Elvaretta

Elvaretta
01. Lelaki Aneh dan Misterius




"Suka baca puisi, ya?"


Seorang lelaki tiba-tiba berdiri di sampingku, wajahnya menatap lurus ke depan, melihat beberapa puisi yang baru ditempel di mading oleh anggota OSIS. Aku melihat sekitar, untuk memastikan bahwa lelaki itu berbicara padaku. Pasalnya aku takut dia sedang berbicara pada orang lain.


Lalu aku memperhatikan lelaki itu dari samping, ia memakai baju seragam yang di keluarkan dan tidak dikancingkan, beruntungnya dia masih memakai kaos hitam. Rambutnya juga terlihat berantakan, serta luka lebam di pipi kanan. Aku bergidik ngeri, lelaki itu bukan seperti siswa pelajar, lebih tepatnya seperti preman pasar.


Aku berdeham, "Bicara sama siapa?" tanyaku, lelaki itu menoleh dengan lekuk sabit di wajahnya, yang sudah dipastikan pipinya sekarang terasa perih karena memaksa tersenyum.


"Hai," sapa lelaki itu, ia mengulurkan tangannya meminta dijabat. "Elvano Aryawinata, panggil aja Elvan," lanjutnya memperkenalkan diri tanpa diminta.


Perlahan, tangan kananku menerima uluran tangan lelaki itu. Seketika senyumnya melebar dan membuat kedua matanya sedikit menghilang.


"Retta Dwyriska," jawabku sedikit ragu, dua detik kemudian lelaki itu melepaskan tangannya.


"Retta kelas berapa?" tanyanya sembari menatap ke arah mading.


"Kelas sebelas IPA dua."


"Wih, ternyata adik kelas," dia terlihat terkejut, sementara aku masih bingung dengan ucapannya.


"Memang kamu kelas berapa?" tanyaku.


"Dua belas IPA satu," jawabnya.


"Kok Retta belum pernah lihat kakak sebelumnya?"


"Karena aku baru satu minggu sekolah di sini."


"Oh, murid baru," aku bergumam sambil mengangguk-anggukan kepala. Pantas saja wajah lelaki itu begitu asing bagiku.


"Retta sudah makan siang?" dia kembali bertanya. "Kalau belum, mau ke kantin bareng?"


"Sebentar lagi bel masuk," jawabku singkat.


"Masih ada waktu sepuluh menit lagi," lelaki itu kembali mengajak, aku berpikir sejenak. Kalau tidak menyempatkan makan siang saat jam istirahat, rasa lapar pasti mengganggu konsentrasi saat pelajaran fisika nanti.


Jadi, mungkin tidak ada salahnya pergi ke kantin dengannya. Aku langsung mengangguk kecil.


"Yuk," lelaki itu tiba-tiba menarik lenganku menuju kantin. Sepanjang koridor tak henti-hentinya jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya.


Sampai di kantin, aku dan lelaki itu duduk berhadapan. Kepalaku sedikit menunduk, sementara lelaki di hadapanku terus menatapku dengan senyuman tipis yang masih menempel di wajahnya.


"Retta mau makan apa?" tanya lelaki itu.


"Nasi goreng aja," jawabku kikuk.


"Oke, aku pesan dulu ya," lelaki itu beranjak dari duduknya lalu mendekati ibu penjual nasi goreng. Akhirnya aku bisa mengembuskan napas lega.


Tak lama, lelaki itu kembali dengan dua piring nasi goreng kecap di kedua tangannya, disusul ibu paruh baya yang membawa dua botol air mineral.


"Retta suka pedas?" dia kembali bertanya. Kenapa ya mulut lelaki itu tidak bisa diam? Pasalnya aku malas menjawab. Sekarang aku tahu rasanya salah tingkah di depan lelaki secara langsung.


"Kurang suka ya?" lelaki itu menjawab pertanyaannya sendiri. "Bagus, deh, terlalu banyak makan pedas enggak baik."


Sepertinya ucapannya tadi tidak benar, dia sendiri memberi dua sendok sambal di atas nasi goreng miliknya. Bagaimana bisa lelaki itu menasehati orang lain? Sementara dirinya sendiri...


"Makan, Ta. Mau sampai kapan lihatin aku terus?"


Ah, sial. Aku memandingi wajahnya tanpa sadar, dengan cepat aku langsung memakan nasi goreng yang ada di hadapanku. Bisa gila kalau lama-lama menatap wajahnya. Baru kali ini, aku, Retta Dwyriska, salting.


"Kamu memang sering baca puisi di mading ya, Ta?" lagi-lagi lelaki itu bertanya.


"Kakak enggak sakit perut?" tanyaku yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan puisi di mading sekolah.


"Enggak, soalnya aku


suka pedas."


"Berarti nasihat kakak tadi itu enggak ada manfaatnya."


"Yang penting bermanfaat buat kamu."


Suasana hening. Sampai saat nasi goreng sudah mengganjal sedikit perutku, aku memutuskan untuk segera kembali ke kelas.


"Aku duluan ya, Kak," kataku, lalu beranjak mendekati ibu penjual nasi goreng, membayarnya dan langsung pergi meninggalkan kantin. Meskipun hanya memakan nasi goreng sedikit, setidaknya perutku tidak terlalu kosong.


***


"Dari mana kamu, Ta?" tanya Sella―teman sebangku sekaligus sahabatku dari kelas sepuluh.


"Isi perut," jawabku.


"Sendiri?" Sella menutup buku paketnya.


"Kak Elvan?"


"Katanya murid baru dua belas IPA satu."


"Oh, tahu-tahu," Sella manggut-manggut, tanpa ada rasa bingung sama sekali.


"Kamu udah tau, La? Kok aku enggak tau, sih?"


"Satu minggu kemarin kamu enggak masuk. Sakit, kan?"


Aku tertawa kikuk, "Eh iya, ya."


***


"Hai, Ta!"


Aku tahu suara itu, suara serak basah milik lelaki yang aku temui saat sedang membaca puisi di mading beberapa jam yang lalu.


"Mau pulang ya?" lelaki itu tersenyum lebar. Aku ngeri sendiri melihat luka lebam di pipinya. Pasti terasa perih sekali kalau tersenyum seperti itu.


"Kakak jangan senyum," kataku lalu mulai berjalan menyusuri koridor, dan ternyata lelaki itu menyesuaikan langkah kakinya denganku.


"Kenapa? Aku jarang, lho, senyum gini," dia memiringkan kepalanya, dua telunjuknya ia tempelkan di kedua pipinya. Seperti menunjukan wajah gemas.


"Kakak kenapa enggak pulang?" tanyaku sambil mempercepat langkah kaki agar segera keluar dari gedung sekolah.


"Ini mau pulang," jawabnya. Dan lucunya, dia terus mengikutiku sampai langkah kakiku berhenti di trotoar.


Beberapa saat kami diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Aneh, tidak ada satu pun angkot yang lewat siang ini, katanya kota Bogor sejuta angkot? Kok siang ini tidak ada satu pun angkot yang menawariku untuk naik!


Aku menghela napas kasar, lalu mendongak melihat wajah lelaki yang berdiri di sampingku. Tubuhnya tinggi, aku merasa sedikit minder berdiri di sampingnya. Bisa dibayangkan tubuhku hanya sampai pundaknya saja, malah masih kurang mungkin.


Aku menggeser dua langkah ke samping kiri, menjauh sedikit dari lelaki di sampingku itu. Lucunya lagi, dia malah mengikutiku menggeser dua langkah ke samping kiri. Aku berdecak pelan sambil menghentakan kaki. Sementara lelaki itu malah tertawa kecil.


Angkot tolong segera datang. Retta mohon!


"Kasihan kepanasan," dia seperti mengejekku. "Aku belum sempat bikin SIM, Ta. Jadi belum berani bawa motor ke sekolah," katanya.


"Oh," aku bingung harus menjawab apa, pasalnya aku tidak bertanya sama sekali tentang hal itu padanya.


Finalnya, angkot berwarna biru tepat berhenti di depanku. Tanpa basa-basi aku langsung menaiki angkot itu, dan ternyata lelaki itu pun ikut masuk lalu duduk tepat di sampingku.


"Kok naik?" tanyaku sambil mencoba membuka kaca jendela agar angin masuk ke dalam. Siang ini matahari cerah sekali menyinari kota Bogor.


"Ini angkutan umum, Ta," dia membantuku mendorong kaca jendela yang memang cukup sulit untuk dibuka.


Aku **** bibir, wajahku memanas menahan malu.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam, semua penumpang pun tidak ada yang mengobrol. Biasanya ibu-ibu yang pulang dari pasar sering mengobrol ria, tapi kenapa sekarang hening sekali?


Terlihat wajah lelaki di sampingku berkeringat, terlihat jelas di pelipisnya. Rambutnya juga sedikit basah karena keringat. Angkot pun semakin penuh oleh beberapa penumpang yang baru naik. Seharusnya lelaki itu tidak ikut naik, jadi aku sendiri, kan, yang merasa bersalah.


Aku segera menyiapkan ongkos, karena sebentar lagi kompleks perumahanku akan segera terlihat. Setelah sopir angkot menuruti ucapanku untuk berhenti, aku langsung keluar dari angkot tersebut.


Anehnya lagi, lelaki itu mengikutiku turun dari angkot. Aku sama sekali tidak berani bertanya kenapa dia terus mengikutiku.


Hingga sampai aku masuk ke dalam area kompleks pun, dia masih mengikutiku dari belakang. Aku yang sudah merasa risih ini berhenti melangkahkan kaki lalu memutar tubuh ke belakang.


Ternyata benar, dia sedari tadi berjalan di belakangku dengan kedua tangannya ia masukan kedalam saku celana kelabunya.


"Rumah Kakak dimana? Kok ngikutin aku terus?"


"Enggak boleh, ya?"


Aku mengalihkan pandangan, "Ya... aneh aja."


"Oh, maaf. Aku pulang, deh."


Aku menghela napas lega, setelah kepergiannya aku langsung berlari kecil menuju rumah sambil bergumam. Elvan itu aneh, datang dan pergi begitu saja. Datang dan memperkenalkan diri tanpa diminta, lelaki yang pertama kalinya mengajakku ke kantin, memesankanku nasi goreng kecap, lalu kami menyantapnya dengan lahap. Luka lebam di pipi kanannya yang tidak kuketahui apa penyebabnya, anehnya selalu saja terukir lekuk sabit di wajahnya.


Kubuka pintu rumah, terlihat Eyang sedang di ruang tengah, membersihkan radio tua kesayangannya.


"Retta pulang," aku menghampiri Eyang lalu mencium pipinya.


"Eyang sudah buatkan donat cokelat kesukaan Retta, ada di dapur."


"Serius, Eyang?" mataku berbinar saat mendengar Eyang membuatkan donat cokelat kesukaanku, donat asli buatan tangannya, yang sudah dipastikan rasanya enak.


"Dua rius," jawab Eyang, aku tertawa lalu berlari kecil menuju dapur. Di balik tudung saji berwarna merah itu, pasti ada satu piring donat dengan cokelat di atasnya. Dan, benar saja!


Aku menarik kursi lalu mendudukkan tubuhku, mengambil garpu yang sudah terletak di samping piring lalu menyantap donat dengan lahap.


"Eyang! Kenapa enak banget donatnya?!"