Elvaretta

Elvaretta
02. Magnet?




Dikarenakan cuaca pagi ini terlihat mendung, aku membawa payung lipat untuk berjaga-jaga kalau hujan turun tiba-tiba. Kalian pasti tahu kalau 'Bogor kota hujan'.


Setelah angkot dengan penumpang yang tidak terlalu penuh berhenti di depanku, aku langsung menaikinya.


Lalu semakin lama penumpang banyak yang turun, hingga tersisa aku dan bapak sopir sekarang. Tolong jangan sampai sopir angkot menurukanku karena alasan ingin putar balik. Semoga siapapun ada yang ingin menaiki angkot ini.


Hingga akhirnya, aku melihat dari kejauhan ada seorang lelaki berbalut seragam putih abu sedang berdiri di trotoar, semoga saja lelaki itu menaiki angkot ini.


Ah, benar saja. Anak SMA yang memakai topi putih abu dan menutupi setengah wajahnya itu menaiki angkot yang aku naiki. Aku kembali bernapas lega, lalu mataku kembali menatap jalanan yang setiap saat selalu ramai oleh kendaraan.


"Senang, ya?"


Aku kenal suara itu! Aku menoleh ke anak SMA yang baru saja naik dan duduk di sebelahku tadi.


"Kak Elvan?" aku terkejut, ternyata benar dugaanku.


"Senang ya aku naik angkot ini?"


"Sok tahu," aku mendengus.


"Memang tahu," lelaki itu membuka topinya lalu mengacak-acak rambutnya menjadi semakin berantakan. Astaga! Kenapa aku jadi gugup?


"Retta," dia memanggilku. "Padahal biasanya aku berangkat naik taksi online, tapi pagi ini nggak tahu kenapa tiba-tiba pengin naik angkot."


Aku hanya menjawab, "Oh," saja.


"Tahu kenapa?" tanyanya lagi, aku langsung menggelengkan kepala. "Karena pengin ketemu kamu, Ta."


Aku hanya tersenyum kecut. Ternyata bapak sopir angkot diam-diam menatap ke belakang melalui kaca spion, pasti mendengarkan apa yang diucapkan oleh lelaki di sampingku.


"Kak, lihat kondisi," kataku sedikit berbisik. Entah kenapa jadi malu kepada bapak sopir angkot itu.


"Memang kenapa, Ta?"


"Kiri," aku menghentikan angkot karena sudah sampai di depan gedung sekolahku, tidak memperdulikan pertanyaannya karena itu tidak penting.


Tanpa basa-basi aku langsung turun lalu membayar ongkos kepada sopir yang baik hati karena tidak menurunkanku di tengah jalan.


Setelah memasuki koridor sekolah, aku merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Lelaki bertubuh tinggi itu masih berjalan di sampingku, dia sama sekali tidak peduli dengan ekspresi wajahku yang sudah kesal padanya. Tubuhnya itu tinggi, harusnya dia sadar diri.


"Kak, kelas Kakak kelewat," langkah kakiku berhenti tepat di depan kelasku, lalu menatap wajah lelaki itu yang masih tersenyum, dan luka lebamnya masih terlihat jelas sampai saat ini.


"Pengin antar kamu ke kelas dulu," lelaki itu tiba-tiba menarik lenganku dan menyeret sampai masuk ke dalam kelasku.


Sella yang sudah datang terlihat terkejut saat aku memasuki kelas bersama seorang lelaki.


"Retta duduk ya, belajar sebisanya aja," kata lelaki itu sambil menarik kursiku, menyuruhku untuk duduk.


"Kak," aku mengerutkan kening sambil menatapnya, dia sepertinya tahu apa yang akan aku ucapkan selanjutnya.


Lelaki itu mengangguk lalu pergi dari kelasku. Sella yang sedari tadi hanya diam menatapku, kini tersenyum jahil. "Ta, kamu dekat sama Kak Elvan?"


"Kamu jangan berpikir macam-macam," jawabku sembari membuka tas.


"Kayaknya, kak Elvan itu suka sama kamu, Ta."


"Sudah kubilang, kamu jangan berpikir macam-macam, deh."


"Iya, iya," Sella mencebik.


Aku mengambil buku paket, mencoba menghilangkan nama Elvan di kepalaku, sebisa mungkin tidak berpikir hal-hal yang bersangkut paut dengannya lagi.


***


Siang ini sangat melelahkan. Sungguh, semenjak guru olahraga diganti oleh guru baru, semuanya berubah. Guru baru itu seperti hobi menyiksa kami. Contohnya saja hari ini. Aku tahu seharusnya kami semua berlari sepuluh putaran. Dikarenakan aku tidak kuat lagi berlari, aku langsung saja memberanikan diri berlari keluar lapangan dan menuju kantin.


Tidak peduli guru olahraga yang terus-terusan memanggilku, kali ini aku hanya ingin air satu botol masuk ke dalam perutku. Itu saja.


Saat tiba di kantin, dengan rambut yang sudah basah karena keringat, aku memilih duduk terlebih dulu sambil mengatur napas.


"Minum dulu, Ta," tiba-tiba satu botol air mineral menempel di pipiku, aku langsung mengambil lalu meminumnya.


Ternyata itu, Elvan.


"Kamu berani juga ya kabur," katanya.


"Daripada mati karena lari," aku menaruh botol yang sudah habis kuminum di atas meja. Lelaki itu tersenyum tipis. Hingga aku baru menyadari kalau ini masih jam pelajaran. "Kok, kakak di sini?" tanyaku curiga.


"Untuk memberi kamu air mineral."


"Retta bisa beli sendiri."


"Memang bawa uang?" aku segera merogoh saku celana olahraga, anehnya uangku tidak ada sama sekali.


Astaga, aku lupa menaruh uang di dalam tempat pensil!


Aku menyipitkan mata menatap lelaki di hadapanku curiga, "Kakak ini misterius."


"Kamu ini cantik," ucapannya barusan berhasil membuat pipiku memanas, bagaimana bisa dua kata yang ia lontarkan membuat jantungku berdetak tidak karuan?


"Sebentar lagi bel istirahat," jawabnya. Ah, aku tahu itu hanya alasan klasik.


"Kakak pindahan dari sekolah mana?" entahlah, tiba-tiba aku merasa penasaran dengan sosok Elvano Aryawinta datang begitu saja.


"Dari Jogja, Ta. Tapi kamu enggak perlu tahu nama sekolahnya apa."


"Memangnya kenapa?"


"Kamu harusnya menanyakan, 'kenapa aku pindah ke sekolah ini'."


"Ya sudah, pertanyaannya diganti," aku berdeham kecil. "Kakak kenapa pindah ke sekolah ini? dari Jogja ke Bogor, kan, lumayan jauh."


Tiba-tiba lelaki itu merubah posisi duduknya menjadi tegak menghadapku. Suasana kantin sangat sepi karena ini masih jam pelajaran. Iris mata berwarna cokelat kayu miliknya bertemu dengan mataku.


"Karena Elvan harus bertemu Retta."


Oke, cukup ya Elvan membuat jantungku ini ingin lepas dari tempatnya!


"Kok, Retta?" agar tidak terasa hening, aku paksakan tertawa kecil. Pasalnya suasana kantin saat ini hening sekali, sangat hening. Para pedagang pun tidak ada yang saling mengobrol. Mereka sibuk menyiapkan dagangannya masing-masing.


"Karena saat pertama kali aku lihat kamu, rasanya berbeda, Ta," katanya.


Aku mengernyit, "Beda bagaimana?"


"Ya... kamu perempuan yang berhasil buat aku tertarik."


"Memangnya aku magnet?" aku tertawa mendengar ucapannya.


"Bukan, kamu itu Retta."


"Aneh," jawabku tak acuh.


"Memang. Aku juga berpikir seperti itu awalnya, rasanya aneh."


"Kakak asli Jogja?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


"Bukan,"


"Hah, terus?"


"Asli Jakarta."


"Sama dong, aku juga lahir di Jakarta!" Jawabku semangat. Aku memang lahir di Jakarta, tapi memilih pindah ke Bogor dan tinggal di rumah Eyang. Sementara Ayahku masih bekerja di Jakarta.


"Tapi sepertinya akan lebih lama tinggal di sini," katanya.


"Kenapa? Sudah lelah pindah-pindah sekolah?" tebakku seraya mengangkat kedua alis ke atas.


Lelaki itu menggelengkan kepala, "Bukan. Alasannya karena ada kamu."


Aku tertawa kecil, "Gombal, ya?"


"Enggak, Ta. Itu serius, bukan gombal."


"Modus?"


"Apalagi itu, aku serius sama kamu."


Lagi-lagi aku tersenyum kecut, padahal faktanya senang. Dua detik kemudian aku berdiri dan melangkah pergi, beranjak dari kantin.


Meninggalkan lelaki itu sepertinya adalah jalan terbaik untuk saat ini. Semakin lama mengobrol dengannya, kepalaku semakin pusing dibuatnya.


Saat tiba di kelas, ternyata semua teman kelasku sudah kembali berkumpul di kelas. Hingga suara Sella yang cempreng itu melontarkan banyak pertanyaan, membuat kepalaku tambah pusing.


"Ta? Kamu tadi kemana? Baik-baik aja, kan? Kok berani banget lari keluar lapangan? Nilai kamu di bawah KKM, katanya harus perbaikan nilai, kamu disuruh menemui Pak Heri!"


Aku mengembuskan napas kasar, mendengar nama guru itu rasanya ingin sekali pindah sekolah. Tapi sayang, Eyang pasti tidak akan mengizinkan.


"Memang nilai aku berapa?" tanyaku, bisa-bisanya nilaiku dibawah KKM padahal berlari sudah tujuh putaran, itu pun susah payah karena dipaksakan.


"Lima puluh," jawab Sella singkat dan berhasil membuat aku terkejut bukan main.


"APA?!"


Aku membulatkan mata dan mulutku sempurna, bagaimana bisa guru olahraga memberiku nilai 50 saat aku sudah berlari tujuh putaran dengan susah payah?!


"Sabar, Ta."


"Ini udah keterlaluan, La," aku menggelengkan kepala tidak percaya.


"Mending kamu temui Pak Heri dulu, deh."


"Malas," aku berdecak kesal.


"Ini penilaian akhir semester, Ta. Menentukan naik ke kelas dua belas, atau..."


Aku kembali berdecak sebal, berdiri lalu pergi menuju kantor menemui Pak Heri. Sepanjang koridor tak henti-hentinya aku menggerutu, melontarkan sumpah serapah tentang guru olahraga yang paling menyebalkan sedunia itu.