Elvaretta

Elvaretta
04. Bola Basket




"Aku aja yang bayar," Elvan merebut dua bola basket yang sedang aku pegang, lalu lelaki itu pergi mendekati kasir.


"Eh, enggak usah." Aku segera mengejarnya. Tapi sayang, Elvan sudah menyerahkan dua bola basket itu dan beberapa lembar uang kepada penjaga kasir.


Elvan menarik pergelangan tanganku menuju keluar toko saat transaksi antara Elvan dan penjaga kasir sudah selesai.


Aku menatap wajahnya, "Retta bisa bayar sendiri," kataku sedikit ketus.


"Eh, kok marah?"


"Berapa harga dua bola basketnya?" tanyaku ketus.


"Enggak usah, Ta. Enggak apa-apa."


"Itu tugas aku dari Pak Heri, Elvan."


"Aku kebetulan lagi bawa uang lebih, Ta. Jadi pengin ngeringanin beban kamu."


"Kasih tahu, harganya berapa?" aku masih dengan keinginanku yang ingin mengetahui harga bola basket itu. Karena itu tugas yang diberikan Pak Heri padaku.


"Ta?"


"Ih, tau ah." Aku berjalan pergi meninggalkannya.


Bukan seperti ini jalan ceritanya, itu tugasku dari Pak Heri, jadi harus memakai uang pribadi bukan memakai uangnya, kan?


Elvan itu lelaki yang keras kepala ternyata.


Aku terus berjalan, dan ternyara Elvan mengejarku dari belakang dengan membawa satu kantong plastik besar yang sudah pasti isinya itu dua bola basket.


"Ta, tunggu Ta!"


Aku berhenti melangkah. Apa yang kamu lakukan Retta? Kenapa juga harus marah kepada Elvan? Dia tidak salah apa-apa!


"Sudah jangan lari lagi, ya?" Elvan mengatur napasnya yang terengah-engah. "Kamu memang enggak cape lari-lari terus?"


Aku masih memberengut.


"Ayo, aku antar pulang," Elvan menarik pergelangan tanganku dan kami kembali menghampiri motor yang Elvan parkirkan di depan toko peralatan olahraga.


"Elvan maafin Retta," kataku dengan kepala sedikit  menunduk.


"Iya, aku tahu perempuan kalau PMS begitu."


Apa dia bilang? Kok tahu kalau aku sedang PMS!


"Ayo naik," Elvan membangunkan lamunanku, dan tiba-tiba saja helm sudah terpakai di kepalaku. Astaga! Sejak kapan Elvan memakaikannya di kepalaku?!


"Mau pulang enggak?" Elvan membangunkan lamunanku lagi, aku pun langsung menaiki motornya. Pikiranku jadi kacau sekali kalau dekat-dekat dengannya terus.


***


"Besok mau aku jemput?"


Elvan memberhentikan motornya tepat di depan gang kompleks perumahanku. Aku menjawab dengan menggelengkan kepala, pasalnya aku tidak mau merepotkan dia lagi. Sudah cukup soal dua basket yang kini sudah kujinjing oleh tangan kananku.


"Mau naik angkot aja?" tanyanya lagi, aku mengangguk.


"Elvan, makasih ya," ucapku.


"Kembali kasih, Ta," Elvan tersenyum. "Besok aku jemput aja, ya?"


Kedua alisku menekuk, "Retta sudah biasa naik angkot," kataku jujur.


"Aku enggak suka lihat kamu kepanasan," katanya. Dua kali naik angkot bersamaku, sepertinya dia merasakan bagaimana rasanya menaiki angkutan umum yang memang panas dan penuh sesak.


"Oke, aku pulang sekarang," lelaki itu memakai helmnya kembali, lalu menyalakan mesin motornya. Sekilas, aku melihat garis bibirnya terangkat, membuatku tidak bisa menahan senyum. Lelaki itu mempunyai daya tarik sendiri, terutama dengan lekuk sabitnya.


Setelah memandangi kepergian Elvan, aku melangkahkan kaki memasuki area kompleks.


***


"Ta, minggu depan akan ada festival musik!" Sella yang baru saja datang langsung bersorak memberi kabar gembira. Aku sedikit terkejut, rasanya waktu berputar cepat sekali. Perasaan baru kemarin festival musik dirayakan, sekarang akan dirayakan lagi tahun ini.


Sekolahku setiap tahunnya mengadakan festival musik, diramaikan oleh beberapa band alumni dan juga tak jarang perwakilan siswa yang menyumbangkan suara emasnya. Aku tersenyum lebar, ikut senang tentunya.


"Kamu tampil, ya?" tanyaku menebak-nebak.


Sella ikut paduan suara, meskipun yang aku tahu suaranya itu cempreng. Tapi saat menyanyi mendadak suaranya menjadi bagus, ia pernah tampil dengan timnya ke atas panggung saat festival musik tahun lalu. Dan aku suka penampilannya, sempurna!


"Iya, Ta. Hm... cepat ya waktu berputar," Sella bergumam sambil duduk di kursinya. Aku mengangguk, apa yang baru saja Sella ucapkan sama dengan isi kepalaku. "Sebentar lagi kelas dua belas kita, Ta."


Mendengar kelas dua belas, teringat sosok Elvan. Lelaki yang mengantarku berangkat sekolah dengan vespa miliknya tadi pagi. Itu pertama kalinya untukku diantar ke sekolah oleh lelaki selain sopir angkot.


"Oh iya, Ta!" Sella yang tadi terdiam sesaat, tiba-tiba mengagetkanku dengan suara yang bersemangat seperti baru saja teringat akan sesuatu.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Tadi pas aku lagi jalan mau ke kelas―"


"Retta!"


Ucapan Sella terpotong oleh guru olahraga yang memanggilku tiba-tiba di ambang pintu kelas. Aku mengela napas panjang, Pak Heri pasti ingin menagih bola basketnya.


"Tugasmu mana?" tanya Pak Heri, untung saja di kelas hanya ada beberapa orang saja. Jadi tidak terlalu malu karena nilaiku yang rendah seorang diri. Segera kuambil kantong plastik besar yang sempat kutaruh di bawah meja, isinya dua bola basket milik Elvan. Masih kesal, sih, padahal ini tugasku, tapi Elvan yang memaksa ingin membayarnya. Padahal bola basket ini pun pasti nanti dipakai olehnya, karena hari ini sepertinya semua kelas dua belas praktik bola basket.


"Ini, Pak," kataku sembari menyodorkan kantong plastik besar itu tepat di depan wajah Pak Heri. Sengaja, biar dia puas. Biar dia memberiku nilai di atas KKM, kalau bisa 100.


"Hei, kamu menghalangi pandangan saya," Pak Heri menarik kantong plastik begitu saja. Kini dua basket itu sudah berpindah tangan. Aku memaksa tersenyum, sesaat kemudian sosok guru olahraga termenyebalkan sedunia itu pergi meninggalkan kelasku. Aman.


"Itu isinya apa, Ta?" tanya Sella saat aku kembali duduk di sampingnya. Sepertinya sedari tadi ia memperhatikanku dengan Pak Heri di depan kelas.


"Bola basket," jawabku singkat. Seketika aku kembali teringat dengan ucapan Sella yang terpotong oleh suara Pak Heri tadi. "Tadi kamu mau bilang apa, La?"


"Oh iya," Sella kembali teringat sepertinya. "Jadi, Ta. Pas tadi aku mau ke kelas―"


"Permisi?"


Sepertinya semesta tidak mengizinkan Sella untuk berbicara padaku pagi ini. Buktinya suara seseorang kembali terdengar di ambang pintu kelas. Membuat aku dan Sella kembali menoleh ke asal suara itu.


"Retta Dwyriska, ada?" Itu suara Kak Haris, mantan ketua OSIS. Sekarang kelas dua belas, dan sepertinya dia satu kelas dengan Elvan.


Aku segera mengangkat tangan. Kak Haris memanggilku, tumben. Ada apa?


"Minta waktunya sebentar, boleh?" tanyanya dengan ramah. Aku mengangguk lalu berjalan mendekati pintu kelas.


"Ada apa, Kak?" tanyaku penasaran. Pertama kalinya Kak Haris memanggilku sampai datang ke kelas langsung.


"Minggu depan, kan, ada festival musik," kata Kak Haris, aku mengangguk. "Kamu mau jadi panitia?"


Aku terkejut, sepagi ini kenapa Kak Haris memilihku untuk menjadi salah satu panita festival musik? Memang anggota OSIS masih kurang? Pasalnya aku hanya siswi biasa, tidak pernah ikut anggota OSIS.


"Kok, aku?" tanyaku heran. Kulihat Kak Haris menggaruk tengkuknya, terlihat bingung untuk menjelaskan.


"Gini aja, deh, kamu pulang sekolah ikut kumpul anggota OSIS aja gimana? Nanti ketua OSIS akan menjelaskan kenapa kamu dipilih untuk jadi panitia," kata Kak Haris. Aku terdiam beberapa saat, mungkin tak ada salahnya untuk ikut kumpul pulang sekolah nanti. Toh, kalau benar-benar aku dibolehkan menjadi panitia festival, aku ikut senang.


"Baik, Kak," kataku akhirnya. Kak Haris mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Oke, aku tunggu pulang sekolah ya," Kak Haris menepuk pelan pundakku sebelum akhirnya dia beranjak dari koridor kelas.