
Sudah lima bulan aku masuk kuliah. Kabar baiknya, aku diterima di kampus favoritku. Masih di Bogor, jurusan Akuntansi.
Rasanya senang, tentu saja. Tapi sedih pula, karena... karena Elvan tidak datang di acara perpisahanku waktu itu.
Kesal, marah, kecewa semuanya menjadi satu. Sesibuk itu dia kuliah? Tidak bisa sekali saja untuk pulang di saat hari libur?
"Ayo, melamun mulu," suara Danu membangunkan lamunanku. Sudah lima bulan lamanya, sepulang dari klinik dia selalu menjemputku ke kampus langsung.
Entahlah, kenapa aku tidak bisa menolak ajakannya itu. Mungkin karena aku belum menemukan teman yang cocok seperti Sella. Jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama Danu untuk saat ini.
Aku memasuki mobilnya, begitu pun dengannya.
"Mau langsung pulang?" tanyanya saat mobil sudah mulai melaju.
Aku terdiam beberapa saat, "Main dulu."
Sama seperti ekspresi Elvan saat aku mengajaknya main― mecegahnya untuk tidak berkumpul dengan geng Erlassca―begitu pun dengan ekspresi Danu saat ini. Dia terlihat kebingungan.
"Main?" tanyanya sembari mengernyit. "Kemana?"
"Kemana aja," jawabku.
"Nonton―"
Drttt... drttt... drttt...
"Bentar," aku memotong ucapannya karena ponselku bergetar.
Terlihat jelas panggilan telepon dengan nama 'Ibu' di layar ponselku. Ah, aku belum memberitahu ya? Wanita bernama Siska itu sudah resmi menikah dengan Ayah satu bulan yang lalu. Sederhana saja, hanya mengundang kerabat terdekat. Danu pun datang saat itu.
Aku mengangkatnya, "Halo, Bu?"
"Sayang? Kamu sudah pulang? Segera pulang ke rumah ya, Eyang tadi batuk darah."
Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak mendengar ucapan Ibu kalau Eyang batuk darah.
"Iya, Bu. Ini diperjalanan pulang. Tunggu sebentar ya, Bu."
Aku memutuskan sambungan begitu saja karena saking paniknya.
"Danu, langsung pulang aja. Eyang sakit," ucapku cemas. Danu mengangguk seraya mempercepat laju mobilnya.
***
"Eyang!" aku berlari mendekat ke arah Eyang yang sudah terduduk lemas di sofa, di sampingnya ada Ibu yang wajahnya sudah kelihatan cemas sekali.
"Bu, bawa Eyang ke rumah sakit ya?" kataku lalu beralih menatap Danu. "Danu? Minta ant―"
"Ayo, saya antar." Dengan sigap Danu membopong Eyang menuju mobilnya yang di parkirkan di depan rumah. Disusul aku dan juga Ibu yang sangat cemas untuk saat ini.
Setibanya di rumah sakit, Eyang langsung ditangani oleh dokter. Aku, Ibu, dan Danu menunggu di luar ruangan. Dengan aku yang sedari tadi berjalan bolak-balik tiada henti. Aku sangat cemas, aku tidak mau kalau hari ini sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi.
"Sayang, duduk. Kamu―"
"Buuu?" Sergahku dengan lemas. Aku sama sekali tidak ingin duduk, sampai Dokter yang menangani Eyang keluar dari ruangan dengan membawa kabar baik.
Sampai jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul lima sore, Dokter yang menangani Eyang tak kunjung keluar. Aku semakin takut.
Aku sudah telepon Ayah, katanya dia sedang diperjalanan pulang.
"Retta, kamu sudah makan?" tanya Danu yang sedari tadi masih berdiri sembari menyandarkan tubuhnya ke tembok.
Aku menggeleng, "Kamu kalau laper, makan sana," jawabku tak acuh.
"Retta, kamu harus makan. Ibu belikan makan, ya?" tanya Ibu padaku.
Lagi-lagi aku menggeleng, "Enggak usah, Bu. Retta enggak laper."
"Biar saya saja yang belikan makanan," kata Danu sembari tersenyum tipis ke arah ibu. Setelah itu dia pergi entah ke mana.
"Dok, gimana keadaan Eyang? Baik-baik saja, kan?"
Namun, tidak ada jawaban dari lelaki berjas putih dan berkaca mata itu. Dia bungkam dengan raut wajahnya yang aku tidak tahu apa artinya.
"Dokter?!"
"Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi―"
"Bohong!" aku menangis sembari mendorong bahu Dokter itu. Ibu menjauhkanku darinya lalu memelukku. Kami menangis, tidak kusangka kalau hari ini pada akhirnya terjadi.
Eyang pergi. Tidak ada lagi yang akan membuatkan donat cokelat kesukaanku, tidak ada lagi yang memutar-mutar saluran radio, Eyang tidak akan lagi memberi makan kura-kura. Eyang, Retta pasti akan selalu mengingat kebaikan Eyang. Selamanya.
***
"Retta, kamu sudah dua hari tidak makan."
Danu, pria itu masih berusaha membujukku untuk makan. Dari kemarin dia selalu menjemputku dengan kotak bekal berwarna biru di tangannya. Tapi aku selalu menolak, aku sama sekali tidak nafsu makan.
"Retta, kalau kamu tidak makan, saya―"
"Apa? Kamu mau pergi juga? Mau ninggalin aku? Silakan. Semuanya aja pergi!"
Aku berlari meninggalkannya, menyusuri trotar yang aku sendiri tidak tahu tujuannya.
Aku menangis dengan terus menyeka air mata yang tak henti-hentinya keluar, dan bersamaan dengan itu, cairan berwarna merah keluar dari hidungku.
Langkah kaki Danu mendekat, seketika dia terkejut melihat hidungku mengeluarkan begitu banyak darah.
"Ta? Kamu mimisan!" Danu membuka jas putihnya lalu menyuruhku untuk duduk di kursi panjang besi dekat lampu trotoar.
"Coba saya lihat," ucapnya, dia membersihkan darah di hidung dan wajahku dengan jas putih miliknya. Sementara aku masih menangis. Kenapa dia sebaik itu?
"Kamu sering mimisan? Atau ini yang pertama kali?" tanyanya saat sudah selesai membersihkan darah di hidung dan wajahku.
Aku berpikir sejenak, ini memang bukan yang pertama kali. Saat kelas sebelas aku pernah mimisan, sampai tidak masuk sekolah satu minggu. Itu bukan kemauanku, Eyang yang menyuruhku untuk istirahat. Dan saat kembali masuk sekolah, aku bertemu lelaki aneh dan misterius, bernama Elvano aryawinata. Elvan? Kamu sedang apa sekarang? Eyang sudah pergi, kamu tidak ada niatan untuk pulang?
"Yang pasti ini bukan yang pertama kali," jawabku lalu mengalihkan pandangan, beralih menatap jas putih yang sedang di pegangnya kini dipenuhi noda darah.
"Sudah cek ke dokter?" tanyanya lagi, aku berdecak sebal. "Harus dicek. Besok ya?"
Aku menggeleng, "Enggak mau. Kamu, kan, Dokter. Emang enggak bisa tebak aku sakit atau enggak?"
"Aku dokter hewan."
Benar juga. Retta bodoh.
"Ya, pokoknya aku enggak mau dicek ke dokter! Sudah, deh. Kamu jangan bikin kesal aku terus," ketusku.
"Setidaknya makan dulu. Perut kamu kosong dua hari tidak di isi. Laper pasti, kan?" Danu membuka kotak bekalnya, terlihat nasi dan... sayur.
"Aku kurang suka sayur," kataku sebelum pria itu memaksaku untuk memakannya.
"Harus makan," pria itu mendekatkan satu sendok nasi dan sayur bayam itu ke mulutku. Refleks aku menjauhkan wajah. "Aaaa?"
"Enggak mau, Danu!"
"Makan? Atau saya tinggal?"
"Pergi aja sana!" jawabku ketus.
"Kamu tidak tahu arti 'tinggal' ya?" katanya. Aku mengernyit bingung. "Dalam KBBI, kata 'tinggal' itu salah satu artinya adalah 'masih tetap ditempatnya'. Sampai situ kamu paham?"
"Terus?" tanyaku tak acuh.
"Saya akan tetap ada untuk kamu. Sejauh apapun kamu melangkah, saya akan tetap ada di belakang kamu, untuk melindungimu, Retta Dwyriska."