" aku kesal, tentu saja. Teguh mengatakan Elvan seperti kesurupan?!
"Ya, gue bener, Retta. Udah, deh, gue ke kantin dulu. Bye!" Lelaki menyebalkan itu berlari kecil meninggalkanku di koridor, aku mendengus pelan seraya mengentakkan kaki ke lantai dengan kesal.
"Ta!" aku menoleh ke asal suara yang memanggilku. Ternyata Sella.
"Udah liat mading belum?" tanyanya saat sudah berada di dekatku. Aku mengernyit seraya berpikir; memang ada puisi baru selain hari Senin?
"Ih, Retta! Ditanya juga, jawab dong!" Sella membangunkan lamunanku, aku segera menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Itu, lho, ada pengumuman kalau hari Senin kelas sepuluh sama kelas sebelas libur satu minggu! Yeay!"
Aku berdecak, kalau itu aku sudah tahu dari beberapa hari yang lalu, karena kelas dua belas akan menjalankan Ujian Nasional selama empat hari nanti. Elvan juga memberitahu saat tadi pagi padaku.
"Kelas dua belas UN, kan?" tebakku.
"Kok, ta-"
***
"Elvan, Retta pengin ketemu Kak Aldo," kataku sedikit ragu. Aku tahu hal itu pasti ditolak oleh Elvan. Tapi aku harus menemui Kak Aldo, setidaknya harus mengetahui kondisinya sekarang.
"Mau ngapain ketemu dia?" benar saja. Wajah Elvan berubah datar dan nada suaranya dingin. "Dia udah buat kamu pingsan, dan kamu pengin ketemu dia?"
"Retta pengin tahu keadaannya." Jawabku jujur. Dan apa yang aku ucapkan tadi berhasil membuat Elvan berdecak sebal.
Aku menunduk, tidak berani menatapnya.
"Kenapa harus sebaik itu sih, Ta? Enggak bisa bersikap bodoamat sekali aja?" Tanyanya dengan nada yang sedikit membentak. Dan aku semakin menundukkan kepala, takut.
"Ayo pulang―"
"Elvan..." panggilku memohon. Dia menghela napas panjang lalu akhirnya mengangguk kecil.
"Kenapa susah sekali menolak apa pun keinginan kamu, Ta? Ayo."
Aku tersenyum senang lalu menaiki motor Elvan. "Elvan tahu rumah Kak Aldo?" tanyaku saat Elvan sudah melajukan motornya, meninggalkan parkiran sekolah.
"Dia sekarang bukan di rumahnya."
Aku mengernyit, "Terus di mana?"
"Markas," jawabnya singkat. Aku semakin bingung dibuatnya. Mungkin lebih baik tidak bertanya lagi padanya, toh aku juga akan tahu sendiri nantinya.
Elvan memberhentikan motornya di depan sebuah warung kopi. Entah, aku juga bingung itu benar-benar warung kopi atau bukan. Pasalnya warung kopi itu terlihat seperti warung yang sudah tidak terpakai lagi.
Elvan meraih lenganku dan mengajakku memasuki warung itu. Betapa terkejutnya saat kulihat beberapa lelaki dibalut seragam putih abu sedang bercengkrama dengan gelas kopi dan puntung rokok yang berserakan di mana-mana.
Aku mundur satu langkah ke belakang saat mereka menyadari kedatangan aku dan juga Elvan. Aku juga melihat ke enam teman sekelas Elvan di sana, termasuk Kak Aldo yang ternyata benar wajahnya dipenuhi luka lebam.
Mereka semua geng Erlassca? Sebanyak itu?
"Aldo! Sini lo!" Elvan memanggil Kak Aldo, mata kami bertemu sekilas.
"Minta maaf ke Retta!" ucap Elvan kepada Kak Aldo. Aku segera menarik ujung baju seragamnya, mengerutkan alis memberi isyarat kalau kedatanganku bukan bermaksud itu.
"Apa, Ta? Dia jelas harus minta maaf sama kamu," kata Elvan padaku. Kulihat Kak Aldo menyungging senyum.
"Tapi―"
"Maaf." Belum sempat aku menjawab ucapan Elvan, Kak Aldo sudah mengeluarkan satu kata yang membuat beberapa lelaki sedang duduk di sana serempak menatap ke arahku.
"Maafin gue." Kak Aldo berbicara lagi. Aku hanya mengangguk kecil. Sungguh, ini bukan tujuanku datang ke sini. Aku hanya ingin tahu keadaan Kak Aldo seperti apa. Itu saja.
"Udah selesai acara maaf-maafannya?" lelaki yang tidak kukenal menyahut. Dia berjalan ke arah kami sambil terus menatapku.
"Siapa nih, Van? Cakep juga." Lelaki itu menunjukku, aku mengernyit sembari menatapnya tidak suka.
"Nama kam―"
"Diem lo ***!" Elvan menepis tangan lelaki itu dengan kasar saat tangannya hendak menyentuh bibirku. Aku terkejut bukan main dan mundur satu langkah ke belakang.
"Santai, bro!" lelaki itu tertawa renyah seorang diri. Aku semakin takut karena atmosfer ruangan ini seketika berubah. Aku mengumpat di balik tubuh Elvan. Pasalnya di sini hanya aku perempuan seorang diri, semuanya lelaki.
"Lo jangan mancing-mancing emosi gue!" ucap Elvan dengan suara berat. Aku menggigit bibir bawah, tanganku gemetar karena ketakutan. Aku tidak suka saat Elvan marah seperti itu.
"Eh, udah-udah!" Kak Regy berdiri lalu menjauhkan Elvan dengan lelaki yang tidak kukenal itu.
Elvan menarik lenganku dan kami keluar dari tempat itu dengan wajahnya yang kini merah padam karena manahan emosi.
Elvan melepas lenganku saat kami sudah di dekat motor vespanya.
"Maaf," lirihku sembari menunduk. Hal itu kini menjadi kebiasaanku saat ketakutan. Tentu saja aku takut menatap wajah Elvan yang sedang marah seperti saat ini, terlebih saat dia berteriak dengan kata kasar kepada temannya tadi.
"Enggak perlu minta maaf. Teman-temanku memang seperti itu sifatnya. Udah aku bilang juga, kan, jangan ketemu Aldo. Kamu jangan terlalu baik, Retta. Sekali-kali harus bodoamat sama orang yang udah jahatin kamu. Baik boleh, tapi jangan overdosis juga, lah."
Aku menangis diam-diam dengan kepala yang masih menunduk. Elvan yang mungkin mendengar isakku, mengangkat kepalaku dan kini netra kami bertemu.
"Jangan menangis, Ta. Aku enggak suka lihat kamu nangis." Elvan mendekapku erat. Air mataku semakin deras, aku semakin takut kehilangannya.
"Elvan..." panggilku lirih dengan masih memeluknya.
"Menangislah kalau itu membuatmu tenang, aku akan terus memelukmu, Ta. Sampai hujan di pelupuk matamu reda."