Elvaretta

Elvaretta
19. Pergi



Hari ini acara perpisahan kelas dua belas di sekolah. Aku bimbang, harus datang atau tetap dengan posisiku yang saat ini masih berbaring di tempat tidur dengan selimut yang masih menempel di tubuhku.


Tentu aku ingin mengucapkan selamat kepada Elvan dan teman-temannya, tapi aku juga takut kalau sikap Elvan masih sama seperti beberapa minggu yang lalu. Seolah-olah tidak mengenaliku.


Drttt... drttt... drttt...


Telepon masuk membangunkan lamunanku. Saat kulihat, nama Sella terpampang jelas di layar ponsel.


"Halo, Ta?" sapanya di seberang sana.


"Iya, kenapa?" tanyaku sembari mengubah posisi menjadi duduk.


"Mau lihat perpisahan?"


Aku terdiam beberapa saat.


"Halo? Masih di sana, Ta?"


"Kayaknya aku enggak datang, La," jawabku sedikit ragu. Pasalnya aku juga masih bingung saat ini.


"Lho, kenapa?"


"Um, enggak mau aja, La. Kamu mau?"


"Mau, udah janjian sama temen kelas yang lain."


"Oh, maaf ya aku enggak ikut."


"It's oke. Udah dulu ya, Ta."


Telepon diakhiri. Aku melanjutkan kembali ke posisi semula, lalu memutar lagu dari playlist Elvan tanpa earphone.


In My Blood - Shawn Mendes.


Sampai jam dinding menunjukan pukul satu siang, aku masih berbaring di tempat tidur.


Sosok Elvan kembali terlintas ke dalam pikiranku, bersamaan dengan itu, langkah kakiku memaksa untuk pergi ke acara perpisahan. Kupikir, kalau aku datang kesana, mungkin hal itu menjadi pertemuan terakhir aku dengannya. Mau bagaimana pun aku harus bertemu Elvan, sudah banyak yang ia lakukan untukku, setidaknya aku harus memberikan ucapan selamat padanya, bukan?


Segera kuberlari menuju kamar mandi, setelah itu memakai dress berwarna biru navy, wajahku hanya dilapisi bedak tipis dan tak lupa memakai liptint sewajarnya saja.


Setelah pamit kepada Eyang, aku langsung berjalan cepat untuk meninggalkan area kompleks. Setelah angkot yang tidak terlalu penuh berhenti untuk menawariku naik, akhirnya tekadku untuk menemui Elvan sekarang sangat yakin.


Turun dari angkot, aku berjalan perlahan menuju gerbang. Ramai, yang aku bisa simpulkan. Tentu saja, kelas dua belas semuanya berkumpul. Para perempuan memakai kebaya dengan make up-nya, sedangkan para lelaki memakai jas dan celana bahan hitam. Yang kulihat mereka sudah memakai medali perpisahan masing-masing. Mungkin acara intinya sudah selesai.


Saat langkah kakiku memasuki area sekolah, lapangan yang biasanya dipakai untuk upacara kini menjadi panggung yang sangat megah.


Kuedarkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan Elvan. Jantungku berdegup kencang saat melihat pemandangan yang sangat tidak aku duga sebelumnya.


Dia, sedang berdiri dengan teman-teman kelasnya yang lain, yang sudah kupastikan mereka geng Erlassca. Tapi yang membuatku membelalak adalah saat melihat Elvan bersama perempuan yang memakai kebaya berwarna biru muda. Mereka terlihat dekat, bahkan tangan Elvan merangkul pinggang perempuan cantik itu.


Tubuhku seketika kaku, lidahku kelu. Retta bodoh. Seharusnya tidak harus datang ke acara perpisahan kelas dua belas. Sudah, harusnya diam saja di rumah. Sekarang apa? Yang dilihat pun tidak sesuai ekspetasi akhirnya!


Dengan langkah lemas, aku pergi dari kerumanan banyak orang itu, sembari menangis penuh isak.


Semesta, sial sekali aku hari ini. Kenapa harus pakai acara jatuh di depan banyak orang? Lututku tergores dengan kencang, kedua tanganku dipenuhi banyak debu aspal. Dengan kepala yang menunduk dan beruntungnya rambutku bisa sedikit menutup wajah, segera mungkin kuberlari menjauh dari area sekolah.


Kini, aku terduduk lesu di kursi panjanh besi dekat lampu trotar. Membuka kedua sepatuku yang rasanya tidak enak untuk dikenakan, bahkan meninggalkan goresan kecil di sana. Belum lagi lututku yang tak henti-hentinya terasa perih.


Ibu, sakit...


Kusimpan sepatu itu di samping tempat dudukku. Menghela napas panjang, lalu kembali menangis tanpa suara. Dengan sejuta pertanyaan yang masih bersarang di dalam pikiran. Siapa perempuan itu? Kenapa bisa sedekat itu dengan Elvan? Apa hubungan mereka? Dan... kenapa bisa?!


Dua jam aku terduduk di kursi besi ini, dengan posisi yang masih sama.


Kulihat langit sudah mendung, gerimis mulai berjatuhan. Dan tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya.


Aku masih terduduk, membiarkan air hujan membasahiku. Sama sekali tidak peduli dengan tas selempangku yang sekarang sudah basah kuyup. Pikiranku kacau, hanya karena lelaki yang kulihat sedang berbincang dengan seorang perempuan.


Tidak kusangka bahwa kehilangan seorang Elvan akan separah ini, tidak kusangka pula kalau Elvan memilih untuk pergi.


"Untuk perempuan yang sudah menangis sampai dua jam."


Aku mendongak, melihat seseorang yang aku sendiri sudah tahu itu siapa, bahkan hanya dengan mendengarkan suaranya sekalipun, aku tahu dia siapa.


Elvan, Elvano Aryawinata.


Dengan masih memakai jas dan celana bahan warna hitam, dengan sebuah payung bening yang ia genggam dengan erat.


"Mau sampai kapan kamu menangis, Ta?" tanyanya. Aku masih menatapnya dengan sendu dicampur kesal. Ah, aku bingung harus diam saja atau justru marah-marah padanya.


Kulihat, dia membuka kedua sepatunya, lalu menyimpannya tepat di ujung kedua ibu jari kakiku.


"Pakai," titahnya lagi. "Atau mau aku gendong?"


Lekas aku segera berdiri untuk memakai sepatunya, meskipun sepatu itu terlihat lebih besar dari kakiku sendiri.


Lelaki itu mengambil sepatuku yang kutaruh di atas kursi besi, lalu ia menatap ke arahku, "Gara-gara sepatu ini kamu jatuh sampai luka?"


"Elvan kenapa berubah? Kenapa menjauh? Kenapa bersikap enggak kenal sama Retta? Terus..." aku menunduk, lalu kembali menangis. "Perempuan itu siapa?" Imbuhku dengan suara gemetar.


Elvan menatapku lekat, sepatuku ia taruh kembali ke atas kursi.


"Karena aku takut kehilangan kamu, Ta. Aku mencoba menjauh dari kamu, sekuat apapun nyatanya aku enggak bisa. Bahkan hanya beberapa minggu enggak ngobrol sama kamu, itu susahnya bukan main. Semakin menjauh, malah aku semakin takut kalau nantinya ninggalin kamu. Pas kamu berangkat bareng Haris, aku enggak terima itu, Ta. Aku cemburu kamu berduaan di mobil sama dia, pake jaketnya dia. Bahkan kamu senyum sama dia pun aku enggak terima itu. Perempuan yang tadi kamu lihat itu, itu temanku. Sengaja memilih dia hanya karena aku enggak punya pasangan. Aku cari kamu tadi pagi, tapi kamu enggak ada. Sementara teman-teman aku sudah berpasangan. Jadi enggak ada pilihan lain, aku asal aja pilih teman perempuanku untuk menjadi pasangan. Itu aja."


"Tapi enggak harus dengan cara menjauh dari Retta, kan?" balasku dengan masih menatap iris mata cokelat kayunya.


"Meskipun aku tetap ada di samping kamu, pada waktunya aku akan pergi, Ta."


Tangisku kembali deras sama seperti hujan sore saat ini.


"Elvan..." panggilku lirih, kulihat dia tersenyum tipis sembari merentangkan tangan kanannya. Aku mendekat, memeluknya dengan erat. Kubiarkan jas hitamnya itu basah dengan air mata dan bajuku yang memang sudah basah kuyup.


"Aku akan kembali, Ta. Dan itu pasti."